I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Insiden dikelas



Sudah dua hari Adit tidak ada kabarnya, jangankan menemui Ayu, hanya untuk telpon atau kirim pesan saja tidak. Entah sejak kapan Ayu merasa terbiasa dengan keberadaan Adit, sehigga sejak dua hari belakangan ini dia merasa kesepian karna Adit tidak menghubunginya.


Dalam kelas, suasana masih ramai karna Dosen mereka yaitu pak Zaki belum masuk, emang belum jamnya juga sieh, anak-anak ini sengaja pada pagian datang mengingat Dosen mereka yang satu ini on time dan tidak menolerir keterlambatan meskipun vuma satu detik doank.


“Lo kenapa Yu.” Karin bertanya karna melihat wajah murung Ayu dari tadi.


“Gak kenapa-napa."


“Gak kenapa-napa, tapi tuh wajah lecek kayak pakain gak disetrika.”


Ayu tidak merespon, dia hanya menyangga dagunya dengan telapak tangan, fikirannya masih dipenuhi dengan Adit yang yang tidak menghubunginya, ingin menghubungi Adit duluan, tapi


dia malu dan gengsi, maklumin aja cewek gengsinya gede.


Ayu membatin “Aku salah apa sieh sampai Adit gak ngehubungin aku, perasaan aku gak ngelakuin hal yang membuat dia marah deh.”


“Yu, kalau punya masalah itu diceritaiin bukan dipendam sendiri."


“Aku gak punya masalah Rin, aku baik-baik aja.”


Meskipun Ayu bilang gak punya masalah, Karin kukuh memaksa Ayu, “Ceritain ke aku Yu, jangan malu-malu, temen-temen yang lain aja kalau ada masalah ceritanya ke aku, dan aku bantu menyelsaikan masalah mereka, apalagi lo sebagai


sahabat gue, gue bakalan bantuin lo nyari solusinya deh."


Karna ayu masih diem saja, Karin akhirnya menyerah, “Ya udah deh kalau gak mau cerita, lo bisa cerita kapan-kapan kalau lo mau."


Ayu bersyukur punya sahabat seperti Karin yang perhatian, tapi untuk saat ini dia bener-bener tidak ingin bercerita karna menurutnya ini masalah sepele, memang benar masalah sepele, tapi


masalah sepele itu mampu membuatnya murung.


Menuju lima menit sebelum jam pelajaran pak Zaki, Karin melafalkan doa sesatnya “Semoga sik daki itu gak masuk, sakit koreng kek, ketabrak odong-odong kek, ketiban pensil kek, terserah deh yang penting gak masuk."


Ayu merespon, “Jelek banget sieh doanya, pamali lho Rin, itukan Dosen kita, niatnya baik transferin ilmunya untuk kita.”


“Kenapa gak ngambil jurusan Agama sieh lo Yu, cocok tuh lo jadi penceramah.”


Dan ternyata doa jelek Karin tidak dikabulkan oleh Tuhan, buktinya pak Zaki nongol dipintu, sehat wal’afiat dan seperti tidak ada tanda-tanda bakalan sakit.


Karin melenguhh “yahhh, gak dikabulin doa gue."


Ayu terkikik, “Makanya doanya jangan jelek, gak dikabulinkan.”


Sebelum memulai perkuliahannya, pak Zaki mengabsen satu persatu mahasiswanya, dan barulah dia menghidupkan LCD untuk kegiatan pembelajarannya. Proses belajar mengar itu berjalan aman, damai dan sentosa, tidak seperti biasanya karna kadang pak Zaki marah kalau ada mahasiswanya yang tidak bisa menjawab pertanyaannya, atau akan marah besar pada seisi kelas kalau ada hal remeh yang tidak dia suka, tapi kali ini berbeda, dia tidak marah sama sekali mungkin karna suasana hatinya lagi seneng aja kali.


Karin berbisik, “Tumben sieh daki itu anteng ayem, biasanya tuh taring keluar ingin ngisep darah."


Yang dibalas oleh yu dengan berbisik pula “Bsa tutup mulut gak, kamu mau kejadian


kemarin terulang."


Larin langsung menutup bibirnya rapat-rapat karna membenarkan peringatan Ayu.


Susana masih tenang dan aman, dan mahasiswa lainpun pada khusuk mendengarkan, sampai pada suara nyaring dengan volume yang cukup keras menggangggu susana tenang tersebut.


Para mahasiswa saling lirik satu sama lain sebelum mengecek ponsel masing-masing,dan bernafas lega karna suara deringan tersebut bukan dari ponsel mereka. Berbeda dengan Ayu yang langsung menepuk jidatnya, iya suara deringan tersebut berasal dari ponselnya yang nada deringnya lupa disilent.


Salah satu peraturan pak Zaki adalah tidak bleh mengaktifkan HP selama kegiatan pembelajarannya berlangsung. Dan Ayu yang taat peraturan kali ini bener-bener lupa menonaktifkan HPnya karna menunggu kabar Adit.


Ayu buru-buru mengubek-ubek tasnya mencari hpnya untuk mematikan tuh HP.


“Duh, mampuslah aku.” paniknya, dia melihat tatapan horor pak Zaki yang menembus ke kornea matanya.


Ketika tuh hp sudah ketemu dan Ayu akan mematikannya, sebuah tangan besar berwarna sawo matang terulur di depan matanya. Ayu mendongak dengan was-wa karna tau siapa pemilik tangan tersebut. mata pak Zaki melotot, wajahnya begitu sangar.


“Kok bisa-bisanya Ayu lupa matiin ponselnya, setau gue Ayu adalah mahasiswi yang paling taat peraturan.”


“Ayu jugakan manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan.”


“Nasib ayu gimana setelah ini."


Itu beberapa bisik-bisik dari temen-temen sekelasnya, mereka mengkhawatirkan nasib Ayu.


“Eh pak, maaf, saya lupa..."


“Ponselmu kemarikan.” tandas pak Zaki


“Tapi pak.”


“Atau kamu tidak saya luluskan dimata kuliah saya.” ancam pak Zaki.


Ancaman yang bener-bener akan dilaksanakan kalau Ayu mengeluarkan satu huruppun untuk membantah pak Zaki. Ayu dengan berat hati menyerahkan ponsel yang masih berdering tersebut ketangan pak Zaki. Dan hal ini yang paling tidak diduga oleh Ayu, pak Zaki menjawab


panggilan tersebut, emang tidak sopan tapi emanng Ayu berani protes begitu. Pembesar suara diaktfkan lagi oleh pak Zaki sehingga seisi kelas bisa mendengar.


“Dengan siapa ini." tanya pak Zaki.


Terdengar sahutan dari seberang “Ayy, sejak kapan suara kamu berubah kayak gendruwo begitu” jelas itu adalah suara Adit.


Ayu merutuk dalam hati, "Pas ditunggu saja gak nelpon, dan pas nelpon disaat yang gak tepat lagi.”


Penghuni kelas sumpah ingin ketawa tapi mana berani apalagi disaat suasana hati pak Zaki bener-bener buruk.


“Yang kamu katakan gendruwo itu adalah Dosennya.”


Suara Adit jelas terdengar kaget, mungkin bukan hanya suaranya saja yang terdengar kaget tapi orangnya juga kaget “Astagfirullah, saya mohon maaf bapak Dosen, saya bener-bener mohon maaf, tapi tolong jangan hukum Ayy pak karna saya yang tidak tau situasi dan kondisi


nelponin dia.”


“Kalau maaf berlaku penjara tidak akan berfungsi.” finis, pak Zaki menutup telpon.


Dan dengan wajah begitu angker berbalik berjalan kedepan.


Dengan takut Ayu kembali mencoba menyelamatkan ponselnya, “Pak, hp saya bagaimana.”


“HP kamu saya tahan, agar kamu tidak menyepelekan peraturan yang saya buat."


“Yahhhh, jangan donk pak.” dengan suara lemah.


Karin mengelus punggung Ayu bersimpati, ”kayaknya bertambah satu lagi heters pak daki” ujarnya dengan suara yang tidak bisa didengar.


*********


“HPku Rin." sedih Ayu begitu pembelajaran usai.


“Udah, gak usah difikirin, lokan kaya Yu, minta beliin aja sama mas lo."


“Bukan masalah kayanya Rin, kalau masalah beli sieh gampang, satu konter bisa dibeli oleh masku."


“Lha, kok jadi sombong.”


“Bukan begitu, denger dulu makanya, kalau masku tau tuh HP disita gara-gara kalalaianku, mas Arya bisa marah besar.”


“Elah, makanya lo jadi anak jangan lurus-lurus amet lah, bengkok dikit kek."


“Apa sieh maksudumu Rin.”


“Gini deh kalau ngomong sama anak lurus, kudu harus ngejelasin panjang kali lebar dulu baru ngerti, gini lo Ayu sahabat gue tersayang maksud gue, bilang aja Hp lo ilang, bereskan."


“Kamu fikir masku bodoh, dia lulusan terbaik dikampusnya, mana bisa dia dibegoin, dia udah pastilah ngehubungin nomerku, dan kalau diangkat sama pak daki, eh maksud aku pak Zaki, bakalan keluar tanduk masku.”


“Bener juga lo yah, ya udah kalau gitu, lo harus nunggu sik daki itu berbaik hati sampai dia ngembaliin HP lo.”


***********


“Ayy, Ayyy” suara teriakan Adit memanggil Ayu dikoridor.


Ayu berbalik , Karin juga ikutan


“Adit tuh Yu, sebenarnya hubungan lo sama dia gimana sieh."


Ayu belum sempat menjawab karna Adit sudah berada didepan mereka.


Adit langsung nyerocos, “HP kamu disita yah, sori banget ya, ini gara-gara aku ngehubungin kamu disaat jam pelajaran."


“Bukan salah kamu kok mas.” tanpa ekspresi, yah pasalnya jelas saja dia kesal dengan Adit, pas ditunggu nelpon dia gak nelpon, giliran nelpon dia bener-bener milih waktu yang pas banget ketika jam pelajaran pak Zaki.


“Kamu marah yah Ayy.”


“Gak, kenapa aku harus marah."


wanita emang gitu, kalau bilang dia tiak kenapa-napa itu pasti dia kenapa-napa, kalau dia bilang tidak marah ya itu berarti dia marah.


“Habis kalau gak marah kenapa ketus begitu ”


“Siapa yang ketus, orang aku biasa aja kok."


“Duh, kok gue jadi serba salah gini sieh,,m mending gue cabut aja deh.” batin Karin. Karin menjalankan kakinya perlahan supaya dua orang yang bisa dibilang tengah bersitegang ini tidak menyadari kepergiannya, dan dia berhasil menjauh tanpa diketahui.


“Sorry Ayy, aku bener-bener minta maaf, sebagai permohonan maafku, kamu bisa cium aku deh.” entah Adit Cuma bercanda atau beneran yang jelas kalimat Adit membuat ayu melotot dan membuatnya tambah kesel sama Adit.


“Apaan sieh gak jelas, Rin kita bal....” Ayu baru sadar Karin sudah tidak ada disampaingya, “Lho, Karin dimana."


“Udah balik kali."


“Teganya dia ninggalin aku, padahalkan tadi dia nawarin nganterin pulang.”


“Aku anterin yah.” tawar Adit, bersyukur dia karna Karin tau diri.


“Tidak usah makasih, aku naik angkutan umum aja.” Ayu pergi meninggalkan Adit.


Adit tidak tinggal diam? dia menyusul langkah Ayu dan menyejajarkan langkahnya.


“Yakin mau naik angkutan umum, kamu gak inget kejadian dibis waktu itu.” Adit berupaya mengingatkan Ayu tentang kejadian dibis waktu mereka pertama kali bertemu.


“amAku naik taksi aja.” namun kata taksi mengembalikan ingatannya kejadian dimalam dimana dia juga hampir menjadi korban kejahatan sopir taksi.dia kembali merutuk Karin yang tega meninggalkanya.


“Aku antar ya, pulang sama Adit dijamin aman dan dijamin utuh sampai rumah.” Adit selalu bilang begini kalau dia membujuk Ayu untuk mengantarnya pulang. Karna gak punya pilihan lain, meskipun kesal sama Adit dia terpakaa mau diantar oleh Adit


“Tapi turunin aku ditempat biasa."


“Siap Tuan Putri.”


Kalimat itu membuat Ayu melengkungkan bibirnya, dan seketika rasa keselnya menghilang sama Adit.


“Nah, begitu kek manis kalau senyum."


***********


Tiba diparkiran, ternyata temen-temen Adit pada nongkrong disana, heran deh, padahal masih banyak area kantin yang lebih asyik dijadikan tempat nongkorng kenapa mereka memilih nongkrong diparkiran, mungkin sekalian jagain motor mereka kali yah takut dicolong orang.


“Wkhemm, ekhemm, couple baru mau lewat nieh.” goda temen Adit.


“K i ibu negara yang baru Dit, waduh, waduhh, seneng yah kalau ganteng bisa gonta ganti pacar tiap saat.”


Nalas Adit atas godaan temen-temenya yang bermulut iseng, “Sirik aja lo, siapa suruh jelek,gak ada yang maukan sama lo."


“Elahh, sombongnya mas Adit, kena azab baru tau rasa.”


“Iya cocok tuh kalau dijadikan sinetron, judulnya azab cowok ganteng yang sombong."


Temen-temen Adit pada tertawa mentertawakan banyolan itu.


“Dasar resek.” umpat Adit.


“Dit, kenalin donk, kitakan juga kudu tau nama ibu negara yang baru.”


“Jangan dengerin mereka Ayy, biasa mereka pada sirik.”


“Hmmm.” Ayu menunduk malu.


Ayu mendongak begitu merasakan kepalanya berat, ”Eh.” ternyata Adit tengah memasangkan helm miliknya pada Ayu. kebetulan juga sieh hari ini Adit tidak menggunkan helm fullfacenya.


“Duhhh, so sweettt." lagi salah satu temen Adit menggoda.


“Anjir yah, pantesan semua cewek-cewel meleleh sama Adit, sweet banget dia, yah meskipun pada akhirnya dihempas juga.”


Ayu masih bisa mendengar dengan jelas ledekan temen-temen Adit.


“Mas.” Ayu ingin protes tapi Adit berkata,


“Pakai Ayy, keselamatan dalam berkendara itu penting paham."


“Tapi gimana dengan mas adit.”


“Gak perlu fikirin aku, aku udah kebal gak bakalan kenapa-napa, percaya sama aku."


Ayu mengangguk.


“Woe, lo gak pada balik." teriak Adit pada temen-temennya.


“Hanya anak mama yang balik jam segini."


Adit mengabaikan temen-temennya dan melajukan motornya.


Meski jam segini Arya belum pulang dari kantor, tapi Ayu memilih turun ditempat biasa untuk berjaga-jaga.


“Makasih mas.”


“Kamu udah gak marahkan sama aku."


Ayu menggeleng “Jadi tenang aku.” ungkap Adit.


Ayu tersenyum mendengar kalimat Adit.


“Ya udah deh mas aku pergi yah.”


Adit mengangguk, baru beberapa langkah Ayu berjalan Adit kembali memanggil Ayu “Ayy."


“Iya.” berbalik


“Helmnya.”


Ayu meraba kepalanya, senyum malu dan melepaskannya dan menyerahkan pada Adit “Maaf mas, lupa.”


“Gak apa-apa asal jangan lupain aku aja.”


“Apaan sieh mas gak lucu.” bersemu merah.


“Gemesnya, udah sana balik.”


“Mas juga."


“Aku akan pergi kalau udah mastiin kamu aman."


“Aku udah aman kok mas, lagian udah deket banget ini."


“Udah jangan membantah, udah balik sana, aku awasi dari sini ”


“Terserah mas kalau gitu.” Ayu pergi.


Adit membuktikan ucapannya dia pergi ketika dilihatnya Ayu sudah aman


**********