
Arman pulang dari kantor dengan menggenggam sebuah undangan pernikahan ditangannya. Anggi yang melihat kepulangan kakak kesayangannya langsung menyongsong dan melilitkan tangannya dilengan Arman.
"Abangggg." Anggi mengambil alih mengambil tas kerja Arman dan menariknya menuju sofa dan mendudukknya, "Abang pasti capek banget ya, Anggi pijitin ya bang."
"Pasti ada maunyakan kamu." tebak Arman melihat tingkah adiknya.
"Hehe, bisa kebaca juga ternyata."
"Emang apa yang kamu inginkan dari
abang." Arman langsung pada intinya.
Sambil tetap memijit bahu kakaknya, Anggi memberitahu, "Gini bang, hari minggukan sekolah anggi bakalan ngadain study tour tuh,"
"Hmmm,"
"Abang bisa tambahkan dana konsumsi buat Anggi kan bang."
"Iya, nanti kakak tambahin."
"Yeeyyyy....sayang abang." mencium pipi Arman, "Abang haus gak, mau Anggi bikinin teh, kopi, jus atau apa."
"Gak usah, pijitan abang aja."
"Oke bosss."
Mata Anggi tidak sengaja melihat undangan yang ada ditangan kakaknya, dia bertanya, "Bang, itu apa."
"Oh, ini." Arman mengacungkan undangan itu, "Undangan nikahan teman abang."
"Lihat donk bang." Anggi merebut undangan tersebut dan membacanya.
"Terus, kenapa wajah abang kusut gitu."
"Abang malas datang, pasti abang akan dibombardir pertanyaan seputar, kapan nikah, udah ada calonnya belum."
Anggi terkikik mendengar kegalauan Arman, "Makanya bang, resmiin mbak Ayu donk, abang ini terlalu lamban, ntar mbak Ayunya keburu diembat orang lho."
"Abang masih mencari waktu yang tepat, gadis seperti Ayu itu bukan gadis biasa."
"Bener bang, mbak Ayu itu ibarat berlian, mahal harganya, perlu nabung dulu untuk mendapatkannya."
Arman tertawa mendengar perumpamaan adiknya.
"Terus gimana, abang jadi datang kenikahan temannya abang."
"Abang sudah memutuskan tidak akan datang, abang akan mengirim hadiah saja."
"Lha, mana bisa begitu, abang harus datang donk."
"Kamu mau kalau abang datang, terus pulang-pulangnya melihat telinga abang memerah karna mendengar ledekan teman-teman abang."
"Ajak mbak Ayu aja abang, gitu aja repot. Kan kalau ada pasangannya abang tidak akan diledek."
"Ayu gak bakalan mau."
"Gini nieh sik abang, belum dicoba udah ngambil kesimpulan sendiri aja, ayok bang ditelpon mbak Ayunya dulu."
"Gak deh, abang gak mau ngerepotin Ayu."
"Ih, gemes deh sama abang." Anggi kemudian mengambil ponsel Arman yang tergeletak dimeja, menscrool touch screennya untuk mencari kontak Ayu dan langsung mendialnya.
"Anggi, apa yang kamu lakukan, balikin ponsel abang."
"Abang mending diem ajalah, Anggi sebagai makcomblang akan mengatur semuanya."
"Iya mas, kenapa." terdengar suara dari seberang, ternyata sudah diangkat.
"Halo mbak ayu, ini Anggi mbak."
"oh, Anggi, kirain mas arman."
"Mbak ngarepnya bang Arman ya yang telpon." Anggi menggoda.
"Eh, bukan begitu Nggi." Ayu terdengar salah tingkah.
"Iya juga gak apa-apa kok mbak, bang Armankan jadi seneng, lihat aja dia senyum-senyum tuh." fitnah Anggi, padahal Arman tidak senyum-senyum.
"Anak ini, sini ponsel abang."
"Iya, bentar bang." jawab Anggi pada Arman, "Mbak, mas Arman mau ngomong nieh, kangen katanya."
"Eh," respon Ayu karna tidak tau harus merespon seperti apa.
"Kamu ini main fitnah aja, abang gak jadi ngasih kamu uang tambahan." ancam Arman.
"Jangan donk bang." rengek Anggi.
"Sana jauh-jauh." usir Arman mengibaskan tangannya, Anggi mencibir.
"Hai Yu." sapa Arman setelah menempelkan ponselnya ditelinga.
"Hai mas Arman."
"orry ya, Anggi emang gitu lho orangnya, ceplas-ceplos."
"Gak apa-apa mas."
"Yu gini, kamu mau gak nemenin mas kenikahan teman mas."
"Mmmm, gimana ya mas." Ayu menimbang, dia ingin bilang tidak, tapi gak enak, sebagai gantinya dia membawa-bawa nama Arya untuk menolak ajakan Arman secara halus, "Ayu pasti gak bakalan diizinin sama mas Arya."
Karna sudah dekat dengan keluarga Ayu, Arman berkata, "Kalau mas Arya, biar nanti aku yang minta izin gimana, yang penting kamunya mau atau gak."
"Aduh, gimana ini, gak enakkan nolak." batin Ayu.
"Mas, aku.."
"Plisss, mau ya Yu, biar aku ada temennya lho."
"Iya deh kalau gitu."
"Beneranan mau."
Dilisan, "Iya." dihati, "Terpaksa,"
"Makasih banget ya Yu, acaranya hari minggu, ntar aku jemput jam 09.00 teng, acaranya jam 11.00."
"Iya."
Setelah itu sambungan terputus.
Anggi yang datang kembali menghampiri Arman langsung heboh tuh memborbardir Arman dengan pertanyaan, "Gimana bang, mbak Ayu maukan, melihat dari ekspresi abang yang seperti kuncup bunga yang baru mekar sieh sepertinya mbak Ayu mau."
Arman malah tersenyum, "Mbak Ayu maukan, apa aku bilang bang, uang jajan tambahin dua kali lipat yah bang."
***********
"Ayu, astaga, lihat ini." sambil memperlihatkan apa yang dibawanya.
Minggu pagi itu Ajeng memasuki kamar Ayu dengan heboh, tangannya membawa kotak berwarna pink dengan pita putih di atasnya. Ajeng sudah tau kalau Arman akan mengajak Ayu pergi keacara nikahan, karna Arman secara langsung meminta izin pada Arya lewat telpon.
"Apa itu mbak."
"Ini dikirim oleh Arman."
"Dikirim oleh mas Arman." tanya Ayu memastikan.
"Iya, Arman yang kirim, untuk kamu lho Yu."
"Untuk Ayu." Ayu mengarahkan jari telunjuknya didepan dada, "Buat apa mbak."
"Duh, mana mbak taulah, coba buka dulu deh, mbak juga penasaran banget lho dengan isinya."
Setelah kotak tersebut berpindah tangan ketangan Ayu, Ayu membukanya perlahan, sebuah gaun berwarna putih dengan renda berwarna pink menyambut matanya begitu kotak itu terbuka sempurna, Ayu mengeluarkan gaun cantik tersebut.
Ajeng langsung menutup mulutnya takjub melihat gaun tersebut, "Oh my god, itu gaun tercantik dan terindah yang mbak pernah lihat Yu." Ajeng memegang gaun tersebut, "Pasti sangat cocok dikenakan oleh kamu Yu, Arman pinter banget milihnya ya."
"Pasti ini gaun mahal deh mbak, Ayu mending balikin aja deh sama mas Arman."
"Eh, apa-apaan sieh kamu Yu, kok dibalikin sieh, ntar Armannya kecewa, difikirnya kamu tidak menghargai pemberianya."
"Tapi ini terlalu mahal mbak."
"Gak mahal buat orang kaya seperti Arman, pokoknya mbak yang akan bertanggung jawab akan mempermak kamu, mbak akan buat kamu secantik mungkin biar Arman pangling dan klepek-klepek."
"Gak perlu deh mbak, Ayu bisa sendiri."
"Iya, mbak tau kamu bisa, tapi hasilnya pasti sangat biasa , udah deh serahin aja semuanya ke mbak, oke."
Ayu terpaksa memberi anggukan, fikirnya dia gak perlu seheboh itu masalah dandan, ntar pengantinnya tersaingi lagi.
Baru jam 7 pagi, tapi Ajeng sudah menyuruh Ayu untuk mandi, padahalkan Arman jemputnya jam 9, protes sieh Ayu, tapi Ajeng bilang, "Seorang gadis butuh waktu berjam-jam untuk tampil cantik dan sempurna.", yah dengan terpaksa deh Ayu mengikuti keinginan kakak iparnya.
Setelah selesai mandi, Ajeng mengungsikan alat tempurnya alias peralatan make up dan ***** bengeknya kekamar Ayu untuk meng make over Ayu, supaya Ayu tampil cantik dan sempurna.
Ayu sudah tidak ingat berapa lapis fondation yang diaplikasikan kakak iparnya itu diwajahnyan, berulang kali Ayu meminta, "Mbak jangan tebal-tebal ya, ntar dikira Ayu badut lagi."
Jawab Ajeng, "Pokoknya kamu tenang saja, lihat saja ntar hasil akhirnya."
Sampai jam setengah sembilan, aktifitas merias terniat yang dilakukan oleh Ajeng belum juga kelar, bokong Ayu sampai pegal.
"Nah, selesai, duh cantik banget sieh adik iparku ini." namanya juga hasil karya sendiri, ya pasti dipujilah.
"Akhirnya selesai juga." batin Ayu lega.
Setalah Ajeng selesai merias wajahnya, Ayu merasakan wajahnya terasa berat, mungkin karna tebalnya fondation yang diaplikasikan kewajahnya, matanya juga terasa berat, jelaslah bulu matanya sampai dua lapis.
Ayu mengarahkan wajahnya kearah cermin untuk melihat layak atau tidak dandanannya, dan responnya adalah, "Cantik banget seih ini mbak, tapi make up ini cocoknya buat make up nikahan."
"Udah bagus banget itu, cocok banget untuk acara pesta." bantah Ajeng, "Dijamin Arman pangling, sekarang sudah sana ganti baju kamu dengan gaun yang diberikan Arman."
"Apa gak ditertawain ya dengan make up begini." lirihnya sambil mengganti pakaiannya.
Gaun itu memang cantik dan indah, ya wajarlah mengingat harganya yang mahal.
"Ya tuhan cantik banget, mbak yakin begitu melihat kamu, Arman langsung ingin bawa kamu ke KUA." goda Ajeng.
"Ihsss, mbak bisa aja."
********
Dikediaman keluarga Bagaskoro, anak tertua dari keluarga tersebut yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah Arman tengah heboh memilih dan memilah pakaian yang akan dikenakan, sudah ngalah-ngalahin perempuan saja. Bukan acaranya yang menyebabkan Arman heboh memilih pakaian, tapi orang yang akan bersamanyalah yang membuatnya ingin tampil sempurna . Anggi juga turut andil dalam kehebohan sang kakak, dia aktif memilihkan pakaian yang seharusnya dikenakan oleh Arman, dia juga aktif memberi komentar. Satu jam kurang lebih akhirnya selesai juga aktifitas Arman memilih pakaian. Setelah menyemprotkan farpum di beberapa bagian, Arman keluar yang disambut tepuk tangan oleh Anggi.
"Ganteng banget abangku, untung abang kandung, kalau bukan udah Anggi tembak deh."
"Kamu selalu bisa bikin abang gede kepala."
"Abang, jangan lupa bawa bunga buat mbak Ayu biar mbak Ayu semakin klepek-klepek dengan abang."
"Iya adekku tersayang, nanti abang beli dalam perjalanan menuju rumah Ayu." mencubit pipi Anggi gemes.
Anggi mengantarkan kepergian Arman sampai pintu, bertepatan dengan Adit yang juga baru pulang.
Adit bertanya donk melihat penampilan Arman yang rapi dihari minggu begini, "Mau ngapel bang, ngapel juga gak perlu seformal itu kali."
"Bang Arman mau pergi ke nikahan temennya." Anggi yang menjawab.
"Oh.."
"Sekalian kencan, ya kan bang."
"Hmmm."
"Multifungsi nieh ceritanya." goda Adit.
"Begitulah."
"Bang, jangan lupa ya beli bunga." peringat Anggi lagi.
"Iya sayang, sudah beberapa kali kamu bilang begitu."
"Habisnya abang suka lupa sieh."
"Buat apa beli bunga, buang-buang duit aja, tuh ditaman belakang tinggal petik aja kan beres, gue aja ngambilnya dari sana." berkata dengan entengnya.
"Apa abang bilang, bang Adit nyuri bunga mama, wah mama bakalan ngamuk kalau dia pulang nanti."
"Cuma bunga doank."
"Meskipun cuma bunga, tapi mama lebih sayang bunganya daripada anak-anaknya."
"Berlebihan dan gak masuk di akal,"
"Sudah, sudah jangan berantem. Anggi abang berangkat dulu. dan kalian berdua baik-baik dirumah, jangan berantem." Arman berpesan pada adik-adiknya.
"Iya bang." jawab Anggi.
Sedangkan Adit cuma mengangguk.
"Abanggg." teriak Anggi.
"Apa lagi Nggi."
"Good luck."
Arman hanya membalas dengan senyuman.
*********