I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Mengantar ayu pulang



Karna keasyikan ngobrol dengan ayu dan karin, arman jadi melupakan niat utamanya untuk menemui adit. Mereka terlibat obrolan seru, lebih tepatnya emang arman dan karin sieh yang


banyak ngobrol, ayu tidak terlalu banyak ambil bagian.


“Eh, udah siang nieh ternyata, balik yuk yu” ajak karin.


“Iya, udah siang ternyata, gak kerasa ya kalau lagi ngobrol gini.” lirih ayu.


“Mas arman mau pulang atau masih mau disini.” tanya karin.


“Pulang donk, masak aku ditinggal sendirian disini.”


“Yu lo dijemputkan.”


“Iya, ntar aku telpon pak rahmat dulu.”


“Kalau gitu gue duluan deh yah.” karin lalu mencium pipi ayu sebelum pergi.


“Bay ayu, bay mas arman.” karin melambaikan tangan.


“Bay karin.” balas arman.


Ayu hanya melambaikan tangan.


“Mau telpon siapa.” pertanyaan arman melihat ayu mengeluarkan ponselnya.


“Pak rahmat, sopirku.”


“Bagaimana kalau aku yang antar.” arman menawarkan diri.


“Gak usah mas, takut ngerepotin mas ntar.”


“Aku gak repot kok, kamu takut sama mas arya kalau aku yang antar.”


“Ah, gak kok.” padahal bener.


“Ya udah aku yang antar, kasiankan pak rahmat kalau kamu ganggu, siapa tau saat ini dia lagi istirahat.” arman masih kukuh.


“Gak usah mas.”


“Kalau yang kamu takutin arya, biar aku yang minta izin sama dia.”


Arman mengeluarkan ponsel dari kantong jasnya, menyentuh sentuhan dan langsung menempelkannya ditelinganya.


“Mas mau nelpon siapa.”


“Arya,”


“Eh,” ayu panik “Mau ngapain mas.”


“Minta izin donk nganterin kamu pulang.”


“Mas, jangan...” ayu panik.


Ayu belum menyelsaikan protesnya karna arman menempelkan jari telunjuknya dibibir sebagai kode kalau sambungan sudah terhubung.


“Iya, ini arman.”


“........”


“Kebetulan aku lagi dikampus ayu, jadi sekalian gitu ngaterin ayu.”


“........”


“Iya, aku jamin ayu akan sampai dengan utuh sampai rumah.”


“..........”


“Oke.” dan arman mematikan sambungan.


“Itu tadi mas bicara dengan mas arya.”


“Iya,”


“Dia bilang apa.”


“Arya bilang kamu mendingan pulang dengan aku saja."


“Itu beneran mas bicara dengan mas arya gak bohongkan.”


Arman terkekeh, “Duh, masak aku bohong sieh, kamu mau aku telpon dia lagi ya.”


“Gak mas, iya aku percaya kok.”


“Jadi mau pulang sekarang.”


“Mmmm, iya deh.” akhirnya menyerah juga.


Mereka tiba diparkiran, sebagai pria sejati dan bertanggung jawab, arman membukan pintu penumpang untuk ayu, ayu tentu merasa semakin tidak enak hati diperlakukan seperti itu.


“Duh, mas gak perlu bukain ayu pintu, ayu kan bisa sendiri.”


“Iya aku tau, tapi gak ada salahnyakan memperlakukan gadis cantik dengan dengan istimewa.”


Ayu tersipu malu mendengar arman memujinya cantik, padahalkan wajahnya biasa saja, “ Mas arman bisa saja.”


“Gemes banget sieh kalau malu-malu kayak gini.” batin arman.


Setelah menutup pintu mobil, arman berjalan memutar untuk duduk dibelakang kemudi. Arman mendekatkan tubuhnya ke ayu, ayu reflek menjauhkan tubuhnya, “Mas arman mau ngapain.”


“Masangin kamu sabuk pengaman yu, jangan dianggap sepele, kalau terjadi apa-apa gimana coba.” jelas arman membuat ayu merasa malu karna dia sempat berfikiran yang tidak-tidak. Posisi tubuh mereka begitu sangat dekat, sampai bau farpum arman bisa tercium diindra penciuman ayu.


“Nah, selesai.”


“Makasih mas.”


Arman tersenyum dan kemudian memasangkan sabuk pengaman ditubuhnya. Setelah mereka duduk dengan nyaman arman mulai melajukan mobilnya. mobil hitam itu berjalan meninggalkan parkiran keluar kampus dan ikut berpartispasi dalam kendaraan


lainnya membelah kepadatan jalan raya.


******


Adit langsung ngacir begitu kelasnya berakhir, dia berjalan menuju parkiran. Suasana hatinya begitu baik saat ini, alasannya sederhana karna ayu, ayu yang datang nyamperin hanya untuk


mengembalikan jaketnya dan juga memberikannya kue sebagai ucapan terimakasih. Padahal adit sudah sangat sering dikasih hadiah oleh pacarnya, tapi dia tidak pernah sesenang ini. Ketika dia kembali dari mengantar ayu, temen-temennya meledeknya habis-habisan yang sama sekali tidak dia pedulikan.


Bahkan ketika temen-temennya meminta untuk mencicipi kue yang diberikan oleh ayu, adit sama sekali tidak menggubris permintaan temen-temennya, sehingga dia dipanggil pelit. Sementara arkan khawatir karna dugaannya meleset, ternyata dugaannya salah, seorang gadis


seperti ayu bisa juga kepincut dengan pesona berandal adit.


Sepanjang perjalanannya menuju parkiran ada saja yang menyapanya, ”Hai ganteng,"


beberapa mahasiswi yang pada tengah ngumpul menyapanya secara berbarengan.


“Hai cantikkk.” balasnya.


Tentu saja membuat gadis-gadis tersebut pada menjerit.


“Anjrittt, gue panggil cantik sama adit.”


“Yang dipanggil cantik itu gue, bukan lo.”


Pada kegeeran sendirikan jadinya mereka.


“Boleh nebeng motor lo dit.”


Adit menghentikan langkahnya beberapa meter karna melihat seseorang yang begitu sangat familiar.


“Bang arman, iya itu bener bang arman.”


Adit ingin berteriak memanggil kakaknya, tapi diurungkannya karna melihat kakaknya membuka pintu mobil untuk seseorang.


“Sama siapa dia, pacarnyakah, wah diem-diem ternyata dia sudah punya pacar, anak kampus gue lagi.” dia ingin menyapa sekaligus ingin tau siapa gadis yang bersama kakaknya itu namun


mobil arman keburu pergi.


Adit berjanji akan mengintrogasi kakaknya dirumah dan akan menyampaikan informasi maha penting ini kepada keluarganya, dia yakin keluaraganya terutama mamanya pasti heboh dan ngebet menikahkan anak sulungnya.


“Heh, ngapain lo berdiri kayak lampu taman disono, ngalangin jalan orang aja.” itu suara teguran dari andra.


“Kunyuk lo, tuh jalan masih lebar, lo bisa lewat sana kan.”


“Lo lihat apa sieh sampai air liur lo netes, lihat bidadari ya, mana.”


“Cewek aja diotak lagi, dasar.”


Adit menghamprir motornya dan menaikinya.


“Dit,”


“Apa.”


“Seriusan tuh kue gak mau dibagi, gila ini udah 1001 kali gue minta.” karto salah satu temennya masih berusaha meminta jatah kue pada adit.


“Beli sono, ini gak bakalan gue bagi.”


“Gitu amet lo sama gue.”


Adit bukannya pelit sieh, entah dia begitu sayang kalau kue itu dimakan oleh temen-temennya.


*******


“Ayu sukanya apa.” arman bertanya untuk mengusir keheningan karna sedari tadi ayu hanya diam saja.


“Ayu suka baca novel mas.”


“Romans ya.” arman menebak.


“Iya, mas kok tau.”


Arman terkekeh, “Asal tebak aja, karna satauku kebanyakan cewek itu suka novel-novel tentang cinta gitu.”


“Oh, kalau mas, suka baca juga gak.”


“Gak terlalu suka sieh, aku lebih suka nonton gitu jadi gak berimajinasi gitu.”


“Ohh,”


“Kamu suka nonton juga.”


“Iya, aku suka nonton drama korea gitu.”


“Gak jauh-jauh ya, baca sukanya romans, film juga sukanya romans.”


“Namanya juga cewek mas, suka yang romantis.”


“Kamu suka cowok romantis.”


“Eh, itu, mm, suka kok.”


“Aku romantis lho orangnya, bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebagai calon pacar kamukan.”


“Ehh,” ayu terkejut mendengar kalimat arman “itu, itu,” ayu gegalapan tidak tau harus menjawab apa.


“Hahahaha.” arman tertawa melihat ayu gelagapan, “ Ayu, ayu, aku Cuma bercanda."


“Apaan sieh mas.” ayu bersemu, malu dia.


Arman menghentikan mobilnya didepan rumah ayu, dia juga ikut turun bersama ayu.


“Makasih mas arman udah dianterin, mas mau mampir. “ basa-basi, dia berharap arman tidak menanggapinya, namun ternyata dia salah.


“Boleh.”


“Ehh,” dalam hati “Padahalkan aku Cuma basa-basi nawarinnya, kenapa dia mau


sieh, bagaiamana ini,” karna dia udah terlanjur menawarkan, ayu tidak mungkin kan menarik kata-katanya, jadinya dia dengan sangat terpaksa mempersilahkan arman masuk.


“Mari mas.” ayu berjalan didepan, semenatara arman mengekor dibelakang.


Keponakan ayu yaitu putri yang menyambut kedatangan mereka, bocah kecil itu berlari menyongsong ayu begitu melihat auntynya.


“Aunty,"


“Putri, kamu sama siapa, mana bunda.”


“Bunda ada didapul, bantuan bi acih macak.” lapor putri dengan suara cadelnya yang menggemaskan.


“Aunty cama ciapa.” tanya putri karna melihat arman.


"Ini om arman, teman aunty.”


“Halo putri, kenalin om arman.” arman mengulurkan tangannya.


Gadis kecil itu mejabat tangan arman dan menciumnya,“ Pinternya.” arman mengangkat putri dan menggendongnya. “Cantiknya, anaknya siapa seih ini.” tanya arman mencium pipi gembul putri.


“Anaknya bunda ajeng dan ayah alya om.”


“Duh, gemesnya.”


“Om pacalnya aunty ya.” pertanyaan polos putri.


Arman tersenyum, sementara ayu kaget karna tidak menyangka keponakannya yang baru berumur lima tahun itu mengerti yang namanya pacar-pacaran, ayu berusaha menjelaskan.


“Bukan sayang, kan aunty udah bilang, om arman ini temannya aunty, putri ngertikan.”


“Ohhhh, kenapa aunty gak pacalan sama om ganteng itu.”


“Ehh,” hanya itu yang keluar dari bibir ayu gak tau menjawab apa, dilain sisi dia juga


merasa malu dengan arman.


Arman tersenyum dan menjawab, “Putri mau om jadi pacar auntynya.”


Putri mengangguk, “Mau donk om, omkan ganteng harum lagi.”


“Kalau gitu, tanyain donk sama auntynya mau gak jadi pacaranya om.”


Gadis kecil itu menatap ayu, lewat pandangan matanya dia berusaha menyampaikan pesan arman yang didengar secara langsung oleh ayu.


“Eh, duhh, kenapa mas arman bercanda lagi sieh, gimana cara ngejelasinnnya coba sama putri.” batinnya.


“Mas, putri kan masih kecil, dia gak ngerti kalau mas lagi bercanda atau tidak.”


“Siapa yang bercanda, aku serius kok.”


“Heh” ayu terkejut.


**********