
Ayu memang tidak pernah bisa menyembunyikan suasana hatinya, karna sepanjang hari dia lebih banyak diam dan murung, Karin bener-bener tidak membantu sebagai sahabat, seharusnya dia menghibur Ayu, eh setiap nama Adit keluar dari bibir Ayu, Karin pasti bilang,
"Udahlah Yu, gue yakin tuh sik Adit punya gebetan baru, jangan terlalu berharaplah sama dia."
Gimana Ayu gak makin murung coba, padahalkan kemarin dengan semangat 45 Karin bilang bahwa dia akan selalu mendoakan yang terbaik buat dirinya dan Adit, lha sekarang Karin kok kesannya ingin membuat dia dan Adit berpisah.
"Heh Yu." Karin menyenggol lengan Ayu, "Senyum napa sieh, asam mulu mukanya dari tadi."
"Lagi puasa senyum rin."
"Ishh, dasar ya lo Yu, ada-ada saja, mana ada puasa senyum."
Dering singkat terdengar dari ponsel milik Ayu, dengan gesit Ayu meraih ponsel miliknya yang tergeletak dimeja, Ayu berharap itu pesan dari Adit, tapi dia mendesah kecewa setelah mengetahui kalau pesan tersebut bukan dari Adit melainkan dari operator.
"Bukan dari Adit Yu." tebak Karin melihat ekspresi wajah murung Ayu.
Ayu mengangguk, kerjaan Ayu seharian ini adalah tiap menit memeriksa ponselnya berharap Adit menghubunginya, tapi seharian ini jangankan nelpon, ngirim pesanpun tidak, hal ini membuat Ayu mau tidak mau mempercayai argumen Karin yang mengatakan kalau Adit sudah punya gebetan.
Melihat kesedihan yang tercetak diwajah Ayu seharusnya Karin bilang, "Mungkin Adit lagi sibuk Yu sehingga gak bisa ngehubungin lo, siapa tau setelah selesai dengan kesibukannya dia bakalan nelpon lo." itu yang seharusnya Karin ucapkan untuk membuat suasana hati Ayu membaik, tapi ya seperti yang tadi-tadi Karin malah melisankan, "Apa gue bilang, tandanya udah jelas gini kok, sik Adit brengsek itu pasti lagi seneng-seneng tuh sama gebetan barunya."
"Rin, mending aku balik saja deh ke kosan." lama-lama kesel juga Ayu mendengar ocehan Karin.
"Eh, lo udah mau balik Yu, yahh, janganlah. Nginap ajalah dirumah gue ya, suasana hati lo kan saat ini lagi bersedih, takutnya gue kalau lo sendirian lo bisa punya fikiran buat bunuh diri lagi."
"Ngaco, iman ku masih kuat Rin, gak mungkin melakukan hal senekat itu."
"Siapa tau, orang patah hatikan suka nekat."
"Udah ah aku balik."
"Eh, eh." Karin meraih lengan Ayu, "Jangan donk, nginep aja oke."
"Kenapa kamu jadi ngotot gini nyuruh aku nginep sieh."
"Soalnya sik Adit...."
"Mas Adit, kenapa dengan mas Adit."
"Eh, salah, maksud gue, gue tuh masih kangen banget sama lo Yu, jadi gue ingin puas-puasin lihat lo, jadi lo harus nginep, titik."
"Kenapa alasan mu nyuruh aku nginep gak masuk akal gini sieh Rin."
"Dari segi mananya gak masuk akal, seorang sahabat kangen sama sahabatnya sesuatu hal yang wajar donk, iyakan."
"Kok aku jadi curiga ya, jangan-jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku Rin."
"Ya gaklah, jangan souzun donk Yu."
"Habisnya aneh aja gitu kamu kok ngotot banget nyuruh aku nginep, gak seperti biasanya."
"Kan tadi udah gue bilang, gue itu kangen tau sama lo, gue ingin menghabiskan waktu berdua dengan elo, jadi, lo harus nginep oke." Karin memaksa.
"Ya udah deh." ujar Ayu.
"Nah gitu donk."
************
Sampai malam pun Adit tidak menghubungi Ayu, sebagai cewek Ayu tidak gengsian orangnya, dia sudah nelpon Adit beberapa kali tapi Adit tidak mengangkat, pesannyapun satupun tidak dibalas, Ayu tidak bisa tidur nyenyak, dalam tidurnya dia menangis tanpa suara, sedangkan Karin sudah terbang kealam mimpi.
Jam sudah menunjukkan angka 11.30, suara alarm dari jam weker yang berada dinakas samping tempat tidur berbunyi nyaring, hal tersebut membuat Ayu terkejut, lebih-lebih lagi Karin yang langsung terbangun dari tidurnya.
Karin ngomel, "Sumpret, sik Adit bikin repot gue aja."
Ayu bertanya, "Kenapa Rin."
"Gak kenapa-napa Yu."
Ayu yang heran kenapa Karin mengaktifkan alarm dijam 11.30 bertanya lagi, "Rin, kenapa kamu ngaktifin alarm kamu dijam 11.30 malam."
"Oh itu, gue ada perlu dijam segitu, mending lo juga bangun deh gue anter pulang sekarang."
"Sekarang Rin, udah tengah malam lho ini."
"Udah lah gue anterin lo pulang sekarang, daripada disini lo gak ada temennya, dirumah gue banyak hantunya lho Yu."
"Udah gak usah kesel gitu, ganti baju lo gieh sana."
Dengan wajah bete Ayu mengganti pakaiannya.
Begitu mereka keluar, ternyata sopir Karin sudah menunggu diluar, diluar udaranya dingin, jadinya Ayu menautkan tangannya didepan dada untuk sedikit menghalau rasa dingin yang menyergap tubuhnya.
"Pak, bapak sudah ngopikan." Karin bertanya.
"Udah non."
"Bagus, jangan bawa mobil sambil ngantuk ya pak, soalnya nyawa kami ada ditangan bapak."
"Iya non."
"Rin, kamu mau kemana sieh emang, harus banget ya jam segini kamu perginya, ganggu tidur orang saja." Ayu bertanya.
"Pokoknya ada deh." Karin berahasia, "Ayok pak jalan."
Sik sopir mengangguk dan menjalankan mobil.
Mobil Karin berhenti didepan kosan Ayu, suasananya sudah sepi karna penghuni kosan tersebut sudah pada terlelap.
Ayu turun, Karin juga ikutan turun.
"Rin, kenapa ikutan turun, bukannya kamu ada urusan." tanya Ayu melihat Karin ikut turun.
"Gue mau numpang kekamar kecil Yu."
"Oh."
Mereka berjalan menuju kamar Ayu yang berada paling pinggir, sesampainya didepan pintu, Ayu memasukkan kunci kelubang kunci, menarik kenop dan bertepatan dengan terbukanya pintu kamarnya, lampu kamarnya menyala dibarengi dengan suara familer yang menyanyikan lagu,
"Happy bhirtday to you, happy birthaday to you."
Orang yang menyanyikan lagu ulang tahun tersebut adalah Adit, seharian ini dia bersikap acuh tak acuh pada Ayu sengaja ingin membuat Ayu kesal, bahkan Adit meminta bantuan Karin untuk membuat Ayu bete dan tentunya Adit juga meminta Karin menahan Ayu dirumahnya supaya Adit bisa mendekorasi kamar Ayu.
Dan di tangannya Adit membawa kue ulang tahun, dengan angka 20 yang menandakan usia Ayu kini menginjak 20 tahun, diatas kue tersebut terdapat tulisan berbunyi,
SELAMAT ULANG TAHUN AYY.
Sudah pasti Ayu terharu dan terkejut mendapatkan kejutan dari Adit, Ayu yang tidak menyangka Adit mengetahui hari kelahirannya,
Kemudian tiga orang lainnya mengikuti Adit menyanyikan lagu happy bhirtday, orang tersebut adalah Arkan dan Andra sahabat Adit yang membantu Adit mendekor kamar Ayu, dan juga Karin yang ikut menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Adit mendekati Ayu yang masih berdiri dengan mata berkaca-kaca, "Selamat ulang tahun sayangku, semoga diusia yang ke dua puluh tahun ini, kamu makin cantik, makin baik, sukses, panjang umur, makin cinta sama aku dan yang paling penting semoga hubungan kita mendapat restu dari keluarga kamu." itu harapan yang Adit lontarkan untuk Ayu.
Ayu tidak bisa berkata-kata saking bahagianya, "Mas Adit...."
"Ssstttt." Adit menempelkan jari telunjuknya dibibir Ayu sebagai kode supaya Ayu jangan bicara dulu.
"Tiup lilinnya dulu, jangan lupa make wish " ujar Adit.
Ayu memejamkan matanya, dalam hati dia menyebutkan keinginannya, "Tuhan, aku tidak minta apa-apa, aku hanya ingin bersama dengan mas Adit selamanya." Ayu membuka matanya dan meniup lilin.
Semua yang berada diruangan itu bertepuk tangan, Adit mencium kening Ayu mesra, Ayu memejamkan matanya menyambut hangatnya bibir Adit yang menempel dikeningnya.
Arkan, Andra dan Karin berlomba pada melontarkan protes melihat kemesraan Ayu dan Adit.
Komen dari Andra, "Kira-kira doank kalau mau mesra-mesraan jangan didepan orang juga kali."
Karin menyokong, "Bener Ndra, seharusnya mereka menjaga perasaan kita yang jomblo doank."
Arkan juga turut menimpali, "Kayaknya gue harus cepet-cepet cari pacar baru biar ada yang gue cium-cium."
Ayu dan Adit tertawa menanggapi clotehan temen-temen mereka.
"Makanya cari pacar lo sini, jomblo kok betah." ledek Adit.
Karin, Arkan dan Andara bersamaan mengumpat, "Sumpret lo Dit."
********