I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Ada Keraguan



Tidak terasa waktu terus berjalan, sudah seminggu Hamdan berada pada ranjang panas milik janda itu. Bukan tidak ada maksud tertentu, Hamdan berbuat demikian agar Jika Amira kelelahan sampai pagi ia tidak akan pergi ke kantor Kesempatan itu di gunakan untuk pergi ke kantor dan mengurus perusahaan oleh Hamdan. Pria tampan berhati licik itu mengatasnamakan Amira di setiap perintah yang di intruksikan pada bawahan Amira.


lelaki tampan dengan sejuta pesona, dengan turut katanya yang lembut dan berwibawa. Membuat para atasan terkesima dan menunduk hormat, ia sangat menjaga sikap di depan semua orang. Untuk melakukan rencana nya yang sangat licik.


"Tuan Hamdan, ini semua berkas dan dokumen bulan lalu dan yang sekarang." Ucap asisten Ramses pada wakil direktur itu.


"Kalau saya boleh bertanya pada tuan, mengapa Bu Amira akhir ini, tidak masuk kantor. Padahal jadwal pertemuan pada klien begitu padat tuan Hamdan."


"Apakah kau tidak mendengar apa yang baru saja ku umumkan padamu dan seluruh staf pegawai di sini, jika untuk sementara waktu. Ibu Amira tidak dalam kondisi sehat dan saat ini. Apapun yang mengangkut dengan perusahaan aku yang akan mengurusi semuanya!"


Hamdan memandang lekat pada asisten mendiang Teguh itu dengan tajam.


Sang asisten hanya menunduk dan membungkuk untuk pergi melanjutkan pekerjaannya kembali.


Mengapa banyak tangan asing di sini tuan, tanpa sangkut paut apapun. Dengan seenaknya mengatur dan memerintah. Sementara kepercayaan penanaman saham dan investasi modal telah sebagian menarik sahamnya di sini. Mereka mempertanyakan tuan, dan kinerja wakil direktur yang baru. ah, mengapa kau terlalu cepat pergi dan bagaimana dengan putri tuan Alma? asisten mendiang Teguh itu mendesah dalam hati dan kembali menuju ruangannya.


Sementara itu di rumah besar Amira. Di dalam kamar mewah milik sang Janda. Perempuan dengan berkulit putih membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang telah terik, masuk lewat celah jendela. Ia tidak mendapati sosok Hamdan di sampingnya. Yang terlihat dan dan ia rasakan tubuhnya sangat lelah.


Ibu tiri Alma itu mulai bergegas ke kamar mandi. Kepalanya sedikit pusing, ia mulai membasahi tubuhnya dengan guyuran air shower. Dari pantulan cermin ia melihat, wajahnya terlihat begitu pucat dan stempel kepemilikan Hamdan begitu banyak. Stempel itu ada yang mulai menghilang dan ada juga yang masih baru.


Perempuan itu kembali meraba semua bagian tubuh lainnya bahkan daerah tulang selangkang. Bahkan di area sensitif seperti itu Hamdan masih saja meninggalkan jejaknya di sana. Sungguh teman pria yang sangat buas, pikir Amira sambil tetap tersenyum.


Entah apa yang dipikirkan lagi oleh perempuan itu bisa saja tersenyum dengan puas. Di saat situasi yang sangat genting di Perusahaan dan dikala mendiang Teguh belum hitungan empat puluh hari ia sudah berbuat mesum di rumah besar itu bahkan terus tersenyum!


Tidak lama ia telah berpakaian rapi. Ia melangkah turun dan bermaksud untuk makan siang. Energinya benar-benar telah terkuras dan harus di isi lagi.


Sambil menuju meja makan ia memanggil dan memencet nomor seseorang di sana.


"Ya, hallo yang. Apakah tidur mu nyenyak dan menyenangkan?"


"Hmm..tentu saja, sayang. Posisimu sekarang di mana?"


"Aku di Perusahaan mu saat ini, maaf jika aku ke sana tanpa membangunkan mu lebih dahulu. Karena ku rasa kau sangat lelah dan juga letih," suara Hamdan terdengar seperti kembali menggoda.


"Tidak apa, aku akan bersiap ke sana sekarang.!"


Terlihat jika Hamdan, sangat menginginkan Amira untuk bersenang-senang. Tetapi bukan tanpa tujuan apapun. lelaki itu akan membuat dokumen yang baru, aset yang telah beralih nama dengan kemampuan licik yang ia punya.


"Tetapi apa aku bisa percaya padamu sayang," ucap Amira dengan nada manjanya.


"Aku sangat mencintaimu, apakah kau ragu akan cintaku selama ini sayang, aku bahkan meninggalkan orang tuaku dan menikah sampai saat ini, hanya karena tidak ada wanita lain hatiku dari dulu hingga sekarang."


Amira terdiam. Rayuan maut dari Hamdan tampaknya sangat menghipnotis dirinya. Perempuan mana yang tidak akan tersanjung dengan kata-kata yang barusan diberikan Hamdan. Perempuan mana yang tidak akan tersanjung kata-kata cinta yang keluar dari bibir tampan lelaki itu. Ia melayani Amira seperi ratu dalam ranjang mereka. Menjilati setiap inci tubuh putih milik perempuan itu sampai pada ujung jarinya dan telapak kaki. Sungguh Amira terbuai dengan dan seperti merasa berada di negri langit ke tujuh.


"Baiklah kalau begitu, tubuhku memang terasa sangat letih saat ini. Aku percayakan Perusahaan ini beberapa hari padamu yang, tetapi apakah kau pulang malam ini ke tempatku?"


"Sepulangnya dari sini, aku akan singgah kembali ke Apartemenku setelah itu aku akan tentu akan ke rumahmu."


Amira terlihat tersenyum. Hati perempuan di mabuk kasmaran itu terlihat sangat bahagia. Ia tidak lagi sibuk saat ini pada anak tirinya.


Ia sekarang menyuap nasi sambil memegang handphone dalam genggamannya. Ia berselancar sebentar di dunia maya. Mengabadikan fhoto dirinya dan Hamdan.


Banyak komentar pedas dari fhoto yang ia upload.


"Istri tidak tahu malu, tanah suaminya merah udah mau cari brondong."


Banyak lagi komentar pedas, yang ia dapatkan. Tetapi Amira tidak peduli. Baginya akun itu miliknya. Ia mau ngapain saja, itu haknya. Tidak ingin berteman dan ya tidak mesti Follow atau blokir saja. Apa susahnya pikir Amira lagi.


Perempuan berumur 35 tahun itu tetap berselancar di dunia maya. Alma yang tidak tahu jika ibu tirinya berada di ruangan makan begitu terkejut dan menarik langkahnya dengan cepat.


Amira menatapnya. Sontak saja membuat tubuh kecil itu berlari. Tetapi karena suasana hati Amira yang lagi senang. Ia hanya melihat bocah kecil itu yang berlari ketakutan tampa mengejarnya.


Sesampainya Alma di dapur, nafasnya terlihat tersengal. Bu Ana yang melihatnya merasa sangat cemas.


Perempuan separuh baya itu lalu membawanya ke sudut dapur. Ia mengambil air putih dan memberikannya pada Alma.


"Bibi sudah bilang, jangan leluasa masuk ruangan jika Mama Amira lagi di rumah, ini air putihnya diminum. Untung saja tadi tidak kenapa-napa." Terlihat wajah tua itu sangat kwartir pada nona mudanya.


Alma kemudian mengangguk dan menerima air putih dari Bi Ana dengan tangan gemetar.