I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Menyelamatkan Ayu



Waktu itu adit tengah berada dikelas, ponselnya pun disilent, entah kenapa perasaanya tiba-tiba tidak enak, selama perkuliahan berlangsung fikirannya selalu tertuju pada ayu, sehingga dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya berniat hanya untuk mengirimi ayu pesan untuk menanyakan keadaanya.


Adit mengerutkan kening begitu melihat 5 panggilan masuk dari karin dan satu pesan masuk, adit langsung membuka pesan dari karin, dan begitu membaca pesan yang dikirim oleh karin, adit tidak bisa mengontrol emosinya, dia langsung bangkit dan tanpa mengatakan apa-apa dengan langkah tergesa-gesa berjalan keluar kelas ketika dosennya tengah sibuk menjelaskan. Temen- temen adit pada heran, lebih-lebih lagi dosennya.


"Adit, mau kemana kamu." teriak dosennya yang tidak diindahkan oleh adit.


Begitu ada diluar, adit langsung menghubungi karin menanyakan dimana posisinya. Setelah menyebutkan dimana keberadaanya, adit langsung berlari secepat yang dia bisa untuk nyamperin karin.


"Rin," adit ngos-ngosan.


Karin ada dikantin, minum air putih sebanyak-banyaknya sebagai upaya untuk membuatnya tenang, mata gadis itu bengkak karna menangis, disekeliling karin ada temen-temen kelasnya juga yang ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Rin, apa yang terjadi." tembak adit.


Karin malah sesenggukan, "Ayu, ayu diculik dit."


"Kok bisa, bagaimana ceritanya." cecar adit.


Karin lalu menceritakan secara lengkap kronologi penculikan ayu yang dilakukan oleh dua orang.


"Lo masih inget wajah pelakunya."


"Yang gue inget orangnya jelek."


"Maksud gue, lo bisa mendeskripsikan ciri-ciri fisik mereka."


Karin menggeleng, saking takutnya dia tidak sempat mempehatikan secara detail wajah sik pelaku.


Adit langsung memukul meja dengan keras sehingga membuat meja tersebut bergetar hebat. Orang-orang disekitar pada kaget.


"Sialan," umpatnya.


"Hu..hu..hu.." karin tambah keras menangis, "Ini salah gue, coba kalau gue gak ngajak ayu pergi kekafe yang baru dibuka itu, kejadiannya tidak akan seperti ini."


Temen-temennya menenangkan, "Jangan nyalahin diri lo sendiri rin, percaya deh ayu pasti baik-baik saja."


Ponsel adit berdering, adit membelalak melihat nama yang tertera dilayarnya.


"Askara," gumam adit sebelum mengangkat panggilan tersebut.


"Kalau lo mau pacar lo selamat, temui gue seorang diri, dimarkas geng motor gue."


"Bajingannn, awas kalau sampai lo ngapa-ngapain ayu" geram adit, wajahnya mengeras karna amarah yang menguasainya.


"Hahaha." terdengar suara tawa kepuasaan dari seberang, "Kalau lo gak datang dalam waktu 20 menit, gue gak jamin pacar lo bisa lo dapatkan dengan utuh."


"Berani lo nyentuh ayu seuujung kukupun, sampai neraka sekalipun lo bakalan gue kejar."


"Menarik, gue gak sangka gadis polos ini bisa membuat lo bertekuk lutut."


"Apa yang lo inginkan dari gue."


"Yang gue inginkan adalah membuat lo bertekuk lutut dihadapan gue."


"Dalam mimpi lo."


"Kita lihat saja nanti."


Dan sambungan itu berakhir, adit mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Siapa itu dit, penculik ayu."


Adit malah berlari tanpa menjawab pertanyaan karin.


"Dit, adit, bawa ayu pulang dengan selamat."


********


Adit melajukan motornya dengan kekuatan penuh, dia bener-bener tidak mempedulikan aturan lalu lintas, yang ada difikirannya saat ini adalah bagaimana supaya dia cepat sampai dan menyelamatkan ayu sebelum musuh-musuhnya melakukan hal yang buruk pada ayu.


"Tunggu gue yu." gumamnya.


Adit hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ditempat yang dimaksud. Tempat yang dijadikan sebagai markas oleh geng motor tiger adalah sebuah rumah sederhana yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya.


Adit langsung berlari memasuki rumah tersebut, dengan tenaganya dia mendobrak pintu masuk.


Sang ketua yang bernama aksara bertepuk tangan dan tertawa jahat begitu melihat kedatangan adit.


"Ternyata keputusan gue menculik pacar lo ini tidak sia-sia." aksara menyentuh dagu ayu "Gadis ini pasti sangat berharga buat lo sampai lo sampai lebih cepat dari waktu yang gue tentukan."


"Jauhkan tangan kotor lo dari ayu bajingan."


"Wah, wah, cinta mati ternyata."


"Lepaskan ayu, urusan lo dengan gue bukan dengan ayu."


Aksara memutari kursi yang diduduki ayu dan menepuk pundak ayu, "Gue tau dia sangat berharga buat lo, gue cuma ingin melihat sejauh mana usaha lo untuk membebaskan pacar tercinta lo ini."


"Bangsat." adit mendekat.


Dengan isyarat tangannya aksara memberi perintah pada anggotanya untuk menyerang adit.


Adit bersiaga, dia dikepung oleh 5 orang sekaligus, termasuk dua diantaranya adalah cowok yang menculik ayu.


Ucok menyerang terlebih dahulu, dengan satu tendangan yang tepat mengenai perut adit berhasil menumbangkannya, melihat temannya tumbang, satu persatu maju untuk melumpuhkan pertahanan adit. Tidak semudah itu menumbangkan adit mengingat adit memegang sabuk hitam karate, tapi sehebat-hebatnya adit, dia tidak bisa melawan 5 orang sekaligus dalam waktu bersamaan. Karna diserang dari arah belakang, adit mendapat pukulan ditengkuknya, adit terjatuh kelantai.


Ayu yang menyaksikan hal tersebut meronta, menjerit tertahan karna suaranya teredam oleh lakban yang digunakan menutup bibirnya.


Melihat adit terjatuh, aksara tertawa puas, "Mampus lo."


Ketika mencoba untuk bangun, adit kembali mendapat tendangan sehigga membuatnya kembali tersungkur. memanfaatkan ketidak siapan adit, tiga orang menendang badan adit bertubi-tubi.


Ayu semakin kuat membrontak, bener-bener tidak tega melihat adit yang tidak berdaya. Air mata ayu bercucuran. Aksara semakin kenceng tertawa.


Mata adit terarah pada ayu, air mata ayu memberinya kekuatan untuk melawan laki-laki pengecut yang bisanya hanya main keroyokan. Adit menarik kaki salah satu laki-laki yang menendangnya sehingga laki-laki itu terjatuh, dan itu dilakukannya pada dua orang lainnya, selanjutnya yang terjadi, adit mampu berdiri dan melawan dari serangan musuh. Cinta memang membuat orang yang lemah menjadi kuat, hal itu ternyata berlaku untuk adit, karna melihat tangisan ayu, dia pada akhirnya mampu menumbangkan lima orang sekaligus. Dan sekarang tinggal giliran aksara, senyum kemenangan langusung terhapus dari bibir aksara melihat kelima anak buahnya tumbang tak berdaya.


"Sialan lo." aksara maju untuk menghajar adit, adit berhasil menghindar. Dua orang tersebut sama kuatnya, sehingga pertarungan itu terjadi cukup seru dan lumayan lama. Dan pada akhirnya, mungkin karna rasa cinta, adit berhasil menumbangkan aksara.


Aksara berdiri dengan susah payah, "Lo boleh menang kali ini tapi inget lain kali gue tidak akan membiarka lo menang."


"Gue akan selalu menunggu waktu itu tiba."


"Cabut." perintah aksara pada anak buahnya, yang kondisinya kurang lebih sama dengan kondisinya.


Kondisi adit juga tidak bisa dibilang baik, mana ada laki-laki yang baik-baik saja setelah melawan enam orang sekaligus.


Dengan langkah tertatih-tatih, galaksi mendekati ayu. Adit bersimpuh didepan ayu dengan wajah menunduk, "Maafin gue yu, maafin gue." lirihnya.


Karna bibirnya dilakban, ayu tidak bisa membalas ucapan adit, sehingga dia menggerakkan tubuhnya untuk meminta adit untuk melepas ikatannya.


Adit langsung bangun, dengan pelan melepas lakban dari bibir ayu, dan setelah itu, dengan cekatan adit melepas tali yang digunakan mengikat tubuh ayu. Begitu ikatannya terbuka, ayu langsung menubruk tubuh galaksi dan melingkarkan tangannya pada pinggang galaksi, " Mas adit, ayu takut." ujarnya terisak.


Sebenarnya ketika ayu menubruk tubuhnya adit merasa kesakitan, tapi ditahannya, dia hanya meringis.


Adit mengelus puncak kepala ayu dan menenangkan, "Kamu gak perlu takut ayy, ada aku disini, aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu."


Ayu mengangguk, " Udah donk nangisnya, sekarang semuanya sudah baik-baik saja " bujuk adit.


Kembali ayu mengangguk, ayu melepas pelukannya, memandang wajah adit yang berantakan, "Sakit ya." ayu bertanya.


Adit menggeleng, "Tadinya sakit, tapi setelah dipeluk kamu, sakitnya hilang."


"Apaan sieh gombal." ayu memukul lengan adit.


Mata ayu tertuju pada siku kanan adit, ayu menjerit, "Astaga, mas sikumu berdarah." ayu panik.


"Gak perlu panik yu, aku gak apa-apa kok."


Ayu segera mengubek-ubek isi tasnya, mencari sesuatu yang mungkin berguna untuk menghentikan darah yang merembas dari siku adit. Dan ketemu, dari tasnya ayu mengeluarkan sapu tangan, ayu memandang sapu tangan yang selalu disimpennya selama bertahun-tahun, sapu tangan kenangan yang diberikan oleh tama sang cinta pertamanya. Tanpa ragu, ayu mengikatkan sapu tangan tersebut disiku adit.


"Makasih ya ayy."


Ayu mengangguk dan memberikan senyumannya.


"Lebih baik kita pergi dari sini." adit menyarankan yang disetujui oleh ayu dengan anggukan.


*********