I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Menyampaikan Kebenaran



Satu minggu telah berlalu, selama itu pula, Arya selalu mendiamkan Ayu, hal itu membuat Ayu sedih, dia telah membuat kakaknya kecewa, tapi berbeda dengan Ajeng, dia malah semakin memperhatikan Ayu, membelikan semua kebutuhan Ayu, termasuk vitamin penguat janin dan susu kehamilan.


"Makasih ya mbak." ujar Ayu.


"Tidak perlu berterimakasih Yu, itu udah menjadi kewajiban mbak, lagian juga bapak bayi kamukan tengah terbaring dirumah sakit, kalau bukan mbak, siapa coba yang akan memperhatikannya."


Hal tersebut membuat Ayu terharu sekaligus bersyukur karna punya kakak ipar yang baik dan perhatian. Meskipun keluarga Ayu sangat menjunjung tata krama dan nama baik keluarga diatas segala-galanya, tapi mereka masih punya hati, sehingga menggugurkan kandungan Ayu adalah hal terakhir yang akan mereka dilakukan, lebih baik menanggung malu daripada harus membunuh bayi yang tidak berdosa, sangat mulia bukan.


Selain Ajeng, Karin juga begitu sangat perhatian dengan Ayu, dia sering berkunjung kerumah Arya hanya untuk mengetahui keadaan Ayu sekaligus hanya sekedar curhat saja.


"Yu." panggil Karin lewat telpon.


"Iya Rin, kenapa."


"Gue mau kerumah lo nieh, lo mau dibawain apa."


"Apa ya, hmm, aku lagi pengen makan asinan Rin, boleh minta tolong dibelikan gak."


"Cuma itu doank."


"Itu saja dulu, takutnya ngerepotin kamu."


"Elah cuma gitu doank, lagiankan ini untuk calon keponakan gue."


"Makasih ya Rin, kamu baik banget."


"Udah gak usah nangis."


"Bawaan bayi Rin." saat hamil, Ayu gampang sekali menangis.


Ayu bersyukur karna memiliki sahabat seperti Karin, Karin tidak meninggalkannya meskipun tahu Ayu melakukan hal yang salah, dia bahkan selalu ada disaat suka, lebih-lebih disaat duka.


***********


Hari itu dikantor Arya, terjadi percakapan serius antara Arya dan Sakti.


"Gimana ini mas, bagaimana cara kita menyampaikan berita ini sama keluarga Arman."


Arya mondar-mondir, selama satu minggu ini dia terus mencari cara untuk memberitahukan berita tidak mengenakkan ini pada keluarga Arman.


"Mas juga bingung, sudah pasti mereka akan marah besar, selain membatalkan pernikahan Ayu dan Arman, mas yakin mereka juga akan membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita."


"Anak itu, tidak berfikir sebelum berbuat, lihat akibat perbuatannya sekarang." yang dimaksud oleh Sakti adalah Ayu, "Dia yang melakukan kesalahan, kita juga yang kena getahnya."


"Ini salahku." Arya kini terduduk, dia meremas kepalanya, "Kalau aku tidak mengekang dan memaksakan kehendakku, mungkin ini tidak akan terjadi."


"Ini bukan salah mas, sebagai kakak mas sudah melakukan hal yang benar, hanya saja Ayu yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk."


"Aku malu, malu sama almarhum ayah dan ibu karna tidak bisa menjaga Ayu, pasti mereka sangat kecewa disana."


"Sudahlah mas, jangan menyalahkan diri mas, lebih baik saat ini kita cari cara bagaimana memberitahu keluarga Arman, dan semoga saja mereka bisa menerima."


"Kamu benar Sakti, semuanya sudah terlanjur, biar bagaimanapun Ayu adalah adik kita, dan anak yang ada dalam kandungannya adalah keponakan kita, meskipun ayahnya adalah laki-laki yang tidak kita sukai."


Sakti mengangguk, mungkin setelah ini, dia malu bertemu dengan Arman.


**********


Ayu memegang perutnya dan mengelusnya, satu tangannya memegang buket bunga, dia baru keluar dari toko bunga.


"Kamu kangen ayah nak, mama juga, hari ini kita jenguk papa ya, doakan papa ya sayang biar cepat sembuh." ujar Ayu bicara pada bayi diperutnya.


Sejak menerima kehamilannya, Ayu jadi sering mengajak bayinya bicara, dia selalu berusaha untuk bahagia demi tumbuh kembang bayinya, dia tidak mau terlalu stres karna akan berpengaruh pada bayinya.


Ayu membuka pintu kamar dimana Adit dirawat, Ayu sudah mengantisipasi, biasanya dijam segini, tidak ada keluarga Adit yang ada disana, entah itu mereka tengah istirahat atau makan siang, yang jelas Ayu bersyukur, meskipun cuma sebentar, seenggaknya dia bisa bertemu dengan Adit. Selama satu minggu belakangan ini, Ayu diam-diam datang menjenguk Adit tanpa sepengatahuan siapapun, karna akan menimbulkan tanda tanya jika salah satu dari keluarga Adit tahu kalau dia menjenguk Adit tiap hari. Sampai saat ini memang Ayu belum berani mengungkapkan kebenarannya pada Arman, sama seperti keluarganya, dia juga tengah mencari cara untuk memberitahu Arman.


Ayu meletakkan bunga yang dibawanya dinakas, dan duduk disamping tempat tidur Adit yang masih terbaring koma.


"Kami datang mas." Ayu meraih tangan Adit yang terkulai disisi tubuhnya, "Aku kangen mas, bayimu juga, kamu kapan bangunnya." air mata Ayu selalu menetes setiap kali mengajak Adit bicara, namun yang diajak bicara hanya diam membisu, "Kamu jangan ninggalin kami, karna kamu udah janji, sekarang orang yang kamu cintai bertambah satu." Ayu kemudian mengarahkan tangan Adit keperutnya, hal ini selalu dilakukannya setiap kali menjenguk Adit, "Anak kita mas, cepat bangun ya supaya kamu bisa melihatnya."


Disaat itu pintu terbuka, Ayu langsung memutar lehernya untuk melihat siapa yang datang. Ayu terkejut, yang berdiri dipintu dengan ekspresi menyiratkan kemarahan adalah Arman, melihat ekspresinya, Arman kemungkinan mendengar kata-kata Ayu barusan.


Arman mendekat ke arah Ayu, sorot matanya begitu dingin, hal ini membuat Ayu takut, "Apa maksud semua ini Ayu." Arman menuntut penjelasan.


Ayu merasa inilah saatnya, Arman harus tahu kebenarannya, dengan hati-hati Ayu berusaha menjelaskan, "Mas, sebelum perjodohan kita, aku dan mas Adit sebenarnya pacaran."


"Pacaran, gak mungkin, kemarin kalian bilang kalian tidak saling mengenal."


"Mas, kami...."


"Stop, kamu cuma bercandakan Yu." Arman tidak percaya dengan penjelasan Ayu.


Ayu menggeleng, "Itu semua benar mas, dan aku.." suara Ayu tertahan, berat rasanya untuk mengatakan hal ini, "Aku hamil mas, anaknya mas Adit."


"Apa yang kamu katakan Ayu, aku gak ngerti, kalau kamu tidak ingin melanjutkan perjodohan ini, kamu tidak perlu berbohong sampai sejauh ini, sampai bawa-bawa Adit yang terbaring koma."


Air mata Ayu mulai menggenang, dia merasa bersalah karna telah membohongi Arman, "Aku, aku gak bohong mas, maafin kami karna telah membohongi mas."


Arman mengacak rambutnya, frustasi mendengar berita mengejutkan ini, adiknya pacaran dengan calon istrinya dan kini tengah mengandung anaknya, Arman fikir, hal ini hanya terjadi disinetron yang sering ditonton mamanya, gak taunya dia mengalami hal ini dalam hidupnya.


Arman mencengkram lengan Ayu, hal itu membuat Ayu kesakitan, "Kenapa kamu melakukan hal ini sama aku Yu, salah apa aku sama kamu, dari semua laki-laki dimuka bumi, kenapa harus Adit hah."


"Mas, aku bener-bener minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti mas." kini air mata Ayu mengalir deras membasahi pipinya.


"Dan lo." Arman menunjuk Adit, "Dasar adik bangsat, kenapa lo melakukan hal ini sama gue hah." kalau tidak dalam keadaan koma, ingin rasanya Arman menonjok adiknya.


"Mas...." Ayu berusaha menenangkan Arman.


Dengan amarah yang terlihat jelas, Arman memandang Ayu, pandangannya seakan-akan mengatakan, "Aku membenci kamu." dan setelah itu Arman melangkah menuju pintu dan membanting pintu dengan suara keras.


Ayu menggelosor dilantai, dia menangis tanpa suara, menyesali apa yang telah terjadi.


**********


"Hancur." mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Arman saat ini, dia harus menerima kenyataan pahit, kalau perempuan yang dicintai yang seharusnya sebentar lagi menjadi istrinya kini hamil oleh adiknya sendiri. Arman menolak untuk mempercayainya, namun apa adanya karna ini semua bener-bener kenyataan. Kini disinilah dia, disebuah bar, tempat terakhir yang akan dia datangi dalam keadaan normal, saat ini dia butuh suasana ramai untuk menghilangkan rasa sakit yang dideritanya, dia butuh alkohol untuk membuatnya melupakan apa yang didengernya, bergelas-gelas minuman keras yang ditenggaknya dan itu berhasil membuatnya mabuk berat, diluar kesadarannya dia menghubungi Ayu.


"Mas Arman, mas dimana sekarang." cecar Ayu panik, dia langsung menjawab panggilan Arman pada dering pertama.


"Ayu, calon istri gue." dengan suara teler.


"Mas Arman mabuk, dimana posisi mas sekarang."


Arman tertawa, "Ha ha ha, lo mengkhawatirkan gue ternyata setelah lo menyakiti gue."


"Mas Arman, tolong kasih tahu dimana keberadaan mas sekarang, aku khawatir mas, keluarga mas juga, dia berulangkali nelpon aku nanyain keberadaan mas."


"Lo gak perlu khawatirin gue, gue sekarang berada dimana gue bisa happy tanpa rasa sakit yang lo torehkan, dan gue akan bahagia tanpa lo."


Arman langsung menutup sambungan, dan kembali menegak minuman keras, dia berharap, semakin banyak alkohol yang masuk kelambungnya, semakin berkurang rasa sakit yang dideritanya.


*******


"Mas, mas Arman." panggil Ayu, difikirnya sambungan masih terhubung, setelah sadar sambungan terputus, Ayu berusaha menghubungi Arman kembali, namun sayang tidak diangkat.


Karna tidak mendapatkan informasi apa-apa dari Arman, Ayu menghubungi Sakti.


"Mas Sakti, ini Ayu mas."


"Kenapa Yu, nelpon jam segini." tanya Sakti dengan suara ngantuk.


Jelas saja Sakti heran, pasalnya ini sudah jam 12.30, tidak biasanya Ayu menelponnya tengah malam begini, fikir Sakti mungkin tengah terjadi apa-apa.


"Mas Sakti, mas Arman tadi nelpon."


Mata Sakti langsung on mendengar berita ini, dia juga khawatir dengan Arman, karna keluarga Arman berulangkali menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Arman, "Dia ngasih tau dimana dia berada saat ini."


"Gak mas, tapi sepertinya mas Arman tengah berada ditengah keramain gitu, suasananya berisik oleh suara musik, dan sepertinya mas Arman mabuk." lapor Ayu.


Sakti tahu tempat itu, tempat yang biasa mereka datangi ketika mereka masih SMA, tapi semenjak mereka dewasa mereka tidak pernah datang ketempat tersebut, "Aku tahu dimana Arman berada." lirihnya.


**********