I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Kenangan Masa Lalu



"Iya aku harus membatalkan pernikahan ini."


Sebuah kalimat yang bener-bener mantap diucapkan oleh Ayu, Ayu harus membatalkan pernikahannya dengan Arman, karna dia tidak ingin membohongi Arman, Arman adalah laki-laki yang baik, Arman berhak mendapatkan wanita baik-baik pula, bukan wanita seperti dirinya yang sudah ternoda. Ayu tau pasti Arman akan kecewa atas pembatalan yang dilakukan secara sepihak tanpa memberitahu alasannya, karna tidak mungkin Ayu membeberkan aibnya dengan mengatakan kalau dia hamil, tambah tidak mungkin lagi memberitahu bahwa Adit adalah ayah dari bayi yang dikandungnya, adik kandung Arman sendiri. Selain itu juga, pembatalan pernikahan ini pastinya akan membuat keluarganya marah besar dan akan bertambah marah lagi jika mengetahui kalau dia hamil diluar nikah, tapi untuk saat ini, Ayu lebih memilih untuk memikirnya nanti saja, karna saat ini Ayu tengah berfikir bagaimana caranya bicara baik-baik dengan Arman terlebih dahulu dengan memberikan alasan yang bisa diterima oleh Arman. Sehingga ketika Arman mengajaknya keluar, Ayu mengiyakan karna fikirnya ini adalah waktu yang tepat untuk membatalkan pernikahan yang telah direncanakan oleh keluarganya dan keluarga Arman.


Ayu menunggu kedatangan Arman didepan, tidak lama mobil Arman memasuki halaman rumahnya dan berhenti tidak jauh darinya. Belum apa-apa, Ayu sudah takut duluan mengingat bagaimana reaksi Arman nantinya jika dia memberitahu Arman tentang rencananya membatalkan pernikahan mereka. Dan ketika pintu pengemudi terbuka, Ayu berusaha memasang senyum untuk menyambut Arman, namun senyumnya langsung lenyap begitu melihat siapa yang keluar, dia adalah Adit cowok yang menghamilinya, Adit tersenyum bahagia seolah-olah tidak punya masalah dan beban hidup, berbanding terbalik dengan kondisinya yang memprihatinkan.


"Halo calon kakak ipar, sudah siap untuk pergi." sapa Adit sok akrab seakan-akan mereka tidak pernah saling mencintai sebelumnya.


Ingin rasanya Ayu menampar bibir Adit, karna dengan tanpa bebannya mengeluarkan kalimat tersebut, Ayu cembrut karna kesel, ternyata Adit berbahagia dia atas penderitaannya.


Arman menyusul kemudian keluar dari pintu penumpang, dia juga tersenyum lebar ke arah Ayu dan berjalan mendekati Ayu.


Melihat Ayu yang terlihat cembrut membuat Arman salah paham, difikirnya Ayu cembrut karna Adit ikut, "Sorry ya Yu, aku bawa-bawa Adit, habisnya dia maksa, katanya dia ingin berbakti sama kakak dan calon kakak iparnya sebelum dia pergi dengan menjadi sopir buat kita."


Ayu sudah tau Adit akan pergi, tapi tetap saja rasanya nyesek setiap mendengar kalimat tersebut diucapkan, biar bagaimanapun Adit adalah ayah dari bayi yang dikandungnya, dan untuk mencegah kepergian Adit, Ayu juga berencana memberitahu Adit tentang kehamilannya, tentunya setelah Ayu membereskan permasalahannya dengan Arman terlebih dahulu.


Ayu menatap Adit dengan tatapan hampa, Arman yang merasa tidak mendapat respon kembali menegur Ayu, "Yu." Arman menyentuh lengan Ayu.


"Eh, apa Mas."


"Gak apa-apakan Adit ikut kita hari ini, hitung-hitung biar ada yang disuruh-suruh."


"Wah lo bener-bener menyalah artikan kebaikan gue bang."


"Suka-suka guelah, siapa suruh lo nawarin diri tadi ingin jadi sopir gue dan Ayu."


"Dasar abang gak punya akhlak lo." pasrah Adit.


"Jadi gimana Yu, Adit boleh ikutkan." Arman mengabaikan protes Adit.


Dengan perasaan berat Ayu berkata, "Iya mas, gak apa-apa." padahal saat ini dia bener-bener malas melihat Adit.


Mereka memasuki mobil, dengan formasi, Adit yang mengemudi, sedangkan Arman duduk disampaingnya sedangkan Ayu duduk sendirian dibelakang, awalnya Arman ingin duduk dibelakang, tapi langsung diprotes oleh Adit,


"Bang, duduk didepan lo, lo fikir gue sopir."


"Lha, emang lu sopir." ledek Arman dan mendudukan bokongnya dengan nyaman dibelakang.


"Mas, mas duduk didepan saja sama mas Adit." suruh Ayu.


"Hmmm, oke deh kalau calon istri yang nyuruh."


Mendengar kalimat Arman, Ayu tersenyum kecut mengingat niatnya yang akan membatalkan pernikahan mereka.


"Kita mau kemana nieh bang." Adit yang duduk dikursi kemudi bertanya.


"Belum tahu, soalnya ini rencana dadakan, coba lo tanya calon istri gue deh, dia mungkin ingin pergi ke suatu tempat."


"Sialan, bang Arman harus gitu bilang calon istri gue segala, bikin sakit hati aja." keluhnya dalam hati, namun Adit bertanya juga,


"Kakak ipar mau kemana."


Jawaban Ayu, "Terserah mas."


"Kok terserah Yu.'


Adit terkekeh, "Cewek suka begitu bang, kalau ditanya pasti jawabannya terserah, percuma saja nanya."


"Lo ada saran gak Dit, soalnya gue mana tau tempat-tempat asyik dijakarta."


"Kalau masalah begituan serahin kegue bang."


Sikap Adit seolah-seolah menggambarkan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja, dia memang pintar berpura-pura, padahal dia sakit banget melihat orang yang dicintai sebentar lagi akan menikah dengan kakaknya sendiri, dia yang dulunya memanggil Ayu dengan panggilan Ayy, kini harus memanggilnya dengan panggilan kakak ipar. Beberapa kali pandangan Adit dan Ayu bertemu dikaca depan, bertatapan seperkian detik sebelum mengalihkan pandangan mereka.


**********


Adit ternyata membawa mereka kesebuah kafe yang seru untuk nongkrong bagi anak muda.


Karna saat ini Adit bergabung dengan dirinya dan Arman, Ayu jadi tidak bisa membicarakan hal yang ingin dia sampaikan.


"Tempat ini seru juga." komen Arman yang memperhatikan setiap sudut tempat tersebut.


"Makanya bang gaul donk lo, jangan hanya sibuk dengan kerjaan lo melulu."


"Iya deh yang sudah tua." ledek Adit.


Pelayan datang menghampiri meja mereka dan membawa buku menu, sambil menunggu pesanan mereka datang, adik kakak itu ngobrol dan saling ledek, sedangkan Ayu hanya jadi pendengar dan penonton, melihat intraksi antara Arman dan Adit semakin membuat Ayu merasa bersalah, dia merasa menghianati Arman karna saat ini dia tengah mengandung anaknya Adit, Ayu tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Arman kalau mengetahui hal ini.


"Bang, kakak ipar gue ke toilet dulu." pamit Adit.


Arman mengangguk.


"Makasih ya mbak." ujar Arman begitu pesanan mereka tiba.


"Sama-sama mas." sik pelayan membalas dengan ramah.


"Oh ya Yu, katanya ada yang ingin kamu katakan." Arman ingat dengan kata-kata Ayu ditelpon.


Ayu terlihat gelisah, tangannya gemetar dan berkeringat, sebenarnya ini kesempatannya memberitahu Arman, tapi fikirnya bagaimana jika Adit tiba-tiba kembali.


"Yu."


Ayu terjonlak, tangannya yang diletakkan diatas meja menyenggol gelas minuman Arman, dan isinya tumpah mengenai kemeja putih yang dikenakan Arman.


"Astaga, maaf mas, Ayu gak sengaja." panik Ayu.


Arman mengibas-ngibas kemejanya yang dikenai tumpahan jus jeruk yang dipesannya, Arman tersenyum supaya Ayu tidak merasa bersalah atas insiden barusan.


"Gak apa-apa Yu, gak usah panik gitu kali."


Dari tasnya Ayu mengeluarkan sapu tangan dan menggunakan sapu tangan tersebut untuk membersihkan kemeja Arman.


"Sekali lagi maaf ya mas, Ayu gak sengaja."


Mata Arman berfokus pada sapu tangan yang digunakan Ayu membersihkan tumpahan jus dikemejanya.


Arman menahan pergelangan tangan Ayu, dan memperhatikan sapu tangan tersebut.


"Kenapa mas."


"Sapu tangan itu." Arman menunjuk sapu tangan yang ada ditangan Ayu.


"Oh, ini sapu tangan mas Tama." pertanyaan Arman membuat ingatan Ayu kembali ke masa lalunya.


"Tama." ulang Arman mengulangi nama yang tercetus dari bibir Ayu.


"Iya, mas Tama, dulu waktu SD mas Tama memberikan sapu tangan ini untuk mengelap air mata Ayu, dan Ayu masih menyimpannya sampai sekarang."


Dengan tidak yakin Arman bertanya, "Apa kamu pernah tinggal dijogja."


"Iya." jawab Ayu, "Eh, kok mas tahu." jawab Ayu begitu menyadari pertanyaan Arman.


"Apa kamu pernah sekolah di SD HARAPAN BANGSA."


"Kok mas tau juga."


Mata Arman berbinar dan dengan keyakinan penuh berkata, "Yu, kamu Ayu yang itukan, yang nangis dikoridor sekolah sendirian saat hujan."


Ayu heran, kenapa Arman bisa tahu tentang kejadian masa lalunya saat dia masih kecil, "Mas kok bisa tahu."


"Karna Tama itu aku Yu."


"Maksudnya, mas Arman adalah mas Tama, mana mungkin."


Arman menjelaskan dengan sabar, "Dulu aku dan keluargaku pernah tinggal di Jogja selama lima tahun sebelum pindah ke Jakarta, dan temen-temenku disana memanggilku Tama, karna nama panjangku Arman Pratama Bagaskoro."


"Mas Tama." Ayu memperhatikan wajah Arman dengan teliti, sedikit bayangan masa lalu tentang wajah anak laki-laki yang menolongnya terlintas dikepalanya, dan memang Arman dan Tama memiliki kemiripin.


"Jadi, jadi, mas Arman adalah laki-laki yang nolongin Ayu waktu itu." ucapnya ragu.


Arman mengangguk mantap, "Gak nyangka ya, dunia ini ternyata selebar daun kelor, padahal kita sudah sangat sering bertemu kok bisa ya kita tidak saling mengenali satu sama lain, dan kalau kamu tidak mengeluarkan sapu tangan itu aku tidak mungkin mengenalimu."


Jika saja Arman datang sebelum Ayu mengenal Adit, mungkin Ayu adalah orang yang paling bahagia karna pada akhirnya dia bertemu dengan laki-laki yang selalu diharapkannya, tapi saat ini cinta itu telah terkikis dan tidak mungkin tumbuh lagi apalagi dengan adanya calon bayi diperutnya yang merupakan buah cintanya dengan Adit.


***********