
"Hoek, hoek." ditoilet restoran Ayu berusaha mengeluarkan isi perutnya, tapi sayangnya tidak ada yang keluar sama sekali.
Entahlah apa yang terjadi, padahal Ayu sudah merasa sehat, tapi begitu melihat Adit dan mengetahui kebenaran kalau Adit adalah adiknya Arman, Ayu langsung merasa mual.
Ayu membasuh tangannya diwastafel dan mengelap bibirnya, "Apa yang terjadi denganku." bertanya-tanya sambil memegang perutnya, selain rasa mual dia memang tidak merasakan sakit apa-apa dianggota tubuhnya.
Ayu memandang pantulan wajahnya dicermin, wajah itu terlihat pucat dan tirus, saat ini dia ingin pulang, dia tidak ingin kembali kemeja makan, tempat dimana dia tidak mau melihat kenyataan.
"Mbak ya yang muntah-muntah barusan." seorang perempuan yang kira-kira berusia tiga puluh tahunan bertanya, perempuan tersebut baru keluar dari toilet dan ikut bergabung membasuh tangannya diwastafel.
"Iya mbak, maaf ya kalau suara muntah-muntah saya barusan menganggu mbak."
"Akh, gak apa-apa, saya maklum, memang mual dan muntah-muntah adalah gejala awal dari kehamilan, saya juga dulu sering mengalami hal tersebut ketika hamil."
"Hamil, maksudnya." Ayu tidak mengerti.
"Ya hamil mbak, ada janin diperutnya mbak." sik wanita menjelaskan sambil menunjuk perut Ayu yang masih rata.
"Tapi, tapi, saya gak mungkin hamil." lirih Ayu panik, dia kini memegang perutnya.
"Lho, kok gak mungkin sieh." ujar perempuan ini gak mengerti maksud Ayu, dia malah mendeskripsikan ciri-ciri orang yang tengah hamil, "Mbak mengalami perubahan gak pada tubuhnya, jadi suka makan yang asam-asam gak, saran saya sieh mbak, mending ajak suaminya periksa langsung kedokter kandungan untuk memastikan apakah mbak hamil atau tidak." saran wanita tersebut karna tidak mengetahui Ayu belum menikah.
"Hamil, aku hamil, gak mungkinkan,." Ayu mencoba meyakinkan dirinya dalam hati.
Namun kemudian dia ingat kalau dia sudah telat dua minggu, dan Ayu membenarkan apa yang dikatakan wanita yang ada disampingnya, sekarang dia lebih sering ingin makan yang asam-asam, disaat fikirannya tengah berkecamuk, pintu toilet terbuka dengan kasar.
Mata Ayu begitu melihat siapa yang membuat kehebohan tersebut, "Mas Adit." gumam Ayu.
"Astaga kaget saya." wanita yang bersama Ayu memegang dadanya saking kegetnya, "Maaf mas, ini toilet cewek, mas gak bisa baca apa." wanita itu menyemprot Adit, tapi Adit mengabaikannya, karna fokusnya kini pada Ayu.
"Mas Adit, apa yang kamu lakukan mas." berang Ayu.
Tanpa basa-basi Adit menarik tangan Ayu dan membawanya keluar, Ayu berontak berusaha melepaskan diri, "Lepasin mas, apa-apaan sieh."
"Kita perlu bicara Ayy."
"Eh mas, apa yang mas lakukan sama sik mbaknya." perempuan tadi menyusul mereka, difikir Adit adalah orang jahat.
"Maaf mbak, dia adalah istri saya, saat ini kami tengah berselisih paham, jadi saya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kami berdua." Adit berbohong supaya wanita tersebut tidak ikut campur.
"Oh, maaf, lanjutkan kalau gitu." wanita tersebut kembali masuk ke toilet.
Ayu ingin membantah, tapi Adit kembali menarik tangan Ayu, membawanya ketempat dimana mereka bisa bicara tanpa diganggu.
"Mas, lepasin."
"Gak akan."
Adit berjalan menuju bagian belakang restoran, disana cukup sepi, tempat tersebut merupakan tempat yang kondusif untuk membicarakan hal yang penting.
"Apa yang mas lakukan, aku ingin kembali kedalam." Ayu sudah melangkah, namun ditahan oleh Adit.
"Ayy, kita perlu bicara."
"Gak ada yang perlu kita bicarain, kita sudah selesai mas."
"Kesalahpahaman atau tidak, toh juga aku akan tetap menikah dengan mas Arman, dan kamu akan berstatus sebagai adik iparku."
Kalimat Ayu tersebut berhasil membuat Adit melepas tangan Ayu, ada hal penting yang dia lupakan yaitu Ayu adalah calon kakak iparnya, wanita yang selama ini dicintai oleh kakaknya juga.
"Apa kamu mencintai bang Arman." pertanyaan tersebut meluncur begitu saja dari bibir Adit, dan Adit berharap Ayu akan mengatakan tidak atas pertanyaannya tersebut.
Tentu saja Ayu tidak mencintai Arman, tapi sayangnya dia terlanjur sakit hati dengan Adit yang hanya menjadikannya sebagai taruhan, meskipun Adit sudah menjelaskan semuanya tapi Ayu belum bisa memaafkan Adit. Dilain sisi dia juga sudah terlanjur menerima perjodohan tersebut, tidak mungkinkan dia membatalkannya.
Makanya Ayu menjawab, "Iya, aku mencintai mas Arman." Ayu terpaksa berbohong.
Diantara banyak wanita yang ada dimuka bumi, Adit menyesalkan, kenapa Ayu yang harus dipilih oleh kakaknya untuk dicintai, wanita yang juga dicintai olehnya. Jika saja laki-laki lain yang dijodohkan dengan Ayu, Adit tanpa perasaan pasti akan merebut Ayu, tapi ini kakaknya, apa mungkin dia bisa merebut Ayu dari kakaknya sendiri demi kebahagiaannya, sedangkan Arman selalu mengorbankan apapun untuk kebahagian Adit.
Adit meraih tangan Ayu, dari saku celananya dia mengeluarkan sebuah cincin yang pernah diberikannya ketika ulang tahun Ayu, dia meletakkan cincin tersebut pada telapak tangan Ayu, dengan senyum yang dipaksakan Adit berkata, "Aku mohon simpen cincin itu, dan berjanji sama aku Ayy, kalau kamu akan buat abang aku bahagia." kalimat yang sungguh berat diucapkan.
Ayu menatap Adit sendu, fikirnya apakah nantinya dia bisa menganggap Adit sebagai adik iparnya, belum sempat di mengucapkan sesuatu, Adit kembali bersuara, "Aku akan pergi Ayy, pergi dari kehidupan kalian, semoga kalian bahagia."
Adit berlalu meninggalkan Ayu, Ayu hanya memandang punggung Adit sampai menghilang dari pandangannya, "Mas Adit." air mata Ayu merembas.
***********
Ayu kembali keruangan dimana keluarganya dan keluarga Arman berkumpul, tapi Adit sudah tidak terlihat disana, Ayu memadang hampa tempat yang tadi diduduki Adit.
"Yu, kamu baik-baik sajakan." tanya Arman memegang tangan Ayu yang diletakkan dimeja.
Ayu mengangguk, "Syukurlah."
"Mas Adit kemana."
Pertanyaan Ayu tersebut membuat keluarganya terutama Arya memberikan tatapan tajam, namun keluarga Bagaskoro yang tidak mengetahui hubungan antara Ayu dan Adit menjawab santai keingintahuan Ayu.
"Anak itu katanya ada urusan penting yang perlu diselsaikan." Alya yang menjawab.
"Oh." hanya itu yang bisa dikeluarkan oleh Ayu.
*************
Hari-hari berjalan dengan lambat bagi Ayu, kini dia tidak pernah bisa tersenyum seperti dulu lagi, sementara itu, tiap pagi dia terus merasakan mual, dan banyak hal berubah pada dirinya, sampai dia teringat kata-kata wanita ditoilet waktu itu.
Ayu memegang perutnya, "Hamil, aku gak mungkin hamilkan." mencoba meyakinka dirinya.
Ayu langsung mencari digoogle ciri-ciri wanita yang tengah hamil, dan beberapa dari ciri-ciri yang disebutkan kini tengah dialaminya.
Gak mau menduga-duga, Ayu meraih jaket hodienya, tujuannya adalah supermarket terdekat untuk membeli tespek. Dengan menggunakan masker dan memasang kupluk hoodie dikepalanya supaya tidak dikenali, Ayu melihat kiri-kanan, dia berharap tidak ada orang yang dikenalnya berada disekitar sana.
Ada lima tespeck dengan merek berbeda kini ada ditangannya, setelah mengambil sedikit urin dan mencelupkan benda tersebut, Ayu menunggu dengan harap-harap cemas. Tubuh Ayu limbung begitu mengetahui lima tespek tersebut muncul dua garis berwarna merah, sebuah tanda yang menyatakan kalau dia positif hamil.
Ayu merosot dilantai kamar mandi, masih memandang tespek tersebut dengan tidak percaya.
"Gak mungkin, gak mungkin." tangis Ayu pecah menyesali kebodohannya.
***********