
Alma mengulurkan jemari tangannya di saat Rey memohon cinta gadis itu, Alma merasa sangat ragu. Benarkah ia juga mempunyai rasa yang sama pada Rey? atau hanya sekedar bergantung, berlindung dan juga balas budi?
Akan tetapi lirikan dan isyarat pada pada Alex membuat ia membulatkan tekad untuk menerima pria itu dan menerima lamarannya.
Di tempatnya berdiri Lelaki yang telah terlihat membaik dengan kondisi fisiknya itu tersenyum lembut pada Alma.
Pria tampan yang yang dari kecil menjaganya dari ibu tiri yang kejam hingga dewasa itu menatapnya dengan penuh rasa haru.
...Ah, gadis kecil ku yang manis dan cantik...
...tak terasa kau sekarang telah tumbuh besar dan dewasa...
...tak terasa juga kaulah dengan penuh rasa kasih dan sayang telah menjaga dn mengurusku di saat aku benar-benar tidak mampu untuk bangun apalagi berdiri....
...gadis kecilku, semula aku juga berniat jahat padamu pada malam itu. Tetapi rupanya tuhan membolak-balik kan isi hatiku. Aku bertekad untuk menjagamu ya sampai detik ini....
...gadis kecilku, akhirnya aku bahagia jika ada orang yang akan mengantikan posisiku dalam hidupmu...
...gadis kecilku yang manis dan terkadang lucu, setelah semua selesai, dan disaat kau telah sah menjadi milik Rey. Aku akan pergi mencari kehidupan yang baru dan tidak lagi akan menyusahkan mu...
Tanpa terasa ada buliran tipis jatuh pipi pria matang itu. Ia segera menyekanya dengan sangat cepat.
*
*
*
"Dua minggu lagi acara pernikahan kita Alma, aku telah mempersiapkan semuanya. Tetapi hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku ingin selalu didekat mu menjelang hari pernikahan kita.".
Rey mengajak Alma sore itu untuk menikmati akhir pekan yang membuatnya terasa sangat begitu lelah.
"Baiklah aku akan minta ijin dulu pada Uncle Lex. Rey aku ke atas dulu ya."
Gadis itu kemudian berjalan menyusuri lantai atas rumah. Terdengar hentakan kaki itu hingga hilang pada ruangan atas.
"Uncel..."
Alma tidak mendapatkan Alex pada kamar tidurnya. Kemudian gadis itu lalu pergi ke kamar mengecek kamar mandi tetapi sang Uncle tidak juga berada di sana.
"Tetapi Aku melihatnya tadi Uncle ke atas lalu kemana dia?"
Alma kemudian masuk pada ruang Alex yang ada di ujung ruangan. Benar saja ruangan itu terbuka dan Alex sedang berada di sana.
"Uncle, kau di sini rupanya!"
Gadis itu masuk dan langsung memeluk pinggang Alex dari belakang.
Kelakuan gadis itu tidak ada yang berubah sama seperi Alma yang masih berumur 9 tahun yang begitu manja padanya.
"Ada apa gadis kecil ku?" Alex kemudian membalikkan punggungnya dan menatap Alma dengan intens.
"Ya,,Uncle selalu bilang aku gadis kecil. lihatlah sekarang aku sudah sangat besar. Tubuhku besar dan sudah hampir sama tinggi dengan fostur tubuh mu."
Alma mencebikan bibirnya dengan berbentuk kerucut.
"Ah, hanya bentuknya saja yang dewasa tetapi tiap malam juga harus merengek minta aku menjagamu hingga kau tertidur!"
Alex terkekeh dn berusaha untuk selalu tersenyum walau sebenarnya ia juga sangat takut kehilangan momen itu sebentar lagi.
"Uncle, jangan buka-buka rahasiaku. Malu tau!! apalagi di depan Rey."
Wajah Alma terlihat semerah tomat dan bewarna dadu.
"Baiklah.. Baiklah aku akan berusaha untuk tidak membuka rahasiamu yang lain. Tetapi aku tidak janji ya."
"Uncle jahat."
Alma menepuk-nepuk dada Alex dengan manja.
"Sudah, ada apa sayangku kau kemari ke butuh sesuatu?" Alex melerai pukulan Alma dan membelai rambut hitam gadis cantik itu.
Alma teringat sesuatu, wah ia ingat Rey yang menunggu di bawah. Bukan kah ia ke atas hanya meminta ijin Alex mengapa ia lupa jika telah bertemu sang Uncle dan melupakan Rey yang telah lama menunggunya.
"Uncle...aku.."
"Ya, ada apa..."
"Hmm.."
"Boleh, Uncle..?
Alex sejenak terdiam, melihat Alma yang tidak terlalu ngotot untuk pergi. Terlihat wajahnya yang biasa-bisa saja.
"Kalau tidak boleh bagaimana?"
Alex malah bertanya balik pada gadis itu. Dan kembali ia melihat ekspresi Alma yang biasa -bisa saja dan malah mengangkat bahu dan menurunkannya.
"Ya, kalau tidak boleh. Aku nanti akan menonton kartun kesayanganku dengan cemilan jagung bakar dan yang pasti Uncle juga nonton bersama ku."
"What."
Alex benar - benar di buat terkejut dengan pernyataan yang baru saja diberikan Alma padanya. Benarkah gadis kecil yang telah beranjak dewasa itu sepolos itu. Bahkan dalam waktu dekat ia akan menikah.
Jika demikian sikap Alma yang kekanakan pasti akan membuat Rey suatu saat nanti sangat kerepotan. Ia harus sedari sekarang mendidik dan mengajarkan Alma dewasa dalam segala hal pikir Alex.
"Tentu saja, Kau boleh pergi gadis kecilku dengan satu syarat. Jangan pulang terlalu malam, jaga diri mu baik-baik."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Sebelum pergi tidak lupa, gadis cantik itu menyalami Alex dan ia tidak lupa agar Alex seperti bias juga mencium keningnya.
Gadis itu kemudian berlalu pergi dengan suara hentakan kaki yang semakin terdengar menjauh.
Tinggal Alex yang menatap dari kejauhan ada rasa yang tidak terbaca pada raut mukanya saat ini.
Alma sama sekali tidak berubah, sikap manjanya dan perhatian gadis itu pada Alex semakin hari semakin terasa jika gadis itu lebih memprioritaskan Alex ketimbang Rey.
Namun bagaimana hubungan yang sebenarnya terjadi? Dua orang dewasa yang tidak mempunyai ikatan darah sama sekali. Seiring berjalannya waktu dan masa apakah mereka berdua tidak menyadari jika pasti ada benih-benih cinta yang bersemayam yang tidak sadari sama sekali.
*
*
*
"Maaf kau menungguku terlalu lama." Alma sedikit merasa sedikit sungkan.
"Tidak apa Alma. Ayo sekarang kita berangkat."
Mobil Rey bewarna hitam pekat itu kemudian keluar dari pekarangan rumah.
Rey terlihat sangat bahagia. Wajah tampannya sedari tadi berbinar senang seperti anak kecil yang sedang mendapat mainan baru.
Sementara Alma juga terlihat tersenyum.
"Kita kemana sore ini Alma, apa mau makan, berenang atau ke pantai?"
"Wah, ide yang bagus!"
"Aku mau kita ke pantai Rey, berenang di sana. Setelah itu aku mau makan sate madura yang tidak jauh dari sana, ayo kita ke sana sekarang aku benar-benar sudah lama tidak mengunjungi pantai itu?"
"Oh, baiklah."
Dengan penuh semangat Rey memutar balik kemudinya. Karena jalan yang ditempuhnya saat ini berlainan arah.
"Rey."
"Ya."
"Tapi janji ya, jangan katakan pada Uncle jika kita ke sana."
"Maksudnya."
"Ya, sudah Rey. Yang jelas jangan bilang pada Uncle kita ke sana."
"Ya, tapi akau kan perlu tahu memangnya ada apa Tuan Alex tidak mengijinkan kamu ke sana!"
"Hmm..kayaknya sekarang kau mulai cerewet deh Rey. Udah sekarang kita sana dulu. Ntar sampai di sana aku ceritakan."
"Baiklah kalau begitu nona." Rey tersenyum geli melihat tingkah Alma saat ini.
Tetapi Rey sungguh benar-benar merasa sangat bahagia saat ini Alma terlihat sangat bahagia setelah kesembuhan Tuan Alex.