I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
I Love You Ayy



Mereka berjalan memasuki area pasar malam dengan telapak tangan saling bergandengan. Ayu menghentikan langkahnya, adit otomatis juga melakukan hal yang sama. Mata ayu mengarah pada penjual permen kapas atau yang lebih dikenal dengan sebutan arum manis. Adit mengikuti arah pandangan ayu dan bertanya.


"Kamu ingin itu ayy."


Ayu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan adit, "Yuk," ajak adit melangkahkan kakinya kearah penjual yang menjual permen kapas tersebut.


"Mas, arum manisnya satu." pinta adit.


Ayu mengambil permen itu dengan pandangan berbinar, mencubitnya dan memasukkan kemulutnya.


"Maniss." lirihnya.


"Kamu lucu banget ayy." komen adit melihat tingkah ayu yang mirip anak kecil.


"Lucu kayak badut ya maksudnya."


"Kok kayak badut sieh, kamu itu lucunya gemesin, suka bikin aku jadi ingin nyubit." jelas adit.


"Apa sieh mas, ayukan bukan anak kecil yang pipinya bisa dicubit-cubit."


Adit terkekeh mendengar kalimat ayu, "Kalau tau arum manis bisa membuat kamu tersenyum seperti ini, sekalian aja aku beliin sama gerobaknya, sama abang-abangnya juga kalau perlu."


"Ih, gombal."


Melihat ayu yang memakan dengan nikmat membuat adit ingin mencicipi.


"Enak banget ya ayy, sampai makannya rakus begitu."


Ayu langsung menghentikan suapannya mendengar kalimat adit, dia kemudian menawari, "Mas mau." ayu menyodorkan permen kapas tersebut kedepan adit.


"Dulu waktu kecil sieh mama sering beliin tapi rasanya biasa-biasa aja, tapi melihat kamu makan dengan lahap, mungkin ini enak." lalu dengan jari tangannya adit mengambil dan memasukkannya kemulutnya, dan komentarnya, "Biasa aja, sama seperti dulu."


Ayu memakan harum manis langsung dengan bibirnya dan berkata, "Ini enak lho mas, manis, mungkin indra perasa mas aja yang salah."


Adit langsung menggigit permen bekas gigitan ayu, "Mmm, iya beneran enak dan manis, ternyata rahasianya ada dibekas bibir kamu ayy."


"Apa sieh mas." wajah ayu memerah karna ulah dan kata-kata adit barusan. Sumpah jantung ayu berdebar tidak karuan saat ini.


Adit tersenyum, gemes dia tiap kali melihat ayu malu-malu begitu.


"Lihat," tunjuk adit pada stand permainan, "Sepertinya seru, kesana yuk."


Kembali adit menggenggam telapak tangan ayu dan menuntunya kestand permainan.


"Silahkan mas, mbak." sapa penjaga stand tersebut ramah.


Distand tersebut terdapat berbagai jenis permainan, tapi yang dipilih adit adalah permainan melempar gelang karna menurutnya itu adalah permainan yang gampang. Dan kalau berhasil memasukkan gelang kebotol maka mereka bisa mendapatkan hadiah berupa boneka.


"Kamu mau boneka yang mana ayy." tanya adit percaya diri.


"Yang itu mas." jari telunjuk ayu mengarah pada boneka beruang besar berwarna cokelat.


"Aku akan mendapatkannya untukmu." janji adit.


Adit mengambil ancang-ancang, dan dengan tangan dan kekuatan adit melempar gelang tersebut menuju sasaran, tapi sayang melenceng dari sasaran.


"Sial,"


"Yah, gagal." ujar ayu kecewa, "Ayok mas coba lagi."


"Hmm, kali ini pasti berhasil."


Adit kembali konsentrasi, dia sampai memicingkan matanya menuju sasaran.


"Semangat mas adit."


Adit melempar gelang kedua idan ternyata gagal lagi.


"Akhhhh," keluhnya.


Ternyata permainan tersebut tidak semudah yang dibayangkan, buktinya adit sudah melempar puluhan gelang tapi belum satupun yang mengenai sasaran.


"Mas, udah deh ya, mending kita cari permainan lain yang lebih gampang." ayu yang hanya jadi penonton aja udah bosan.


"Aku orangnya pantang menyerah ayy, aku harus mendapatkan apa yang aku mau, termasuk mendapatkan boneka itu untuk kamu."


Cewk mana sieh yang tidak terharu dan baper melihat perjuangan adit. Lebih-lebih ayu yang berhati lembut, matanya sampai berkaca-kaca.


Dan akhirnya, setelah berjuang keras, ternyata usaha tidak menghianati hasil, adit akhirnya berhasil mengenai sasaran dan mendapatkan boneka beruang besar itu untuk ayu. Ayu menerima boneka itu dengan suka cita, "Makasih mas adit." ayu mencium boneka itu dengan sayang.


"Jangan bonekanya aja donk yang dicium, yang usaha sampai ngeluarin keringat juga dicium donk." adit menyodorkan pipinya untuk dicium.


"Ih, mesum."


Adit terkekeh, dia suka menggoda ayu.


Mereka mengitari pasar malam, sampai mereka berhenti didepan rumah hantu.


"Jangan bilang mas berfikiran masuk kesana." ungkap ayu.


"Kok kamu bisa membaca fikiranku sieh" jawab adit bercanda.


"Kalau mas masuk, aku gak ikut ya, aku takut hantu soalnya."


"Pokoknya aku gak mau masuk situ mas, aku takut."


Adit menggenggam tangan ayu dan berujar, "Apa kamu percaya sama aku," pandangan adit begitu lembut sehingga membuat ayu terkesima dan mengangguk.


"Aku akan menjagamu ayy, bahkan dengan nyawaku sekalipun, jadi jangankan hantu bohongan, naga sekalipun akan kuhadapi demi melindungi kamu." bikin baper aja sik adit.


Ayu akhirnya dengan pasrah masuk kerumah hantu tersebut. Suasana didalam bener-bener dibuat seseram mungkin. Ayu sampai memeluk lengan adit saking takutnya.


"Gak usah takut ayy, mereka itu cuma hantu bohongan." namun adit tersenyum senang karna ayu yang memeluk lengannya dengan erat.


Setelah memutari area rumah hantu tersebut, mereka akhirnya keluar atas desakan ayu. Adit sebenarnya belum ingin keluar, seneng dia karna kalau hantunya muncul ayu pasti akan memeluknya.


Ayu ingin naik biang lala sebelum pulang, adit menyanggupinya.


Dari ketinggian ayu memandang indahnya pemandangan kota jakarta yang dihiasi kerlap-kerlip lampu. Wajah ayu dipenuh dengan senyuman, sudah sangat lama ayu tidak merasakan perasaan seperti.


"Inikah saatnya," batin adit "iya, aku harus mengatakannya sekarang." adit memang berniat menyatakan cintanya pada ayu, dalam artian yang sebenarnya bukan karna taruhan itu. Adit tidak menyadari sejak kapan perasaannya tumbuh, yang dia tahu, dia bener-bener bahagia melihat senyum ayu dan dia tidak ingin menghilangkan senyum itu dari bibir ayu, dia suka melihat ayu yang malu-malu jika digombali, dia suka melihat mata polos ayu, dan intinya dia menyukai semua tentang ayu.


Adit merupakan cowok berpengalaman, baginya sangat mudah untuk menaklukkan cewek yang dia mau, tapi entahlah saat ini keringat membanjiri pelipisnya saking groginya.


"Ayy." adit gugup.


Sebelum dia mengeluarkan pernyataan cintanya, tepat ketika posisi mereka diatas, biang lala itu berhenti.


Ayu jelas ketakutan, "Kenapa ini, apa yang terjadi." ayu heboh, "Gimana ini mas,"


"Ayy, ayy," adit meraih tangan ayu dan menggenggamnya, adit berusaha membuat ayu tenang, "Tidak akan terjadi apa-apa percaya padaku."


Ayu mengangguk, entah kenapa perasaanya terasa tenang jika adit mengucapkan kalimat "Percaya padaku."


Dan bener kata adit, biang lala itu kembali berputar normal kembali. Dua orang itu mendesah lega.


Ayu mendapat pesan dari karin memintanya untuk kembali, karin juga memberitahu kalau arya menelpon untuk mencari tahu apa yang ayu lakukan dirumah karin, alasan karin untuk mengelabui arya adalah dengan mengatakan kalau ayu sudah tidur.


Adit melajukan motornya untuk mengantar ayu kembali kerumah karin. Agak susah memang karna beban yang dibawa bertambah yaitu membawa boneka ukuran jumbo yang didapatkan dari permainan melempar gelang.


"Maksih mas, ayu bahagia malam ini." ujar ayu dengan bibir penuh senyum.


"Apa masih ada lain kali." adit bertanya penuh harap.


Ayu mengangguk membuat senyum tercetak dibibir adit.


"Mas aku masuk dulu ya, mas sebaiknya pulang, udah malam."


Ayu berbalik, namun baru satu langkah dia kembali membalikkan badannya karna panggilan adit.


"Ayy,"


"Iya mas."


"Apa aku boleh minta pendapat kamu."


"Boleh, tentang apa."


"Aku tau aku cowok brengsek."


"Mas gak brengsek."


"Apakah itu benar."


"Kalau mas brengsek mas gak mungkinkan nolong aku, nyelamatin aku dari tauran, nganterin aku dengan selamat, ngirimin aku coklat saat aku sakit,"


Penjelasan ayu membuat adit mendapatkan harapan, "Menurut kamu, apa aku salah mencintai gadis baik-baik."


"Gak salah, setiap orang berhak kok jatuh cinta kepada siapapun."


"Aku mencintaimu." ungkap adit sebelum keberaniannya menguap.


Ayu terkejut gak percaya dengan apa yang didengarnya, yang dia katakan malah, "Mas jangan bercanda."


"Aku gak bercanda ayy, aku serius." adit meyakinkan.


"Maksud m......"


"I LOVE YOU AYY." adit memberi penekanan pada tiap kalimat sakral yang dia ucapkan.


Ayu rasanya tidak bisa membuka bibirnya, dia tidak tau harus merespon bagaimana dengan kondisi ini karna ini untuk pertama kalinya ada yang mengatakan kalimat tersebut.


"A..ak..aku."


Adit menempelkan jari telunjuknya dibibir ayu.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, fikirkanlah dulu, apapun keputusanmu akan aku terima."


Karna lidahnya terasa kelu ayu hanya bisa mengangguk.


"Sebaiknya kamu masuk gieh sana."


Masih belum bisa berkata-kata ayu hanya mengangguk, sambil memeluk boneka beruang besar itu ayu melangkah, dia tau adit belum pergi, sumpah dia ingin berbalik tapi dia malu karna hampir semua wajahnya memerah.


*********