
Keluarga Ayu dan juga keluarga bagaskoro berencana langsung menikahkan Ayu dan Arman tanpa tunangan terlebih dahulu dan waktu dan tanggalnya sudah ditentukan. Suasana dirumah besar kediaman keluarga Bagaskoro tiap harinya diliputi oleh kebahagian, tidak sabar untuk menyambut datangnya hari bahagia anak sulung keluarga tersebut. Tapi ditengah kebahagian yang kini dirasakan oleh hampir seisi rumah, ada satu orang yang tidak turut ambil bagian dalam kebahagian tersebut, siapa lagi kalau bukan Adit, bagaimana mau bahagia jika kakaknya akan menikahi gadis yang dia cintai. Sehingga ketika keluarga besar itu tengah makan malam, Alya menanyakan penyebab perihal kenapa putra keduanya itu selalu terlihat bersedih.
"Adit." tegur Alya lembut.
Namun sepertinya Adit tidak mendengar karna dia hanya mengaduk-aduk makanannya sambil melamun.
Anggi yang duduk berseblahan dengan Adit menyenggol pinggang kakaknya, "Bang, dipanggil mama tuh."
Barulah Adit sadar, kini dirinya tengah menjadi objek perhatian semua anggota keluarganya, "Iya ma kenapa."
"Kamu kenapa, akhir-akhir kamu terlihat murung dan makannya juga sedikit, kamu lagi ada masalah."
Adit ingin menjawab, "Ada banget ma, masalah yang Adit hadapi cukup sulit, masalahnya Adit tidak mungkin bilang kalau perempuan yang akan dinikahi oleh bang Arman adalah wanita yang aku cintai." tapi hal tersebut hanya diungkapkan dalam hati, dia tidak mungkinkan merusak kebahagian seisi rumahnya terutama kebahagian Arman jika dia menceritakan penyebab dirinya bersedih, untuk menjawab pertanyaan mamanya Adit menjawab, "Iya ma, hanya masalah kecil kok, Adit bisa atasi."
"Beneran hanya masalah kecil."
"Iya ma."
Arman memandang adiknya dengan rasa iba, Arman berkesimpulan mungkin perubahan sikap adiknya seminggu belakangan ini disebabkan oleh hubungan percintaannya yang tidak berjalan seperti yang diharapkannya.
"Lo bisa cerita kapanpun sama gue Dit." ujarnya.
Adit tersenyum kecut, dalam hati Adit berkata, " Masalahnya kali ini gue gak mungkin cerita sama lo bang."
"Bener itu Adit, kalau kamu punya masalah jangan dipendam sendiri nanti jadi penyakit lho." Adi menimpali percakapan antara anak-anaknya.
"Iya pa."
"Pa." panggil Adit.
"Hmmm."
"Adit ingin pindah kuliah."
"Pindah, kenapa kamu ingin pindah, bukannya kampus kamu kampus bergengsi yang fasilitasnya lengkap."
"Cari suasana baru aja pa, bosan soalnya dikampus Adit yang saat ini."
"Kalau itu membuat kamu semangat belajar boleh saja, Emangnya kamu ingin pindah kemana."
"Australia pa."
Adit mengucapkan lalimat tersebut dengan enteng, tapi cukup membuat keluarganya terkejut, "Australia, kenapa jauh sekali Dit." respon Adi tidak menyangka kalau anaknya ingin pindah kuliah sejauh itu.
"Kayak gak ada kampus yang bagus saja dinegara kita." Arman menimpali.
"Kan aku udah bilang mau cari suasana baru."
"Cari suasana baru gak perlu sejauh itu jugalah."
"Lo kan juga kuliah diluar negeri bang, perasaan gak ada yang komplein deh."
"Iya tapi itukan beda Dit, ini lo minta pindah kuliahnya tiba-tiba begini siapa yang tidak komplein coba, atau jangan-jangan lo ingin kuliah diluar untuk menghindari gadis yang lo ceritakan itu."
"Gadis, kamu pindah hanya gara-gara seorang gadis Dit." tanya Alya.
"Ya gaklah, memang ini murni karna keinginan Adit." Adit berbohong dengan sangat menyakinkan.
"Mungkin bang Adit ingin lihat kangguru kali ma disana." crocos Anggi yang dari tadi diem saja.
"Mending diem saja lah lo."
"Ya terus alasannya apa bang, masak iya abang pindah hanya gara-gara ingin mencari suasana baru, bener-bener alasan yang gak masuk akal, kalau cuma cari suasana baru ya dijakarta ajalah, ngapain jauh-jauh sampai ke Australia segala."
Tuh, Adit diskakmat oleh Anggi, Adit tidak bisa berkata-kata lagi dia.
"Sudah-sudah." sang kepala keluarga menengahi, "Papa rasa gak ada masalah, selama itu membuat Adit semangat belajar, papa akan mengabulkan keinginanmu."
"Makasih pa."
"Tapi pa." Alya tidak setuju dengan suaminya, "Satu tahun lagikan Adit bakalan menyelsaikan masa kuliahnya disini, kenapa tidak diselsaikan saja dulu, baru S2nya diluar negeri."
Adit merasa bersyukur punya seorang ayah yang baik dan selalu mendukung keinginan anak-anaknya, yah meskipun langkah ini diambil untuk menjauhi Ayu dan menetralisir rasa sakitnya.
************
Ayu mengelus perutnya yang masih rata untuk saat ini, didalamnya terdapat janin yang tiap harinya semakin bertumbuh semakin besar dan akan membuat perutnya pastinya akan membuncit, dan disaat itu tiba, orang-orang akan menyadari kehamilannya.
Ayu takut, pasti keluarganya akan marah besar jika mengetahui akan hal ini, dan dia juga tidak mungkin menikah dengan Arman dalam keadaan dirinya yang tengah mengandung bayi Adit. Dilema yang dirasakan oleh Ayu, dia tidak tau bagaimana nasibnya jika keluarganya mengetahui dia hamil diluar nikah, apakah dia akan diusir atau diasingkan, Ayu ngeri membayangkannya. Gadis baik-baik, lugu dan polos hamil diluar nikah, apa kata orang tentang dirinya, pasti keluarganya akan kecewa dan malu, Ayu telah mencoreng arang diwajah keluarga besarnya yang sangat menjunjung norma agama. Mengingat akan hal itu, yang hanya dilakukan Ayu adalah menangis menyesali perbuatannya, jika waktu bisa diputar, Ayu ingin kembali ke masa itu dan tidak melakukan perbuatan dosa tersebut, tapi jelas itu tidak mungkin terjadi.
"Tok, tok." suara ketukan dari luar kamarnya membuatnya langsung menghapus air matanya.
"Masuk."
Setelah pintu terbuka terpampang wajah ceria Karin, ditangannya dia membawa kantong plastik berisi mangga muda, dan tanpa rasa curiga sedikitpun Karin memenuhi keinginan Ayu yang meminta dirinya untuk membawakan mangga muda.
"Halo calon pengantin." sapa Karin dengan senyum mengembang.
"Apa sieh Rin, jangan goda aku terus."
"Oh ya, nieh mangga muda pesenan lo." Karin menyerahkan plastik ditangannya kepada Ayu, "Gue minta ditetangga sebelah rumah gue, untung orangnya gak pelit."
"Makasih ya Rin."
"Buat apa sieh."
"Ya dimakanlah Rin."
"Maksud gue, masak yang ingin lo makan mangga muda sieh, kayak orang hamil saja."
Ayu langsung bungkam mendengar kata-kata Karin, tapi dia berusaha ngeles, "Emang orang hamil saja yang doyan makan mangga muda, mangga muda dijadikan rujak itu paling enak kali Rin."
"Ah iya bener, lagian wanita sepolos lo gak mungkin hamilkan, maksud gue hamil diluar nikah, ntar kalau lo udah nikah baru dihamilin oleh Arman." Karin terkekeh setelah menyadari kalimat yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Iya orang berfikir gadis sepolos aku tidak mungkin hamil, nyatanya aku hamil." wajah Ayu berubah murung dan terlihat sedih, "Apa kalau Karin tau aku hamil, apa dia masih mau berteman denganku."
"Eh, kok lo jadi sedih gini sieh Yu, apa karna kata-kata gue barusan, masak gitu aja lo ambil hati sieh, gue kan cuma bercanda."
"Siapa yang marah sieh."
"Gak marah ya, kirain, tapi bagus deh kalau gitu. Ngomong-ngomong Yu, Adit katanya bakalan pindah kuliah gitu lho."
"Pindah kuliah."
"Iya, denger-denger sieh katanya dia bakalan pindah ke australia gitu."
Ayu yang tengah berdiri sambil memegang plastik berisi mangga pemberian Karin langsung menjatuhkan plastik tersebut, membuat mangga itu jatuh berhamburan.
"Kok dijatuhin sieh Yu." Karin kesel, dia memungut mangga yang berjatuhan tersebut satu persatu.
"Kapan."
"Apaan."
"Kapan mas Adit akan pergi."
"Kurang tahulah gue, tanya saja sendiri, meskipun sudah menjadi mantan bukan berarti tali silaturahmi terputuskan."
Ayu langsung mencari kontak Adit dan mendialnya, sayangnya nomer Adit ternyata tidak aktif.
"Lo nelpon Adit."
"Hmmm, tapi nomernya gak aktif Rin." Ayu gelisah.
Karin memegang pundak Ayu, "Lo masih cinta sama Adit."
Ayu terdiam, memang tidak gampang melupakan laki-laki yang kita cintai secepat itu, apalagi Adit adalah cinta pertamanya, Ayu tambah gak mungkin lagi melupakan Adit dengan adanya janin yang ada diperutnya saat ini.
"Lo harus move on Yu, mulai sekarang lo harus belajar mencintai mas Arman."
********