
Kurang dari 30 menit arman sampai dirumah ayu, arman bener-bener diterima dengan baik dirumah itu.
"Duduk dulu mas arman, biar bibik panggilkan den ayunya dulu." ujar bi asih.
"Makasih bik."
"Den ayu, mas armannya sudah sampai." lapor bi asih begitu tiba dikamar ayu.
Malah ajeng yang heboh, "Duh, kok jadi aku yang grogi ya. Yu kamu nervous ya, tarik nafas, keluarkan, tarik lagi dan keluarkan." ajeng memberi intruksi.
Bukannya melakukan intruksi kakak iparnya, ayu malah menatap ajeng bengong, pasalnya dia tidak grogi sama sekali.
"Mbak, ayu gak grogi kok."
"Lho, masak, kok bisa."
"Ya bisalah, orang aku gak suka sama mas arman kok." ujarnya dalam hati.
"Ya udah kalau gitu, ayok keluar temui arman, ntar dia capek lagi nunggunya." ajeng menggiring ayu keluar.
Ayu memang tidak grogi sama sekali, malah arman yang nervous, dia sudah seperti anak ABG yang baru pertama kali pacaran saja.
"Hai ayu, hai mbak ajeng." sapa arman.
"Hai arman, makin tampan aja ya." puji ajeng.
"Makasih mbak." fokus arman saat ini adalah ayu yang menurutnya terlihat begitu sangat cantik.
Karna dipandang intens begitu, ayu jadi menunduk malu. Hal tersebut yang tidak luput dari perhatian ajeng langsung menggoda, "Ekhem, cantik banget ya ayunya, sampai mandangnya tanpa kedip."
Arman langsung salting, dia menyerahkan bunga mawar merah yang dibelinya untuk ayu, "Ini buat kamu yu."
"Makasih mas."
"Duh, manis sekali, bikin iri aja. "
"Apa sieh mbak." ayu jadi malukan digoda ajeng.
"Arman tipe cowok romantis ya." ajeng bertanya pada arman.
"Gak kok mbak, aku mah biasa aja, tapi kadang-kadang kita sebagai cowok perlu juga bersikap romantis untuk menjaga hubungan tetap romantis."
Ajeng menyenggol lengan ayu dengan lengannya, " Tuh yu denger, arman itu paket komplit, gak rugi deh kalau kamu sama dia."
"Apa sieh mbak, malu sama mas arman."
Arman hanya tersenyum menanggapi cloteh ajeng.
"Udah sana kalian berangkat sana, ntar telat lagi." saran ajeng.
"Ya udah mbak kalau begitu, saya pamit, saya berjanji akan menjaga ayu dan akan membawanya kembali utuh tanpa kurang satu apapun." ujar arman.
"Duh, bener-bener laki-laki bertanggung jawab dan bisa diandalkan."
Sebelum pergi ayu menyerahkan bunga yang dikasih ke arman kepadanya, karna gak mungkinkan bawa bunga keacara resepsi.
*********
Dalam perjalanan, suasana dalam mobil terasa hening, ayu memang pendiam jadi tidak mungkin ngajak arman ngobrol duluan. Sedangkan arman, karna grogi dia jadi tidak tau harus memulai obrolan dari mana.
"Kamu cantik banget hari ini yu." tiba-tiba dari bibirnya tercetus kalimat tersebut.
Ayu merasa pujian arman merupakan sebuah ledekan, makanya dia membalas dengan jawaban tidak nyambung, "Tebal ya mas dandanan ayu, ayu pasti mirip ondel-ondel."
"Ayu, aku bilangnya kamu cantik banget, bukan bilang kamu seperti ondel-ondel."
"Oh, eh iya, bener juga."
Arman terkekeh.
"Tapi ketebalan yah mas bedaknya."
"Memang tebal sieh, tapi cantik banget kok."
"Mas gak malukan."
"Malu, kenapa aku harus malu, orang yang bersamaku cantik banget gini."
Ayu jadi tersenyum malu mendengar pujian arman yang sepertinya tulus dari lubuk hati terdalam.
**********
Mereka tiba diacara resepsi. Acara resepsi itu dilakukan di outdoor. Mereka berjalan beriringan, sumpah arman ingin sekali menggandeng tangan ayu, tapi itu pasti terkesan kurang ajar.
"Halo boss," seseorang nyamperin arman dan menyapa.
"Hei, reyhan." balas galaksi begitu mengetahui siapa yang menyapanya.
Dua orang tersebut berjabat tangan dan berpelukan ala cowok.
Cowok bernama reyhan itu menepuk lengan arman, "Makin ganteng aja nieh pak bos."
"Lo bisa aja, lo juga makin ganteng."
"Muji juga pada tempatnya kali man." balas reyhan karna sadar dia jauh dari kata ganteng.
Mata reyhan terarah pada ayu yang berada disamping arman, tersenyum penuh arti dan melontarkan pertanyaan, "Calon nieh."
Arman tidak membantah ataupun mengiyakan, dia hanya tersenyum yang hanya dia dan tuhan yang tau makna senyumannya.
"Gak mau dikenalin nieh sama gue."
"Ayu, kenalin ini reyhan teman SMA aku, dan rey, dia ayu." arman memperkenalkan.
Ayu dan reyhan saling berjabat tangan.
"Mending lo kesana deh man, anak-anak pada ngumpul disana." reyhan menunjuk kearah kerumunan cowok yang tengah pada ngobrol seru.
"Lo sendiri mau kemana."
"Mau ke toilet gue, biasa panggilan alam." reyhan memegang perutnya.
"Dasar lo, sejak dulu tidak pernah berubah, kalau pesta kerjaan lo ngabisin makanan aja."
"Lo masih inget aja."
Setelah reyhan berlalu, arman mengajak ayu menemui temen-temen SMAnya.
"Wah, pak bos, nieh."
"Gue fikir lo gak bakalan datang."
"Mentang-mentang udah jadi bos jadi lupa sama kita-kita."
Itu sapaan temen-temennya begitu arman tiba.
"Sorry bro, habisnya kerjaan numpuk, makanya gue tidak pernah bisa ngumpul dengan lo pada."
Mata temen-temen arman langsung mengarah pada ayu, karna dipandang oleh beberapa pasang mata, ayu jadi malu dan menunduk.
"Siapa tuh, calon lo yah."
Mereka mengajukan pertanyaan yang sama seperti reyhan. Ayu sebenarnya ingin membantah tapi diurungkannya. Sementara arman, sama seperti tadi, dia hanya tersenyum tidak mengiyakan ataupun mengatakan tidak, sehingga temen-temennya mengambil kesimpulan kalau ayu adalah kekasihnya.
"Wah, jangan lupa undangannya ya."
"Ditunggu lho arman."
"Pastikan pesta pernikahan lo lebih mewah dari pesta didit."
"Doakan saja semoga semuanya lancar." respon arman.
Ayu memilih diam dan tidak memberi komentar apapun atas tanggapan temen-temen arman.
Setelah bersalaman dengan pengantin, arman mengajak ayu untuk kemeja prasmanan. Karna memang ayu tidak pernah nyaman ditengan keramaian seperti ini, yang dia lakukan hanya diem, dia hanya bicara jika ditanya saja dan jawabannyapun tidak lebih dari lima kata saja.
"Yu," tegur arman, "Kamu gak suka ya pergi dengan aku." pertanyaan ini keluar
dari bibir arman karna melihat ayu yang diem.
"Bukan mas, ayu hanya gak nyaman gitu ditengah keramaian begini." jawab ayu jujur.
"Syukur kalau begitu, aku fikir kamu gak suka pergi dengan aku."
"Gak kok."
"Apa kita pulang sekarang saja."
Ayu mengangguk semangat, tapi sayangnya sebelum mereka beridiri, temen arman yang bernama reyhan kembali nyamperin mereka.
"Man, acara lempar bunga tuh, sebaiknya lo dan ayu ikut sono, siapa tau lo yang dapat bunganya dan segera nyusul."
Menurut mitos, orang yang berhasil menangkap bunga yang dilempar oleh memplai pengantin bisa dapat jodoh segera.
Arman sebenarnya gak percaya dengan hal-hal beginian, tapi entah karna dorongan apa, sehingga kali ini dia ingin mencoba dan fikirnya siapa tau mitos yang sudah berkembang dalam masyarakat tersebut bisa jadi kenyataan.
"Sepertinya, gak ada salahnya dicoba." gumamnya.
"Mas mau ikutan acara tangkap bunga." ujar ayu, "Ayu gak ikutan ya mas."
"Harus ikut ayu, gak afdol keacara nikahan begini kalau gak ikut acara tangkap bunga." reyhan memaksa.
"Tapi, aku...." ayu ingin membantah.
"Bener ayu, gak ada salahnyakan dicoba." arman mendukung reyhan.
"Udah sono, tuh pengantinnya udah siap-siap untuk mulai." reyhan mendorong punggung arman dan ayu menuju tempat acara lempar bunga.
Kebanyakan sih yang antusias yang ikutan adalah cewek-cewek, hanya beberapa cowok yang ikut serta termasuk arman. Karna ayu ikutnya karna terpaksa, dia berada dibagian paling belakang, karna gak mungkin jauh-jauh dari ayu, arman ikut berdiri disamping ayu.
Terdengar suara MC yang mengalun memberi intruksi, "Baiklah bagi para cewek dan cowok jomblo, apa kalian sudah siap."
"Siapp..." terdengar sahutan.
"Baiklah, mari kita hitung sama-sama." lisan si MC mulai menghitung mundur, " 3, 2, 1." dan bunga pun dilempar oleh memplai pengantin dengan membelakangi peserta.
Memang banyak terjadi, kalau orang yang tidak menginginkan sesuatu, justru orang itu yang dapat. Salah satu buktinya adalah ayu, meskipun berada dibagian paling belakang, tapi bunga tersebut yang dilempar cukup tinggi membumbung dan mengarah padanya, sehingga diluar keinginannya, tangannya reflek menangkap bunga yang mengarah padanya, dan tanpa diduga, ternyata arman juga melakukan hal yang sama, sehingga tangan mereka berdua menangkap bunga tersebut disaat bersamaan. Melihat kejadian yang tidak terduga seperti ini, reflek mereka saling tatap dan sama-sama tersenyum.
Terdengar gemuruh tepuk tangan disekeliling mereka.
"Selamat buat mbak dan mas yang berhasil menangkap bunga yang dilempar oleh mempelai pengantin, sepertinya kalian akan berjodoh."
Arman melepaskan tangannya dari buket tersebut dan membiarkan ayu yang membawanya. Wajah mereka memerah mendengar MC tersebut mengucapkan kalimat tersebut.
*************