I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Dengarkan Cerita ku Agar Kau paham!



Alma tetap dengan posisi gemetar ia berada pada pelukan sang Uncle dengan erat. Alex sebenarnya ingin marah dan juga kesal pada gadis belia itu. Mengapa dengan mudah ia menerima tawaran dansa dari lelaki brengsek itu. Tetapi Alex pria dingin dengan sejuta pesona duda tampan itu tetap saja membelai kepala Alma dengan lembut.


Alma tertidur dalam mobil yang membawa Mereka untuk pulang. Ia merasa damai, karena kilatan marah di wajah lelaki dingin itu tidak terlihat pada saat ini. Yang ada ia tetap mengelus lembut anak rambut yang berserak di kening Alma. Gadis tertidur dalam dekapannya.


Mobil telah sampai pada rumah Mewah dengan perkarangan yang cukup luas. Rumah itu lebih terlihat megah pada malam hari. Di mana penerangan semuanya terlihat hadir menyapa Alma dan Alex yang baru masuk ke rumah.


Semua asisten dan penjaga mengangguk hormat. Mereka semua belum ada yang tidur. Mereka akan tenang tertidur jika Tuan mereka telah sampai pada di rumah dan telah beristirahat dengan begitu pekerjaan mereka telah selesai.


"Mana Bi Ana?" tanya Alma pada asisten yang bertugas.


"Bi Ana telah berada pada kamarnya. Ia telah beristirahat ketika Tuan dan Nona meninggalkan rumah."


"Oh, baiklah." Ucap Alma senang.


Asisten itu lalu mengundurkan diri. Alex yang masih berada di dekat Alma hanya terlihat dengan muka datar.


"Ganti baju dan bersihkan dirimu, Uncle mau bicara. Tunggu Uncle di ruang kerja." Titah Alex pada Alma.


Gadis itu menatap lekat lelaki yang yang sedari kecil merawatnya. Ia banyak berhutang nyawa dan juga budi yang tidak akan bisa ia balas dengan cara apapun. Muka itu terkesan serius dan tidak ada lagi senyum yang biasa hadir, yang biasa terkadang selalu jahil mengerjainya.


"Baik Uncle. Aku ganti baju dulu."


Gadis itu menaiki tangga rumah dan pikiran yang tetap masih tertuju pada Alex yang masih menatap punggung ponakan angkatnya itu walau telah hilang di balik pintu.


Lelaki itu lalu beranjak ke ruang kerjanya. Ia melepaskan pakaian yang tadi ia pakai dan berganti dengan baju rumahan.


Hari telah menunjukan 12 malam ketika Alma turun dari lantai atas dan menuju ruang kerja Alex. Ia terlihat sangat mengantuk. Tetapi dengan tekad kuat ia tetap berjalan menuju ruangan Alex.


Saking menahan rasa kantuk yang ada ia tidak menyadari jika kepalanya telah terbentur di dinding pintu.


Bruk


Kepala dan dinding pintu yang bersuara dan mendengar suara Alma yang meringis kesakitan membuat Alex dengan cepat keluar dari ruangan kerjanya.


Pria itu lalu melihat Alma yang terduduk dan memegang keningnya yang terlihat merah.


"Mengapa kau sangat tidak hati-hati, ayo cepat masuk. Aku tidak akan berlama-lama bicara pada mu.!"


Ia mengulurkan tangannya pada Alma agar Gadis belia itu dengan cepat untuk berdiri.


Alma telah masuk pada ruangan kerja Alex, ia masih meringis menahan rasa sakit yang berada pada keningnya.


Alex memberikan kream yang biasa di pakai jika Alma jatuh dan terkilir, krim yang sama pada waktu Alma lari pagi bersama sang Uncle.


Alma mengoleskan krim itu pada keningnya yang sakit. Sedikit terasa lebih nyaman ujarnya dalam hati.


"Duduklah Alma." Alex menarik kursi dan menyuruh gadis itu untuk duduk.


Sama seperti Alex saat ini ia juga duduk menghadap gadis yang telah beranjak dewasa itu.


"Uncle tidak akan pernah untuk siapapun mendekati mu. Kau boleh bergaul dengan siapapun asal punya batas tertentu. Yang Uncle tidak suka jangan pernah ada lelaki yang baru kau kenal untuk menyentuh mu!"


Alex membuka pembicaraan. Alma hanya terdiam mendengar penuturan Alex barusan.


Alex menatap Alma yang masih menunduk. Entah apa yang terlintas dalam pikirannya saat itu.


"Alma lihat dan tatap muka Uncle.!"


Alma kemudian menatap pria yang lelah matang itu masih terlihat sangat tampan.


"Apa kau tidak paham yang Uncle jelaskan!" Alex kembali bertanya pada Alma.


"Aku merasa sangat tidak paham Uncle!"


Alma menjawab dengan wajah polosnya.


Alex ingin tersenyum. Tetapi ia menurungkan niatnya. Karena ia merasa ini adalah masalah serius.


"Jika ada laki-laki yang suatu ketika menjadi pacarmu, jangan mau untuk di sentuh. Mula-mula di cium kemudian lama pada akhirnya minta untuk pembuktian cinta dengan hal belum sepantasnya di coba untuk usia mu!"


Alma menatap wajah Uncle yang sedang


memberinya wejangan malam ini.


"Maaf kan Alma, Uncle juga begitu berganti perempuan dengan tidak puasnya." Dengan berani Alma membantah.


Benar jika telah merawat Alma dari kecil dan benar juga ia tidak pernah mendapat kan kurang kasih sayang dari pria itu. Tetapi sang Uncle terkadang sangat ketelaluan baginya. Ia sering memeegoki Perempuan di pagi hari yang keluar dari kamar pria itu.


"Sayang, jangan meniru hal yang buruk, tiru yang hal yang baik saja. Karena perempuan di haruskan untuk bersih ketika ia akan menikah dan yang boleh menyentuhnya pasti adalah suami dan pasangan yang telah halal nantinya. Apa jadinya jika kamu telah rusak. lelaki mana yang akan menerima mu!"


Alma merenung dengan ucapan Alex barusan.


"Dan jangan tiru gaya yang tidak baik pada diri Uncle. Yang baik ambilah dan yang buruk buang dan tidak perlu di tiru!"


"Tetapi selama ini, aku belum pernah pacaran dan ada yang mendekati ku Uncle!"


"Aku belum pernah ingin mencoba bagaimana rasa pacaran seperti teman-teman." Alma berkata jujur.


"Karena mungkin saja diantara mereka belum ada yang ngotot dan bersikeras untuk mendapatkan mu, seperti dosen Rey barusan. Sekarang ia memegang pinggang mu. Dan tidak kemungkinan bulan depan ia minta lebih. Dosen mesum itu harus segera keluar dari kampus itu apapun alasannya!"


"Uncle aku mohon jangan seperti itu, jangan bawa -bawa dosen Rey dalam memberikan wejangan padaku!" Alma terlihat sebal.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu sayang. Kau akan menjalani hidup yang masih panjang. Aku ingin kau bahagia. Aku ingin jika suatu saat aku telah menua, aku melihat mu bahagia bersama orang yang akan melindungi mu. Dan satu lagi kau adalah pewaris satu-satunya dari Brahmajaya Graup. Aku akan pergi dan tentu tidak akan selamanya di sini!"


Alex memalingkan mukanya. Ada rasa haru yang bergelayut di dadanya saat ini. Dan ia tidak mau Alma mengetahui hal itu.


Kata-Kata Alex barusan menghantam pelak perasaan dan hati gadis belia itu. Sontak ia menangis haru. Ia mendekati Alex dan bergelayut manja pada leher tampan laki-laki itu.


"Hua..hua.. Uncle tidak boleh pergi kemanapun. Aku tidak akan pernah untuk mengijinkan Uncle pergi.!"


Tangis Alma pecah. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika suatu hari Alex pergi dan meninggalkan dirinya.


"Hmmm..dasar gadis manja." Ucap Alex dengan haru sambil memeluk dan mengecup puncak kepala Alma.


Bersambung