I Love Uncle Hot

I Love Uncle Hot
Lihat di Sana Uncle ada pohon Akasia



Alma mendekati Alex yang sedari tadi menatapnya. Pria itu terlihat agak sedikit kesulitan untuk menyadarkan bahunya pada kepala tempat tidur walaupun di kanan kiri telah di topang oleh bantal besar.


"Uncle kau terlihat sangat kesulitan dalam posisi duduk seperti ini, pasti Uncle lelah. Ayo sekarang sebaiknya posisinya seperti ini dulu."


Alma kemudian dengan perlahan menggeser tubuh Alex dengan perlahan dan mengambil bantal besar agar bisa menopang kepalanya untuk berbaring.


"Wah, selesai. Apakah Uncle mau minum? Ya Uncle pasti haus!"


Alma kemudian mengambil air mineral dengan sedotan yang tidak jauh dari meja rias yang ada di depan tempat tidur Alex.


"Uncle ayo sekarang minum air putih dulu. Uncle pasti haus."


Alex telah dapat menyedot pipet sedotan itu walaupun dengan sangat lemah.


"Aku senang Uncle, walaupun uncle hanya telah bisa menyedot pipet ini dengan perlahan."


Alma kemudian kembali membaringkan tubuh Alex. Tidak lupa ia lalu membersihkan anak rambut yang berserak pada pada kening pria.


"Ayo sekarang istirahatlah, besok pagi kita kan berjalan-jalan menghirup udara segar di sekitar rumah."


Tidak berselang lama Alex terlihat tertidur. Pria yang dulu sangat kekar dan tampan. Dengan kondisinya yang dalam keadaan tidak baik. Ia terlihat sedikit kurus, rambutnya sedikit gondrong dan bulu-bulu halus tumbuh di daerah pelipis.


"Besok pagi setelah sarapan dan minum obat, aku akan memanggil tukang cukur. Uncle terlihat sangat tidak terurus." Alma melihat Alex yang sedang tertidur.


Setelah semua beres dan rapi. Alma tidak masuk ke kamarnya sama sekali. Ia tidur di sebelah Alex. Gadis itu sama sekali tidak bisa membiarkan pria yang lagi sakit itu sendirian di kamarnya.


Kicau burung dan angin yang semilir yang berhembus pagi itu tampaknya tidak membuat Alma terbangun. Mungkin saja karena telah berhari-hari lamanya mengurusi Alex membuat gadis cantik itu terlihat lelah dan sedikit kurus dari pada biasanya.


Alex telah terjaga sedari tadi. Tenggorokan terasa sangat gatal dan juga kering. Ia menahan rasa kering dan juga dahaga yang ia rasa pada saat ini. Ia hanya bisa melihat Alma. tidur dengan sangat nyenyak di sebelahnya.


Melihat Alma yang berada di sebelahnya saja Alex sangat bahagia. Gadis itu tertidur dengan sangat damai. Rambutnya yang hitam bergelombang dan sangat wangi sampai tercium pada hidung pria itu.


Tidak berselang Alma juga nampak terbangun. Gadis itu menggeliat sebentar dan mengumpulkan energinya untuk sadar sepenuhnya.


Ia kemudian menghampiri pria yang tadi telah lama terjaga dan memperhatikannya.


"Uncle, kau sudah bangun. Ah aku ketiduran. Tunggu sebentar aku tidak akan lama kembali."


Alma terlihat bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia kemudian kembali dengan handuk kecil dan bros penyikat gigi.


Gadis itu kemudian mengelap muka dan membersihkan mulut dan gigi Alex. Sikap dan gaya Alma memang seperti perawat yang handal membersihkan pasien yang lagi sakit.


Ia juga menganti pakaian dan bahkan dalaman yang di pakai oleh itu dengan tidak canggung sama sekali, walaupun ia memejamkan matanya sesaat dan membukanya ketika merasa dalaman Alex telah terpasang.


Dalam hati Alex benar-benar merasa sangat canggung. Tetapi di satu sisi ia sangat merasa jika gadis kecil yang telah di besarkan nya itu sekarang telah membalas semua kebaikan yang telah ia beri.


Hati pria itu seakan sangat bahagia hanya doa yang selalu ia hadirkan agar Alma menemukan kebahagiaannya. Ia juga berdoa agar di beri dan kesembuhan atas sakit yang di deritanya.


Sementara itu di gedung lantai 14 di mana terdapat ruangan CEO. Rey terlihat sangat sibuk. Begitu banyak hal penting yang terlewat selama ia di rumah sakit mengurus Alma dan juga Alex. Sekarang pria itu kembali sibuk dengan pekerjaan yang menuntunnya sehingga hampir lupa hanya untuk menelpon dan menanyakan perihal Alma padanya.


"Tuan, kami permisi untuk pulang dan ini acara agenda anda besok pagi!"


Asisten Rey yang bernama Arda menyampaikan jadwal kegiatan untuk Ceonya itu. Rey mengambilnya pada tangan sang asisten.


Pria itu sekali lagi membungkukkan tubuhnya dan berlalu pada hadapan Rey.


Rey bersandar pada dinding kursi empuk miliknya ia benar-benar merasa sangat lelah hari ini.


Kemudian ia mengambil benda pipih yang ada di dalam saku celana panjang pria itu.


Ia mengotak-atik sedikit ada rasa kecewa di wajahnya. Alma sama sekali tidak menghubunginya walau hanya untuk sekedar bertanya "Terimakasih, Rey sudah makan belum, Rey kamu sibuk?. Pria tampan itu hanya bisa mengambil air mineral yang berada di atas meja kerjanya dan meminumnya hingga tandas.


Tetapi terlihat ia tidak berputus asa hal itu terlihat jika ia telah mengemudikan mobil Sport bewarna putih itu menuju Alma Brawijaya.


Petang yang sungguh sangat indah, di mana Alma dengan terlihat sangat gembira mendorong kursi roda milik Alex. Ia berkeliling pada halaman samping dan akhirnya beristirahat pada taman belakang.


"Uncle, apa kau lelah? kita akan beristirahat di sini dulu ya."


Alma menepikan kursi roda milik Alex dan menyadarkan pada sebuah batang akasia yang tumbuh sangat besar dan lebat. Udara terasa sangat begitu sejuk ditambah dengan sinar matahari telah yang telah mulai hilang pada peredaran.


"Uncle lihatlah ini pohon Akasia yang waktu dulu tumbuh masih kecil, ketika aku dan Bi Ana masuk dalam lorong bawah tanah di sana. Penjahat- penjahat itu mencoba untuk melenyapkan nyawa kami. Uncle sibuk mencari dan akhirnya di dekat semak belukar dan tidak jauh dari pohon akasia ini aku memeluk mu dengan sangat erat."


Alma terlihat mengenang kembali peristiwa belasan tahun yang silam. Bening itu menetes dan jatuh pada pipi putihnya yang seperti batu pualam.


Alex tidak sama sekali tuli, ia mendengar dengan sangat baik. Butiran kecil juga menetas di sweaternya yang bewarna coklat.


Pria itu juga ingin sepertinya mengucapkan sesuatu. Bibirnya bergerak sedikit demi sedikit.


"Al...ma..."


Suara itu sangat serak, nyaris tidak terdengar.


Alma sontak menoleh dan berjongkok di depan kursi roda milik Alex.


"Uncle kau telah bisa bicara?"


Gadis itu lalu memegang pergelangan tangan milik pria tampan itu, ia juga menghapus butiran bening milik Alex yang terjatuh.


"Aku tidak membuatmu sedih kan Uncle, ayo aku ingin kembali mendengar suara mu, ayo panggil namaku lagi Uncle."


"Al..ma..Alma.."


Kembali Alex mengucapkannya dengan terbata-bata.


'Uncle aku sungguh sangat senang." Alma melonjak kegirangan.


Tanpa sadar gadis itu mencium pipi kiri dan kanan milik Alex.


"Uncle harus cepat pulih dan kembali ke kantor Uncle, aku janji akan menurut dan tidak akan membantah lagi. Aku juga ingin belajar banyak nantinya di sana.!" mata gadis berkulit putih itu kembali berbinar indah. Rambutnya yang ikat dengan ekor kuda membuat tengkuknya terekspos putih tampa cela.


Kau sungguh sangat sempurna hadis kecilku, dan kau juga harus mendapatkan jodoh yang tentunya juga sempurna ucap Alex dalam hati.


Tidak jauh di sana Rey berdiri mematung, ia telah sangat lama berdiri dan mendengar semua yang telah di katakan Alma dan ciuman dadakan yang baru saja live di depan matanya.


Heii teman jangan lupa tekan tanda love dan likenya ya terimakasih..