I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Pura-Pura Sakit



Adit Calling


Dua kata itu terpampang dilayar ponsel Karin.


"Adit nelpon, pasti mau nanyain tentang Ayu ke gue." batin Karin melihat panggilan dari Adit.


Karin tidak mengangkatnya, iyalah, cari mati namanya saat perkuliahan tengah berlangsung, apalagi dosennya adalah pak Zaki, salah satu dosen paling kiler. Untungnya dia ingat mensilent ponselnya sebelum pak Zaki masuk.


Tidak menyerah, ternyata Adit kembali menelponnya, sampai tiga panggilan, "Kalau sampai tiga panggilan gini, pasti penting nieh, apa permisi ketoilet aja kali ya, biar bisa mengangkat panggilan Adit."


Belum sempat Karin melakukan hal tersebut, ada pesan masuk yang juga dari Adit, bunyinya adalah,


Rin, lo dimana, Ayu rindu nieh ingin ketemu lo.


"Ayu, bukannya Ayu tidak diizinin pergi kemana-mana ya sama mas Arya, kok bisa Ayu sekarang bersama dengan Adit." Karin bingung.


Untuk menjawab kebingungannya, Karin membalas pesan Adit.


Emang Ayu lagi sama lo sekarang.


Balasan Adit singkat.


Yoi


Kok bisa


Adit hanya membalas.


Udah deh gak usah banyak tanya, malas gue ngetik, mending lo datang aja kemari, ntar gue kirim alamatnya.


"Gue kan ingin tahu begok makanya gue nanya." karna kesel dengan balasan Adit, Karin tidak sadar mengeluarkan kekesalannya dalam bentuk lisan, sehingga bisa didengar oleh seisi ruangan termasuk oleh pak Zaki.


"Berani-beraninya ya kamu Karin ngatain saya begok."


"Upsss." Karin menutup bibirnya karna keceplosan mengatakan suara hatinya, sekarang pak Zaki jadi salah pahamkan, dikira dia yang dikatain begok, Karin berusaha mencari alasan untuk menyelamatkan dirinya.


"Eh, itu, itu bukan bapak kok yang saya maksud, saya..." Karin menelan ludahnya, dia gak tau harus membuat alasan apa, apalagi pak Zaki memandangnya dengan tajam begitu, "Duh, mending gue pura-pura mati aja deh." batinnya, tapi malah yang dia lakukan adalah, "Aduh, aduh, perut saya."


Karin malah memegang perutnya, ekspresinya seperti orang kesakitan, iyalah, kan dia lagi berekting sakit. Panik donk seisi kelas, termasuk pak Zaki yang langsung menghampiri Karin.


"Lho Karin, kenapa kamu ini."


"Perut saya pak, sakit sekali." bohongnya, padahal dia tidak berniat jadi artis, tapi ternyata dia punya bakat akting juga, memang kalau orang kpepet ide muncul begitu saja.


"Tadikan kamu baik-baik saja, kenapa sekarang sakit."


"Gimana sieh bapak ini, namanya juga orang datang bulannya tiba-tiba, ya sakitnya juga tiba-tibalah."


"Bagaimana sekarang."


"Tidak bagaimana-bagaimana pak, bapak harus mengizinkan saya pulang, sakit sekali ini."


"Elahh, penyakit datang bulan begitu doank, dibeliin kiranti juga hilang sakitnya pak." salah satu temen kelas Karin yang bernama Rio menyahut sok tahu.


Dian menyahut, "Emang lo pernah datang bulan dengan hanya minum kiranti sakitnya hilang."


"Enggaklah, gue kan cowok tulen, pacar gue tuh yang sering minta dibeliin kiranti, untuk meredakan sakitnya." lha, malah curhat sik Rio ini.


"Aduh, aduh." ditengah perdebatan tentang kiranti, Karin malah semakin heboh mengaduh, biar dia dianggap kesakitan banget gitu.


"Iya sudah, sebaiknya kamu pulang sekarang." ucap pak Zaki, sepertinya dia tidak ikhlas membiarkan Karin pulang, "Badrun, tolong kamu antarkan Karin pulang ya."


Karin buru-buru menolak, "Gak perlu pak, bikin repot Badrun saja, saya mending telpon sopir saya saja suruh jemput."


"Bukannya tadi pagi gue lihat lo bawa mobil sendiri." Timpal Rangga.


"Sialan sik rangga, punya salah apa gue sama dia sampai ngember gitu." umpat Karin.


"Hehe, iya ya, gue lupa, maklum kalau lagi sakit gini suka amnesia."


Pak Zaki menggeleng, "Ya sudah Karin, sekarang lebih baik kamu pulang sekarang dan dianterin badrun."


"Mobil saya pak."


"Nanti suruh pacar kamu saja yang ngambil."


"Sialan, diledek gue, gue kan gak punya pacar.'"


Sebenarnya Karin ingin menolak, tapi gak mungkinlah, tadikan dia Aktingnya menampilkan orang yang kesakitan banget, mana ada orang sakit bisa bawa mobil. Masih dengan Akting pura-puranya, Karin memegang perutnya dan keluar dari ruang kelas diikuti oleh Badrun yang akan mengantarnya.


Karin menormalkan ekspresi wajahnya, "Jangan ngadu lo ya, awas kalau lo ngaduin gue ke pak Zaki."


"Ih, gak punya kerjaan banget gue, malahan gue seneng kali, gue bisa keluyuran."


"Dih mengambil keuntungan lo ya."


"Emang gue peduli, udah sana mending lo pergi, gue yakin lo punya alasan sampai bohong begitu."


"Terus, lo mau kelas."


"Budek, kan tadi gue udah bilang gue mau keluyuran, tempat yang paling asyik dijadikan tempat bolos ya rental PS."


Badrun berjalan kearah parkiran, karna tujuan mereka sama, Karin berjalan dibelakang Badrun.


***********


Tentu saja, tempat pertama yang ingin dituju Karin adalah tempat dimana Ayu berada untuk menemui Ayu sekaligus melepas rindu dan juga mengintrogasi Ayu, tapi niat itu tertunda karna Karin melihat keberadaan Sakti diparkira, wajah Sakti terlihat serius.


"Duhh, gimana ini, ada mas Sakti lagi." Karin langsung menghentikan langkahnya.


Kalau dalam kondisi normal Karin pasti seneng banget melihat Sakti, tapi kali ini, Karin bener-bener berharap tidak bertemu dengan Sakti, Karin yakin seratus persen, kalau kemunculan Sakti dikampusnya untuk mencarinya, kalau sakti mencarinya dan bilang kangen sieh pastinya karin seneng setengah mati, tapi ini pasti Sakti mencarinya untuk menanyakan Ayu.


Karin mencari cara supaya dirinya tidak dikenali, dia melihat sekeliling dan melihat seorang mahasiswa yang berjalan menggunakan masker, Karin langsung mencegatnya dengan merentangkan kedua tangannya, Karin gak kenal sieh dengan cowok itu, tapi dalam kondisi darurat seperti ini kadang sifat tidak tau malunya muncul.


"Hai, boleh pinjem masker lo gak." tembaknya langsung.


"Hah." respon tuh cowok, udah pasti bingunglah dia, dicegat sama gadis yang tidak dia kenal dan main pinjem masker aja, mending dua yang dia punya, ini satu-satunya yang saat ini dia pakai menutupi hidungnya.


Karin fikir tuh cowok gak ngerti maksudnya, makanya dia mengulangi kalimatnya dengan penuh penekanan, "Pin jem mas ker lo." pakai bahasa isyarat pula dia.


Sik cowok menunjuk masker yang digunakan menutup mulutnya, "Ini, lo mau pinjem masker gue."


Karin mengangguk, "Iya, bolehkan, pliss."


"Boleh, tapi berikan nomer lo sebagai gantinya."


"Apa."


"Ya udah kalau lo gak mau." cowok itu bersiap pergi, namun keburu ditahan oleh Karin.


"Iya, iya gue kasih." putusnya dengan berat hati, pasalnya dia harus memberikan nomernya pada orang asing, sesuatu yang seharusnya tidak diberikan pada sembarang orang, tapi Karin juga gak sadar apa, kalau dia juga main pinjem masker orang aja padahal gak kenal.


"Ya udahlah kasih aja, toh cuma nomerkan, bukan keperawanan." Karin membatin.


Karin membacakan nomernya, dan sik cowok mencatatnya diponselnya.


"Maskernya." ujar Karin begitu aktifitas memberikan nomer itu selesai.


Sik cowok melepas maskernya, dan hulala, tuh cowok demi apa cakep banget sumpah, Karin sampai gak berkedip menatap tuh cowok, sumpah dia tidak menyesal memberikan nomernya pada tuh cowok, siapa tau bisa jadi pacar, batinnya. Bener-bener labil bangetkan sik Karin, kemarin-kemarin aja bilangnya dia cinta mati sama Sakti dan akan mendapatkan cinta Sakti mati-matiin, lha sekarang, lihat cowok cakep imannya langsung goyah.


Karna saking terpananya, Karin sampai gak sadar kalau tuh cowok dari tadi menyodorkan masker yang diminta, sampai tuh cowok menjentikkan jarinya didepan mata Karin.


"Haloo, mbak."


Barulah Karin tersadar, "Eh, maaf, maaf, habisnya ganteng banget sieh." keceplosan kan dia, sumpah Karin malu banget, Karin sampai memukul mukul bibirnya yang tidak bisa direm.


Cowok itu tertawa, "Terimakasih banyak ya."


"Makasih untuk apa."


"Karna bilang aku ganteng."


"Itu kan kenyataan." memang bener deh, hari ini dia keceplosan mulu.


Cowok itu tersenyum, "Nah ini masker yang mbak minta." cowok itu meraih tangan Karin dan meletakkan tuh masker, "Dan makasih ya udah ngasih nomer mbak, bolehkan aku hubungin."


Karin menjawab dengan cepat, "Boleh banget." menyadari dirinya begitu sangat antusias, dia jadi malu sendiri.


"Ya udah kalau gitu, aku cabut dulu."


Karin hanya memberi anggukan.


"Buset, ganteng banget, untung tadi gue gak jual mahal, kalau iya bisa rugi gue."


Karin kembali melihat kearah parkiran, dan ternyata Sakti masih setia menunggunya dia sana. Karin mengenakan masker yang ditukarnya dengan nomernya sebelum berjalan kearah parkiran.


**********