
Hari ini mood sik nyonya besar bener-bener baik, dia sampai bersenandung gitu sambil menyiapkan makan malam membantu surtinah didapur.
"Wah, kelihatannya nyonya bener-bener bahagia banget ya hari ini." komen surtinah melihat wajah majikannya yang terus tersenyum.
"Bagaimana gak bahagia surti, kalau habis ketemu calon mantu, cantik ya surti calon mantu saya, santun dan baik lagi, gak sabar saya ingin cepat-cepat gendong cucu."
"Bener nyonya, makanya nyonya, nyonya suruh mas arman cepat-cepat lamar mbak ayu."
"Kamu bener juga surti, anak itu harus gerak cepat, nanti ayu keburu dilamar orang lain lagi."
"Ma, surti, lagi pada gosipin apa sieh sampai makan malam belum siap juga, anggi dan papa udah laper nieh. Kalian yang lelet, malah anggi yang diomelin oleh papa." lapor anggi.
"Iya, ini juga lagi disiapin kok, gak sabaran banget sih kamu dan papamu itu, emang kalau telat makan bisa bikin kalian mati apa." sik mama balik ngomel, "Surti cepetan bawa sayurnya kemeja makan." perintahnya, "Ntar kalau telat dikit kita yang akan dimakan lagi."
"Gak segitunya kali ma, lebay banget sieh." tukas anggi sambil berlalu.
"Hei, mau kemana kamu." tegur alya.
"Meja makan ma, mana lagi."
"Dasar anak gak peka, inisiatif kek bantuin mama dan surti bawa nieh makanan kemeja."
"Iya, iya, gak perlu marah-marah gitu kali ma."
Semuanya sudah berkumpul dimeja makan, kecuali adit yang belum pulang dalam rangka menghindari omelan mamanya. Melihat anggota keluarganya yang kurang lengkap sik mama bertanya.
"Mana anak nakal itu."
Sebenarnya kemarahan alya pada adit sudah meluntur sieh karna bertemu ayu.
Anggi yang menjawab, "Kelayapan ma."
"Anak itu, tidak pernah betah dirumah, calon kakak iparnya datang berkunjung, hanya dia yang tidak ada dirumah."
"Gimana mau dirumah ma, kalau mama ngomelin adit melulu, hanya gara-gara bunga lagi." tukas adi sik kepala rumah tangga.
"Gimana gak marah coba pa, kalau bunga-bunga kesayangan mama dicolong, kayak kita kekurangan uang saja sampai dia gak mampu beli bunga."
"Itu sebenarnya bagus ma, memanfaatkan apa yang ada, kan jadi hemat."
"Itu bukannya hemat pa, tapi pelit, anak itu, mirip sekali dengan papa, papa ingat gak dulu, papa nembak mama pakai bunga kamboja, gak modal banget jadi cowok."
"Apa, papa nembak mama pakai bunga kamboja." tukas arman.
Arman dan anggi sumpah ingin tertawa mendengar rahasia papanya yang baru diungkap mama mereka, mereka hanya terbatuk untuk menyamarkan tawa.
"Meskipun papa hanya bawa bunga kamboja, tapi toh mama maukan sama papa."
Alya akan membalas tapi keburu dilerai oleh arman, "Ma, pa, kapan makannya sieh kalau kalian sibuk berdebat tentang masa lalu gini."
Anggi turut menimpali, "Iya, lagian udah dulu, dulu, duluuu bangetttt baru diungkitnya sekarang, udah pada peot juga."
"Anak ini kalau ngomong ya, bicaranya tidak pernah disortir." alya menjewer telinga anggi, "Lagian masih mama masih mulus dan kenceng begini dibilang peot."
"Aduh, mama sakit." rengek anggi.
"Sudah ma, lepasin anggi, sebaiknya kita makan sekarang." ujar adi.
Anggi mengelus telinganya yang kena jewer.
Ketika mereka tengah makan, adit yang berfikir keluarganya sudah selesai makan malam, dengan mengendap-ngendap berjalan kedapur, niatnya apa lagi kalau bukan untuk mencari makan, laper dia pulang keluyuran. Adit gak tau kalau hari ini makan malam diundur saking heboh mamanya membicarakan ayu.
Adit langsung balik badan begitu melihat keluarganya masih dimeja makan, tapi sayang, anggi melihat kedatangannya dan menegur, "Abang."
Dalam hati adit merutuk, "Sik bocah itu pakai lihat segala lagi." adit balik badan sembari cengengesan, karna sudah ketangkep basah dengan terpaksa dia kemeja makan.
Arman yang bertanya paling dulu, "Dari mana kamu."
"Ngerjain tugas bang." jawabnya berbohong.
"Tugas ngpelin cewek maksudnya bang." tukas anggi.
"Diem bocah."
"Ishhh, anggi udah gede abang, bukan bocah lagi."
"Emang lo udah punya KTP."
"Belum."
"Itu artinya lo masih bocah."
"Abang adit bener-bener menyebalkan, ma jangan dikasih makan bang aditnya."
"Lo mau bikin gue mati."
"Biar aja mati, habisnya resek sieh."
Kakak beradik ini sepertinya the next tom and jerri, kerjaannya adu mulut melulu kalau ketemu, habis itu dua-duanya tidak ada yang mau mengalah.
"Sudah diem kalian." alya melerai.
Adit curi-curi pandang kearah mamanya, menerka-nerka apakah mamanya masih marah atau tidak.
"Dari mana saja kamu ini adit, calon kakak iparmu kemari, cuma kamu yang tidak ada dirumah untuk menyambutnya, kitakan harus menampilkan kesan yang baik."
Dalam hati berkata, "Emang presiden pakai disambut segala." , tapi yang dilisankan adalah, "Pacarnya bang arman ma, datang kemari, pantes saja mama jinak, gak marahin adit lagi."
Alya langsung memberi pelototan pada adit, "Sorry ma, sorry, habisnya gara-gara bunga, mama berubah jadi siluman singa."
"Anak ini, kalau ngomong suka sembarangan." alya mengangkat tangannya memukul lengan adit, kesal banget alya dikatakan siluman singa.
Adi, arman, dan anggi tertawa melihat hal tersebut, mereka membenarkan ucapan adit, kalau sik mama udah mirip kayak siluman singa, karna dia ingin ngamuk melulu.
"Kapan nieh lo mau kawinin, maksud gue dinikahin tuh calon kakak ipar." adit kembali bersuara.
"Iya bang, biar rumah rame." timbrung anggi.
"Gak perlu tambah anggota, lo sendirian idup di rumah juga udah rame kayak kandang bebek."
"Abangg, ngeledek anggi melulu." anggi cembrut dengan bibir dimajuin.
"Lo fikir lo imut, lo tambah jelek tau." ledek adit.
Sik papa cuma menggeleng melihat kelakuan dua anaknya, tidak habis fikir, meskipun sudah besar, mereka masih berkelakuan seperti anak-anak.
"Kalau kalian berdua masih ribut, jangan harap kalian bakalan dapat warisan." ancam alya.
"Ya tuhan, mamaku sayang, mamaku kejam, kenapa bawa-bawa warisan." tukas adit.
"Iya ma, masak cuma bang arman yang dapat warisan, gak adil banget." protes anggi.
"Kalau kalian mengeluarkan protes satu huruf saja, mama akan bener-bener melaksanakan ucapan mama."
Warisan ternyata mampu membungkam bibir mereka, keluarga tersebut kembali melanjutkan acara makan malam mereka.
"Bang, siapa nama calon lo itu." ternyata adit kembali mengajukan pertanyaan.
"Mbak ayu." jawab anggi cepat.
"Ayu, kok bisa sama dengan nama pacar gue." herannya dalam hati, tapi dia tidak berfikir yang aneh-aneh mengingat nama ayu ada kali satu juta satu dijakarta, "Akhh, mungkin kebetulan saja namanya sama, nama ayu dijakarta kan bejibun."
"Cantik gak orangnya."
"Iyalah, baik dan sopan lagi, iyakan ma."
Alya mengangguk menanggapi ucapan putrinya.
"Makanya bang, kalau cari pacar kayak l mas arman donk, udah cantik, baik, pinter masak lagi."
"Iya, bawel lo."
"Ishhh, dikasih tau juga."
**********
Sayang
Itu bunyi pesan yang dikirim adit ke ayu, karna sedang mengikuti kelas, ayu hanya membalas untuk memberitahu.
Mas, ayu lagi dikelas ini.
Maaf sayang, belajar yang rajin ya. Love you
Tidak dibalas oleh ayu, beberapa detik kemudian pesan dari adit datang bertubi-tubi, isinya sama yaitu,
I LOVE YOU
I LOVE YOU
I LOVE YOU
"Apaan sieh mas adit." lirih ayu.
Kemudian datang lagi satu pesan susulan, bunyinya adalah,
Kalau kamu belum bilang i love you, aku tidak akan berhenti mengirim pesan.
"Konyol." batin ayu, tapi toh dia melakukan hal yang diinginkan adit, yaitu membalas pesan adit sesuai dengan yang adit inginkan.
Makasih sayang
Itu adalah pesan terakhir yang dikirim oleh adit.
Karna pesan adit barusan, ayu jadi tidak fokus menyimak penjelasan dosen, ayu ingin cepat-cepat kelas berakhir, supaya bisa bertemu dengan adit.
Begitu kelas berakhir, ayu buru-buru membereskan alat tulisnya, melihat hal tersebut karin berkomentar.
"Yang mau ketemu sang pujaan hati, buru-buru banget, santai yu, mas aditmu gak akan kabur."
"Asyik banget ya rin ternyata punya pacar, ada yang bikin semangat datang kekampus, yang paling penting ada yang merhatiin." jawab ayu sekarang bisa membalas godaan karin.
"Lo bikin gue iri saja."
Ayu terkekeh, "Aku duluan ya rin."
"Hmmm."
"Hai sayang." itu sapaan adit yang ternyata sudah sejak dari tadi menunggu didekat pintu.
Karna tidak menyadari keberadaan adit, ayu jadi terlonjak kaget, "Astaga mas, kaget aku."
"Sayangku gitu aja kaget."
"Gimana gak kaget, kalau mas munculnya tiba-tiba begitu."
"Siapa yang muncul tiba-tiba, orang akunya sudah lama nungguin kamu, sampai aku jadi jamuran nieh."
"Apa sieh mas lebay banget." ayu memukul lengan adit manja.
Adit tersenyum, tidak pernah menyangka sebelumnya ternyata ayu bisa membuatnya bener-bener jatuh cinta.
"Yuk pergi." adit membuka telapak tangannya yang disambut oleh ayu dengan senyum manis. Adit berjanji akan selalu membuat senyum manis ayu terukir.
********