
Sumpah ya, melihat kondisi ayu, karin gatal banget tuh bibirnya ingin membrondong ayu dengan berbagai pertanyaan, tapi harus ditahannya mengingat pak zaki yang ada didepan, tiap menit berlalu begitu sangat lambat buat karin, sehingga ketika pada akhirnya, ketika jam pelajaran pak zaki berakhir, karin sudah tidak bisa menunggu lagi, ingin langsung pada inti permasalahan yaitu apa penyebab yang membuat wajah ayu sembab, tapi ketika bibirnya sudah digerakkan, entah sejak kapan tahu-tahunya adit sudah berdiri dihadapan ayu dan berkata,
"Ayy, kita perlu bicara."
Temen-temen kelas ayu yang sudah pada bersiap keluar pada mengurungkan niatnya demi melihat kemunculan adit.
Ayu bangkit dan mencangklong tasnya, dengan wajah datar menjawab, "Gak ada yang perlu kita omongin lagi mas." langsung pergi gitu aja ngelewatin adit.
"Tuhkan, gue bilang apa, ini pasti gara-gara adit." batin karin.
"Ayy," adit berlari menyusul ayu.
Temen-temen kelas ayu pada berhamburan mendekati karin, "Rin, apa yang terjadi dengan ayu dan adit."
"Mereka putus ya."
"Adit selingkuh ya."
"Kenapa lo pada nanya ke gue, tanyain sono ke orangnya." ujar karin kesel, pasalnya dia juga tidak tau apa-apa.
"Lo kan sahabatnya ayu."
"Iya, masak lo gak tau sieh."
"Terus, kalau gue sahabatnya, emang gue harus diwajibkan tau gitu yang terjadi dengan mereka, gak kan, gue aja penasaran."
"Yahhh, gak asyik lo rin."
Karna tidak berhasil mendapatkan informasi dari karin, mereka pada membubarkan diri.
Untuk mencari tahu apa yang terjadi antara ayu dan adit, karin berniat pergi kerumah ayu, iyalah ayu langsung ngacir gitu padahal belum sempet diintrogasi, tapi begitu dia keluar dari pintu kelas, adit kembali untuk nyamperin dia.
"Rin, bantu gue."
Karin memperhatikan adit bingung, "Bantu lo, bantuin apa."
"Ikut gue." perintah adit karna merasa tempat tersebut tidak cocok untuk bercerita.
Adit membawa karin keruang musik, fikir adit, ruang itu sepi saat ini, tapi ternyata dugaaanya salah, temen-temennya pada nongkrong disana. Melihat adit tengah bersama wanita yang baru mereka lihat, mereka pada meledek adit.
"Wuiihh, baru lagi nieh dit." goda zidan.
"Lo bilang ayu yang terakhir." andra menimpali.
"Ayu bakalan jadi istri dan ibu dari anak-anak gue." arkan juga nyinyir.
"Ternyata kalau awalnya playboy akan tetap playboy." seru damar.
"Ayu buat gue aja deh ya." itu candaan dion.
"Diem lo." adit ngamuk, "Mending lo pada keluar sekarang juga."
Asli mereka gak menyangka reaksi adit akan seperti ini, mereka kan murni cuma bercanda doank, biasanya juga adit gak baperan juga, tapi yah mungkin orang yang tengah patah hati, sensitif jadi gak bisa diajak bercanda. Karin juga jadi takut, dia ingin langsung kabur aja dari sana, tapi tidak dia lakukan pasti adit akan marah besar jika dia melakukan hal itu.
Temen-temen adit pada berdiri, "Sorry dit, kami cuma bercanda kok barusan." lirih mereka sebelum pada keluar dari ruang musik tersebut.
Karin tambah takut, apalagi mereka tinggal berdua didalam, tapi dia meyakinkan dirinya kalau adit tidak mungkin macam-macam dengannya.
"Duduk rin."
"Eh, iya." takut-takut.
Karin mengambil tempat duduk yang cukup jauh dari adit, takut dia kalau dekat-dekat adit, tiba-tiba adit menerkamnya.
"Kok lo jauh banget duduknya rin."
"Disini lebih nyaman kok dit." bohong karin.
"Gue gak bakalan nerkam lo rin." adit seolah bisa membaca fikiran karin.
"Eh, iya."
"Oh." hanya itu yang keluar dari bibir karin.
"Gue cinta ayu rin, gue bener-bener ingin memperjuangkan hubungan gue dengan ayu." adit tiba-tiba mengatakan hal itu.
Karin bisa melihat sieh dengan jelas kalau adit bener-bener mencintai ayu, jadi kasihan dia melihat kondisi adit yang seperti ini.
"Rin, bantu gue buat ngeyakinin ayu, kalau gue bener-bener cinta sama dia, dan gue tidak akan melepas dia meskipun mas arya tidak merestui kami."
"Duh, kalau hal ini menyangkut mas arya, gue nyerah deh gak bisa bantu, tapi kasihan adit dan ayu, mereka dua orang yang saling mencintai satu sama lain." karin perang batin, "Dit, gue gak janji, tapi gue usahain buat nyatuin lo dan ayu."
"Makasih rin, lo harapan gue." ada sedikit harapan dimata adit.
Karin tersenyum, seenggaknya dia akan berusaha, daripada diem berpangku tangan.
**********
"Ayu, mbak boleh masuk." suara ajeng dari luar.
Tanpa mendapat persetujuan, ajeng mendorong pintu kamar ayu, ajeng menemukan adik iparnya tersebut tengah tidur telungkup. Beberapa hari belakangan ini ayu seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup, gak perlu bertanya, ajeng tau penyebabnya yaitu suaminya yang terlalu keras pada ayu. Kalau boleh memilih sebenarnya ajeng lebih suka ayu dengan arman, tapi apa mau dikata kalau ayu sukanya sama adit.
"Ayu," ajeng mengelus rambut adik iparnya, tapi ayu tidak bergeming, "Ada arman tuh dibawah, ayu temuin dulu dia ya."
"Ayu lagi gak enak badan mbak, lagian mas armankan perlunya sama mas arya, kenapa mesti ketemu sama ayu juga."
"Kali ini arman mau ketemu mau yu."
"Mau ngapain sieh mbak."
"Mbak mana tau yu."
"Bilang sama mas arman mbak, kalau ayu lagi gak enak badan, gak bisa keluar kamar."
"Mana bisa begitu yu, omongan adalah doa, kalau nanti kamu beneran sakit gimana."
"Ayu malas mbak ketemu sama mas arman."
"Temuin aja dia dulu sebentar yu, ini perintah mas mu lho, mending temuin dulu dia ya, kasihankan."
Karna mendengar nama arya disebut, ayu terpaksa bangun untuk menemui arman.
"Nah itu ayu." tunjuk arya ketika ayu sudah sampai diruang tamu.
Arman berdiri dan tersenyum, "Hai yu, apa kabar." sapa arman.
Meskipun suasana hatinya tengah buruk, bukan berarti ayu bersikap jutek pada arman, dia membalas sapaan arman dan mengulas senyum manis dibibirnya.
"Ayu baik mas, mas sendiri gimana." tanyaya balik.
"Aku juga baik yu."
"Arman ingin ngajak kamu pergi keluar yu." seru arya.
"Keluar mas, tapi ayu....."
"Gak apa-apa, mending kamu keluar saja, kasihan kan arman datang jauh-jauh." tandas arya tidak mau dibantah.
Dalam hati ayu merutuk, "Kenapa sieh mas arya, luluh kalau sama mas arman, selalu diizinin kalau dia yang ngajak."
"Kalau ayunya gak bisa gak apa-apa kok mas, lain kali saja." imbuh arman.
"Ayu bisa kok man, ya kan ayu."
Dalam hati ayu berkata, "Apa sieh mas arya, apa mungkin mas arya berniat ngejodohin aku dengan mas arman." akhirnya dengan terpaksa ayu menjawab, "Iya mas, mending ayu siap-siap dulu deh."
"Jangan lama-lama yu, kasihan arman lama nunggunya." arya mengingatkan.
"Gak apa-apa kok mas."
*******