I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Kebelet Ingin Punya Mantu



Setelah sarapan ayu dan anggi duduk santai diruang tengah sambil nonton tv.


"Mbak ayu." anggi mulai melancarkan jurusnya untuk membujuk ayu.


"Apa."


"Main kerumah anggi donk ya, kan anggi udah main kerumahnya mbak, giliran mbak sekarang yang main kerumah anggi, rumah anggi bagus dan luas lho mbak, ada kolam renangnya juga, banyak makanan juga dirumah anggi, dijamin mbak akan betah disana, ya mbak ya, plisss." anggi mengatupkan tangannya.


Ucap ayu dalam hati, "Duh, anak ini mau ngajak main kerumahnya beneran, atau cuma mau pamer."


ayu melisankan, "Gimana ya nggi." ayu berfikir.


"Mbak gak bisa ya, jahat banget sieh mbak, padahalkan anggi ikhlas lho ngajakin mbak."


"Lho, kok jadi ngambek sieh, bukan gitu tapi...."


"Tapi apa mbak." kejar anggi.


"Mbak belum tentu diizinin sama mas arya."


"Oh, itu masalahnya , serahin ke anggi mbak."


Setelah itu anggi menggerakkan bibirnya maju mundur, hal tersebut tentu mendorong ayu bertanya donk.


"Anggi, apa yang kamu lakukan."


"Baca mantra mbak, buat ngeluluhin hati mas arya agar mas arya ngizinin mbak ikut anggi dan mas arman main kerumah." anggi menjawab polos.


"Hahaha," ayu tidak bisa menahan tawanya mendengar jawaban konyol anggi, "Anggi, anggi, kamu ini bikin mbak ketawa saja."


"Yah, mbak ayu malah ketawa, mbak lihat nieh ya, pasti mantra anggi berhasil."


Langsung saja tuh sik anggi nyamperin arya yang tengah ngobrol serius dengan arman.


"Mas arya." panggil anggi.


Arya tidak menyahut, dia menunggu anggi untuk mengatakan kalimat berikutnya, "Mbak ayu boleh ya pergi main kerumah kami."


"Mau main apa kalian sudah segede ini, mau main boneka atau main mobil-mobilan." arya bermaksud bercanda sieh, tapi emang aryanya saja yang dari sananya udah diciptakan datar, makanya candaannya terkesan garing.


"Ha, ha, ha." untuk menghargai usaha arya, anggi dan arman jadi memaksakan tawanya, "Mas arya ini, bisa saja bercandanya, tapi bolehkan mas, sekali-kali gitu mbak ayu main kerumah kami."


"Apa ayu tidak akan merepotkan jika kalian ajak."


"Kalau mbak ayu minta digendong sama anggi, itu baru merepotkan mas, tapi kalau mbak ayu minta digendong sama mas arman, bisa dipastikan,mas armannya yang kesenengan, secarakan mas arman kesemsem berat sama mbak anggi."


Ingin rasanya arman menjitak kepala adiknya, anggi memang tidak bisa mengontrol kata-kata yang dikeluarkannya, arman jadi dibuat malukan oleh adiknya sendiri.


Sedangkan arya tersenyum samar mendengar ocehan anggi, difikirnya anggi cuma bercanda, "Baiklah," putus arya pada akhirnya, " Mas izinkan ayu pergi kerumah kalian, tapi jaga ayu dengan baik."


"Siap gerak." anggi pose hormat, "Bang arman siap siaga setiap detik dan menit akan beralih profesi menjadi bodyguard dadakan, iya kan bang arman."


"Iya, berubah jadi power ranger juga abang gak masalah, asal kamu seneng aja." jawab arman ngasal.


Kalimat arman barusan berhasil membuat arya dan anggi tertawa, melihat dua orang itu mentertawakannya, arman juga ikutan tertawa.


Dalam hati arman bersorak gembira tuh, adiknya ternyata bisa diandalkan dalam situasi seperti ini, meskipun lebih sering bikin dia malu.


**********


Didalam mobil ayu bertanya pada anggi, "Nggi, ajarin mbak donk mantra yang barusan kamu baca untuk ngeluluhin hati mas arya, mbak kan juga mau."


"Buat apa mbak, buat ngeluluhin hati cowok ya, no, no, mana bisa, mbak sudah dipatenkan oleh bang arman."


Arman yang duduk dikursi kemudi hanya senyam-senyum mendengar percakapan ayu dan anggi.


Ayu yang menganggap ucapan anggi barusan cuma bercanda menjawab begini, "Buat ngeluluhin hati mas arya donk nggi, biar gak susah minta izinnya kalau mau pergi kemana-mana."


"Oh kirain buat ngeluluhin hati cowok lain."


"Buat apa ngeluluhin hati cowok lain, orang aku sudah punya pacar." jawaban ayu dalam hati.


Arman ikut menimpali, "Emang mantra apa yang kamu baca nggi, abang juga mau donk diajarin, biar bisa ngeluluhin hati wanita yang ada disamping abang."


"Cie, cie, suit, suit." anggi menggoda.


"Apa sieh mas, bercandanya gak lucu." respon ayu malu-malu.


"Apa wajahku terlihat bercanda ya, sehingga apa yang aku katakan selalu dianggap bercanda oleh ayu." kata-kata yang diucapkan dalam hati oleh arman.


"Jadi, apa mantranya nggi." ujar ayu kembali pada topik.


"Itu sebenarnya, hehe." anggi malu sendiri, "Cuma akal-akalan anggi doank sieh, gak baca mantra beneran kok."


Mendengar penjelasan anggi, ayu dan arman tertawa, "Anggi, anggi, ada saja kamu ini."


Dalam perjalanan menuju rumahnya tersebut, tentunya dengan membawa kejutan untuk orang rumah, terutama untuk mamanya, anggi mengirim pesan pada mamanya, bunyi pesannya adalah.


Ma, calon mantu mama lagi otw nieh kerumah, mending mama siap-siap gieh sana.


Sang mama yang tengah melamun meratapi bunga-bunganya yang dicuri oleh adit, begitu membaca pesan yang dikirim oleh anggi langsung ceria dan memiliki semangat hidup, (Kayak orang yang mau mati saja.), alya sang mama langsung heboh mencari surtinah didapur.


"Surtinah, surtinah." teriaknya.


Surtinah berlari tergopoh-gopoh begitu mendengar teriakan nyonya besar.


"Iya nyonya, ada apa manggil saya."


"Kemana aja sieh lama banget."


"Maaf nyonya, saya lagi sibuk vidio call dengan pacar saya sik sarmin."


"Bukannya pacar kamu sik paijo."


"Hehe, ini selingkuhan nyonya, maklum orang cantik mah laku keras."


Alya menggeleng, tidak habis fikir dia punya ART genit dan sok cantik.


Jadi lupa niat utamanya manggil surti, alya malah sibuk dengar bacot surti.


"Oh ya nyonya, ada perlu apa gitu nyonya manggil saya."


"Astaga, hampir lupa saya." menepuk keningnya, "Surti, kamu bersihin rumah sampai kinclong, saya gak mau ada debu setitikpun, mengerti kamu."


"Bersihin rumah nyonya, kan udah surti lakukan tadi pagi."


"Bersihin lagi surti, saya mau calon mantu saya nyaman berada dirumah saya."


"Calon mantu nyonya, kapan datangnya."


"Ini dia sedang dalam perjalanan, makanya cepet lakukan apa yang saya perintahkah, kita sudah tidak punya waktu lagi ini."


Begitu urusan dengan surti beres, alya langsung kekamarnya, dia bersiap-siap untuk menyambut calon mantunya, hal yang pertama yang dilakukan tentunya adalah mandi, begitu keluar dari kamar mandi, alya melihat suaminya yang berbaring malas-malasan dikasur, membuat alya mengomelinya.


"Pa, apa yang papa lakukan."


"Tidur ma." menjawab sesuai realita.


"Maksud mama, ngapain papa tidur."


"Kan papa capek ma, habis main catur." Aneh ya, orang main catur otaknya yang capek, ini malah tubuhnya yang capek, maklum juga sieh, mungkin karna faktor usia sehingga hanya dengan main catur, selain otaknya yang capek, tubuhnya sik papa juga ikutan lelah.


"Dasar papa ini, baru saja main catur udah capek, apalagi kalau angkat barbel."


"Papa emang sudah gak kuat angkat barbel ma, tapi kalau angkat mama dan ngerjain mama, papa masih sanggup kok."


"Astaga papa ini, ingat umur pa, udah tua omongannya jangan ngelantur."


"Tapi mama senengkan." adi menggoda istrinya.


"Apa sieh, mending papa mandi gieh sana."


"Malas ma," jawab suaminya cuek sembari memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman.


"Bagaimana sieh papa ini, calon mantu kita mau datang itu, ya kali papa bau seperti itu, bikin malu saja."


"Calon mantu, mama ngigau ya, setau papa arman kan gak punya pacar ma."


"Ih, papa ini, itu lho pa, cewek yang fotonya dikirim oleh anggi itu."


"Ooo." adi cuma ber oo ria.


"Kok malah oo seih pa, cepetan mandi sana, malukan sama calon mantu kalau papa bau begini."


"Ngapian heboh sieh ma, lagian cuma calon mantu doank bukannya presiden."


"Aduh papa ini, bandel banget kalau dibilangin." alya menarik suaminya, dan menggiringnya kekamar mandi.


"Ma, haruskah papa tampil bersih dan wangi, kenapa juga kita mesti heboh, seharusnya yang heboh cari muka didepan kita itu ya calon mantu, bukan kita."


"Cerewet banget sieh pa, tinggal mandi doank apa susahnya sieh, kalau papa tidak mandi, jangan harap mama bakalan bukain nieh pintu buat papa."


"Punya istri kok sifatnya seperti diktator, kalau gini, rasanya ingin nambah satu lagi."


"Apa papa bilang." teriak alya dari luar mendengar keluhan suaminya.


"Gak ma, papa cuma bilang mama cantik, bikin papa tambah cinta gitu." berkilah.


"Dasar sik papa, udah tua masih saja genit."


Saking antusiasnya, alya sampai nunggu kedatangan mobil arman didepan, dan dia juga menyeret suaminya dan juga semua penghuni rumah untuk ikut menunggu kedatangan arman diteras depan.


"Ma, haruskah kita nunggu didepan begini." sudah berapa kali adi mengucapkan kalimat ini.


"Ya haruslah pa, ini peristiwa bersejarah dalam keluarga kita, kita kedatangan calon mantu yang sudah lama kita nanti-nanti."


"Bener itu tuan." surti turut menimpali.


Dari balik kaca jendela mobil, ayu mengerutkan kening melihat orang-orang berdiri diteras dengan pakaian rapi. Dalam hatinya bertanya, "Apa presiden akan berkunjung kerumah ini yah."


"Buset sik mama, antusias banget, kayak nyambut presiden saja." anggi bahkan tertawa melihat wajah cembrut papanya, kelihatan banget kalau papanya terpaksa mengikuti keinginan mamanya.


Sedangkan arman menepuk jidatnya, "Ini pasti anggi yang ngasih tau mama kalau ayu bakalan datang."


"Mas." ayu bertanya, "Apa ada tamu penting yang akan berkunjung kerumah mas, kok pada kumpul gitu didepan."


Anggi yang menjawab, "Iya mbak, kan tamu pentingnya mbak."


Ayu terkekeh, "Bisa saja kamu, mbak tidak sepenting itu untuk disambut heboh seperti itu."


"Tapi bagi kaluarga kami, dan lebih-lebih lagi buat mas arman, mbak ayu itu sangat sangat sangat penting lho." ujar anggi.


"Ngawur kamu kalau ngomong nggi."


"Eh, mama dan pasukannya nyamperin tuh, ayok yu turun." ajak arman.


Alya langsung memerintahkan semuanya untuk mengahampiri mobil, alya juga meminta semuanya untuk tersenyum agar sik calon mantu merasa kehadirannya sangat diharapkan dirumahnya.


Begitu ayu turun, tanpa basa-basi, alya langsung memberi pelukan pada ayu dan mencium pipi ayu, ayu jelas heran dengan perlakuan super ramah sang tuan ramah.


"Apa begini ya caranya nyambut setiap tamu yang datang dirumahnya mas arman." ayu heran sendiri.


Ditengah keheranannya, alya tersenyum lebar dan berkata, "Kamu cantik sekali, siapa nama kamu nak."


Dengan masih terheran-heran ayu menjawab, "Rahayu lestari tante, panggil saja ayu."


"Nama yang cantik sekali, sama seperti orangnya, benerkan pa."


"Iya."


Kemudian bergiliran papa dan pekerja dirumah itu menyalami ayu satu persatu. Fikir ayu, "Bener-bener tuan rumah yang ramah."


"Ma, ajakin mbak ayu masuk donk, jangan dilihatin terus, emang difikir mbak ayu topeng monyet apa." cletuk anggi.


"Aduh kamu ini anggi bahasanya kalau ngomong, disortirlah." alya gemes sendiri dengan putri semata wayangnya tersebut.


"Ayok masuk sayang."


"Iya tante."


Didalam rumah, bisa dibilang semua stok cemilan dirumah itu dikeluarkan untuk menjamu ayu.


"Ayok sayang dimakan, jangan malu-malu, inikan juga rumah kamu." mamanya arman sampai memonopoli ayu sendiri.


"Eh, iya tante." ayu agak risih juga sieh kalau kebaikannya yang didapatkan overdosis begini.


"Jangan panggil tante, panggil mama saja ya."


"Eh, maksdunya tante."


"Panggil tante dengan sebutan mama, toh juga kamu akan jadi anak mama dan akan jadi bagian dari rumah inikan."


Ayu gak ngerti maksud kata-kata mamanya arman, tapi dia juga malas mendebat sieh, fikirnya mamanya arman memang orang baik, jadinya ayu mengiyakan saja.


"Baiklah kalau gitu tante, eh, mama maksud ayu."


"Nah, gitu donk enak didengar."


***********