I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Pertemuan



Dengan masih memendam kejengkelan pada Sakti, Karin menjalankan mobilnya ke alamat yang dikirim oleh Adit, sepanjang jalan sambil nyetir kerjaannya ngomel melulu.


"Kampret banget sih mas Sakti itu, tega-teganya di nyuruh gue jalan kaki ke kampus, dasar laki-laki gak bertanggung jawab, kok bisa-bisanya gue jatuh cinta sama cowok kayak gitu."


Sebuah pesan masuk ke ponselnya berhasil menghentikan omelannya beberapa detik, pesan yang masuk ternyata adalah nomer asing, karna penasaran Karin membaca pesan itu dengan satu tangan memegang stir.


Bunyi pesan itu adalah.


Hai, aku yang tadi minta nomer mbak, perkenalkan namaku Malik.


Sampai sini, Karin berhenti membaca pesan tersebut digantikan dengan senyum-senyum sendiri, bahagia dia mendapat pesan dari cowok ganteng yang baru ditemui barusan.


"Apa gue sama nieh cowok kali ya, udah seharusnya gue hempas mas Sakti sejauh-jauhnya, lagian juga gak rugi kalau gue sama nieh cowok, lebih cakep dikit dengan mas Sakti." ujar Karin mempertimbangkan.


Karin kemudian kembali membaca lanjutan pesan yang dikirim oleh cowok bernama Malik itu.


Saya seorang sales dari sebuah toko kosmetik mbak, menjual produk-produk kecantikan, seperti pemutih badan, krim anti penuaan dini, pelangsing, peninggi badan, kalau mbak berminat jangan sungkan menghubungi saya.


Karin membalas pesan Malik.


Gak berminat


"Kamprettt, pantes saja dia minta nomer gue, sales ternyata. Tuh orang menawarkan barang pada orang yang salah, kurang putih apa coba gue sampai harus butuh pemutih, langsing dan tinggi lagi, mana butuh gue produk begituan." lenguh Karin kesal, "Mas Sakti maafin Karin karna sempet berniat selingkuh." lirihnya menyesal.


********


Karin tiba di alamat yang dikirim oleh Adit, Karin mengetuk pintu kamar yang ditempati Ayu, yang membukakan pintu adalah Adit.


Bukan masalah Aditnya yang membuat Karin terkejut, tapi ini, Adit bertelanjang dada, berduaan lagi dengan Ayu didalam kamar, Karin gak ingin berfikir yang aneh-aneh, tapi gak bisa donk melihat Adit telanjang dada begini.


"Eh lo Rin, sampai juga akhirnya." Adit menjawab santai tidak mempedulikan ekspresi negatif Karin.


"Lo gak habis ngapa-ngapainkan dengan Ayu." tuduh Karin langsung.


"Ya ngapa-ngapain lah, gila lo." ngapa-ngapain dalam arti lain maksud adit.


"Jadi lo dan Ayu begituan."


"Begituan gimana, bicara yang jelas donk." meskipun sudah dewasa Adit lola juga menangkap maksud Karin.


"Lo pura-pura polos atau gimana sieh."


"Apa sieh maksud lo, gak jelas." sewot Adit.


"Maksud gue jelas Dit, lo gak macam-macam kan dengan Ayu."


Adit salah menangkap maksud Karin, dia menjawab begini, "Lo fikir kami patung yang cuma satu macam cuma diam saja sebagai pajangan, kami macam-macam lah, makan, duduk, nonton TV, dan...."


Karin memotong kalimat Adit yang belum kelar, "Maksud gue bukan itu Adit, dihh, lola banget sieh jadi orang." Karin kesel, difikirnya Adit pura-pura gak ngerti maksudnya, padahal Adit beneran gak ngerti maksudnya Karin.


"Elahh, malas gue ngomong sama lo." Adit masuk tidak mempedulikan Karin dengan rasa penasarannya, pasalnya dia tidak percaya kalau Ayu sampai melakukan hal-hal yang dilarang agama.


Karin akan masuk mengikuti Adit, tapi ditahan oleh suara jeritan Ayu yang baru datang, tangannya menentang kantong plastik kresek entah apa isinya.


"Karinnnn." Ayu berlari menyongsong Karin.


"Ayu..." Karin gak kalah heboh, untuk sesaat fikiran negatif yang menguasai otaknya teralihkan dengan kedatangan Ayu.


Dua sahabat itu berpelukan, melepas kangen karna sudah satu minggu lebih gak bertemu.


"Kangen banget gue Yu sumpah."


"Aku juga rin, udah lama kamu datangnya."


"Gak, baru saja, Adit yang bukain pintu, gue fikir lo didalam tadi."


"Gak, aku habis keluar."


"Lo dari mana emang."


Ayu memperlihatkan kantong kresek yang dipegangnya, "Habis beli makan siang nieh. Eh, masuk dulu deh, ngobrolnya didalam."


Adit sudah mengenakan pakaiannya sekarang. Sebenarnya tadi kalau mau jujur, Karin sempat terpana sieh dengan tubuh seksi Adit yang mirip roti sobek, sempet menelan air liurnya juga sik Karin saking kagumnya, tapi berhubung fikiran negatif lebih mendominasi otaknya, makanya dia mengabaikan pemandangan indah itu dan memilih mencecar Adit.


"Aneh-aneh gimana, kami normal kok Rin." jawab Ayu polos.


Karin mendesah, "Kalau bicara sama gadis sepolos Ayu mesti langsung dengan bahasa yang jelas." Karin memperjelas maksudnya, "Maksud gue, lo gak melakukan adegan suami istrikan."


Adit yang tengah meneguk air langsung terbatuk-batuk, sedangkan Ayu langsung membantah.


"Apaan sieh Rin, ya gak mungkinlah, itu kan dosa besar dilaknat Tuhan." jelas Ayu.


Karin mendesah lega, "Syukur deh Yu, iman lo masih kuat."


"Denger yah Rin, gue itu laki-laki sejati, gue hanya bakalan ngebuntingin Ayu kalau udah halal."


"Mas, ngomongnya disortir kenapa."


Adit tidak mengindahkan kata-kata Ayu, dia malah mencium pipi Ayu, "Mmuaahh."


"Mas." tegur Ayu.


"Adit, lo sengaja bikin gue iri ya." protes Karin.


Adit mentertawakan Karin, "Emang sengaja, siapa suruh lo jomblo." ledek Adit.


Ayu ikut tertawa, "Karin tengah berjuang keras meluluhkan hati mas Sakti, tapi sampai sekarang masih belum berhasil." lapor Ayu.


"Hahaha." tambah ngakak sik Adit mendengar penuturan Ayu, "Kasihan banget sieh lo gak laku."


Karin membrengut ditertawakan dan diledek oleh Ayu dan Adit.


"Nyesel gue datang, tau gini kalau gue datang hanya untuk diledek dan ditertawakan, mending gue gak usah datang."


"Sorry, sorry." Ayu memeluk Karin, "Ya ampun, ngambek sahabat gue ini."


"Elahh, sik Karin Baperan." timpal Adit.


*********


Karna ada Karin yang menemani Ayu, Adit pamit, katanya ada urusan sebentar.


Setelah kepergian Adit, Karin memaksa Ayu untuk menceritakan dari A sampai Z apa yang dialami Ayu sampai tidak diizinkan keluar rumah dan sampai dirinya tidak diizinkan untuk menemui Ayu, dan kenapa Ayu sampai nekat kabur dari rumah.


Tentu saja Ayu menceritakan apa yang dialaminya tanpa mengurangi atau menambah. Karin memasang kuping baik-baik untuk mendengarkan kisah Ayu yang dramatis. Diakhir cerita, Karin menganga dan memberi respon.


"Astagaa, kok kisah lo kayak disinetron-sinetron alay yang ditonton emak gue sieh Yu, kasihan banget lo, terus sekarang, rencana lo apa."


Ayu mengangkat bahu, "Aku gak akan pulang Rin sampai mas Arya ngerestuin hubungan aku dan mas Adit."


"Kehidupan lo bener-bener kayak disinetron, andai saja gue jadi sutradara, udah gue filmkan kisah lo."


"Gak usah lebay gitu deh Rin."


"Yu."


"Hmmm."


"Gue gak menyangka kalau lo cinta mati sama Adit, padahal dulu lo kan ogah banget ngelihat Adit."


Ayu tersenyum, "Aku juga gak pernah menyangka Rin, pada akhirnya bisa jatuh cinta sama mas Adit, sekarang kami tengah memperjuangkan cinta kami."


"Sweet banget sieh lo berdua, pokoknya, doa gue selalu menyertai lo berdua, semoga Tuhan meluluhkan hati mas Arya dan merestui hubungan kalian." ujar Karin tulus.


"Terimaksih Rin, kamu selalu ada untuk aku."


"Itulah gunanya sahabat Yu."


Dua bersahabat itu saling berpelukan.


"Oh ya, pak Daki nyriin lo terus tuh, kangen katanya dia sama lo."


"Ishh, apaan sieh Rin, bikin badmood aja."


************