I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Sapu Tangan



Sakti menarik ayu bukan menarik, tapi lebih tepatnya sakti menyeret ayu kekamarnya, "Mas tidak pernah menyangka, ternyata kamu akan jadi pembangkang seperti ini hanya gara-gara laki-laki berandal seperti itu."


Jawab ayu, "Mas adit bukan berandalan, dia laki-laki baik."


"Mata kamu udah ditutupi cinta buta ayu, sampai kamu tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk."


Ayu diem, hanya suara isakannya yang terdengar, Sakti kembali berkata, "Mulai sekarang, kamu harus belajar melupakan laki-laki itu."


"Tapi Ayu mencintainya mas." Ayu buka suara, "Apa Ayu salah ingin bersama dengan laki-laki yang Ayu cintai."


"Tidak salah Yu, mas ngerti, setiap orang berhak mencintai siapapun, tapi masalahnya adalah keluarga kita dari sejak zaman dulu menikah karna dijodohkan, termasuk juga kamu dan mas nantunya."


"Ayu gak mau dijodohkan." tandas Ayu.


"Sayangnya mas Arya berniat menjodohkan kamu dengan seseorang."


"Apa?, Mas Sakti gak seriuskan." Ayu jelas terkejut mengetahui kalau mas Arya sudah memilihkan calon untuknya.


"Kamu fikir mas adalah tipe orang yang suka bercanda"


"Pokoknya Ayu gak mau dijodohkan, Ayu hanya ingin menikah dengan laki-laki yang Ayu cintai."


"Katakan hal itu didepan mas Arya." ujar Sakti, dia kemudian meninggalkan Ayu sendirian yang semakin galau karna masalah satunya belum kelar, kembali masalah yang lebih berat menghampirinya.


*********


Sementara itu Adit yang berada disel tahanan tengah menunggu kedatangan Arman, iya dia menghubungi Arman berharap abangnya itu mau menjaminnya.


Butuh waktu 40 menit buat Arman sampai dikantor polisi, setelah menyelsaikan segala urusannya, Adit dibebaskan, semudah itu kalau uang yang berbicara.


Arman menunggu adiknya didalam mobil, Adit begitu melihat mobil Arman berjalan menghampiri, membuka pintu dan duduk disamping Arman yang sudah siap mengintrogasinya.


"Jadi, gara-gara apa lagi lo ditahan."


Ini bukan yang pertama, bisa dibilang, Adit sering keluar masuk tahanan, entah itu karna tauran, ugal-ugalan dijalan raya, melanggar lalu lintas. Adit sudah terbiasa dengan kantor polisi.


"Sebelumnya, gue mau ngucapin terimakasih sama lo bang karna bersedia menjamin gue, gue bakalan berterimakasih lagi kalau lo gak buka mulut tentang hal ini ke papa, lebih-lebih sama mama, bisa dimutilasi gue kalau mama tau." pasalnya kedua orang tuanya sudah sangat bosan berurusan dengan kantor polisi saking seringnya Adit membuat ulah.


"Tadinya sieh gue gak mau ya ngejamin lo, tapi terpaksa." canda Arman.


"Sialan lo bang, gue udah terharu juga, untung gue belum nangis."


Dua bersaudara itu tertawa, sudah lama mereka tidak ngobrol seperti ini karna sibuk dengan urusan masing-masing.


"Hentikan tawa lo dan mulai cerita sekarang." perintah Arman gak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi sehingga adiknya bisa masuk tahanan.


"Ada seorang gadis."


"Oh, masalah wanita ternyata." Arman menanggapi santai, tapi kemudian, wajahnya berubah serius, "Jangan bilang lo merkosa anak orang." tuduhnya.


"Kok jadi nuduh sieh bang, denger dulu makanya orang cerita sampai selesai, jangan main potong aja."


"Tapi beneran lo gak merkosa anak gadis orangkan."


"Gak bang, walaupun gue brengsek, tapi gue masih punya iman kali."


Arman mengehela nafas lega, "Syukur kalau gitu, karna kalau iya lo merkosa anak gadis orang, gue yang bakalan turun tangan buat gunting burung lo."


Adit langsung memegang barang berharganya, bergidik ngeri karna baru tau kalau abangnya yang dikenal sebagai orang baik ternyata bisa sadis juga, "Bikin takut lo bang."


"Oke Adit, sekarang lo mending cerita sekarang."


"Ada seorang gadis." Adit mengulangi kalimat pertamanya, "Gue menyukainya."


"Itu sieh bukan hal baru, semua gadis kan lo suka, kalau ada monyet didandani juga gue jamin lo pasti suka"


"Malas ah gue cerita." Adit ngambek karna Arman kerjaannya main potong melulu.


"Oke, gue janji gak bakalan ngintrupsi cerita lo."


"Gue tidak hanya menyukainya, tapi gue sangat mencintainya." dan selanjutnya cerita Adit mengalir bagai air, mulai dari ketika pertama bertemu, masalah taruhan, sampai pada karna kebersamaannya dengan Ayu membuatnya bener-bener mencintai gadis itu dengan kebaikan dan kepolosannya.


"Ini adik gue kan yang ngomong, lo gak lagi kerasukan apa gitu Dit." Arman sampai gak percaya mendengar penuturan adiknya, pasalnya dia sangat mengenal adiknya yang tingkat keplayboyannya udah kronis.


"Gue udah menduga reaksi lo bakalan begini, nyesel gue cerita."


"Sorry, sorry, habisnya gue gak menyangka lo bakalan berubah secepat ini, jadi gara-gara lo bawa dia kabur, sampai lo dijeblosin oleh keluarganya ke penjara."


"Ralat bang, gue gak membawa dia kabur, buktinya gue pulanginkan."


"Hmmm."


"Jadi, lo bener-bener serius sama gadis itu meskipun keluarganya nentang hubungan lo habis-habisan."


Adit mengangkat bahu, "Cinta memang harus diperjuangkan bang, biar nanti ada bahan cerita yang bisa gue ceritain untuk anak-anak gue kelak."


Arman menepuk-nepuk punggung adiknya, "Bangga gue dengan lo, kapan-kapan kenalin gue dengan gadis istimewa itu."


"Gak, ntar lo malah jatuh cinta lagi."


"Hahaha." Arman tertawa ngakak, "Bukan gue, tapi pacar lo yang bakalan beralih hati jika melihat gue, secara gue lebih ganteng daripada lo " canda Arman.


"Sialan lo bang."


"Oh ya, gue juga mau kasih tahu sesuatu keelo."


"Gue gak mau denger, ngantuk." Adit menyadarkan kepalanya dikursi mobil.


Arman tidak peduli, dia berkata, "Papa berniat ngejodohin gue dengan adik dari rekan bisnisnya." wajah Arman sumringah.


Adit langsung membuka matanya, memandang kakaknya mencoba menemukan kalau kakaknya bercanda, tapi dilihatnya wajah sang kakak bersinar cerah seperti mentari membuat Adit jadi percaya, "Wah, selamat bang, tapi bukannya lo lagi ngejar-ngejar gue tarinya sik Anggi."


"Adik rekan bisnis papa dan guru tari anggi adalah orang yang sama."


"Whatt, yang bener."


Arman mengangguk, "Kebetulan yang sangat tidak terduga."


Adit memberi pelukan selamat buat kakaknya, dia ikut bahagia mendengar berita itu, "Selamat bang, gue harap lo cepet nikah dan ngasih cucu buat mama dan papa."


"Makasih Dit, gue harap, lo juga bisa mendapat restu dari keluarga pacar lo."


"Pasti, gue akan berusaha meluluhkan hati keluarga gadis yang gue cintai."


"Ini baru adik gue." Arman menepuk punggung Adit.


Mereka berdua saling mendoakan satu sama lain, berharap mendapat yang terbaik dalam kehidupan masing-masing.


Dari saku jaketnya, Adit mengeluarkan sapu tangan yang digunakan Ayu ketika sikunya berdarah, sapu tangan yang cukup panjang tersebut dilipat-lipat dan kemudian diikatkan dikepalanya.


Arman memperhatikan sapu tangan itu dengan tatapan meneliti, sudah sangat lama, tapi dia ingat dia pernah punya sapu tangan yang persis sama dengan yang dipakai oleh Adit, Arman ingat, dia pernah memberikan sapu tangan tersebut pada seorang gadis kecil yang menangis.


"Dit."


"Hmmm."


"Lo dapat sapu tangan itu dari mana."


Adit meraba keningnya, "Ini, punya pacar gue, dia menggunakan sapu tangan ini untuk menghentikan darah yang keluar dari siku gue, emang kenapa lo nanya-nanya, lo mau minjem buat ngelap keringat lo, gak bakalan gue kasih, sapu tangan ini berharga buat gue." jelas adit.


Arman tidak menanggapi candaan Adit, meskipun masih kefikiran, tapi toh akal sehatnya mengambil alih, "Ah, gak mungkin itu punya gue, lagian sapu tangan begituan banyak yang punya." batinnya.


Meskipun begitu, mau tidak mau, sapu tangan tersebut kembali mengingatkannya pada masa lalu.


"Bang, lo mau jalan atau ngelamun." Adit membuyarkan ingatan Arman tentang kenangan masa kecilnya.


Arman menghidupkan mobilnya dan menjalankannya keluar dari area kantor polisi.


*********