I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Panggil Aku Sayang



"Apa, yang beneran lo yu, lo gak lagi ngprank guekan." itu respon karin begitu ayu menceritakan kalau dia sudah jadian dengan adit.


Ayu membungkam bibir ayu dengan telapak tangannya, pasalnya kalau suara heboh karin sampai didengar oleh keluarganya, apalagi didengar oleh arya kan bisa gawat jadinya.


"Jangan kenceng-kenceng rin, ntar mas arya denger." ayu menjauhkan tangannya setelah memberi peringatan pada karin.


"Sorry, sorry, kaget gue sumpah." saat ini karin masih berada dirumah ayu, tepatnya dia ada dikamar ayu saat ini.


"Cerita donk yu, gimana kronologis saat adit nyelamatin lo dari sik penculik dan lo nerima cinta dia setelah lo diselamatin, sumpah ya itu romantis banget kisah cinta lo."


Yang dilakukan ayu malah tersenyum bukannya menjawab rasa penasaran karin, "Heh ayu, cerita donk, bukannya malah tersenyum gitu, penasaran nieh gue."


"Ceritanya panjang rin."


"Gue punya banyak waktu, bahkan sampai besok pagi sekalipun gue akan siap dengerin cerita lo."


Dan atas desakan karin, ayu mulai bercerita tentang apa yang dialaminya ketika dirinya diculik, dan saat adit datang menolongnya sampai dirumah sakit, saat dia memutuskan menerima pernyataan cinta adit.


"Sweet banget." ungkap karin, "Sekarang lo udah punya pacar, bikin gue iri aja." lirih karin begitu ayu selesai bercerita.


"Rin, aku bahagia, ternyata gini ya rasanya punya pacar, aku selalu terbayang wajah mas adit, dan aku jadi suka senyum-senyum sendiri jika ingat sama dia."


"Sumpret lo yu, jangan bikin yang jomblo tambah merana donk."


Ayu tertawa, "Makanya tambah tuh usaha buat dapatin mas sakti, biar kamu gak iri lagi."


"Mas lo itu susah banget tau buat didapetin, apa gue minta bantuan dukun aja kali ya buat ngeluluhin hatinya."


"Jangan pakai cara sesat gitu, pokoknya usaha semaksimal mungkin dan..."


Karin memotong, "Dan pastinya lo bakalan bantuin gue buat dapetin mas lo itu, oke."


"Iya, aku bantuin, asal jangan pakai dukun."


"Ya gaklah, gak level banget gue pakai cara begituan, tadi itukan cuma bercanda doank."


Mereka berdua sekarang tidur-tiduran ditempat tidur ayu sambil curhat satu sama lain. Sesi curhat itu harus terputus ketika terdengar suara deringan ponsel, baik ayu dan karin sama-sama memeriksa ponsel masing-masing, mengingat nada dering ponsel mereka sama persis. Ternyata itu merupakan suara panggilan diponsel ayu.


"Gue fikir ponsel gue yang bunyi." gumam karin kembali menghempaskan tubuhnya ditempat tidur.


Senyum ayu langsung mengembang begitu melihat nama sik pemanggil, dia langsung menggeser simbol telpon untuk menjawab panggilan itu.


Melihat ekspresi wajah ayu, karin menebak, "Aditkan yang nelpon lo yu."


Ayu tidak menjawab karna kini ponselnya sudah ditempelkan ditelinganya.


"Mas adit." sapa ayu.


"Tuhkan, gue bener." ungkap karin.


Dari seberang terdengar suara adit, "Ayy, lagi apa."


"Mmm, lagi dikamar mas sama karin, mas adit kenapa telpon, gak istirahat saja supaya cepat sembuh."


"Kalau udah dengerin suara kamu aku sembuh kok." orang yang kasmaran emang gitu, alay bin lebay.


"Apaan sieh mas, lebay deh." balas ayu dengan wajah bersemu.


"Ayy,"


"Iya mas."


"Aku kangen nieh."


"Kan baru dua jam yang lalu kita ketemunya."


"Iya sieh, tapi sudah kangen akunya, aku ingin cepet-cepet hari berganti esok biar bisa ketemu kamu, datang kerumah kamu langsungkan gak mungkin, pasti mas arya gak bakalan ngizinin kita ketemu."


Mungkin karna orang jomblo telinganya sensitif sehingga meskipun tidak mengaktifkan suara luar karin bisa mendengar suara adit, karin nyahut, "Woe, adit jangan bikin orang iri donk lo."


"Karin tuh ayy."


"Iya mas itu karin."


"Woe rin, makanya cari pacar sono lo, biar lo gak iri sama kemesraan gue dan ayy."


Ayu sekarang mengaktifkan pengeras suara biar adit dan karin bisa bicara, "Emang difikir cari pacar kayak beli baju apa, tinggal pilih, ambil, bayar dikasir, cari pacar itu butuh usaha dit."


"Memang susah ya punya wajah pas-pasan kayak lo, lonya jadi kudu usaha keras gitu buat dapetin pacar, beda dengan gue yang sekali kedip langsung dapet, kecuali ayy sieh yang agak susah buat didapetin."


"Anjir lo ya."


Ayu tertawa mendengar ledekan adit. "Rin, mau gak lo gue kenalin sama teman gue, ganteng lho, tajir lagi." adit menawarkan.


"Ogah gue, ganteng dan tajir buat apa kalau bandelnya kayak lo."


"Gue sekarang udah tobat semenjak gue mulai menyukai sahabat lo."


"Percaya gak ya."


"Lo gak gak percaya gue gak peduli, yang penting ayy percaya sama gue, iya gak sayang."


Adit udah mulai manggil ayu dengan panggilan sayang, makin memerah tuh wajahnya ayu.


"Adit, bisa gak lo mesra-mesranya jangan didepan gue, bikin iri tau gak."


"Terserah gue donk," cetus adit, "Lho, kok gue jadi ngobrol sama lo seih, mana kesayangan gue. Ayy, kamu dimana kok diem."


"Iya mas." jawab ayu yang dari tadi diem karna menjadi pendengar atas perdebatan adit dan karin.


Ayu lupa menonaktifkan pembesar suaranya, sehingga sudah pasti karin mendengar suara adit.


"Cie, cie, yang lagi kasmaran, dijawab tuh yu."


Ayu menonaktifkan pembesar suara ponselnya, "Mas, apa sieh, kan malu sama karin."


"Ngapain malu sieh sayang, biarin aja karin denger, biar karin makin iri dan nelangsa dia."


Ayu terkekeh, "Mas, udah dulu ya, aku dan karin mau ngerjain tugas nieh soalnya."


"Yahh," adit gak rela, "Padahal aku masih kangen, tapi kangennya bisa menunggu, inikan demi masa depan pacar aku, ya udah kalau gitu kamu yang rajin ya ayy"


"Mas adit istirahat ya, biar cepat sehat."


"Iya sayang, panggil aku sayang juga donk."


"Gak ah mas, malu."


"Malu sama siapa, malu sama karin."


"Iya."


"Masak gitu aja malu, pokoknya aku gak mau matiin sebelum kamu bilang sayang."


"Apa sieh mas, jangan kayak anak kecil deh."


"Bodo amet, bilang sayang baru aku matiin."


"Sayang, istirahat ya." ayu mengucapkan kalimat sayang dengan perasaan malu.


"Seneng aku dengernya, jadi berbunga-bunga gitu, ya udah sayang, kamu mending kerjain tugas kamu sekarang "


"Iya mas, eh sayang maksud aku."


Sambunganpun berakhir.


"Cie, cie, yang mulai sayangan ih." ledek karin.


Ayu jadi malu, "Jangan ngeledek terus deh rin, mending kita kerjain tugas deh sekarang."


************


Siang itu terjadi kehebohan diperusahaan keluarga bagaskoro, pasalnya sang ibu negara alias sang mama itu memaksa suaminya untuk datang terlebih dahulu keperusahaan daripada pulang kerumah, padahal mereka baru sampai dari luar kota. Hal yang membuat sang mama ngebet ingin kekantor tidak lain karna ingin mengintrogasi arman. Alya berjalan dengan langkah lebar kayak orang kebelet, para karyawan menyapa ramah.


"Ibu, bapak, selamat datang." sapa karyawan yang berpapasan dengan mereka.


Adi cuma mengangguk sebagai balasan, sedangkan alya melayangkan pertanyaan, "Arman adakan diruangannya."


"Pak arman ada bu, baru selesai meeting."


Alya kembali berjalan, "Ayok pa cepetan, aduh papa ini, begini nieh kalau jarang olahraga, jadinya lamban begini."


"Aduh mama, papa capek, seharusnya kita pulang dulu istirahat, tunggu armannya dirumah saja, nah, baru deh setelah arman pulang mama memborbardir anak kita dengan pertanyaan seabrek gak masalah deh tuh."


"Ini gak bisa menunggu pah, penting banget." begitu deh kalau orang yang ngebet ingin punya cucu.


Arman tengah memeriksa berkas ketika mamanya tanpa permisi nyelonong masuk, fikir arman itu adalah karyawannya yang menganggunya, dia sudah bersiap menyemprot tapi menelan kata-katanya ketika melihat sang mama, dibelakang mamanya papanya mengekor.


"Ma, kapan sampai." sapa arman.


"Kamu ini bagaimana sieh, masak adik kamu sik anggi kamu kenalin sama calon kamu, sedangkan mama tidak."


"Apa sieh ma maksudnya." arman tidak mengerti.


"Apa maksudnya, apa maksudnya." alya menjewer kuping arman.


"Aduh ma, aduh ma, sakit, arman bener-bener tidak tau maksud mama."


Alya melepas jeweran tangannya dari telinga arman, mencari ponselnya dalam tas, dan memperlihatkan gambar yang dikirim oleh anggi ketika dirinya berada ditaman bersama dengan ayu.


"Foto itu, siapa yang ngirim ma."


"Adik kamu lah sik anggi."


"Bocah itu."


"Pokoknya ya arman, mama gak mau tau, kamu harus ngajak calon mantu mama kerumah, kenalin sama mama."


Dalam hati arman mendesah, "Gimana mau dikenalin sieh ma, kalau jadi saja belum." karna kalau bilang itu secara langsung pasti membuat mamanya ngamuk, arman memberi janji hanya supaya mamanya tidak marah, "Iya ma, nanti arman usahin."


"Yang bener, kamu tidak lagi bohongin mamakan." antusias.


"Iya ma, mana berani arman bohongin mama, ntar arman kualat lagi."


Sang mama memeluk arman, "Ini baru anak mama."


"Ma," tegur adi, "Sudah bereskan urusannya, mending kita pulang sekarang, papa capek mau istirahat."


Arman sampai lupa nyapa papanya karna sibuk dengan mamanya, "Iya pa, sudah selesai kok, tenang hati mama sekarang, sebentar lagi bakalan ketemu sama calon mantu."


"Man, mama dan papa pulang dulu, papa titip perusahaan ya." pesan adi.


"Siap pa."


Setelah kedua orang tuanya menutup pintu arman menarik nafas lega, sekarang dia harus berfikir keras bagaimana caranya mengajak ayu kerumahnya untuk bertemu sang mama.


*************