
Malam ini dikediaman keluarga Bagaskoro untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir formasi keluarga tersebut lengkap dimeja makan, setelah bertahun-tahun lamanya anak sulung keluarga tersebut yaitu Arman Pratama Bagaskoro kembali setelah menimba ilmu
di luar negeri. Sementara Adit lebih seneng nongkrong bareng gengnya ketimbang harus ikut makan malam bersama keluarganya, malas dia, pasalnya mamanya pasti nyeramahin dia, dan kata wajib mamanya adalah, “Fokus kuliah Dit biar kayak kakakmu, biar bisa bantu papa kalau udah selesai,” atau yang lainnya, “Jangan bikin ulah lagi bisa kan Dit, berhenti bergaul dengan temen-
teman brandalmu itu, mama udah bosen keluar masuk kantor polisi untuk menjamin kamu.” itu dua diantara ceramah wajib sang mama, sampai Adit udah hafal diluar kepala kalimat tersebut.
Adit heran kenapa mamanya tidak jadi ustadzah saja kalau hobinya ceramah. Malam ini dia terpaksa berada disini, berkumpul dengan keluarganya dimeja makan, karna Arman tidak membiarkannya pergi dengan menyembunyikan kunci motornya. Tanpa
motornya mana biasa Adit pergi, banyak sieh mobil digarasi, tapi dia lebih nyaman
menggunakan motor kesayangannya.
Terjadi percakapan dimeja makan tersebut, Aditama Bagaskoro selaku kepala keluarga dirumah itu membuka percakapan, “Jadi, kapan kamu akan mulai masuk kantor.” pertanyaan
itu ditujukan tentu saja untuk si sulung Armam.
“Mungkin besok atau lusa pa, bosan juga dirumah tidak ada yang dikerjain.”
“Denger itu Adit, abangmu mana betah ngangur, padahal dia baru tiga hari pulang dari luar negeri, seharusnya dia istrihat full untuk sementar waktu supaya fikirannya fress dan bisa membantu papamu di perusahaan, kamu ikutin jejak abangmu donk, jangan kerjaannya main mulu sama anak-anak berandal itu.”
“Mulai deh ceramah ibu negara.” Adit membatin,
“Denger tuh bang.” Anggi sik bungsu juga ikut-ikutan nimbrung, “Biar gak rugi mama dan papa ngasih abang makan.”
“Nyambung aja lo bocah.”
“Suka-suka donk, mulut, mulut, mulut anggi.,”
“Gue doain bibir lo jounnnterrr, biar lo gak nyambung mulu kayak kartu perdana.”
“Ma, lihat tuh bang Adit, doain Anggi yang jelek-jelek." adu Anggi.
Biasanya kalau Adit dan Anggi berada dalam satu ruangan, dua suadara itu pasti bertengkar.
“Adit.' tegur Alya mamanya, “Kok nyumpahin adiknya begitu seih.”
“Habisnya anak mama yang satu itu nyebelin dan cerewet mah.”
“Abang dua kali lebih nyebelin.” sik bungsu gak mau kalah.
“Lo 10 kali lebih menyebalkan.”
“Abang 100 kali lebih menyebalkan.”
Adit bersiap membuka bibirnya untuk membalas adiknya, Entah angka berapa yang bakalan Adit sebutkan namun mamanya yang kesel dengan tingkah
kedua anaknya memutus adu mulut tersebut.
“Hehhh, sudah, sudah, pada besar begini juga kenapa pada masih bertengkar, Adit, kamu seharusnya memberikan contoh yang baik donk sama Anggi seprti abangmu Arman.”
"Tuh denger Dit, contoh gue, gue adalah tipe abang yang baik dan bertanggung jawab." Arman yang mendapat pujian jadi besar tuh kepalanya.
“Iya ma, puji terus aja bang Arman sik anak emas, Adit mah apa atuh anak perungu selalu salah dan tidak pernah benar.” lirih Adit dengan wajah dibuat semerana mungkin.
Tertawa ngakak kan Anggi dan Arman mendengar rintihan hati Adit.
“Anak emas, anak perungu, apa itu maksudnya.” tanya aditama, mungkin dia satu-satunya yang tidak mengerti tentang pembagian kelas yang dibuat oleh anak-anaknya.
Arman buru-buru menjawab, “Bukan apa-apa pah, bukan sesuatu yang penting.” namun dia dan Anggi masih tertawa.
“Man.”
“Hmmm.”
“Mama dan papa sudah tua lho.” Alya mengalihkan topik.
“Bukan mulai ma, tapi uda tua beneran.” sambar Adit.
“Anak ini, bisa gak tidak nyahut kalau mama bicara serius dengan abangmu.”
“Oke, oke, waktu dan tempat dipersilahkan buat ibu negara.”
“Emang kenapa ma,,mama takut tua gitu” sela Arman.
“Duhh, kamu anak mama yang paling normal, jangan ketularan Adit juga donk man kalau ditanya.”
“Jadi maksud mama, Adit gila gitu, teganya." cerocos Adit.
“Diem kamu anak nakal, kalau orang tua ngomong jawabnya yang bener.”
“Salah lagi, iya deh, sampai neraka membeku Adit tidak akan pernah ngomong.” Adit menarik garis lurus didepan bibirnya, seolah-olah tuh bibir memiliki resleting.
Arman dan Anggi cekikikan, Aditama menggeleng melihat kelakuan putra-putrinya, “Lihat pa, anak-anakmu, ditanya apa jawabnya apa.” tuhkan jadi kesel ibu negara.
“Jawab yang bener donk kalau mama kalian nanya, kalau ibu negara ngambek bisa berabe urusanmya.” bisa juga bercanda ternyata seorang Aditama.
Candaan papa mereka berhasil membuat ketiga bersaudara itu tertawa, Alya makin kesel.
“Ayah sama anak sama saja.” omelnya.
*********
Siang itu A kuadrat alias Arkan Andra, door tu door demi menemukan gadis yang katanya membuat Adit ngemis-ngemis cinta, siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Ayu.
“Jurusan apa sieh tuh anakk, elahhhh gue udah kayak bank rontok aja.” keluh Arkan merasa betisnya segede talas.
Emang dilihat dari sudut pandang manapun apa yang mereka lakukan
adalah pekerjaan sia-sia, tapi bagaimana lagi, Arkan sangat penasaran dengan gadis yang diceritakan oleh Andra.
“Mana gue tau, kalau gue tau gak sesusah ini nemuinnya.”
“Lo masih hinget gak wajahnya.”
“Masihlah, kapasitas memori otak gue masih cukup buat nyimpen wajah tuh cewek.”
“Tapi kenapa belum ketemu juga,” Saking penasarannya Arkan sampai memohon sama Adit untuk memberitahunya jurusan yang diambil oleh gadis tersebut, tapi mana mau Adit memberitahunya.
“Lha, itu dia, itu dia.” tunjukknya girang seperti menemukan peti harta karun saja.
Saat itu Ayu tengah berjalan bersama Angga mendiskusikan tugas kelompok mereka.
“Yang mana sieh orangnya.”
“Yang itu, itu yang makai baju warna putih itu, yang jalan sama cowok berkaca mata.” makin heboh sik Andra nunjuk-nunjuk.
“Jangan heboh juga nunjuknya begok, orang-orang pada lihat tuh.”
Andra menurunkan jari telunjukknya. “Pura-pura ngobrol biar tidak kentara kita ngebet pengen lihat dia.” Arkan menyarankan supaya tuh gadis tidak curiga kalau dirinya tengah diperhatikan.
Arkan dan Andra pura-pura ngobrol dengan mata curi-curi pandang kearah Ayu, ketika Ayu sudah semakin dekat.
“Itu cewek yang kejar-kejar Adit.” Arkan bertanya ketika ayu berlalu bersama Angga.
“Iya, dia orangnya.”
“Lo salah orang kali, masak standar Adit jadi turun level begitu.” Arkan tidak percaya.
“Mata gue sehat bin wal’afiat Kan, gue gak mungkin salah, kemarin juga gue udah bilangkan tuh cewek gak cantik, hanya Adit dan tuhan yang tahu kenapa Adit naksir tuh cewek.”
"Gue gak pernah sangka Adit kini berubah haluan menyukai gadis dengan wajah biasa-biasa saja."
********
“Uhukk, uhukkk.” Adit terbatuk hebat karna punggungnya ditepuk cukup keras oleh Arkan dari belakang, Arkan dan Andra baru datang disaat dia mengunyah soto minya dikantin.
Adit buru-buru meraih gelas minumnnya dan menyuruput isinya, “Berengsek lo, lo gal lihat sikon, main tepuk aja.” omel Adit.
Arkan malah nyengir, dia mengambil tempat duduk berhadapan dengan Adit, sementara Andra duduk disamping Adit. “Jadi itu yah.”
“Jadi itu apa.” gak ngerti Adit arah pembicaraan Arkan.
“Cewek yang lo kejar saat ini." Arkan memperjelas maksudnya.
“Maksud lo sik Ayy.”
“Wah udah resmi nieh kayaknya, manggilnya pakai Ayy segala.”
“Namanya Ayu, yah gue manggilnya Ayy lah biar praktis.”
“Apa dia yang lo bilang calon bini itu.”
“Waktu itu bercanda gue.”
“Serius juga gak apa-apa kok, lagian satiap mahluk bernama cewek layak dijadikan bini."
“Dia Cuma sahabat gue,bukan gebetan gue.”
“Dia kayakmya wanita baik-baik.”
“Emang iya.”
“Pantas aja dia gak suka sama lo.”
“Maksud lo.”
“Cewek baik-baik mana mau sama cowok brengsek model lo beginian meskipun lo tampan.”
“Aialan lo." umpat Adit.”Mieh gue kasih tau sama lo berdua, dalam sejarahnya tidak ada cewek yang tidak mau sama gue.”
“Termasuk cewek itu.”
“Hmm,,termasuk juga dia.”
“Berapa lama.”
“Berapa lama apanya.”
“Waktu yang lo butuhin buat naklukin dia.” tantang arkan.
“Udah gue bilang dia sahabat gue, gak berminatlah gue buat jadiin dia pacar gue.”
“Lo kalau gak bisa naklukin dia bilang aja gak bisa, jangan berdalih sahabat sebagai alasan donk."
Tersulut jugakan Adit mendengar kalimat kompor Arkan, “Oke, gue bakalan buktiin sama lo berdua, gue bakalan naklukin gadis itu dan menjadikan dia sebagai pacar gue, kalau gue berhasil
lo berdua kerjakan tugas gue selama satu semester.”
Arkan tersenyum sinis, “siapa takut, kalau lo gak berhasil lo yang ngerjakan tugas kami berdua."
“Eh, gue dari tadi diem aja ya sibuk mendokumentasikan, jangan bawa-bawa gue” Andra protes, dari tadi dia merekam intraksi anatara Adit dan Andra dengan kamera ponselnya, selain itu juga, jelaslah dia gak mau ikut taruhan, gila aja taruhan sama Adit masalah cewek, udah pasti kalah lah mereka mengingat bagaimana reputasi Adit sebagai casanova kampus.
“Dasar penakut lo." ejek Arkan “Oke Dit, jadi kita sepakat.”
“Oke, deal ” Arkan menyalami Adit sebagai sebuah persetujuan.
“Lo sebagai saksinya.” tunjuk Adit pada Andra.
“Sipp kalau itu.”
“Lo gue kasih waktu naklukin tuh cewek 14 hari."
“Lelamaan, gue bakalan naklukin dia dalam waktu 7 hari." ucap Adit mantap.
Sebenarnya siapa sieh dikampus yang tidak kenal reputasi Adit dalam menalukkan perempuan, lebih-lebih lagi Arkan yang merupakan temen dekat Adit, tapi entah kenapa dia berani menantang Adit untuk menaklukkan gadis tersebut karna dia merasa gadis itu berbeda
dari gadis kebanyakan yang tergila-gila sama Adit. Arkan merasa yakin gadis tersebut tidak akan tertarik sama cowok berandal seperti Adit. Untuk mengetahui bener apa tidak pemikiran
Arkan kita lihat saja hasilnya oke.
********