I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Terjebak tauran



Ayu berusaha mencari keberadaan kakak-kakaknya ataupun kakak iparnya guna meminta izin untuk pulang terlebih dahulu mengingat memalukan berada dipesta mewah seperti ini dengan pakaian kotor. Ketika dia tidak kunjung menemukan mereka, Ayu mencoba menelpon, tapi


dua-duanya tidak ada yang mengangkat panggilan Ayu, fikir Ayu mungkin mereka sibuk ngobrol dengan rekan bisnis mereka. Akhirnya Ayu memutuskan untuk mengirim pesan memberitahukan kalau dia akan pulang lebih dahulu.


Ayu menyetop taksi pertama yang dilihatnya.


“Kemana mbak.” sik sopir bertanya.


Ayu menyebutkan alamat rumahnya dan taksi langsung melaju, entah Cuma itu perasaanya saja, tapi Ayu merasa mendapat firasat buruk, beberapa menit kemudian firsat buruknya terbukti, taksi


yang dtumpangiya tidak mengarah pada jalan menuju rumahnya, Ayu mulai khawatir dan gelisah mengingat akhir-akhir ini seringnya wanita menjadi korban kejahatan dan pelecehan.


“Mas, ini bukan jalan menuju rumah saya” beritahu Ayu panik.


Sik sopir diem, “Mas, mas denger gak, mas salah arah.” makin panik.


“Gak salah arah kok mbak,” suara sik sopir terdengar jahat “Kita seneng-seneng dulu baru kemudian saya nganterin mbak pulang.”


“Jangan macam-macam yah mas.”


“Gak macem-macem mbak, saya mau satu macem aja yaitu nyenengin mbak.”


“Turunin aku disini."


“Ini bukan tempatnya, kita cari tempat yang lebih sepi biar tidak ada yang mengganggu ya, mbak yang sabar aja.” dengan suara mesum.


Ayu jelas semakin panik dan takut pastinya,nkeringat dingin mulai mengaliri dahinya.


“Mas, tolong jangan apa-apakan saya, ambil tas saya saja nieh.” Ayu memelas.


"Diem deh mbak, dijamin mbak bakalan seneng dan menikmati apa yang bakalan saya berikan kepada mbak nantinya”


Ayu berusaha menimbang dalam hati.


“Kalau aku lompat keluar resikonya aku pasti bakalan cedera dan lagian tempat ini sepi tidak ada yang bisa dimintai tolong dan dengan kondisi cedera pasti sik sopir brengsek ini bisa mengejar aku, memohon tadi sudah aku lakukan, kalau aku diem seperti ini ada kemungkinan aku nantinya bisa ngelawan kalau sik sopir melakukan aksinya, aku tendang saja selangkangannya.”


Fikiran Ayu terputus karna taksi itu tiba-tiba saja berhenti, ”Ini saatnya.” fikir Ayu. Ayu menyiapkan fisiknya sebaik mungkin untuk membela diri dari serangan sik brengsek ini, namun ternyata sik


sopir berhenti bukan karna dia sudah menemukan tempat yang tepat, tapi karna didepan tengah terjadi tauran dahsyat. Sopir itu berusaha putar balik,nsayang sebelum dia melakukannya


sebuah batu mengenai kaca depan, sehingga hancur berkeping, kejadiannya begitu cepat.


“Apalagi ini.” panik Ayu.


Pandangannya mengarah kedepan melihat orang baku hantam, dia merasa ngeri melihat live action secara nyata,orang-orang baku hantam menggunakan balok kayu, saling lempar batu, bener-benerbbikin mahluk bernama cewek merinding ngeri dan gemetaran.


Sik sopir mesum yang juga kurang lebih sama takutnya degan Ayu tidak bisa menghidupkan mesin mobilnya, tangannya berkeringat dan gemetar, apalagi tadi beberapa pecahan kaca


mengenai dirinya.


“Mas, kenapa diem aja, putar balik.” Ayu memberi saran, sik sopir tidak bergeming.


"Mas, kenapa malah jadi batu disaat kondisi seperti, ayok putar balik." teriak Ayu.


"Iya mbak, ini tengah saya usahakan." sik sopir gemetaran.


Entah sejak kapan, tapi tauran meluas dan kini tauran itu berada ditengah -tengah taksi itu berada, Ayu terjebak didalamnya. Ayu mulai menangis sembari menyalahkan sopir yang tadinya berniat jahat padanya, “Ini salah mas, coba kalau mas tidak berniat jahat dan nganterin saya, nyawa kita tidak akan terancam seperti ini.”


Pintu belakang dimana Ayu duduk terbuka dengan kasar, Ayu reflek menjerit,


“Aaaakkkhhhh.....”


Sebuah tangan kekar manarik lengannya dengan kasar, Ayu semakin heboh berteriak, "Akkhhhhhh.....”


“Diem lo.” laki-laki tersebut semakin kuat menarik lengan ayu.


Ayu menangis dan menghiba, “Mas, lepasin saya mas, saya tidak tau apa-apa, tolong jangan sakitin saya.”


“Bisa diem gak lo, berisik tau gak.” bentak laki-lakk tersebut dengan tangan terangkat diudara untuk memukul Ayu, Ayu memejamkan mata, berharap dengan memejamkan mata rasa sakit yang akan menghantam dirinya tidak akan terlalu sakit, tapi rasa sakit itu tidak kunjung datang, hal itu membuat Ayu membuka matanya perlahan, ternyata sebuah bogeman mendarat dipipi laki-laki yang menariknya sehingga membuat laki-laki tersebut tersungkur diaspal.


Terdengar seruan dari laki-laki tersebut, "Beraninya sama cewek, dasar banci."


Dan laki-laki yang memeberi bogeman tersebut mengambil alih menarik Ayu, Ayu berontak, “Lepasin, lepasin, dasar laki-laki jahat”


“Bukk” Ayu menggunakan kepalan tangannya untuk meninju hidung laki-laki tersebut, tenaganya yang disimpennya untuk melindungi diri dari sopir yang berniat jahat itu pun dikeluarkan sekarang, dan ternyata itu membuat laki yang menariknya mengaduh kesakitan.


“Awhhhkkk, hidung gue." sembari memegang hidungnya.


“Duhhh, sakit ya, maaf, maaf, maafin aku.” mendengar rintihan kesakitan laki-laki tersebut ayu merasa bersalah, “kamu gak apa-apa kan.”


“Gak apa-apa dengkul lo, lo mukulnya pakai tenaga dalam yah sakitlah.”


“Duhh, maaf, reflek sieh soalnya.”


“Gue gak bakalan ngapa-ngapain lo, gue berniat nolongin lo.” laki-laki tersebut langsung terdiem begitu tau siapa gadis yang diselamatkannya.


“Ayu, lo Ayukan.”


Ayu heran, kenapa nieh cowok bisa mengenalnya, “Ah, siapa sieh, kok kenal aku, aku gak punya temen berandal suka tauran gini dieh” herannya dala hati.


“Ayu, ini gue Adit, lo gak inget.”


“Mas adit.” Ayu memperhatikan wajah laki-laki didepannya dibawah cahaya remang-remang rembulan.


“Ngapain lo disini."


“Aku tadi...."


Suara sirene polisi memutus kalimat Ayu sekaligus membuat para laki-laki yang bertempur itu kalang kabut mencari


persembunyian.


“Sial." umpat Adit, “Ikut gue.”


Ayu mengelak, “Gak mas, buat apa aku ikut, aku gak salah, jadi gak mungkin ditangkapkan.” ujarnya polos.


“Lo pikir lo ada dimana sekarang, jelas aja lo bakal ditangkap, lo pasti diikira cewek gak bener.”


“Tapi kan aku..."


“Dia benar juga.” batin Ayu.


“Ayokkk” teriak Adit sudah gak sabar,


akhirnya dengan susah payah Ayu berlari mengikuti langkah lebar Adit, ”Eh,eh tunggu dulu.”


“Apa lagi sieh."


Ayu melepaskan hig hillsnya.


“Duh, ampun deh, cewek kok ribet amet, saat kondisi kayak gini kenapa gak pakai sepatu keds.”


“Akukan gak tau bakalan terjebak tauran begini mas.” sempat-sempatnya Ayu menyahut.


“Buruan." perintah Adit.


******


Adit gak pernah selega ini melihat motornya, karna untungnya motor Adit masih nangkring ditempatnya belum sempat disita polisi karna polisi disibukkan dengan menguber-nguber


peserta tauran lainnya, Adit memasukkan kunci motornya, dan dengan secepat kilat menstater motornya, dia menoleh kebalakang karna motornya terasa ringan, ternyata Ayu belum juga beranjak menaiki motor, Ayu terpaku memperhatikan motor yang akan dinaikinya itu.


“Lo ngapain berdiri doank, ayok cepat naik, kalau ditangkap polisi bisa panjang urusannya.” teriak Adit karna Ayu belum juga bergerak.


“Tapi, tapi aku gimana naiknya.” tanya Ayu tolol.


Sebenarnya kalau dalam keadaan normal Adit pasti akan tertawa terbahak-bahak melihat keluguan Ayu, berhubung suasana dalam keadaan genting jadi dia gak punya waktu untuk tertawa.


“Lo belum pernah naik motor.”


Ayu menggeleng, “Bener-bener gadis manja.” ujar Adit, “Kalau lihat cara orang naik motor pernahkan.” sambung Adit.


Ayu mengangguk, “Ya udah, lo tinggal dudukin bokong lo doank kan gampang.”


“Tapi, tapi motor maskan tinggi, aku gimana bisa naik.”


Adit menghela nafas sebelum berkata “Nieh” Adit mengarahkan sepatunya dipijakan motornya, “Lo naikkan kaki lo disini, terus lo dudukin deh bokong lo diboncengan motor gue, pahamkan.”


“Ohh.”


“Bukan oh, ayok cepat naik.”


“Iya."


Dengan ragu akhirnya Ayu menaiki motor yang baginya seperti menaiki tembok sekolah itu saking tingginya, setelah bersusah payah akhirnya dia berhsil duduk dibelakang. Berhubung


dia memakai gaun dia duduk meyamping,


“Heh, mau mati lo, ngapain duduk nyamping gitu.”


“Terus gimana.”


“Ya duduk normal seperti laki-lakk lah.”


“Aku lebih nyaman duduk nyamping mas.”


“Ini bukan masalah nyaman atau gak, kalau lo duduknya nyamping kayak gitu ntar gaun lo diterbangkan angin kalau gue ngebut."


Membenarkan kata-kata Adit, Ayu terpaksa mengubah posisi duduknya, “Nah gitu baru bener, sekarang pegangan.”


“Apa.”


“Pegangan.”


Ayu memegang pundak Adit, "Bukan disitu, pingggang gue.”


“Eh, disini aja deh.“


“Terserah lo deh, jangan salahin gue kalau lo berakhir nyium aspal.” Adit langsung tancap gas dengan kekuatan penuh, Ayu reflek memeluk perut adit dengan kenceng.


“Tuhannn tolong selamat kan Ayu, aku gak mau mati dengan cara seperti ini.” Ayu terus mengulangi doanya, sementara tanpa sadar pegangan tangannya semakin erat pada perut Adit.


Adit bener-bener sesak nafas akibat tangan Ayu yang memeluk perutnya begitu erat, "Lo bisa gak sih gak


peluk gue gak sekencang itu, gue susah nafas nieh.”,


Tapi orang yang diberitahu gak merespon sama sekali, Adit menepikan motornya begitu memastikan dia aman dari kejaran polisi.


“Lo bisa gak sieh gak peluk gue sekencang ini.”


Ayu lagi-lagi gak merespon, Adit menggoyangkan pundaknya, tapi masih tetap tidak ada respon dari Ayu, Adit memegang tangan Ayu, tangan Ayu begitu dingin dan sedikit bergetar.


“Hei.” ucap Adit pelan, Adit turun dan diikuti oleh Ayu, Adit baru sadar Ayu tengah menangis tertahan. Adit replek memegang pipi Ayu dan menghapus air mata yang mengalir dari pipi


Ayu, dia gak atau apa yang membuatnya melakukan hal itu padahal selama ini dia gak pernah mau bersusah-susah menghapus air mata cewek yang menangis disebabkan karna


ulahnya. Ayu masih menangis dengan tubuh bergetar, sebenarnya melihat ketakutan diwajah Ayu pengen rasanya Adit memeluknya memberikan rasa aman dan tenang, tapi dia takut Ayu berfikir dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, makanya dit hanya menghibur Ayu dengan kata-kata yang seenggaknya bisa membuat Ayu kembali tenang.


“Lo gak akan kenapa-kenapa, lo aman sama gue, percaya sama gue.”


Melihat Ayu tetap gak merespon kata-katanya Adit kembali menambahkan, “Gue akan pastikan lo balik dengan selamat sampai kerumah lom” Kata yang terakhir Adit mampu membuat Ayu mengangguk, tapi Ayu belum mau


bersuara.


”Kita bisa jalan sekarang.” tanya Adit melihat Ayu sudah sedikit tenang.


Ayu mengangguk “Tapi pelan-pelan.”


“Baik bos.” Adit berpose hormat layaknya menerima perintah dari komandannya.


Kelakuan Adit membuat Ayu tersenyum, “Nah gitu donk senyum kan manis.”


Ayu bersemu mendengar gombalan Adit, karna gelap untung Adit tidak melihat karna kalau Adit tau Ayu pasti malu.


*****