I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Adit Berubah



Adit dan Ayu bener-bener memanfaatkan waktu kebersamaan mereka dengan sebaik-baiknya dan menciptakan kenangan indah sebanyak-banyaknya, (Kok kesannya seperti orang yang akan berpisah saja.)


Mereka berdua melakukan banyak hal yang memang seharusnya di lakukan oleh sepasang kekasih yang tengah saling jatuh cinta, seperti nonton film dibioskop, jalan-jalan ke mall, dan setiap apa yang mereka lakukan mereka dokumentasikan dalam sebuah foto, sehingga tidak heran dinding kamar kos Ayu dipenuhi oleh foto-foto mereka berdua. Setelah dua hari menginap dipenginapan, Ayu memilih menyewa kos-kosan, lebih hemat katanya, Adit sudah pasti melarang mengingat kos-kosan yang dipilih Ayu kecil dengan fasilitas terbatas sangat berbeda dengan kamar tidur Ayu dirumah Arya. Adit bersedia mencarikan Ayu kosan yang bagus dan menanggung biayanya, Ayu dengan tegas menolak karna Ayu tidak ingin membebani Adit. Dia memilih kosan tersebut dan membayar dengan uangnya sendiri.


Tapi ternyata, tidak melulu kebersamaan mereka diliputi oleh kebahagian, kadang mereka juga bersilih paham, dan kadang juga bertengkar. Seperti saat ini, Ayu tengah bete setengah mati sama Adit, karna sejak pagi Adit terus membuatnya kesel, Adit datang ke kosannya hanya untuk mengantar sarapan buat Ayu, dan ketika Ayu mengajaknya ngobrol, Adit menjawab seperti orang ogah-ogahan.


"Enak banget mas roti bakarnya, beli dimana." Ayu bertanya karna Adit membawakannya roti bakar untuk sarapan.


"Ayy, bisa gak kamu makan saja tanpa bertanya, berisik tau gak." tandas Adit pedas, wajah Adit juga terlihat kusut.


Ayu terdiam, sedih sudah pasti dirasakan, Ayu gak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari Adit.


"Maafin Ayu mas."


"Kamu gak salah, ngapain minta maaf." masih dengan suara ketus.


"Mas Adit."


Adit hanya melirik tanpa menyahut, "Mas Adit kenapa, Apa mas ada masalah, mas bisa cerita ke Ayu."


"Aku baik-baik saja, gak ada masalah tuh, makanya jadi orang jangan sok tau." jawab Adit sinis.


Ayu ingin nangis, tapi ditahannya, dia berusaha berfikir positif.


"Mas Adit ada kuliah hari ini." Ayu kembali bertanya, berharap Adit akan menjawab dengan lebih manis.


"Ya adalah, emang kayak kamu kerjaannya tidur melulu."


Sampai sini, perkataan Adit bener-bener sangat menyakitkan Ayu, Ayu berfikir, mungkin Adit bosan padanya karna dia ngerepotin Adit melulu.


Dengan menunduk menahan tangis Ayu berkata, "Maafin Ayu mas karna kerjaan Ayu ngerepotin mas melulu."


"Kenapa sieh Ayy, kerjaan kamu minta maaf melulu dari tadi, bosan tau dengernya." setelah mengatakan hal tersebut, Adit meraih jaketnya dan berdiri, "Lebih baik pergi dari sini, pusing aku kalau terus-terusan berada didekat kamu." Setelah itu Adit berlalu tanpa mempedulikan Ayu yang sudah pasti sakit mendengar perkataannya.


"Mas Adit." Ayu berlari mengejar Adit, dia ingin meminta penjelasan kenapa Adit bersikap Menyebalkan hari ini, Ayu merasa tidak pernah melakukan kesalahan, tapi sayangnya Adit sudah melajukan motornya keluar gerbang kos.


"Mas Adit, kita perlu bicara mas." teriaknya.


Air mata yang sudah sejak tadi ditahannya kini mengucur deras membasahi pipinya, Ayu sedih dengan perubahan sikap Adit, dia juga sedih mendengar setiap nada ketus Adit barusan, Ayu menyeka air matanya dengan kasar.


Ayu meraih ponsel yang dibelikan Adit untuknya, dia berusaha menghubungi Adit dan berusaha mencari tahu penyebab Adit bersikap ketus begitu padanya.


"Mas Adit, mas Adit dimana."


"Di suatu tempat."


"Di suatu tempat itu dimana mas."


"Kenapa sieh Ayy kerjaan kamu nanya melulu, aku juga punya privasi sendiri donk yang gak mau orang lain tahu."


"Tapi aku hanya...."


"Yu, aku sibuk ya, jadi jangan ganggu aku lagi."


Tanpa menunggu jawaban Ayu, Adit langsung memutus panggilan, Ayu makin sedih dibuatnya. Untuk menghilangkan rasa sedihnya, Ayu ingin menemui Karin.


*********


"Makasih mas." ucap Ayu sambil menyodorkan 2 lembar uang dengan nominal 50.000 kepada sopir taksi.


"Sama-sama mbak."


Ayu berdiri didepan gerbang rumah Karin, Ayu berharap Karin berada dirumah saat ini karna Ayu tidak menghubungi Karin terlebih dahulu. Ayu memencet bel yang ada disamping gerbang rumah, gak lama seorang laki-laki berpakaian satpam berlari tergopoh-gopoh untuk membuka gerbang.


"Eh, neng Ayu." sapa satpam yang bernama Sarimin itu, dia memang sudah mengenal Ayu karna sering main kesini, "Tumben datang neng."


"Iya mang, banyak tugas soalnya." berbohong.


"Oh, gitu ya neng, pantes saja gak pernah main kesini lagi."


"Oh ya mang, Karinnya ada."


"Neng Karin ada neng, ayok silahkan masuk."


Saat Ayu datang, Karin tengah bersantai didepan kolam renang sambil membaca novel, bi Darmi pembantu dirumah Karin yang mengantar Ayu kebelakang.


"Nah, itu non Karinnya mbak Ayu." tunjuk bi Darmi.


"Makasih ya bi."


" Sama-sama mbak, kalau gitu saya tinggal dulu." pamit bi Darmi.


"Serius amet, pasti lagi baca adegan 21 tahun keatas ya." tegur Ayu tepat ditelinga Karin.


Karin yang tidak menyadari kedatangan Ayu kaget, Ayu sieh nyapa dengan suara dan nada biasa saja, tapi disaat orang lagi fokus menghayati bisa berakibat kekagetan juga.


"Sialan lo Yu, kaget gue, gak ada permisi-permisinya ya lo."


Ayu terkikik, "Kamu menghayati banget membacanya, sampai suara langkah ku kamu gak denger, kamu lagi baca yang adegan 21 keatas ya, mukanya sampai tegang begitu."


Karin tidak membantah, "Ya begitulah, kita kan kadang butuh yang hot-hot."


"Jangan terlalu banyak baca yang begituan."


"Habisnya gimana ya Yu, seru jadi ketagihan bacanya."


"Ntar pengen gimana. kan susah jadinya, kamu gak punya tempat ngelampiasinnya."


"Iya sieh, gak kayak lo yang punya pacar, kalau pengen langsung minta."


"Ishh, dasar Karin, aku gak pernah punya fikiran kotor kayak kamu ya."


"Masak sieh, gak percaya gue."


"Terserahlah." Ayu duduk disamping Karin.


"Lo datang bukan karna kangen gue kan Yu." Karin mengalihkan topik.


Wajah Ayu kembali murung mengingat sikap Adit yang ketus dan dingin padanya.


"Heii, ada masalah apa, cerita ke gue."


Sebelum membuka cerita, terlebih dahulu, Ayu menghela nafas, dia kemudian mulai bercerita, setelah bercerita perasaanya sedikit membaik.


Respon Karin setelah mendengar keluh kesah Ayu adalah, "Cowok emang gitu Yu, bosanan orangnya, mungkin saja Adit punya gebetan baru sehingga sikapnya kayak gitu ke elo." sik Karin ini, bukannya menenangkan atau menghibur sahabatnya, malah dia mengatakan hal yang membuat Ayu berfikiran negatif.


"Tapi kan mas Adit janji gak bakalan ninggalin aku Rin."


"Hahaha." Karin ngakak tanpa merasa prihatin dengan keadaan Ayu, "Yu, polos amet sieh lo jadi cewek, gue kasih tau nieh ya, semua cowok gitu kali, janji gak bakalan ninggalin itu cuma jambu, alias janji busuk, pada akhirnya lihat yang bening dikit langsung putar haluan."


"Masak sieh mas Adit gitu."


"Apalagi Adit, lo tau sendirikan reputasinya gimana, brengsek, sering gonta-ganti cewek, ini pertanda Yu lo bakalan didepak."


Ayu kesini berharap supaya Karin memberi nasehat atau penguatan atau seenggaknya Karin menghiburnya, eh malah yang dia dapatkan, Karin semakin membuat hatinya resah, Ayu memang polos, gak berpengalaman dalam masalah cinta, jadinya, ketika Adit mengatakan bakalan setia dan tidak akan meninggalkannya, dia percaya seratus persen.


Karin yang melihat kesedihan diwajah Ayu berkata, "Udah deh, gak usah difikirkan, kalau Adit ninggalin lo, lo terima aja cowok yang dijodohkan keluarga lo dengan lo." ujar Karin dengan entengnya tanpa mempedulikan perasaan Ayu.


"Gak semudah itu Rin, aku pasti bakalan susah lupain mas Adit."


"Jadi cewek jangan bodoh donk Yu, kalau lo ditinggalin, lo harus buktiin donk lo juga bisa dapatin cowok baru yang lebih segala-galanya dari Adit."


"Tapikan mas Adit belum tentu juga bosan, siapa tau dia ada masalah keluarga gitu makanya sikapnya kayak gitu."


"Alahh, percaya sama gue Yu, gue yakin Adit kayak gitu bukan karna masalah, tapi karna dia punya gebetan baru."


Tiap kalimat yang dilontarkan Karin membuat Ayu jadi semakin sedih.


"Eh, jangan sedih gitu donk, biar lo gak sedih lagi, bagaimana kalau kita buat kue didapur, lo kan pinter banget tuh bikin kuenya."


Ayu mengangguk tidak antusias dengan ide Karin, meskipun begitu dia tetap mengikuti Karin ke dapur.


****************