
Dokter yang menangani operasi Adit yang bernama dokter Robi tersebut buru-buru mengklarifikasi gelengan kepalanya dengan penjelasan, pasalnya gelengannya tersebut menimbulkan salah paham bagi keluarga pasiennya.
"Mohon maaf, kalian salah mengerti maksud saya, pasien bukannya meninggal."
Alya dan Anggi yang menjerit histeris langsung agak tenang, sedangkan Arman yang sudah kembali dari mengantar Ayu, Adi, Arkan dan Andra berharap klarifikasi dokter sedikit bisa menenangkan hati mereka.
"Anak saya tidak mati dokter, terus bagaimana keadaannya, dia akan sembuh kan dokter." Alya mencecar.
"Ma, tenang." Arman mengintrupsi, "Biar dokter menjelaskan."
"Begini," dokter Robi agak berat menjelaskannya, tapi mau bagaimana lagi, keluarga sik pasien yang ditanganinya harus tahu keadaan keluarganya, "Saat ini pasien masih dalam kondisi kritis."
"Ya Tuhan, cobaan apa ini." Alya meraung lagi.
"Ma, tenangkan diri mama, dokter robi belum selesai menjelaskan." Arman menegur sang mama.
Dokter robi merasa tidak enak juga mengingat dua wanita ini terus menjerit, dia terpaksa harus berbohong, "Tapi jangan khawatir, saya yakin pasien akan melewati masa kritisnya." dalam hati dokter robi bergumam, "Semoga saja terkabul, kalau gak, bisa dicincang saya sama ibunya ini.'"
Kebohongan tersebut membuat semua yang berada disana sedikit bernafas lega, Alya dan Anggi kini sudah tenang.
"Mama dengerkan, Adit pasti akan baik-baik saja dan kembali berkumpul bersama kita." Adi menghibur.
"Maaf, apa anda ayahnya pasien." dokter robi bertanya.
"Iya dokter."
"Apa bisa kita bicara diruangan saya."
"Oh, bisa dokter."
"Dokter." sela Arman, "Apa saya bisa ikut, saya kakaknya."
"Oh, bisa."
"Saya mamanya dokter, saya bisa ikutkan."
"Ma, mama disini saja sama Anggi, tungguin Adit." larang Adi.
"Baiklah pa."
Dua laki-laki tersebut mengikuti dokter Robi menuju ruangannya.
"Silah duduk." dokter Robi mempersilahkan.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi dok." Arman langsung bertanya, dokter Robi meminta papanya keruangannyakan pasti ada sebabnya.
Wajah dokter Robi langsung tegang, "Begini, ketika mengalami tabrakan, pasien mengalami benturan yang cukup keras dibagian kepala, dan kecil kemungkinan bisa selamat."
"Dokter tidak memiliki hak menentukan umur adik saya, hanya Tuhan yang berhak menentukan umur seseorang." Arman tidak terima dengan ucapan dokter Robi.
"Arman, tenangkan dirimu." sela Adi.
"Maaf pa."
"Kecil kemungkinan itu tapi masih ada harapankan dok."
"Hanya mukjizat Tuhan yang bisa menyembuhkannya."
Kini yang hanya mereka lakukan adalah berdoa, berharap Adit bisa sembuh.
**********
"Yu, lo..." Karin menghentikan kalimatnya, dia takut pertanyaannya akan membuat Ayu tersinggung.
Ayu mengangguk, tahu dari lanjutan pertanyaan Karin, "Kok bisa, maksud gue, kok lo bisa sieh kebablasan gini."
Hanya mereka berdua yang berada diruangan tempat Ayu dirawat, sedangkan semua keluarganya terutama Arya dan Sakti masih sakit hati dengan perbuatan Ayu, untuk saat ini mereka malas untuk dekat-dekat dengan Ayu.
Ayu hanya menangis sesenggukan, "Aku, aku khilaf Rin, aku khilaf."
"Ssstt." Karin memeluk Ayu, saat ini kondisi Ayu tidak dalam kondisi baik, tidak seharusnya dia juga mencecar Ayu setelah tadi Ayu dimarahin habis-habisan oleh Arya dan Sakti, dia memang kecewa dengan Ayu, tapi Ayu juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
"Aku menyesal Rin, aku telah membuat keluargaku malu."
"Udah, udah jangan nangis, kasihan tuh calon keponakan gue, ntar dia ikutan nangis lagi lihat mamanya nangis, udah papanya terbaring gak sadarkan diri lagi."
Fakta yang keluar dari mulut Karin berhasil menghentikan tangis Ayu, dia mengelus perutnya, "Maafin mama ya sayang, mama janji, apapun yang terjadi, mama akan selalu menjaga dan merawat kamu."
"Kan ada kamu Rin."
"Ih, dasar ya kamu Yu, bisa aja ngejawabnya."
Ayu sedikit bisa tersenyum.
Pintu tempat Ayu dirawat terbuka yang memampangkan wajah Arman, Arman berusaha membuatnya wajahnya terlihat normal, dia gak mau membuat Ayu semakin khawatir jika melihatnya bersedih.
"Mas Arman." kaget Ayu.
"Arman." Karin juga kaget dengan kedatangan Arman yang tiba-tiba.
Baik Ayu dan Karin berharap Arman tidak mendengar percakapan mereka barusan.
"Gimana, kamu udah baikan." tanya Arman, dari ekspresinya sih Arman tidak mendengarkan percakapan mereka.
Ayu mengangguk, "Iya mas."
"Jadi, Adit kapan dimakamkan Man." sosor Karin, diakan berfikiran kalau Adit meninggal.
Ayu meremas selimutnya, matanya berkaca-kaca, anaknya yang masih dalam kandungan harus menjadi yatim tanpa bisa melihat wajah ayahnya.
"Kamu doain Adit mati Rin."
"Eh, Adit gak jadi mati ya, terus sik dokter kampret itu menggeleng itu maksudnya apa."
"Adit kritis, saat ini dia masih berjuang melawan masa kritisnya."
Meskipun kritis bukanlah sebuah berita baik, tapi sedikit tidaknya masih ada harapan, meskipun harapan itu kecil.
"Kampret sik dokter itu, gak pernah diajarkan apa dia dibangku kuliah, kalau menggeleng disaat genting begitu membuat orang berfikir yang tidak-tidak." oceh Karin kesel.
"Sekarang kami hanya bisa berdoa berharap Adit bisa melewati masa kritisnya, dan kembali sehat."
"Amien." gumam Karin.
"Amin." lirih Ayu dalam hati, "Semoga Tuhan memberi kamu kesempatan untuk melihat anakmu mas." doa Ayu penuh harap.
**********
Dua hari kemudian, Adit berhasil melewati masa kritisnya, namun dia masih belum sadar dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan alias koma, tubuhnya terbaring lemah dan hanya selang-selang medis yang terpasang dibeberapa anggota tubuhnya sebagai penyokong hidupnya, mamanya tidak pernah pergi meninggalkan sisi putranya, dia terus meratap melihat kondisi putra keduanya.
"Dasar anak nakal, sudah sejuta kali mama bilang, kalau bawa motor itu jangan ugal-ugalan, lihatkan sekarang, kamu terbaring lemah dan tidak berdaya. Memang ya kamu, kerjaannya bikin orang tua khawatir saja, tidak pernah dengerin kata mama." sambil ngoceh begitu air mata Alya tidak putusnya berjatuhan.
"Ma." Arman memegang bahu mamanya, "Mama pulang ya, biar Arman yang jaga Adit."
"Bagaimana bisa mama pergi meninggalkan Adit, kalau dia bangun gimana, kalau dia nyari mama gimana."
"Ma, kalau Adit bangun, mama orang pertama yang akan Arman hubungin."
"Tapi..."
"Ma, mama juga butuh istirahat, mama udah dua hari lho gak istirahat, kalau mama sakit gimana, siapa yang akan jagain Adit nantinya."
Kata-kata Arman itu meluluhkan Alya, dia akhirnya mau pulang, dengan satu syarat kalau Adit bangun, Arman langsung menghubunginya.
Setelah mengantar mamanya sampai parkiran, Arman kembali ke ruangan adiknya, Arman meneliti setiap inci tubuh Adit yang terbaring dibankar rumah sakit, hatinya remuk melihat kondisi adiknya yang tidak berdaya, "Heh, bangun lo bajingan kecil, kerjaan lo bikin orang khawatir saja." gumamnya sedih, "Kalau kerjaan lo tidur melulu, lo gak bisa nyaksiin hari pernikahan gue." Arman terus bicara, berharap Adit bisa meresponnya, tapi usahanya sia-sia saja, karna Adit terus membisu, hal tersebut akhirnya membuat tenggrokan Arman kering karna bicara tanpa henti, dia memutuskan untuk ke kafetaria rumah sakit untuk membeli minum.
Gak lama setelah Arman keluar dari kamar rawat Adit, Ayu datang untuk melihat kondisi Adit, hari ini dia sudah diizinkan pulang oleh dokter, tapi sebelum pulang dia ingin bertemu Adit terlebih dulu.
"Mas Adit." Ayu meraih tangan Adit dan mengarahkannya keperutnya, "Aku hanya ingin ngasih tahu kalau hamil mas, ini anakmu mas." Ayu tidak sanggup menahan air matanya, bulir-bulir bening berjatuhan membentuk anak sungai dipipinya, "Mas, kamu harus sembuh, jangan tinggalkan kami, kami mencintaimu."
Sebelum pergi, Ayu mencium tangan Adit, "Aku pergi dulu mas, tapi aku janji akan datang." ucapnya dan berjalan keluar.
Ketika sampai dikamarnya, Ajeng dan Karin sudah menunggunya, "Kamu dari mana aja Yu, mbak khawatir, mana kamu gak bawa ponsel lagi."
"Ayu pergi melihat mas Adit mbak."
"Oh." hanya itu respon Ajeng.
"Ya udah deh mending kita pulang sekarang." ujar Karin yang khusus datang untuk mengantar Ayu.
Melihat hanya kakak iparnya yang menjemputnya, Ayu yakin kalau Arya dan Sakti masih marah padanya, Ayu maklum, dia telah melakukan kesalahan besar, tidak semudah itu untuk memaafkan kesalahanya.
************