I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Hukuman Untuk Adit



Tidak hanya dikantor saja sang mama membuat kehebohan, sampai dirumah dia tidak kalah hebohnya, pasalnya ketika sampai dirumah yang dituju pertama kali adalah taman belakang untuk melihat bunga-bunga kesayangannya, sang mama meradang melihat bunga yang seharusnya bermekaran indah saat dia pulang, ternyata bunga-bunga yang dirawat dengan penuh cinta dan kasih sayang itu hanya tinggal beberapa tangkai saja, langsung saja sik ibu negara mengumpulkan semua penghuni rumah. Mulai Anggi, surtinah, satpam dan juga 3 sopir pribadi keluarga dikumpulkan untuk diintrogasi.


Awalnya pada seneng tuh mereka disuruh kumpul, pasalnya mereka fikir sang nyonya besar bakalan memberikan oleh-oleh karna baru pulang dari luar kota, tapi saat melihat wajah menyeramkan sang nyonya, mereka tau ada yang salah, sehingga membuat nyonya mereka begitu terlihat sangat marah.


"Selama saya tidak ada dirumah, apa yang kalian kerjakan hah." bertanya dengan suara keras.


Surtinah dengan polosnya menjawab sesuai dengan realita, "Seperti biasa nyonya besar, saya bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan, nyapu, ngepel dan....." mau diabsen tuh semua yang dilakukan tapi karna mendapat bentakan surtinah langsung jadi patung.


"Bukan itu maksud saya surtinah, kenapa sieh otakmu lemot banget."


"Ada apa sieh ma, pulang-pulang bukannya ngasih oleh-oleh malah ngasih omelan." ujar anggi.


"Gimana gak ngomel, kalian itu yah dikasih amanat tidak becus, bunga-bunga kesayangan mama kenapa bisa hilang, seharusnya kalian menjaganya seperti anak kalian kalian sendiri."


Jawab anggi dalam hati, "Aku masih waras ma, gak kayak mama, ya kali bunga dirawat kayak anak sendiri, ngurus diri sendiri saja anggi malas."


Karna ini merupakan perbuatan adit, anggi mengadukan perbuatan abangnya, ya iyalah diaduin, masak orang lain yang salah mereka yang kena batunya.


"Mam salah alamat, kalau mau marah-marah, sama bang adit ma, dia tuh yang nyolong bunga-bunga mama, dikasihin kepacarnya dia."


"Adit, astaga, ternyata anak itu."


"Dikamar ma, marahin dia ma."


"Diam, ini juga salah kalian semua." masih saja mereka dibawa-bawa, padahal pelaku utamanya sudah ketahuan.


Karna statusnya sebagai anak, anggi punya keberanian buat menjawab, "Salag gimana sieh ma, jelas-jelas bang adit yang salah sepenuhnya, kenapa kami masih dibawa-bawa juga."


"Iya nyonya bener." timpal surtinah.


"Iya nyonya, salah tuan adik kenapa-napa kami juga kena marah." satpam menyambung.


"Ini jelas salah kalian, kalau kalian menjaga dan merawat bunga-bunga kesayangan saya, tuh anak nakal juga tidak bakalan mungkin bisa nyolong."


"Salah lagi." ujar anggi dengan suara yang tidak bisa didengar oleh mamanya.


Sementara dalam hati surtinah berucap, "Nyonya rumah selalu bener, pembantu selalu salah."


"Anak itu, dimana dia sekarang."


"Tidur ma, ngapain lagi."


Langsung saja sik mama melebarkan langkahnya menuju kamar adit.


"Syukur alhamdulillah." seru sik satpam dan tiga sopir itu bersamaan begitu nyonya rumah beralih untuk memarahi adit.


Adit yang tidur-tidur ayam sampai kaget karna pintu kamarnya dibuka dengan kasar, serasa seperti pintunya didobrak.


"Kaget gue." serunya memegang dadanya.


"Adittttt."


"Eh, mama, bikin kaget saja, kapan pulang ma, mama kangen ya sama adit, sampai nyamperin adit segala."


Mamanya langsung nyamperin adit dan menjewer telinga adit, "Dasar ya kamu, anak nakal, bisa-bisanya kamu nyolong bunga mama."


"Ampun ma, ampun sakit."


"Tahu rasa kamu ya."


"Ma sakit, lepasin, lagian itu cuma bunga ma, masak mama tega menjewer telinga adit hanya karna bunga."


"Apa kamu bilang, cuma bunga, bunga-bunga itu mama rawat seperti anak sendiri dan mama besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta."


Dijawab begini oleh adit, "Cuma orang yang tidak waras yang menyayangi bunga daripada anaknya."


"Apa kamu bilang, kamu bilang mama gak waras, dasar anak durhaka." makin keras tuh telinga adit mendapat jeweran.


Anggi tertawa melihat tontonan menghibur didepannya, "Makanya bang adit, jangan nakal, kayak anggi donk penurut."


"Awas lo ya, lo ketawa diatas penderitaan gue lagi."


Alya berhenti menjewer telinga anaknya ketika melihat luka-luka lebam yang masih tercetak jelas diwajah adit akibat peristiwa perkelahian dalam rangka menyelamatkan ayu.


"Kenapa lagi ini, wajahmu, astaga kamu berantem lagi ya."


Adit mencoba berkilah, "Gak ma, adit cuma jatuh doank kok."


Anggi menimpali,"Mana ada orang jatuh lukanya seperti itu ma, bang adit pasti udah berantem."


"Kamu itu ya, dasar anak nakal." mamanya memukul bokong adit, persis kayak anak kecil.


"Sakit mama."


"Makanya, jadi anak jangan nakal."


"Rasain." ledek anggi.


***********


Malam itu arman berfikir keras bagaimana caranya mengajak ayu untuk datang kerumahnya, hingga dia tidak sadar ketika anggi menghampirinya.


"Ngelamun aja bang, ngelamunin mbak ayu ya."


"Tau aja nieh bocah."


"Gimana perkembangannya bang, udah ada kemajuan belum."


"Biasa aja."


"Gimana sieh abang, usaha donk, jangan kerjaan aja yang diurusin."


"Kamu mau bantuin abang gak."


"Mau, mau." anggi antusias, "Tapi ada komisinya kan bang."


"Kamu ini ya, gak ikhlas banget nolongin abangnya."


"Gak ada yang gratis bang didunia ini."


"Ya udah, nanti abang tambahin uang jajannya."


"Asyiikkk, emang abang mau dibantuin apa."


"Kamu bisa gak bujukin ayu buat main kerumah."


"Bujukin mbak ayu, main kerumah, kecil itu mah, tapi kok abang cemen banget sieh, ngajak mbak ayu kerumah saja gak bisa."


"Sudah jangan ledek abang, kamu mau uang jajan gak."


*********


Minggu pagi itu arman dan anggi datang kerumah ayu, tujuannya adalah untuk membujuk ayu untuk ikut kerumah mereka.


Ketika mobil arman sampai dikediaman keluarga ayu, arman melihat ayu tengah menyiram tanaman bunga.


"Rajin banget sik ayu, bener-bener wanita idaman." gumamnya karna ini untuk kedua kalinya dia melihat ayu menyiram tanaman ketika dia berkunjung kerumah ayu.


Ayu langsung menghentikan aktifitasnya begitu melihat mobil arman.


"Mas arman, ngapain datang pagi-pagi begini."


"Mbak ayu." jerit anggi begitu turun dari mobil, anak itu langsung berlari mengahampiri ayu.


"Anggi."


Anggi langsung memeluk ayu, "Mbak, anggi kangen tau."


"Iya, mbak juga."


"Mbak bohong."


"Lho, kok bilang mbak bohong, mbak beneran kangen dengan adikk bawelku ini." ayu menjawil hidung anggi dengan gemes.


"Terus, kenapa mbak ayu gak pernah main kerumah anggi."


"Mbak kan sibuk sayang, banyak tugas dari kampus."


"Oh, gitu."


"Mbak ayu makin hari kok makin cantik seih." anggi memuji.


"Ah, masak sieh, tapi jauh cantikan kamulah."


"Itu sieh udah pasti." ujar anggi narsis.


"Ih, anak ini yah." ayu mencubit pipi anggi.


Dua gadis berbeda usia itu bercanda satu sama lain. Arman tersenyum melihat intraksi antara adiknya dan ayu sebelum berjalan mendekati mereka.


"Pagi yu." sapa arman yang menghampiri dua orang tersebut.


"Pagi mas."


"Sorry ya yu, pagi-pagi gini kami udah ganggu."


"Gak ganggu kok mas."


"Tuhkan bener mas, kalau kita numpang sarapan juga gak ngrepotin kan mbak." cerocos anggi tanpa tau malu.


"Aduh, anggi, anggi, anak itu yah, bisa gak dia mengkondisikan mulutnya." gumam arman dalam hati, "Anggi, kamu ini yah, jangan bikin malu abang." peringat arman.


Ayu terkekeh mendengar ucapan anggi, "Gak apa-apa kok mas."


Jawaban anggi semakin membuat arman bertambah malu, "Habisnya abang sieh, gak sabaran ngajakin anggi buat ketemu sama mbak ayu, jadinyakan anggi gak sempat sarapan tadi."


"Nieh bocah, kalau ada orang jual penyaring kata, berapapun harganya akan aku beli deh, kerjaannya bikin aku malu melulu." arman jadi tidak punya muka.


"Maaf ya yu, anggi emang gitu anaknya, suka ceplas ceplos."


"Gak apa-apa kok mas, kalau gitu ayok masuk, kita sarapan bareng."


"Asyiikk." seru anggi kayak anak yang tidak makan tiga hari saja, padahalkan dirumahnya dia bisa makan apapun yang dia inginkan.


"Gi, bisa tidak jangan bikin malu abang." ujar arman membisiki adiknya.


"Maaf bang, habisnya kesenangan sieh ditawarin makan sama calon kakak ipar." anggi menjawab dengan berbisik pula.


"Maaf ya yu ngerepotin." arman merasa tidak enak.


"Gak ngerepotin kok mas, sungguh."


Ayu langsung membawa dua tamunya itu menuju meja makan, disana sudah ada arya yang fokus dengan korannya, sedangkan mbak ajeng masih menata makanan di meja, putri duduk dengan manis menunggu mamanya mengambilkan sarapan untuknya.


"Wah, ada tamu agung ini, mari silahkan." ajeng menyapa ramah.


"Om ganteng." antusias putri langsung turun dari kursi yang didudukinya dan berlari menghampiri arman, arman berjongkok dan merentangkan dua tangannya untuk menyambut putri, putri langsung menubruk tubuh arman dan membawa putri dalam gendongannya.


Arya mengalihkan perhatiannya dari koran pagi yang dibacanya, melihat kearah arman yang menggendong putrinya.


"Ih gemessnya." anggi mencubit pipi gembil putri dengan gemes.


"Sini sama kakak."


Putri mengeratkan pelukanya dileher arman, "Gak mau, putli maunya sama om ganteng."


"Anak siapa sieh ini, genit banget, kecil-kecil udah tau namanya orang ganteng, pasti mamanya juga genit." anggi jelas bercanda mengatakan hal itu.


Tapi ajeng pastinya tersinggung mendengar ucapan anggi, yang mengatakan dirinya genit, dulu sieh emang gentit, tapikan sekarang sudah gak lagi.


"Jaga bicara kamu ngi, jangan asal ceplas-ceplos gitu." arman memperingati adiknya dengan suara kecil.


"Hehe, maaf bang, habisnya kebiasaan."


"Arman, tumben kamu datang." arya menyapa.


"Iya mas, gak apa-apakan saya dan adik saya mengganggu pagi-pagi begini."


Ajeng yang menjawab, "Udah pasti gak mengganggu donk, ayok duduk, kita sarapan bareng."


"Duduk mas, anggi." ayu mempersilahkan.


"Ayok putri turun dulu, om armannya mau sarapan itu." ajeng membujuk buah hatinya.


"Gak mau, putli kan kangen sama om ganteng."


"Gak apa-apa mbak, namanya juga anak-anak." lirih arman.


"Putri." tegur arya, putri langsung melepas rangkulannya dileher arman, "Turun."


Tanpa membantah, bocah kecil itu turun dan kembali duduk dikursinya.


Terjadi obrolan dimeja makan itu, arya yang biasanya tidak suka bicara sambil makan gak enak menjalankan peraturannya karna arman dan adiknya adalah tamu. Dalam hati sebenarnya arya kesel, bukan sama armannya, arman sieh bicara hal yang penting yaitu masalah pekerjaan, anggi yang membuat arya kesel, anak itu main nimbrung saja tanpa tau apa yang diobrolkan oleh orang dewasa.


***************