
Kali ini dokter Robi yang menangani Adit keluar dari ruang dimana Adit dirawat, tapi berbeda dengan sebelumnya, kini dokter Robi keluar dengan senyum yang membingkai bibirnya, setidaknya ini merupakan pertanda baik.
"Bagaimana dok hasilnya." pertanyaan Arman begitu dokter Robi keluar.
Yang lain menunggu jawaban dokter Robi dengan penuh harap.
"Ini sebuah keajaiban dari Tuhan, jujur saja, sebenarnya saya sudah menyerah menangani kondisi Adit mengingat harapan untuk bangun dari komanya sangat kecil, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, saya baru pertama kalinya mengalami hal yang seperti ini."
"Jadi maksud dokter, anak saya..." Adi tidak bisa melanjutkan kalimatnya karna terharu.
"Iya pak, anak bapak sudah bangun dari tidur panjangnya." dokter Robi memperjelas.
Serentak semua yang ada disana mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas kebesaran Tuhan yang masih mengizinkan Adit kembali berkumpul ditengah-tengah mereka.
"Terimakasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doa hamba." Alya menangis saking terharunya, yah begitulah wanita, jika sedih mereka akan menangis, bahagia juga menangis, bahkan terharupun mereka akan menangis juga, bener-bener mahluk yang hobi menangis.
"Apa kami bisa melihat putra kami dok." sela Adi.
"Oh, tentu saja."
Keluarga tersebut saling pandang satu sama lain sambil melempar senyum.
"Tapi untuk saat ini, mungkin satu orang saja yang bisa menemuinya, karna pasien saat ini masih dalam suasana pemulihan, dan tidak boleh terlalu banyak berintraksi dengan banyak orang."
"Gak apa-apa dokter, putra saya sudah bangun saja itu sudah lebih dari cukup."
Sekarang mereka harus memutuskan siapa yang pertama kali bertemu dengan Adit, dan semua mata tertuju pada Ayu, Ayu tentu bingung karna menjadi pusat perhatian, "Ayu sayang, kamu saja yang menemui Adit yah." suruh Alya.
Ayu ingin, ingin sekali, tapi dia belum siap untuk bertemu dengan Adit untuk saat ini, "Mama saja, mama pasti kangen banget dengan Aditkan." elaknya.
"Beneran Yu kamu gak mau jadi orang pertama yang ketemu sama Adit." timpal Arman.
Ayu tersenyum tipis, "Bukannya gak mau mas, tapi Ayu yakin mama sangat kangen dengan mas Adit, biarlah mama dulu yang menemui mas Adit."
Alya memandang suaminya, Adi mengangguk, "Ayu bener ma, mending mama yang pertama menemui Adit."
Alya mengangguk, sebelum masuk menemui putranya dia mengelap air matanya, dia gak mau Adit melihatnya menangis dihari pertamanya terbangun.
**********
Untuk masa-masa ini, Adit tengah dalam masa pemulihan, dia melakukan serangkaian terapi ini dan itu untuk mempercepat proses penyembuhannya, perkembangannya cukup pesat, bahkan dalam beberapa hari ini Adit sudah lancar berbicara, tiap hari keluarganya datang untuk memberi dukungan, hal itu tentu saja semakin mempercepat proses penyembuhannya. Diantara semua keluarganya, yang Adit heran, hanya Ayu yang tidak pernah datang menjenguknya, iya, Adit berharap bisa melihat Ayu, meskipun hanya sebagai kakak ipar, sampai pada suatu hari keinginannya terwujud, setelah meminum beberapa macam obat yang dibantu oleh suster, Adit membaringkan tubuhnya yang masih terasa lemah, pintu ruangannya terbuka, dan disana berdiri Arman yang tersenyum lebar.
"Tebak, gue bawa siapa."
"Anggi." tebak Adit ngasal, lagian juga malas dia main tebak-tebakan.
"Lo lihat sendiri deh siapa yang gue bawa." Arman menggeser tubuhnya, "Tadaa, kejutann." dibalik punggung Arman berdiri Ayu gadis yang selalu di cintai oleh Adit, bahkan dalam tidur panjangnya dia sering mendengar suara Ayu menangis dan memanggil namanya, namun bayi dalam gendongan Ayu menyadarkannya bahwa dia tidak seharusnya mencintai istri kakaknya, "Dia udah jadi milik kakak lo Dit, jangan mengharapkan dia lagi." dia menguatkan dirinya.
Adit melihat bayi yang ada dalam gendongan Ayu menggapai-gapai sambil bergumam, "Pa pa." "bener-bener bayi menggemaskan, tapi sayang dia bukan anak gue." lirihnya dalam hati.
Ayu tersenyum kearah Adit, namun Adit tersenyum kecut karna tidak semudah itu melupakan perempuan yang dia cintai.
"Masuk Yu." ajak Arman menuntun Ayu.
Adit merasa cemburu melihat hal tersebut, dalam hati dia merutuk, "Dit, lo gak seharusnya cemburu, lupakan Ayu, karna kini dia sudah jadi milik abang lo sekarang."
"Gimana, lo sukakan kejutan yang gue bawa." ujar Arman.
Adit hanya tersenyum kecut, dalam hati merutuk, "Lo sengaja bikin gue sakit hati bang, dengan menjadikan bini dan anak lo sebagai kejutan."
Ayu hanya diam memandang Adit, tidak perlu banyak bicara karna matanya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kalau dia kangen banget sama Adit, sementara Moreno terus menggapai-gapai ke arah Adit, mulut kecilnya terus bergumam "Pa pa."
Namun Adit cuek, tidak berusaha meraih Moreno.
"Mas Adit, dia anakmu, dia kangen kamu mas, dia ingin kamu gendong." batin Ayu sedih melihat Adit yang tidak merespon Moreno.
Arman memecahkan keheningan yang tercipta, "Lho, kok pada diem gini sieh, oh ya ampun, gue lupa, sorry, sorry, kalian pasti canggung karna ada gue, kalau gitu gue keluar dulu biar kalian bisa bicara dengan leluasa." sebelum pergi Arman mengelus kepala Moreno, "Kamu di sini saja ya sayang sama mama, papa mau keluar dulu." Arman sudah menganggap Moreno sebagai anaknya sendiri, dia juga yang memenuhi segala kebutuhan Moreno selama Adit terbaring koma.
"Bang." panggil Adit yang heran karna meninggalkan istri dan anaknya bersamanya.
"Lo ngapain keluar, lo disini ajalah."
"Gak gak, gue gak mau ganggu."
Adit jelas gak ngerti maksud kata-kata abangnya, tapi dia malas berdebat.
"Yu, aku tinggal ya."
Ayu menangguk.
Begitu Arman sudah keluar, terjadi kecanggungan antara Ayu dan Adit, mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.
"Mas."
"Yu."
Mereka bersamaan buka suara, "Kamu duluan Yu."
"Gak, mas saja yang duluan."
Adit menarik nafas sebelum mengeluarkan apa yang ingin dia katakan, "Yu, meskipun terlambat, tapi aku tetap ngucapin selamat ya atas pernikahan kamu dengan abangku, aku tidurnya terlalu lama ya sampai ketika aku bangun, keponakan ku sudah sebesar ini."
Air mata Ayu langsung tumpah mendengar kata-kata yang diucapkan Adit, laki-laki yang selalu ditunggunya menganggapnya menikah dengan Arman, "Mas." ujar Ayu sesenggukan.
"Sorry, sorry, aku salah ngomong ya sampai bikin kamu nangis."
Ayu menggeleng, Ayu mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, "Mas, aku dan mas Arman tidak pernah menikah."
"Kalian tidak pernah menikah, apa maksudmu Yu." kejar Adit, dia merasa salah denger.
"Iya, kami tidak pernah menikah, itu semua karna Moreno." tunjuk Ayu pada Moreno yang ada dalam gendongannya, bayi kecil itu kini mengemut ibu jarinya.
"Moreno, dia bukannya anak kamu dan mas...."
"Dia bukan anak mas Arman, dia anakmu mas."
"Yu, aku gak ngerti maksud kamu." Adit makin bingung, mana mungkin anak yang ada dalam gendongan Ayu itu adalah anaknya.
Ayu berusaha menjelaskan semua kejadiannya, "Ketika kamu berniat pergi ke Australia, aku menyadari kalau aku hamil, dan itu adalah anak kamu mas."
"Kamu gak bercandakan Yu." Adit masih belum mau mempercayai kata-kata Ayu.
"Mana mungkin aku bercanda tentang hal sebesar ini mas."
"Terus, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku, kenapa kamu cuma diam saja." kini fokus Adit ada pada Moreno, sekarang Adit bisa melihat dengan jelas kalau bayi itu sangat mirip dengannya.
"Hari dimana kamu mengalami kecelakaan, itu adalah hari dimana aku ingin menjelaskan semuanya kepada kamu mas." Ayu tidak bisa lagi membendung air matanya yang sudah menganak sungai mengaliri pipinya.
Adit menangis, ini untuk pertama kalinya dia menangis dalam hidupnya, "Maafkan aku Ayy, maafkan aku." ulangnya terus menerus, dia kembali memanggil Ayu dengan panggilan Ayy.
Ayu mendekati Adit, dengan Moreno dalam gendongannya, Ayu merangkul Adit, dan menangis bersama, melihat kedua orang tuanya menangis, Moreno ikutan menangis juga, hal tersebut membuat Adit menghentikan tangisnya, dia meraih Moreno dari gendongan Ayu, Adit berusaha menenangkan buah hatinya.
"Cup, cup, jagoan papa gak boleh nangis, masak anak cowok nangis, nanti kalau nangis, siapa yang hapus air mata mamanya, mama Moreno gampang mewek lho orangnya."
Melihat pemandangan mengharukan itu, Ayu menghapus air matanya dan tersenyum.
"Duduk sini Ayy."
Ayu duduk disamping Adit, "Makasih ya sayang karna telah membiarkannya hidup, dan merawatnya, disaat kamu bisa menggugurkannya, tapi kamu memilih untuk membiarkannya hidup ditengah ketidakpastiaan apakah aku bisa hidup atau mati."
Ayu meletakkan jari telunjuknya dibibir Adit, "Jangan ngomong gitu mas, aku mempertahankannya karna aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu."
Adit kembali menangis haru mendengar ucapan tulus Ayu, dia mencium kening Ayu dan berjanji, "Aku berjanji akan membahagiakan kalian dan akan menebus masa-masa yang telah hilang."
Ayu melilitkan tangannya dilengan Adit, dan merebahkan kepalanya dipundak Adit, tempat ternyaman yang selalu dia rindukan.
*********