I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Rumpi DiDapur



Dikediaman rumah arya, tepatnya dibagian dapur terjadi percakapan seru antara ajeng dan karin, begini kira-kira percakapan mereka.


"Mbak kenapa mas arman sepertinya kenal dekat dengan keluarga mbak, mas arya juga ramah terhadap arman" Karin membuka percakapan.


"Arman itu anak sulung dari rekan bisnisnya mas arya, dan ternyata arman juga sahabat dekat sakti,berawal dari itu sieh kami sering berintraksi dengan arman dan keluarga mbak juga menjadi dekat dengan dia, sakti juga beberapa kali ngajak dia main kesini"


"Setiap denger nama mas sakti disebut pasti hati karin jedag-jedug gimana gitu mbak,"


"Cie, yang kasmaran." Goda ajeng.


Karin malu-malu mendengar godaan ajeng.


"Jangan godain karin mbak, kan jadi malu aku." Karin menutup wajahnya kayak remaja alay.


"Biasa aja kalau sama mbak rin, gak usah malu"


"Hehe, kalau gitu bolehkan mbak karin manggilnya kakak ipar"


"udah pasti beh donk,kamu udah dapat restu mbak seutuhnya"


"Makasih calon kakak ipar" Karin memberi pelukan pada ajeng dan dibalas oleh ajeng, mereka persis seperti dua remaja alay.


"Mas arman sepertinya orang yang baik yah mbak,dan terlihat bertanggung jawab, sopan lagi orangnya, sepertinya cocok dengan ayu" Setelah kegiatan peluk-memeluk itu selesai, karin kembali mengembalikan pembicaraan ketopik awal.


"apa kamu berfikir seperti yang mbak fikirkan," tanya karin "mbak berniat nyomblangin ayu dan arman"


"Karin setuju itu mbak, gadis sebaik dan sekalem ayu pantasnya dapat cowok seperti mas arman"


"Kamu mau bantuin mbak gak buat nyomblangin dua orang itu"


"Mau banget mbak, ayok mbak kita berusaha menyatukan mas arman dan ayu" Semangatnya sambil mengepalkan tangannya


"Semangat" ikut ajeng juga mengepalkan tangan mengikuti karin.


Mereka berdua tersenyum, terkekeh dan berubah menjadi tawa kala menyadari kalau kelakuan mereka tak ubahnya seperti ABG labil.


"Tapi mbak, dikampus ayu ada yang ngedeketin"


"Oh ya, siapa"


"ada mbak, anaknya badung,suka tauran, sering balapan liar dan perokok berat, tapi tuh cowok ganteng banget, kegantengannya bisa berpotensi bikin ayu jatuh cinta,"


"Cowok badung,ganteng, adit bukan namanya rin"


"Eh,," ekspresi terkejut karna ajeng mengenal adit "kok mbak tau"


"Kalau adit seih mbak tau rin, diakan pernah kerumah nganterin ayu" Ajeng memiliki daya inget yang kuat jika menyangkut masalah cowok ganteng, lagian juga masih segar diingatnnya dengan cerita ayu yang membeberkan kejelekan adit.


Karin baru inget kalau ayu pernah cerita kalau adit pernah mengantarnya pulang, dan saat itu adit juga pasti bertemu dengan ajeng.


"Cakep banget ya orangnya rin, mbak aja sampai terpana ketik pertama kali melihatnya, tapi sayang anaknya tidak benar"


"Bener mbak, karin aja klepek-klepek tiap kali lihat dia"


"Husss, bagaimana sieh kamu ini, kamukan lagi ngejar sakti, kenapa malah klepek-klepek lihat cowok lain"


"Habisnya sayang mbak wajah ganteng adit dianggurin, masak wajah ganteng begitu dicuekin, tapi tenang calon kakak ipar, sejak bertemu dengan mas sakti hatiku aku serahkan untuk mas sakti seorang, " dalam hati dia menambahkan "bolehkan dikit-dikit nikmatin wajah cowok ganteng, kan mubazir"


Ajeng melisankan "Iya mbak percaya" dalam hati berkata "Pantesan aja aku klop sama karin, sifatku sama persis seperti karin ketika aku masih muda"


Tidak terasa mereka sudah selesai menyiapkan makan malam.


"Bagaimana mbak, karin sudah pantas belum menikah" Ujar karin melihat hasil karyanya yang sudah terhidang dengan cantik dimeja.


Ajeng mengacungkan dua jempolnya "Culik aja sakti langsung bawa ke KUA"


Karin terkekeh "Mbak ada-ada saja,"


" Mbak, didepan mas sakti nanti mbak puji-puji karin yah,bilang aja ini masakan karin"


"Kalau itu gak kamu perlu khawatir,Mbak akan promosiin kamu besar-besaran, kalau perlu mbak akan bikin spanduk"


"Gak perlu sampai segitunya mbak,jangan bikin spanduk bisa malu karin" paniknya dikira ajeng serius.


"Bercanda rin"


"Ih mbak ini bikin orang panik aja"


"Kalau gitu mbak panggil yang lainnya dulu ya"


"Eh mbak, biar karin aja yang manggil, mbak mending panggil mas arya aja,"


"Oke, tapi kamu ngerjain apa itu" Melihat karin tengah sibuk mengerjakan sesuatu.


"Tadaaa,," Karin memperlihatkan hasil karyanya, Nasi yang dipleting seperti bentuk hati, "Ini khusus untuk mas saktiku tercinta, aku membuatnya dengan hati dn perasaan" Meletakkan piring berisi nasi dimeja "Aku berharap mas sakti merasakan rasa cintaku yang begitu besar lewat nasi ini"


"So sweet, kok mbak yang jadi baper ya" Komen ajeng.


Karin mesem-mesem.


"Pokoknya mbak, nanti gak ada yang boleh duduk didekat mas sakti kecuali aku"


*********


"Yu, makan malam tuh"


"Iya,"


"Aku yang masak lho"


"Emang kamu bisa masak, aku gak percaya" Balas ayu.


"Dibilangin gak percaya, emang gak sendiri sieh dibantuin mbak ajeng dan bik asih juga"


"Udah aku duga, palingan kamu kerjaannya cuma masukin garam doank"


"Aku bantunya banyak yu, motong, ngaduk,icip-icip"


"Cuma begitu kamu banggain"


"Inikan awal yang baik yu untuk menjadi istri yang baik:


"Hmmm,"


"yu"


"Apa"


"Ntar didepan mas sakti lo muji-muji gue yah, bilang kalau masakan gue enak banget, bilang juga gue calon istri idaman"


"Bohong itu dosa rin,"


"Ih ayu,jahat banget seih lo, gak setia kawan banget sieh,gak kayak mbak ajeng" Cembrut.


Ayu mencubit pipi karin "Bercanda,gitu aja marah, tapi ntar diakhirat kamu tanggung dosa aku yah"


"Beresss" ujarnya santai, gak tau aja karin kalau diakhirat kelak jangankan nanggung dosa orang lain, nanggung dosa sendiri aja gak sanggup.


"Kalau gitu lo duluan ya, gue masih punya misi maha penting manggil calon suami gue" Karin ngacir, tujuannya adalah kamar sakti.


Didepan kamar sakti karin gugup "Duh, belum lihat orangnya aja grogi gini, bagaimana didepan orangnya nanti"


Tok,Tok,Tok.


Karin makin gugup apalagi didengarnya suara langkah dari dalam.


"Oke hati, lo kudu tenang" berusaha menenagkan debaran jantungnya.


Pintu terbuka yang memampangkan wajah sakti.


"Ada apa"Sakti bertanya.


"Makan malamnya udah siap mas"


"Oh," Dua huruf tidak berguna yang digumamkan sakti, langsung berjalan melewati karin begitu saja.


"Cuek banget seih, tapi gue berjanji bakalan dapetin cinta mas sakti, semangat karin"


******


Dimeja makan, formasi sudah lengakap. Ada arya kepala keluarga, mbak ajeng,putri anak mereka,ayu dan sakti yang baru datang dan duduk dikursi yang masih kosong.


Karin melotot melihat ayu duduk dikursi yang seharusnya diduduki oleh sakti, piring berisi nasi yang dibuat secara khusus untuk saktipun berada didepan ayu. Ayu yang tidak tau dengan tanpa merasa bersalahnya berkomentar "Ih,Lucu banget seih, siapa sieh yang kreatif bikin ginian"


Ayu merebut piring tersebut"Ini aku yang bikin khusus buat mas sakti"


Karin meletakkan piring tersebut didepan sakti."Makan yang lahap ya mas"


"Buat putri aja, aku yakin dia bakalan lahap makannya kalau bentuknya lucu begini" Tanpa merasa bersalah sakti memberikan piring itu pada keponakannya yang duduk disampingnya.


Namanya anak kecil yang belum ngerti apa-apa bersorak girang "Makasih paman sakti"


Sakti mengelus puncak kepala keponakannya "Makan yang lahap sayang"


Karim menghela nafas, melihat hasil karyanya yang dibuat khusus untuk sakti malah diserahkan pada putri.


Diduduk dengan lesu didekat sakti, ajeng meminta maaf lewat lirikan matanya.


"Mas mau diambilin nasi" tanya karin masih mencoba mengambil hati sakti.


"Gak perlu aku bisa sendiri" tandas sakti.sehingga membuat ajeng sedih.


Ajeng yang sudah menasbihkan dirinya untuk membantu karin untuk mendapatkan sakti berkata "Biar karin aja yang ambilin sakti, karin kan lebih dekat dengan tempat nasinya"


Karna tidak enak menolak permintaan kakak iparnya, sakti dengan terpkasa mengiyakan.


Kecerian karin kembali, dia dengan antusias mengambilkan nasi untuk sakti, "duh, berasa kayak melayani suami," batinnya sambil senyum.


"Ini karin lho yang masak, enakkan" Ajeng menepati janjinya untuk memuji karin didepan sakti.


Arya merespon "Kalau makan jangan ngajak orang ngobrol jeng, tidak baik bicara didepan rezeki"


Yah emang seperti inikan,arya paling tidak suka kalau ada yang bicara ketika sedang makan. Ajeng langsung diem mendengar protes suami, meskipun dia sudah hidup bertahun-tahun dengan arya dia masih saja keceplosan.


********