
Begitu keluar kelas, Adit langsung menghubungi Ayu, kangen dia, padahal baru saja beberapa jam berpisah.
"Kenapa Ayu tidak menjawab panggilan gue." tanyaya pada diri sendiri.
Dicobanya sekali lagi tetap tidak ada jawaban.
"Hai bro, nongkrong yuk." dari belakang Andra merangkul bahu Adit.
"Malas."
"Ayoklah Dit, sejak sibuk pacaran dengan Ayu lo gak pernah lagi nongkrong dengan kami." Arkan juga membujuk.
"Kapan-kapan deh."
Adit kembali mencoba menghubungi Ayu, "Lo nelpon Ayu." Andra kepo.
"Hmmmm."
Gak ada jawaban, setelah ketiga kalinya menghubungi Ayu namun tetap tidak ada jawaban, Adit langsung cabut menuju parkiran.
"Gue duluan." Adit langsung ngacir.
"Dit, woee." teriak Andra tapi tidak dihiraukan oleh Adit.
"Gilaa, sik playboy itu bener-bener cinta mati sama sik Ayu sampai tidak pernah lagi nongkrong dengan kita-kita."
"Tapi bagus sieh, sik Ayu bisa merubahnya, lha lo kapan." Andra melirik Arkan.
"Sebelas dua belas dengan gue pakai ngata-ngatain gue lu."
"Hehe, iya, iya."
"Udah yuk cabut."
"Malas gue nongkrong kalau tidak ada Adit.'
"Ke kosan gue kalau gitu main game."
"Nah itu baru oke."
***********
Adit melajukan motornya dengan kecepatan penuh, dia takut terjadi apa-apa sama Ayu, gak butuh waktu lama Adit sampai dikos. Adit langsung menerobos masuk.
"Ayy, kamu dimana." berteriak memanggil Ayu.
Pandangan matanya tertuju pada nakas dimana Ayu menaruh ponsel dan juga cincin pemberiannnya, perasaan Adit menjadi tidak enak.
Adit meraih kedua benda pemberiannya tersebut, "Pergi kemana Ayu, kenapa ponselnya ditinggal dan cincin yang gue kasih dilepas." Adit bertanya-tanya, "Apa Ayu bersama Karin sekarang, mending gue telpon Karin saja."
Namun sayang nomer Karin yang dituju juga tidak aktif, untuk memastikan apakah Ayu bener-bener bersama dengan Karin, Adit berniat kerumah Karin. Adit berjalan keluar, tapi disaat bersamaan Karin baru saja memasuki gerbang kos. Adit langsung menyongsong ke arah Karin.
"Rin, Ayu dimana." cecar Adit.
"Gue yang seharusnya nanya sama lo, Ayu dimana." Karin galak.
"Gue fikir Ayu sama lo, kemana dia, ponselnya ditinggal lagi."
Mendengar Ayu tidak ada dikosnya membuat Karin panik, Karin yakin Ayu pasti sangat terluka setelah melihat vidio yang dikirimnya, dan orang yang tengah patah hati bisa melakukan hal-hal nekat.
"Ini semua gara-gara lo." Karin menyalahkan.
"Gara-gara gue, maksud lo apa Rin."
"Jangan pura-pura gak tau Dit."
Adit yang bener-bener gak ngerti dengan maksud Karin berkata, "Gue bener-bener gak tau maksud lo apa Rin."
Karin memperlihatkan vidio yang membuat heboh dikampus, "Ngerti lo sekarang hah."
"Shitt." Adit meremas rambutnya terlihat frustasi, "Bagaimana vidio ini bisa tersebar."
Memang dulu ketika melakukan taruhan dengan Arkan, Arkan meminta Andra merekam mereka untuk jaga-jaga supaya salah satu dari mereka tidak ingkar. Tapi itukan dulu, sebelum dia bener-bener mencintai Ayu, dia sudah membatalkan taruhan tersebut ketika berniat menembak Ayu.
"Apa maksudnya ini Dit." cecar Karin, "Jadi selama ini lo cuma mainin Ayu doank, tega lo, padahal Ayu bener-bener cinta sama lo, dia sampai rela ngelawan mas Arya hanya demi cintanya ke elo."
Tidak menggubris Karin, Adit langsung berjalan kearah motornya dengan wajah merah padam.
"Aditt, mau kemana lo."
Dengan penuh emosi Adit menjalankan motornya.
Saat itu Arkan dan Andra tengah seru bermain game dikosan Arkan, ketika Adit datang dengan menjeblak pintu dengan keras.
"Astagaa, bisa gak lo kalau masuk slow gitu gak usah ngamuk, lama-lama bisa rusak tuh." komen Arkan namun diabaikan oleh Adit.
Sebagai balasan dari sapaan Andra, Adit langsung menonjok wajah Andra.
"Bangsat lo, mau lo apa hah." Adit melayangkan kepalan tangannya bertubi-tubi diwajah Andra.
Andra yang tidak siap dengan kondisi seperti ini tentu saja tidak bisa melawan, Arkan langsung berdiri dan menahan Adit yang sudah mirip dengan singa terluka.
"Dit, Dit hentikan, apa yang lo lakukan, salahnya Andra apa."
Adit mendorong Arkan sehingga tersungkur dilantai, dan kembali memberikan bogeman pada Andra.
"Apa maksud lo nyebarin vidio tentang taruhan itu hah."
Ditengah bogeman bertubi-tubi yang diterimanya gak mungkin donk Andra mengklarifikasi.
Arkan yang terjatuh kembali bangun dan dengan sekuat tenaganya menarik tubuh Adit menjauh, bisa mati sik Andra kalau Adit memukulnya terus-terusan seperti itu.
Adit membrontak, "Lepasin gue Ar, gue mau kasih pelajaran buat sik brengsek itu."
Andra berusaha untuk bangkit meskipun kondisinya payah, sumpah dia tidak tahu kenapa Adit tiba-tiba memukulnya dan menyebut tentang vidio.
"Adit, bisa tenang gak lo." Arkan membentak, "Apa maksud lo dengan vidio."
Adit mengontrol emosinya dan menunjuk Andra, "Sik brengsek itu telah menyebarkan vidio taruhan yang pernah kita sepakati di grup kampus."
"Vidio, vidio taruhan tentang Ayu itu maksud lo."
"Mana lagi.".
Meskipun bibirnya terasa perih kalau bicara, tapi Andra berusaha untuk memberi penjelasan, "Vidio itu, Dit, sumpah demi Tuhan gue gak pernah nyebarin tuh vidio."
"Andra bener Dit, Andra gak mungkinlah melakukan hal itu, lo fikir apa untungnya Andra melakukan hal tersebut." Arkan membela Andara karna yakin dalam hal ini Andra tidak melakukan hal yang dituduhkan oleh Adit.
"Kalau bukan dia lalu siapa, rekaman itu hanya ada di diakan."
"Tapi gue bener-bener gak melakukan hal itu Dit."
"Dit percayalah sama Andra, dia gak mungkin melakukan hal yang lo tuduhkan."
"Kalau terbukti lo yang nyebarin vidio itu, jangan harap lo bisa bernafas dengan tenang." ancam Adit langsung pergi begitu saja.
************
Suasana makan malam dirumah Ayu seperti biasa hening dan tenang, Sakti juga ikut bergabung dalam acara makan malam tersebut, dia langsung datang kerumah Arya begitu mendapat kabar kalau adiknya itu sudah pulang. Dan Ajeng meminta sama suaminya dan Sakti untuk saat ini jangan dulu mengintrogasi Ayu apalagi memarahinya, dan kedua kakak Ayu itu mengiyakan mengingat kalau mereka memarahi Ayu, Ayu akan kembali kabur dan bisa saja Ayu melakukan hal yang lebih nekat lagi.
Karna rasa sedih yang dialaminya, untuk saat ini Ayu masih tidak mau bergabung dengan keluarganya, selain itu juga dia merasa malu karna melawan kakaknya hanya demi laki-laki yang hanya menjadikannya sebagai taruhan.
"Jeng, kamu bawakan Ayu makan malamnya ke kamar." perintah Arya.
"Baik mas."
Tapi gak lama Ayu turun dan ikut bergabung dengan keluarganya, semua mata memandanganya, gurat kesedihan masih jelas terpancar dari aura wajahnya.
"Kamu mau makan apa Yu, mbak ambilkan ya." tawar Ajeng.
Ayu menggeleng, "Gak usah mbak, Ayu bisa sendiri kok."
Seperti yang telah disepakati tidak ada yang mengungkit masalah kaburnya Ayu.
Di akhir makan malam membosankan tersebut, Ayu membuat pernyataan yang membuat keluarganya terkejut sekaligus bahagia, "Mas, Ayu mau dijodohkan dengan laki-laki yang mas pilihkan untuk Ayu."
Arya sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Ayu.
"Beneran kamu mau Yu." tanya Sakti untuk memastikan.
"Iya mas."
Dua kalimat itu sudah lebih dari cukup membuat Arya dan Sakti percaya dan tersenyum bahagia, mereka tidak mau bersusah-susah menanyakan kenapa Ayu berubah fikiran menerima perjodohan yang telah direncanakan oleh mereka, sedangkan Ajeng, dia memandang adik iparnya dengan iba, dia sangat tahu Ayu saat ini Ayu tidak baik-baik saja, hanya saja Ayu tidak mau berbagi kesedihannya, dan Ajeng tau Ayu terpaksa menerima perjodohan ini.
"Kamu baik-baik saja Yu." Ajeng bertanya begitu dia hanya tinggal berdua saja dengan Ayu.
Ayu tersenyum, senyum yang dipaksakan hanya untuk mengelabui kakak iparnya, "Ayu baik-baik saja mbak, mbak gak perlu khawatir."
"Kamu bisa cerita kapan saja Yu sama mbak kalau ada masalah."
"Iya mbak, makasih atas perhatiannya."
"Ayu kekamarnya dulu ya mbak."
Ajeng memberi anggukan sebagai balasan.
Ayu kembali kekamarnya, Ajeng memandang punggung Ayu dengan rasa sedih.
***********