
Adit ingin mengantar ayu sampai rumah, saat ini ditidak takut sama siapapun bahkan sama arya sekalipun, ketika dia memantapkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada ayu, disaat itu dia berjanji akan menghadapi segala macam bentuk rintangan termasuk arya.
Didalam taksi yang mereka tumpangi, terjadi perdebatan antara ayu dan adit.
"Aku anter sampai rumah ya, sekalian mampir." adit membujuk.
"Gak usah mas, aku turunnya ditempat biasa aja."
"Kamu takut ya sama mas arya."
"Hmmmm."
"Apa mas arya akan nentang hubungan kita kalau dia tau kita pacaran."
"Sepertinya iya mas."
"Kenapa begitu, apa mas arya gak suka kamu punya pacar, atau mas arya gak suka sama aku."
"Aku gak tau mas."
Adit menarik nafas, "Ayy, aku ingin memperjuangkan hubungan kita, jangankan mas arya, petir sekalipun kalau berusaha memisahkan kita akan aku lawan."
"Iya mas, aku juga, tapi untuk saat ini, menurut aku ini belum waktu yang tepat buat memberitahu mas arya."
Sik sopir taksi ikut nimbrung, "Masnya hebat, laki-laki sejati, pantang menyerah, perjuangin terus mas sik mbaknya sampai menuju pelaminan." sik sopir memberi semangat.
Ayu yang mendengar ucapan sik sopir menunduk malu , sedangkan adit menjawab, "Doain ya bang disetiap abang sholat, supaya saya berjodoh dengan perempuan yang ada disebelah saya ini."
"Akan saya lakukan mas."
"Mas, apa-apan sieh." lirih ayu.
"Gak ada salahnya yu, siapa tau doa sik abang diijabah oleh allah."
"Amiennn." sik sopir mengaminkan.
Ayu turun ditempat biasa, dia belum siap jika harus memperkenalkan adit pada keluarganya. Sebelum ayu beranjak, adit masih kukuh supaya dia mengantar ayu sampai depan rumahnya saja.
"Ayy, aku anter sampai depan rumah aja ya, aku bener-bener khawatir, kalau ada yang berniat jahat lagi gimana."
"Lebay banget sieh mas, lagian tuh kan rumah aku kelihatan."
"Ya udah, kalau gitu aku awasin dari sini."
"Gak usah mas, balik aja sana, istirahat biar mas cepat sembuh."
"Gak bisa, aku tidak akan bisa istirahat dengan tenang kalau tidak lihat kamu masuk dengan selamat." maklumin saja deh, masih hangat-hangatnya.
Akhirnya ayu menyerah, "Ya udah deh, kalau gitu, dadah mas adit." ayu melambaikan tangannya dan berbalik.
Adit menarik lengan ayu, membuat ayu berbalik, "Ada apa lagi sieh mas."
"Ada yang lupa ayy."
"Perasaan gak ada." ayu memeriksa tasnya untuk mengecek apa yang dia lupakan, "Gak ada yang aku lupain kok mas."
"Bukan yang itu." adit terlihat malu, "Tapi yang itu, tu, masak kamu gak ngerti sieh."
"Apa sieh mas."
Dalam hati adit berujar, "Gini nieh kalau pacaran sama cewek polos, gak ngerti kalau dikasih kode.", adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Duh, gimana yah cara ngomongnya, malu aku."
"Apa sieh mas, kalau gak penting, mending aku pergi sekarang deh."
Ayu bersiap untuk balik badan, tapi adit dengan gerakan cepat mencium pipi ayu, "Nah, itu yang kamu lupakan, kamu bisa pergi sekarang." adit membalikkan tubuh ayu dan mendorongnya pelan, "Pulang sana."
Ayu memegang pipinya yang dicium oleh adit, dan buru-buru menjauh untuk menenangkan debaran jantungnya.
"Ayyy," teriak adit dari belakang.
Ayu berbalik, dia menemukan adit masih setia berdiri ditempatnya, "I LOVE YOU." adit berteriak kencang.
Sumpah ayu malu banget, dia kembali berbalik dan semakin mempercepat langkahnya karna orang-orang yang berlalu lalang memperhatikannya, "Apa-apaan sih mas adit itu, bikin malu aja.
**********
Tiba dirumahnya, ayu kaget karna rumahnya begitu ramai, bahkan bhima kakaknya yang tinggal dijogja ada disana.
Saking bahagianya, ayu melupakan fakta kalau dia baru saja diculik dan hal tersebut membuat keluarganya khawatir, sehingga ketika dia datang, ketiga kakak laki-lakinya menghambur menghampirinya dan memeluknya.
"Kamu gak kenapa-napakan yu, astaga, mas rasanya mau mati mendengar kabar dari karin kalau kamu diculik." itu rasa khawatir yang diungkapkan arya, arya adalah tipe kakak yang tidak pernah menampakkan kasih sayangnya alias dia orangnya gengsian, tapi rasa khawatirnya mendengar kabar ayu diculik menghilangkan gengsinya.
Karin juga ada dirumah ayu, dia duduk disofa membersit hidungnya, dibalik mata bengkaknya, wajahnya kini menampakkan senyum sumringah begitu melihat sahabatnya sudah kembali dengan utuh.
Bhima juga berkata, "Apa yang terjadi yu, mas sampai datang kemari saking khawatirnya."
Ayu akan menjawab pertanyaan kakak-kakaknya tersebut, tapi didahului oleh kakaknya yang ketiga yaitu sakti, dia juga terlihat sangat khawatir, "Kamu gak apa-apakan yu, apa perlu kita kerumah sakit untuk memeriksa kondisi kamu."
Dari sekian pertanyaan yang meluncur tidak ada yang menanyakan siapa yang menyelamatkan ayu. Ayu tersenyum untuk meredakan kekawatiran ketiga kakaknya sebelum menjelaskan, "Ayu baik-baik saja mas, ayu memang diculik tapi tidak diapa-apain, ayu diselamatkan oleh mas adit."
Arya bernafas lega, "Syukur alhamdulillah ya allah, kami sangat khawatir, kami sampai menghubungi polisi untuk menemukan keberadaan kamu."
Bima menimpali, "Terus mana laki-laki yang menyelamatkan kamu, kami ingin berterimakasih karna telah menyelamatkan mutiara berharga kami."
"Iya, di mana dia yu." tanya sakti.
Ayu membuat alasan bohong, "Mas aditnya buru-buru pulang mas, katanya mamanya nelpon." padahal dia yang nyuruh adit pulang.
Ayu berbohong lagi supaya kakaknya dan kakak iparnya tidak khawatir, "Mas adit hanya mengalami luka sedikit kok mas, mabk, selebihnya dia baik-baik saja."
"Syukurlah." ucap mereka berbarengan.
"Ayuuu..." karin menubruk ayu, memeluk ayu erat, "Maafkan gue, gara-gara gue lo diculik."
"Apa sieh anak ini, aku gak apa-apa, gak usah lebay deh."
Karin menghapus air matanya, "Beneran lo gak apa-apa."
"Kamu perhatikan aku baik-baik, tidak ada yang lecetkan."
Karin mengangguk.
"Ya udah, mending kita makan saja sekarang, laper juga setelah mengkhawatirkan ayu."
Semuanya mengangguk menyetujui ide ajeng.
********
Seperti biasa, dengan tampilan seperti itu, mana berani adit pulang kerumah, meskipun ibu negara alias mamanya tidak ada dirumah, tapi anggi ataupun surtinah pasti akan melaporkannya kalau mamanya pulang.
Dan seperti biasa pula, tempat yang dituju kalau kondisinya seperti ini adalah kosannya arkan.
Waktu dia sampai, andra juga tengah ada dikosan arkan, dua cowok itu terkejut melihat kedatangan adit yang tiba-tiba.
"Setan lo, bikin kaget aja." umpat andra.
"Pada ngapain lo berdua, melihat wajah-wajah mesum lo, lo berdua pasti nonton film porno kan."
Ujar arkan, "Ya begitulah, cari refrensi sebelum dipraktikkan, bener gak ndra."
"Yoi."
"Dasar otak cabul."
"Sok suci lo." balas arkan dan andra berbarengan.
"Tuh wajah ancur begitu, habis baku hantem lagi." arkan melayangkan pertanyaan.
Adit menjawab dengan senyum.
"Sik anjir bisa-bisanya senyum dengan wajah begitu."
"Dia lagi bahagia nieh kayaknya."
Makin lebar tuh senyuman adit, arkan yang mengharap adit buka suara dan menjelaskan apa yang terjadi kesal doank pastinya, dia melempar bantal kewajah adit, "Anjir, lo jawab donk, jangan kasih kami senyum gaje gak jelas lo."
Karna dia lagi bahagia, adit tidak marah tuh meskipun wajahnya mencium bantal, "Gue tau lo lagi bahagiakan." tebak andra.
"Tepat sekali."
"Bahagianya bagi-bagi donk."
"Enak aja bagi-bagi, yang ini mutlak punya gue."
"Bisa gak lo dit, cerita lengkap selengkap-lengkapnya, supaya kami ngerti apa yang tengah menimpa lo saat ini." arkan jelas kesal dengan adit yang berteka-teki.
"Gue udah jadian sama sik ayy."
Wajah arkan langsung pucat mendengar berita tersebut, andara tertawa menepuk pundak arkan, "Mulai sekarang lo harus ngerjain tugas adit selama satu semester."
Arkan tidak merespon dan aditpun tidak merespon balik kalimat andra.
"Gue mau membatalkan taruhan kita ar." ungakp adit tiba-tiba.
Baik andra, lebih-lebih lagi arkan kaget sampai bola mata mereka ingin melompat keluar mendengar ucapan adit.
Masih dengan rasa tidak percaya arkan bertanya, "Maksud lo, taruhan kita, maksud gue, lo membatalkan taruhan kita gitu."
Adit mengangguk mantap.
"Jangan bilang lo jatuh cinta beneran dengan cewek itu."
Adit mendepak kepala andra, "Namanya rahayu lestari, bukan cewek itu, mulai sekarang panggil cewek gue dengan benar."
"Kebiasaan deh lo dit main pukul, awas aja lo gue laporin lo ke kak seto."
"Dasar lebay lo."
"Lo serius dit membatalkan taruhan kita, lo gak lagi ngerjain guekan." masih belum percaya arkan.
"Hmm," adit tersenyum sebelum berkata, "Gue juga gak pernah nyangka kalau pada akhirnya gue jatuh cinta beneran dengan ayy." senyum adit makin lebar hanya dengan menyebut nama ayu, "Keluguannya, kepolosannya, kebaikannya, senyumnya, kelembutannya, bener-bener membuat gue jatuh dalam pesonanya."
"Syukur alhamdulillah deh, gue jadi bebas dari taruhan." ungkap arkan dengan penuh rasa syukur sedalam-dalamnya, pasalnya, jangankan ngerjain tugas orang lain, ngerjain tugasnya sendiri dia malas.
"Dia wanita yang akan mendampingi gue, yang akan menjadi ibu dari anak-anak gue kelak nantinya."
"Woee, udah halunya." andra memutus khayalan indah adit, "Tugas lo sekarang adalah bagi-bagi kebahagian lo." maksudnya pajak jadian.
"Gampang itu, tapi karna kondisi gue seperti ini, lo mendingan pada menyingkir dulu, gue mau istirahat." adit membaringkan tubuhnya dikasur arkan.
"Yah, gak asyik lo dit."
************