I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Luka



"Aku pergi dulu ya sayang." pamit Adit sembari mencium kening Ayu, mereka sudah layaknya seperti pengantin baru saja.


Ayu berpesan, "Hati-hati mas, jangan ngebut-ngebut dijalan."


"Siap istriku." goda Adit sehingga berhasil membuat wajah Ayu bersemu.


"Apaan sieh mas, malu tau." lirih Ayu.


"Aku pulang suka deh kalau lihat pacarku dengan pipi memerah karna malu." Adit mencubit pipi Ayu.


"Mas, mending mas pergi saja sekarang ntar telat lagi."


"Kamu tunggu aku ya, jangan pergi kemana-mana." tuhkan bener, mereka sudah seperti pengantin baru.


"Iya mas."


Entah kenapa hari ini Adit merasa berat meninggalkan Ayu, seolah-olah akan terjadi sesuatu hal yang baruk, tapi Adit berusaha menepis fikiran buruk tersebut. Sekarang dia harus pergi kekampus kalau tidak mau terlambat karna hari ini dia ada ujian.


Sementara itu Ayu, begitu Adit pergi berniat menghubungi Ajeng, biar bagaimanapun Ayu harus memberitahu pada keluarganya kalau dia baik-baik saja.


"Halo dengan siapa." terdengar suara Ajeng begitu panggilan Ayu diangkat.


"Mbak."


"Ayu, ini Ayu kan." tebak Ajeng memastikan antara percaya dan tidak.


"Iya mbak, ini Ayu."


"Astagaaa, kamu dimana, sama siapa, kamu baik-baik sajakan, kami disini sangat khawatir Yu, berulang kali mas mu mendatangi rumah Karin, berharap kami dapat informasi dari Karin tentang kamu, kami fikir kamu pasti menghubungi Karin." tentu saja Ajeng membrondong Ayu dengan banyak pertanyaan, itu sesuatu hal yang wajar mengingat betapa khawatirnya mereka atas kaburnya Ayu.


"Maafin Ayu mbak karna telah membuat kalian khawatir." Ayu terdengar menyesal, "Tapi mbak dan mas gak perlu khawatir karna Ayu baik-baik saja kok." Ayu meyakinkan, "Dan Karin, dia tidak tau apa-apa mbak tentang Ayu, Ayu tidak menghubunginya sama sekali." Ayu berbohong.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, sekarang kamu dimana."


"Disuatu tempat mbak, Ayu gak bisa mengatakannya sama mbak."


"Yu, pulang ya." Ajeng membujuk, "Mas mu sangat mengkhawatirkanmu, di luar dia memang terlihat baik-baik saja, tapi mbak tau dia sangat khawatir sampai-sampai dia tidak pernah bisa tidur nyenyak karna mikirin kamu terus."


"Maafin Ayu mbak, tapi saat ini Ayu gak bisa pulang kalau mas Arya masih mengekang Ayu, bilang sama mas Arya dan yang lainnya kalau Ayu baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan Ayu."


"Tapi Yu..."


Sebelum Ajeng menyelsaikan kata-katanya, Ayu langsung mematikan sambungan karna tidak mau bertambah merasa bersalah pada keluarganya, terkadang dia berfikir apa yang dilakukannya saat ini salah, tapi mau bagaimana lagi, Ayu ingin kakaknya itu sadar kalau dirinya sudah besar dan dia berhak menentukan hidupnya sendiri.


*********


Dikampus, tepatnya dikelas, Karin tengah menyangga dagunya saking bosennya dia mendengar penjelasan dosen didepan.


Dalam hati Karin berkata, "Ngantuk banget gue, sumpah deh suara pak Suryo lebih manjur daripada obat tidur."


Ting, itu merupakan suara notifikasi dari ponselnya sebagai pertanda ada pemberitahuan dari WA grup fakultasnya.


Dalam keadan santai pasti Karin malas melihat pesan tersebut karna fikir Karin pesan yang dikirim ke WA grup pasti hal yang berkaitan dengan perkuliahan, tapi karna tengah bosen, dia lebih memilih membukanya ketimbang melihat pak Suryo yang ngoceh didepan tanpa akhir.


Ternyata pesan itu berupa sebuah vidio, Karin memutarnya dan langsung emosi dan menggebrak meja begitu tuh vidio selesai ditonton.


Karin mengumpat, "Anjirr, berani-beraninya dia." Karin mengepalkan tangannya.


Sudah sangat pasti donk hal tersebut membuat pak Suryo yang kagetan orangnya terlonjak, pasalnya suara Karin bisa bersaing dengan toa masjid kampus, dan temen-temen sekelasnya juga menjadikannya sebagai pusat perhatian sekarang dan pastinya mereka bertanya-tanya penyebab Karin berteriak.


"Sik Karin kenapa itu."


"Iya, kok dia tiba-tiba ngamuk."


"Di putusin pacarnya kali."


"Karinkan gak punya pacar."


"Iya juga."


"Mungkin kesurupan kali, dari tadi gue lihat dia melamun mulu."


"Kayaknya Karin harus diruqiah."


Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.


Sedangkan pak Suryo yang merasa terganggu karna penjelasannya terpotong


bertanya dengan suara membentak, "Karin, bisa tidak kamu tidak bikin kehebohan ketika saya mengajar."


Sadar dirinya telah mengacaukan kelas, dengan senyum canggung dia berkata, "Maafkan saya pak, saya bener-bener gak berniat bikin kekacauan kok." Karin duduk kembali.


Emang dasar pak Suryo orangnya baik hati dan rajin menabung, bukannya memperpanjang masalah karna kelakuan Karin dia malah kembali menjelaskan , coba kalau pak Zaki sudah pasti Karin bakalan dikasih nilai D.


Karin mengirimkan vidio tersebut pada Ayu, Karin berharap setelah menonton vidio tersebut Ayu baik-baik saja dan bisa menerima kenyataan, Karin berharap waktu berlalu dengan cepat supaya bisa menemui Ayu dan menghiburnya.


*********


"Karin." ucap Ayu melihat pesan yang dikirim Karin, "Bukannya belajar dia malah sibuk ngirimin vidio."


Terjadi percakapan antara kedua pria tersebut, bunyi percakapannya seperti ini.


"Kalau lo berhasil naklukin cewek bernama Ayu, gue bakalan ngerjain tugas lo selama satu semester." itu suara Arkan.


"Oke, akan gue buktikan kalau gue bisa naklukin tuh cewek, jangan panggil gue Raditia kalau gue gagal."


Singkat memang pembicaraan dalam vidio tersebut, tapi berhasil membuat dunia Ayu runtuh. Ponsel yang berada ditangan Ayu terjatuh, tubuhnya terasa lemas, dia limbung dan jatuh terduduk dilantai, disusul dengan buliran kristal bening merembas dari kelopak matanya sehingga menciptakan anak sungai dikedua pipinya. Ayu menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Ayu bukan tipe cewek lebay yang teriak-teriak dan menyumpah, yang dia lakukan adalah menangis dalam diam meratapi dirinya yang dijadikan sebagai bahan taruhan oleh orang yang dia cintai. Ayu tidak habis fikir ternyata laki-laki yang dia cintai hanya menjadikannya sebagai bahan taruhan hanya untuk membuktikan kalau dirinya bisa menaklukkan semua wanita.


Ayu merintih, dia memandang sekeliling, matanya berhenti pada pigura yang berada dinakas, Ayu meraih pigura tersebut yang terdapat foto dirinya dan Adit, Ayu membantingnya sehingga pecah berkeping-keping.


"Kenapa kamu tega melakukan ini sama aku mas, kenapa." tanyaya dengan derai air mata yang makin deras.


Kaki Ayu terluka karna kena pecahan kaca, tapi rasa sakit yang ditorehkan oleh Adit jauh lebih sakit ketimbang sakit yang disebabkan oleh bling kaca.


Ponselnya berdering, Ayu mengabaikannya, ternyata panggilan tersebut berasal dari Karin yang khawatir dengan Ayu.


Setelah merasa sedikit tenang, Ayu membereskan pakaiannya, dia meninggalkan ponsel dan melepas cincin yang merupakan pemberian Adit.


Ayu berjalan tanpa tujuan dengan tatapan hampa, dia hanya mengikuti kemana kakinya membawanya. Suara klakson menyadarkan Ayu, ternyata dia kini berada ditengah jalan.


Sik pengemudi membentak, "Heh, mau mati lo, minggir lo."


Tanpa mempedulikan bentakan pengemudi yang kesel karna dirinya, Ayu kembali berjalan, Ayu menyayangkan kenapa dia tidak ditabrak saja sekalian agar dia tidak merasakan kesedihan lagi.


Sebuah motor berhenti dipinggir jalan dan pengendaranya berlari menyusul Ayu.


"Ayu." tegur sik pengendara meraih pergelangan tangan Ayu.


"Rangga."


"Astaga, ternyata beneran Ayu, apa yang kamu lakukan Yu." tanya pengendara yang ternyata adalah Rangga temen sekelasnya.


Ayu hanya diam memandang Rangga dengan tatapan hampa. Rangga yang bisa membaca keadaan tidak mengajukan pertanyaan lagi.


"Aku anterin pulang ya." tawarnya.


Ayu hanya mengangguk


"Makasih Ga." ucap Ayu begitu tiba didepan rumahnya.


Tapi Rangga tidak begitu saja membiarkan Ayu masuk sendiri, dia harus memberi penjelasan pada keluarga Ayu.


"Aku anter kedalam ya."


Tanpa persetujuan Rangga mendahului Ayu berjalan didepan.


Ayu mengetuk pintu, gak lama pintu terbuka.


"Non Ayu." yang membukakan pintu adalah bi Asih, bi Asih kaget melihat nona majikannya yang beberapa hari ini kabur tiba-tiba kini berada didepannya, bi Asih tambah kaget lagi melihat keaadan Ayu yang seperti orang linglung.


Bi Asih berlari kedalam dan berteriak, "Tuan, nyonya, non Ayu sudah kembali."


Ajeng yang tengah berada didapur dengan tergopoh menuju sumber suara untuk memastikan berita yang disampaikan bi Asih benar atau tidak.


"Bi, kenapa sieh teriak-teriak."


"Non Ayu nyonya." tangan bi Asih menunjuk-nunjuk kearah pintu, "Non Ayu sudah pulang."


"Ayu bi, yang bener." Ajeng antara percaya dan tidak, pasalnya tadi pagi dia membujuk Ayu tapi Ayu kukuh tidak mau pulang.


"Bener nyonya."


Ajeng langsung dengan langkah lebar kedepan, dan bener, dilihatnya Ayu masih berdiri didepan pintu, dan seorang laki-laki yang tidak dia kenal bersama dengan Ayu.


"Ayu, kemana saja sieh kamu ini." Ajeng memeluk Ayu.


Melihat raut wajah Ayu, Ajeng tau Ayu tidak dalam kondisi baik-baik saja, niatnya ingin mengintrogasi Ayu diurungkannya, dia beralih pada Rangga, "Kamu siapa."


Rangga tersenyum dan menyapa, "Halo mbak, saya Rangga temen kelasnya Ayu, saya kebetulan bertemu dengan Ayu dijalan dan mengantarnya." Rangga menjelaskan.


"Oh, makasih banyak ya Rangga, saya dan keluarga sangat berterimkasih atas bantuannya."


"Sama-sama mbak."


"Ayok masuk dulu Rangga."


"Eh, gak usah mbak, saya pulang saja."


"Oh, sekali lagi terimakasih banyak Rangga karna telah mengantar Ayu dengan selamat."


"Iya mbak, bukankah sesama manusia kita harus saling membantu."


"Iya kamu bener."


Setelah melepas kepergian Rangga, Ajeng menuntun Ayu masuk, Arya ternyata sudah duduk diruang tamu, dia langsung berdiri melihat Adiknya. Ajeng menggeleng begitu dilihatnya suaminya ingin mengintrogasi Ayu.


***************