
Setelah acara makan malam, Sakti pamit pulang menuju apartmennya.
Ajeng memberi saran "Sekalian anterin karin juga ya sakti"
Karin juga masih belum pulang dikarenakan sakti juga belum pulang, dia betah berlama-lama disanakan karna sakti. Dalam hati karin sangat berterimakasih karna ajeng bener-bener menepati janjinya yaitu berusaha membuatnya dekat dengan sakti.
" Kamu gak bawa mobil" Sakti bertanya pada karin.
"Gak mas,"
Dalam hati sakti menggumam, "Nieh cewek ngerepotin gue aja"
Sebenarnya karin tidak membawa mobil atas saran ajeng, sempat bingung juga ketika ajeng menelpon dan menyuruh datang kerumah dan dilarang membawa mobil. Karin baru mengerti alasan ajeng yang menyuruhnya tidak membawa mobil karna hal ini.
"Tapi sopir kamu akan jemputkan" Tanya sakti berharap karin menjawab "Iya"
"Sopir pribadi keluarga jam segini dibebas tugaskan mas,"
Ayu menimpali, "Oleh karna itu mas, mas saktilah yang bertugas mengantar karin, gak mungkinkan karin naik taksi malam-malam begini,"
"Baiklah," ujar sakti akhirnya. Dia sebenarnya gak mau mengantar karin tapi gak tega juga dia kalau karin pulang naik taksi.
Dalam hati karin bersorak bahagia "Yessss, akhirnya bisa berdua dengan mas sakti"
"Titip karin ya mas sakti, jaga dia dengan nyawa mas, karna kalau terjadi apa-apa dengan karin, mas akan ayu pecat jadi kakak." ujarnya bercanda.
Karin terharu mendengar kalimat ayu, ternyata ayu menyayanginya.
Respon sakti, "Dia udah gede yu, gak perlu dijaga, kalian sebagai perempuan jangan biasain diri bergantung pada orang lain, belajar untuk mandiri"
Ujar ayu dalam hati, "kok mas sakti kayak nyindir aku sieh"
Kalimat sakti membuat semangat karin melemah, "Kenapa mas sakti susah untuk ditaklukkan sieh, ih jadi gemes deh, tapi gue gak boleh nyerah, semangat karin." menyemangati diri sendiri.
Sebelum pergi karin melakukan kegiatan rutinnya yaitu berpelukan dan cupika-cupiki sebelum kemudian melambai sebelum mobil pergi.
*******
Ayu menaiki tangga menuju lantai dua karna kelasnya ada disana.
Beberapa cowok tengah nongkrong dipertengahan tangga, entah apa yang tengah mereka bahas, ayu yang akan menapaki tangga pertama berhenti begitu melihat cowok-cowok itu, ayu jelas malu kalau harus melewati cowok-cowok tersebut, tapi mau bagaimana kalau lewat tangga satunya lagi tambah jauh, bisa-bisa dia terlambat mengikuti perkuliahan, apalagi dosennya adalah pak zaki.
Dengan memantapkan hatinya dan berusaha menghilangkan rasa malunya, ayu menaikkan kakinya ditangga pertama, semakin dekat dengan kumpulan cowok itu rasa grogi mulai menguasainya.
Kumpulan cowok-cowok yang tengah ngrumpi tersebut mengalihkan perhatian mereka begitu mendengar suara langkah.
Karna dipandang sedemikian rupa oleh beberapa pasang mata, ayu reflek menunduk.
"Ya tuhan, malunya." batinnya.
"Eh, ada bidadari cantik mau lewat"
"Jangan nunduk gitu neng, gak ada uang koin dibawah, mending lihat wajah ganteng abang dah" goda cowok-cowok itu.
Ayu makin salting, ingin rasanya berbalik tapi demi mengingat pak zaki dia menguatkan mentalnya, apalagi dia sudah dicap sebagai murid tidak patuh peraturan oleh pak zaki, belum lagi ponselnya yang disita belum dikembalikan lagi.
Salah satu dari cowok itu, menghadang jalan ayu.
"Permisi mas, saya mau lewat" pinta ayu sopan.
"Kalau mau lewat bayar pajak dulu neng,"
"Eh, pajak apaan" bertanya polos.
"Nieh," cowok itu menyodorkan ponselnya pada ayu, ayu menatap ponsel itu bingung "Catat nomernya, pasti aku simpen dengan nama sayang" gombal cowok tersebut.
"Duh sik kacrut, paling bisa ngegombalnya" Komen cowok satunya yang rambutnya berponi ala-ala korea.
"Ayok, catat nomernya neng,"
"Gimana ini" bimbang ayu, fikir ayu kalau gak dikasih pasti nieh cowok tidak membiarkannya melanjutkan perjalanan, kalau dikasih, masak ngasih orang asing sieh, batinnya jadi berperang. Ketika dia sudah berniat membacakan nomer ponselnya, salah satu dari cowok itu
bertanya pada ayu.
"Nama lo ayukan,"
"Iya mas,"
Tidak cuma ayu yang heran tapi cowok -cowok itu heran kenapa temannya tau nama gadis yang baru mereka lihat.
"Heh, kok lo bisa tau nama nieh cewek,"
Tidak mengindahkan pertanyaan temannya barusan, cowok itu kembali bertanya "Lo anak jurusan HI kan."
Ayu mengangguk bertambah heranlah dia, belum habis herannya, cowok tadi kembali melayangkan pertanyaan.
"Lo kenal aditkan"
"Iya"
Cowok yang bertanya itu menepuk pundak cowok yang meminta nomer ayu, dia memberitahu, "Berdoa saja lo supaya tidak digantung oleh adit"
"Maksud lo" tidak mengerti.
"Nieh cewek pacarnya adit,"
"Apa" reaksi mereka bersamaan " Yang bener lo"
"Benerkan lo ceweknya adit," cowok yang mananyai ayu memastikan.
Sebenarnya ayu ingin menjawab tidak, karna dia dan adit memang tidak pacaran, tapi fikirnya kalau dia mengiyakan pertanyaan tuh cowik dia pasti akan dibiarkan lewat tanpa diganggu, akhirnya dia mengangguk dan mempertegasnya dengan mengatakan, "Iya, saya pacarnya mas adit," setelah mengatakan hal itu dia merasa bersalah karna berbohong " Ya allah ampuni hambamu karna berbohong," doanya dalam hati.
Informasi itu membuat cowok-cowok itu langsung menyingkir memberikan jalan untuk dilewati ayu, ya iyalah, berani menggangu milik adit berarti udah siap masuk UGD.
Ayu memanfaatkan kesempatan untuk pergi kekelasnya.
"Anjir lo ya, kenapa dari tadi lo gak ngasih tau kalau tuh cewek pacarnya adit, duh mampuslah gue kalau tuh cewek ngadu, kalau gue gangguin dia"
Temen-temennya bukannya simpati dengan kekhawatiran temannya, mereka malah mentertawakannya.
"Hahaha,,"
"Makanya jadi cowok jangan ganjen, setiap lihat cewek manis dikit main ngegombal, tau rasa lo sekarang"
" Setan lo semua tertawa diatas penderitaan sahabat sendiri"
Ayu masih bisa mendengar percakapan itu, karna gak fokus begitu dia akan menaikkan kakinya ditangga terakhir, kakinya yang dilapisi sepatu keds tersandung, tubuhnya limbung kedepan, beruntungnya dia ada yang menahan tubuhnya, tapi bibirnya itu lho langsung menempel dipipi orang yang menolongnya, dan orang itu ternyata adalah adit yang kebetulan juga akan menuruni tangga.
Tentu yang melihat adegan itu bersuit.
"Maaf mas, maaf," paniknya, selain itu juga ini merupakan ciuman pertamanya,
"Bibirku, sudah gak perawa lagi." rintihnya
Ayu melotot begitu melihat bekas lipstiknya menempel dipipi adit, "Astaga," Ayu buru-buru mengaduk tasnya untuk mencari tisu guna membersihkan bekas lipstik tersebut. Tangan ayu terulur kepipi adit untuk membersihkan bekas lipstik tersebut, bukannya membiarkan ayu membersihkan pipinya, adit malah menahan tangan ayu.
"Aku ikhlas kok kalau itu bekas bibir kamu"
"Cie,cie," gelombang cie terdengar disekitar mereka.
Ayu malu berat, dia menunduk tidak berani menampakkan wajahnya, ingin rasanya dia bersembunyi.
"Aku tidak akan akan mencuci wajahku tujuh hari tujuh malam, biar semua orang tau kalau kamu pernah nyium aku"
"Duh jadi baper," komen salah satu mahasiswa yang ada disana.
"Apaan sieh mas adit ngegombalnya gak pilih tempat bikin aku malu aja,"
Untungya karin datang,dia terlihat terges-gesa, dia langsung mengerem langkahnya begitu melihat ayu.
"Ayu, kenapa lo malah berhenti disini, ayok cepetan ntar telat lagi, bisa keluar nanti tanduknya sik daki kalau kita terlambat" karin tidak menyadari ada adit disana.
"Eh, adit ternyata," sapanya begitu melihat adit, "maaf ya dit, lo jangan tahan ayu untuk saat ini, karna kalau dia telat dimata kuliahnya sik daki bisa berabe urusannya" jelasnya.
Setelah menyelsaikan kalimatnya karin langsung menarik ayu menjauh.
******