
Bu Sandra merasa sangat terkejut hal apa yang membuat ia harus dipanggil oleh wakil direktur yang terkenal dingin dan terkesan sangat acuh. Apa kesalahan yang di buat oleh stafnya saat ini. Indah dan Sandra dengan perasaan yang tidak menentu melangkah ke luar ruangan yang membuat perasaan bertanya pada karyawan lain.
Sandara dan Indah telah berada di ruangan Hamdan mereka tertunduk di hadapan orang kedua dan esok pagi mungkin ia akan menjadi orang pertama di Perusahaan itu.
“Bu Sandra.”
“Ya, tuan Hamdan.”
“Anda tahu mengapa anda saya panggil ke mari Bu Sandara?”
Hamdan bertanya dengan sangat tajam pada kepala ruangan separuh baya itu. Sandra hanya menundukkan muka.
“Ya, pak. Pasti ada kesalahan yang saya perbuat saya bersalah.”
“Bagus, jika sebelum saya bertanya dan menjelaskan anda telah mengakui anda salah, jangan pernah ada karyawan atau pejabat di sini yang berkata seakan diri nya benar tampan sedikitpun merasa bersalah.!”
“Anda berdua silahkan duduk.”
Indah dan Sandra duduk di depan meja direktur yang terdapat tumpukan kertas yang begitu sangat banyak.
“Bu Sandra, anda telah bertahun bekerja pada Perusahaan ini. Bagaimana bisa rekap yang anda berikan begini kacau, tidak terlihat jelas Aitem, satuan harga, jumlah yang di Zoom ke bawah tabel tidak terdapat kesamaan dengan laporan yang pertama. Tabel di sini tidak memperlihatkan jelas dan Signifikan keadaan secara umum.!!”
Hamdan memberikan kembali rekap hasil yang tadi dibawa Indah kepada Sandra. Sandra terdiam, ia tidak menyangka wakil direktur yang acuh itu ternyata mempunyai kompenten yang sangat baik dan sangat teliti.
“Jadi siapa yang mengetik dan memberi konsep Bu sandra?”
“Yang memberi konsep saya tuan dan yang mengetik adalah Yudi.”
“Hari ini saya telah berbaik hati sedikit pada kalian semua, jangan membuat kesalahan lagi! Perbaikan rekapan ini. Di mana File tersimpan?”
“Di ruangan saya tuan, dan Yudi yang menyimpan File itu."
“Sebenarnya, pekerjaan sepele seperti ini sampai aku harus turun tangan. Baiklah, sekarang ambil File itu Indah kirim lewat Flashdisk. Kerjakan di ruangan, di sana ada komputer kerjakan dengan cepat.”
Hamdan menyuruh Indah untuk mengambil File yang telah di ketik oleh Yudi melalui Flashdisk dan ia harus mengerjakannya di dalam ruangan wakil Direktur itu.
Bagaimana jika nanti salah, aku sama sekali belum begitu pandai dalam hal mengetik seperti ini. Ini akan bertambah kacau lagi, pikir Indah.
“Apa yang kalian tunggu, Sandara dan Indah segera kerjakan apa yang aku perintahkan.”
Kedua orang yang larut dalam pikiran masing-masing kemudian tersentak dari lamunan. Serentak mereka berdua menjawab.
“Ya, Tuan.”
Tidak lama Indah telah kembali ke dalam ruangan Sang Wakil Presider, Ia telah membawa File dan Format dan data yang akan direkab ulang. Sungguh pekerjaan yang tidak bisa memakan waktu tidak sedikit. Jika salah sedikit saja Angka akan bergeser dan tidak akurat dengan format pendukung dari hasil Pemasaran barang. Pekerjaan ini, paling tidak membutuhkan waktu tiga hari untuk lembur.
Indah telah mulai menghidupkan komputer, tidak lama ia juga telah memasukan Flashdisk. Semua berjalan lancar. Keringat dingin mulai merayap di kulit putih perempuan cantik yang sedang sibuk dengan komputer itu. Jika nanti ada kesalahan, atau ia terhambat dalam rekapan itu kemana ia akan bertanya? Akankah ia bisa bertanya pada sang Tuan dinginnya, ia juga terlihat sangat sibuk.
“Apakah sudah selesai Indah?” suara dingin dan berat itu terasa menyapu tengkuknya, padahal Hamdan masih duduk di kursi kerja pria itu.
“Eee..ee belum tuan.” Suara Indah tergagap, ia benar-benar takut pada saat ini.
Hamdan kemudian berdiri dari kursinya. Ia menuju Indah yang masih sibuk dengan komputer dan rekab. Dari posisi belakang tubuh Indah yang lagi mengetik Hamdan berdiri dan melihat ketikan Indah.
Aku pasti akan dipecat kali ini, dari tadi hanya satu Format yang aku kerjakan Ya, tuhan tolong aku, pekik Indah dalam hati.
“Apakah mengetik di Xl seperti ini Indah.” Suara itu seakan pas berada di tengkuk kuduknya dan terasa membuat pori-pori kulit terasa lebar dan mendingin.
“E..Ehh,”
“Mengapa jika tidak paham sebaiknya bertanya dari tadi.” Hamdan kembali bersuara, tetapi kali ini sura tidak lagi dingin, tetapi terkesan sangat lembut.
Indah terhenyak oleh sikapnya yang lembut. Ia tidak menyangka, jika lelaki yang terlihat yang tadinya acuh telihat perhatian dan tidak mengunakan kekuasaannya.
Hamadan meraih kursor di tangan Indah. Badannya sedikit membungkuk hingga mengenai punggung perempuan itu. Punggung dan dada bidang itu seperti bergeser dengan sengaja. Tangan Hamdan yang tadi merebut kursor dari tangan Indah juga beradu saat ini. Sejenak mereka bertatap pandang. Indah segera menagalihkan pandangan dari raut muka yang tampan.
Siapa yang tidak akan tertarik dengan ketampanan lelaki itu, ia sangat tampan walau hari telah beranjak sore bau maskulin tetap menyapu kemeja pria itu. Ia masih telihat segar dan rapi. Sejuta pesona seakan adalah magnet kuat yang berada dalam telaga hitam milik sang penguasa yang sebetar lagi akan naik tahta. Debaran halus memacu detak jantung
perempuan cantik yang masih sangat muda itu.
Begitu juga Hamdan, debaran jantungnya seakaan mengaju pada Adrenalin untuk terus berpacu dan menahan jangan sampai ia menerkam tubuh karyawan yang sangat membangkitkan hasratnya. Ke mana mukanya akan dibawa, jika saja ia kelepasan kontror sedikir saja, tubuh itu kan dibawanya pada ranjang di dalam ruangan. Ia menahan salivanya agar tidak keluar saat ini.
Hamdan mengajari Indah pada program di Xl agar lebih mudah dalam rekap dan mendata pemasaran dan penjualan. Ia sangat sabar, ketika Indah juga merasa belum sangat paham. Tidak terasa hari telah merambat malam kedua insan itu seakaan lupa akan jam pulang karena pekerjaan.
Suhu di dalam ruangan bertambah sangat dingin, karena hari telah menunjukan jam sembilan malam.
“Apakah kau haus Indah, silahkan minum dulu,” terdengar Hamdan kembali bersuara.”
“Tidak, tuan.”
“Kalau begitu aku yang mita minum, maukah kau membuatkan ku kopi?”
“Tentu saja tuan,” sahut Indah cepat
“Kau tidak perlu ke dapur, karena dibalik pintu ini, ada ruangan stoc kopi, gula dan dispenser!”
Indah dengan cepat berdiri dari kursinya dan berlajalan keruang yang disebutkan Hamdan. Baru saja ia hilang dibaik pintu. Terdengar suara lengkingan dan suara terjatuh.
Membuat Hamdan yang berada di dekat Komputer sangat terkejut dan menyusul Indah dengan segera.
Hai,, para pembaca setia I Love Hot uncle. Tetap setia disini, tekan love, like yang banyak dan komentar membangun. Berikan dukungan kalian agar Author semangat nulisnya trimksh.