I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Ketahuan



"Ayu, bisa bicara sebentar." tegur Ajeng begitu Ayu sampai dirumah.


Ayu mengangguk, "Bisa mbak."


"Ikut mbak." Ajeng berjalan menuju tempat yang tidak ada yang bisa mendengar pembicaraannya.


Perasaan Ayu menjadi tidak enak, pasti ada sesuatu hal yang teramat penting dan tidak boleh diketahui oleh orang lain sampai Ajeng membawanya ketempat yang sepi.


Ajeng berhenti tepat didepan sebuah kamar yang dialih fungsikan sebagai gudang, tempat itu memang jarang didatangi oleh anggota keluarga tersebut.


Tanpa basa-basi Ajeng menunjukkan sesuatu yang mati-matian disembunyikan oleh Ayu dari keluarganya, apalagi kalau bukan tespeck kehamilannya. Benda tersebut ditemukan oleh bi Asih ketika membersihkan kamar Ayu, dan benda tersebut diserahkan pada Ajeng.


"Apa ini." tembaknya langsung tanpa basa-basi.


Ayu gemetar, wajahnya berubah pucat melihat benda itu berada ditangan kakak iparnya, "Kenapa benda itu bisa ditangan mbak Ajeng." lirih Ayu dalam hati, padahal dia sudah menyembunyikan benda tersebut supaya tidak ada yang tahu, lidah Ayu terasa kelu, rasanya tidak sanggup menjawab pertanyaan Ajeng.


"Ayu, jangan bilang ini punya kamu, mbak sangat percaya sama kamu, kamu gak mungkin hamilkan Yu, kamu gak mungkin melakukan hal-hal diluar bataskan Yu." harap-harap cemas Ajeng menunggu jawaban yang akan diberikan Ayu, dia bener-bener berharap Ayu akan menjawab bahwa benda yang ada ditangannya itu bukan miliknya.


"Itu, itu..." Ayu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dia terduduk memeluk kaki Ajeng, tangisnya pecah, "Hikss, hikss, maafin Ayu mbak, maafin Ayu, Ayu tidak bisa menjaga nama baik keluarga, hikss, hiks."


Ajeng merasakan tulang-tulangnya lepas begitu mendengar pengakuan Ayu, tubuhnya terasa lemas, dia sangat menyayangi Ayu, dia fikir, selama ini dia dan Arya bisa mendidik Ayu dengan baik dan mengontrol pergaulan Ayu, supaya tidak terjerumus ke hal-hal negatif, tapi dia salah, adik yang selama ini dijaga dan disayangi kini membuat pengakuan yang mengejutkan. Ajeng tidak ingin percaya dengan apa yang didengarnya, dia berkata, "Kamu, kamu bercanda kan Yu, kamu hanya ngerjain mbak kan."


Ayu menggeleng, "Maafin Ayu mbak, maafin Ayu, Ayu salah, Ayu khilaf." Ayu makin kuat memeluk kaki Ajeng berharap dia mendapatkan pengampunan.


Tubuh Ajeng merosot dilantai, "Kenapa, kenapa kamu melakukan ini pada kami Yu, apakah kasih sayang yang kami berikan selama ini kurang, kenapa kamu mencoreng muka kami."


Ayu menggeleng, dia bener-bener merasa sangat bersalah, yang hanya bisa dilisankan hanya, "Maafin Ayu mbak, maafin Ayu, Ayu bener-bener menyesal." penyesalan yang sia-sia, toh dia sudah terlanjur hamil.


"Apa ini perbuatan Adit."


Ayu hanya bisa mengangguk, "Kenapa kamu bisa seceroboh ini Yu, kamu akan menikah dengan Arman, tapi kamu mengandung anaknya Adit."


"Ayu, ayu berniat membatalkan pernikahan ini mbak." Ayu sesenggukan.


"Kamu fikir semudah itu setelah semuanya dipersiapkan, kamu bener-bener membuat kami malu Yu." Ajeng memijit kepalanya yang berdenyut karna berita ini, Ayu bener-bener memberikan kejutan besar untuknya, "Bagaimana reaksi mas Arya kalau dia tahu kamu hamil, dia pasti akan sangat marah sama kamu Yu."


Mendengar nama Arya disebut-sebut membuat Ayu bertambah takut, "Mbak, Ayu mohon, jangan kasih tau mas Arya dulu tentang masalah ini." Ayu memohon.


"Meskipun mbak gak bilang, tapi mas Arya cepat atau lambat pasti akan tahu juga Yu, perutmu tidak akan bisa menyembunyikan kehamilanmu."


"Ayu tahu mbak, Ayu akan berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini."


"Memang kamu harus melakukan hal itu, kamu yang membuat masalah kamu sendiri yang harus menyelsaikannya." tandas Ajeng, dia kemudian berlalu meninggalkan Ayu yang masih sesenggukan.


"Maafin Ayu mbak, mas Arya, Ayu bener-bener tidak berniat bikin kalian malu." lirihnya.


***********


"Gak bisa kayak gini terus, aku harus secepatnya ngasih tau mas Adit tentang janin yang ada diperutku ini." gumam Ayu setelah dia merasa lebih tenang.


Dia mendial nomer Adit, dan tersambung, "Angkat mas."


Doanya terkabul, karna didetik terakhir Adit menjawab panggilannya, suara Adit terdengar bener-bener ceria seakan-akan tidak punya beban, berbeda dengan dirinya yang harus menanggung beban berat akibat ulah Adit.


"Kenapa mbak Ayu."


Mendengar suara Adit yang menyapanya tanpa beban seperti itu ngin rasanya Ayu memutilasi Adit,


"Mas Adit, aku ingin bicara."


"Itukan mbak sudah bicara." Adit pakai bercanda lagi, bikin Ayu tambah kesel aja.


"Mas, aku serius." balas Ayu jengkel.


"Iya, iya maaf, duh, calon kakak ipar ini kok sensitif banget, gak bisa diajak bercanda dikit ngambek, mbak emang mau bicara apa."


"Bisa gak dia gak usah manggil mbak" batin Ayu, "Ayu gak bisa bicara lewat telpon mas, kita harus ketemu."


"Mas Arman gak ada sangkut pautnya dengan apa yang akan Ayu bicarakan."


"Tapi aku takut nanti bang Arman berfikir yang ngak-ngak jika dia tahu kita bertemu dibelakangnya dia."


Kata-kata Adit seperti orang yang bener-bener sudah move on saja, padahal dia setengah mati membuat suaranya terdengar normal.


"Mas, tolong." Ayu memohon, dia ingin menangis saja rasanya, "Ayu ingin bertemu berdua saja."


"Ya udah, kita ketemunya dimana." ucap Adit akhirnya tidak tega mendengar suara Ayu yang sepertinya akan menangis.


"Sekarang mas, kita bertemu dikafe biasa yang kita datangi."


*********


Dengan menumpangi taksi Ayu pergi kekafe tempat yang telah ditentukan untuk bertemu dengan Adit. Kafe itu tidak terlalu rame, dan sambil menunggu kedatangan Adit, Ayu memesan minuman, tiga puluh menit berlalu, Adit belum nampak batang hidungnya, Ayu menjadi gelisah, dia mencoba menghubungi Adit, tapi sayangnya nomer Adit tidak aktif.


"Kok gak aktif sieh." desah Ayu.


Tidak menyerah, Ayu kembali mencoba menghubungi Adit, tapi nomer Adit tetap tidak aktif, "Kemana sieh dia." Ayu jadi emosi, matanya terus mengarah pada pintu masuk kafe berharap Adit tiba-tiba nongol dari sana, namun satu jam berlalu, Adit tidak pernah muncul, itu membuat Ayu ingin menangis, dia melipat tangannya dimeja dan menelungkupkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah sedihnya, "Dia memang gak peduli dengan penderitaanku, inikan perbuatannya, tega-teganya dia membuatku menderita seperti ini, dia telah merenggut kebahagian dan masa depanku." kesal Ayu menyalahkan Adit, padahal mana tahu Adit kalau dia hamil, ya memang sieh kalau orang hamil memang sensitif.


Deringan dari ponselnya yang menandakan adanya panggilan masuk membuat Ayu mendongakkan wajahnya dan menyambar ponselnya yang tergeletak dimeja, Ayu berfikir itu mungkin Adit, tapi begitu melihat nama Karin yang tertera dilayar semangatnya kembali merosot.


"Kenapa Rin." tanyaya malas-malasan begitu dia menggeser simbol telpon berwarna hijau.


"Dimana lo Yu." suara Karin terdengar panik.


"Di kafe, emang kenapa."


"Lo udah tahu belum."


"Tahu apa."


"Astagaa, jadi lo gak tahu." Karin menggantung kalimatnya.


"Gak tahu apa Rin." kejar Ayu.


"Adit Yu."


"Mas Adit, kenapa cowok brengsek itu." kalimat itu keluar begitu saja saking keselnya Ayu pada Adit


"Adit kecelakaan Yu."


"Apa, kamu bilang apa Rin."


"Adit kecelakaan Yu, saat ini Adit sudah dibawa kerumah sakit."


"Mas Adit kecelakaan." ulang Ayu tidak percaya, tangannya gemetar.


"Iya, Arkan yang ngasih tau gue, saat ini katanya kondisi Adit masih kritis."


"Rin." suara Ayu lemah, "Kamu lagi bercandakan."


"Apa-apan sieh lo Yu, masak hal seperti gue becandain, gue juga tadinya gak percaya, tapi Arkan ngirimin foto Adit yang tengah ditangani dokter ke gue."


Ponsel yang ditempelkan ditelinganya terjatuh, sekarang Ayu bener-bener menangis tanpa suara, "Mas Adit."


"Yu." panggil Karin yang masih terhubung, "Lo baik-baik sajakan, lo kirim alamat kafe dimana lo berada sekarang, gue kesana jemput lo dan ke rumah sakit sama-sama." karna tidak ada sahutan, Karin memanggil Ayu, "Yu, lo denger gue kan, Ayu, jawab gue." Karin khawatir karna tidak ada sahutan.


"Rin." sahut Ayu lemah.


"Pokoknya lo tenang oke, Adit pasti akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir, tunggu gue disana, gue jemput lo, jangan kemana-mana sebelum gue datang." pesan Karin, dia sangat khawatir dengan Ayu.


**********