I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Kencan Di Rooftop



"Mas, mau kemana kita." tanya ayu karna adit menggandeng tangannya menaiki tangga.


"Kamu capek ayy, apa mau ku gendong."


"Apaan sieh mas, emang aku anak kecil apa." ujar ayu.


"Siapa tau aja gitu, kalau kamu capek, punggungku selalu siap sedia untuk menggedong kamu."


"Emang mas kuat gitu gendong aku, aku berat lho mas."


"Kalau cinta sudah berbicara, mau kamu seberat gajah sekalipun, aku pasti sanggup menggendong kamu."


Ayu tertawa, "Aku gak seberat itu juga kali mas." imbuh ayu, "Emang kita mau kemana sieh mas."


"Ntar juga kamu tau sendiri." jawab adit sok misterius, "Jalan lagi yuk." ajak adit yang diangguki oleh ayu.


Mereka kembali menaiki tangga, ternyata adit membawa ayu ke rooftop kampus.


Mata ayu berbinar, dari atas sini dia bisa melihat pemandangan kota jakarta yang padat dengan perumahan penduduk.


"Bagaimana, kamu sukakan." seru adit melihat wajah antusias ayu.


"Suka mas, disini tenang dan nyaman."


"Tempat ini memang tempat kencan yang nyaman, tenang, jauh dari kebisingan dan yang pastinya sieh gak perlu ngeluarin biaya buat kencan disini."


Dari dalam tasnya, adit mengeluarkan beberapa makanan dan minuman, meletakkannya dilantai rooftop.


"Mas mempersiapkan semua ini."


Adit mengangguk, "Aku ingin memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya untuk bersama kamu ayy, pasalnya, selain dikampus kita susah untuk bertemu."


Wajah ayu berubah murung mendengar kalimat adit, adit tidak memperhatikan perubahan wajah ayu karna sibuk menata makanan dan minuman yang dikeluarkan dari tasnya.


"Mas."


"Iya."


"Mas jenuh ya pacaran dengan ayu."


"Jenuh, gak kok, aku gak jenuh, kenapa kamu nanya gitu ayy."


Ayu menghela nafas, "Karna kita tidak seperti orang pacaran lainnya, kita tidak pernah bisa kencan malam minggu layaknya pasangan pada umumnya."


"Hei," adit menangkup wajah ayu, "Gak penting apakah kita tidak bisa keluar kencan tiap malam minggu, gak penting kita tidak seperti pasangan lainnya, yang penting adalah aku mencintai kamu, dan akan memperjuangkan kamu apapun yang terjadi, bahkan kalau mas arya berubah jadi hulk sekalipun, aku akan tetap maju tak gentar."


Ucapan adit mampu membuat ayu tersenyum lebar, dia mencubit lengan adit, "Mas fikir, mas arya apaan, mana bisa berubah jadi hulk."


Senyum ayu menular pada adit, "Nah gitu donk senyum, kan manis, kalau cembrut seperti tadikan jelek."


Demi mendengar ledekan adit, ayu semakin manyun, "Lha, kok tambah manyun sieh, senyum lagi donk sayang." adit meletakkan masing-masing jari telunjuknya disudut bibir ayu, lalu menekannya kearah atas untuk menciptakan senyum dibibir ayu.


Mau tidak mau ayu tersenyum juga dengan perlakuan adit, "Nah gitu donk senyum lagi, jangan pernah hilangkan senyum manis ini dari bibir kamu, karna senyummu merupakan semangatku."


"Ih, gombal."


"Gak gombal sayang, ini kenyataan."


Wajah ayu memerah, karna gemes, adit mencium pipi ayu yang memerah.


Ayu kaget, "Mas, jangan cium sembarangan."


Adit terkekeh, "Habisnya gimana donk, gemes banget lihat pipi kamu yang memerah, tapi kamu gak marahkan."


"Hmm, tapi lain kali jangan diulangin ya."


"Gak janji, soalnya dorongan untuk khilaf jika aku didekat kamu terlalu besar."


"Ih, dasar mesum."


"Gak apa-apa donk sayang kalau mesum sama pacar sendiri."


"Apaan sieh mas, dosa tau."


"Gini deh kalau pacaran sama cewek alim, ngingetin dosa mulu." batin adit, "Iya deh, aku gak bakalan macam-macam sampai aku halalin kamu." janji adit.


"Hmmm."


"Mending kita duduk yuk, kamu pasti lapar."


Ayu mengangguk dan mengikuti adit untuk duduk menikmati makanan yang dibawa oleh adit untuk acara kencan mereka.


"Ayy."


"Hmmm."


"Ntar malam temenin ya."


"Temenin kemana."


"Ke acara ulang tahun temenku."


"Aku gak bakalan diizinin mas sama mas arya."


"Kan bisa beralasan bilangnya buat tugas ayy."


"Takut dosa mas, kalau bohong."


"Ih, gemes deh kalau punya pacar polos gini." adit greget.


"Masak kamu tega sieh ngebiarin aku pergi sendirian, mereka pada bawa pasangan lho."


Ayu terlihat berfikir, "Ayok ayy, ya, kali ini saja." adit memohon.


"Tapi, acaranya gak lamakan mas."


Wajah adit terlihat berbinar karna meskipun belum diiyakan setidaknya kalimat ayu memberikan harapan, "Gak bakalan lama kok, aku janji."


"Aku gak janji mas, tapi aku bakalan usahain kok."


"Itu sudah cukup buat gue seneng kok."


Adit lalu menidurkan kepalanya dipaha ayu, memandang ayu dari bawah, ayu mengarahkan matanya kearah lain, malu donk dia ditatap adit begitu.


"Mas, bangun ih, gak enak."


"Gak enak sama siapa, disini sepi kok."


"Tapi mas.."


"Gak ada tapi-tapian, aku ingin mengistirahatkan kepalaku dipangkuan pacarku." tandas adit.


"Ayy, lihat sini kek, masak pacarnya disini matanya kearah lain, emang ada pemandangan lebih menarik daripada aku."


"Gemes deh, lihat pacarku kalau malu-malu begini." adit mencubit pipi ayu.


"Sakit mas, lepasin."


Adit terkekeh, "Aku ingin selalu seperti ini ayy, selalu bersama."


"Aku juga mas."


"Kamu tidak akan ninggalin akukan."


"Yang ada mas kali yang bakalan ninggalin aku."


"Aku tidak akan melakukan hal itu." janji adit dan berhasil membuat mata ayu berkaca-kaca.


**********


"Mas." ayu mendekati arya.


"Hmmm."


"Ayu mau ngerjain tugas bersama karin, boleh ya."


Arya yang sibuk dengan leptopnya memberikan perhatiaan sepenuhnya pada adiknya, "Kenapa tidak ngerjainnya disini saja, suruh karinnya yang kemari."


"Ayu tidak hanya ngerjain tugas sama karin mas, tapi dengan beberapa temen lainnya." ayu sudah pintar berbohong sekarang.


"Baiklah, suruh pak rahmat nganterin kamu."


"Baik mas."


"Dan ayu, jangan pulang terlalu malam." pesan arya.


"Baik mas."


Pak rahmat mengantar ayu sampai depan rumah karin, sebelum dia pergi dia melayangkan pertanyaan, "Mau di jemput jam berapa neng."


"Nanti ayu kabarin ya pak."


"Baiklah kalau gitu neng."


Mobil yang dibawa pak rahmat meluncur, diseberang jalan dengan memakai pakaian serba gelap adalah adit yang sudah menunggu kedatangan ayu.


Ayu menghampiri adit yang langsung membuka helm full facenya.


"Berangkat sekarang mas."


Adit mengangguk, tapi sebelumnya dia memasangkan helm yang baru dibelinya dikepala ayu.


"Ini helm siapa mas."


"Helm kamu."


"Maksudnya."


"Ini helm yang baru aku beli buat kamu, karna kamu akan jadi penumpang tetap motorku."


Ayu tersenyum, "Udah yuk naik."


Motor adit melaju membelah kepadatan jalan raya, 30 menit kemudian, motor itu berhenti disebuah bar yang cukup mewah.


"Mas, kenapa berhenti ditempat seperti ini." heran ayu, sepanjang hidupnya ayu tidak pernah datang kebar, ini untuk pertama kalinya dia kemari.


"Kan pestanya disini."


Ayu memandang bangunan bar tersebut dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan, bukan menjadi rahasia lagi kalau ayu tidak suka keramaian, apalagi bar yang super berisik, penuh dengan orang yang mabuk. Melihat kekhawatiran diwajah ayu, adit menenangkan.


"Aku janji, kita didalam cuma sebentar dan langsung pergi."


Ayu mengangguk dan menggenggam telapak tangan adit. Namanya juga bar, suasana didalam hingar bingar oleh dentuman musik, wanita berpakain minim lalu lalang membawa gelas berisi alkohol.


"Hai dit, tumben nieh kemari, makin tambah ganteng saja." seorang wanita berpakaian super minim menyapa adit, wanita tersebut bahkan mencolek dagu adit.


"Sinta, kondisikan tangan lo."


"Upsss, sorry gue gak lihat lo bawa mangsa baru."


Ayu jelas tersinggung mendengar ucapan gadis bernama sinta tersebut.


"Tutup mulutmu sin." bentak adit.


Sinta menarik garis lurus didepan bibirnya seolah-olah bibirnya memiliki resleting, "Selamat bersenang-senang, gue gak akan ganggu lo." ucapnya sambil berlalu.


Sekarang suasana hati ayu memburuk, dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.


"Ayy, jangan dengerin kata-kata sinta barusan oke."


"Hmmm." ayu hanya menjawab dengan deheman.


Adit berusaha mencari keberadaan temen-temennya ditengah keramaian, salah seorang cowok melambai kearah adit sebagai sebuah kode memintanya untuk mendekat.


"Itu mereka ayy." tunjuk adit sambil menggandeng tangan ayu.


"Hai bro."


Beberapa cowok menyapa adit bergantian, kemudian cowok-cowok tersebut menyadari keberadaan ayu yang ada disamping adit.


"Wah, siapa gadis manis ini." tanya salah satu dari cowok tersebut.


"Ayu, pacar gue." adit memperkenalkan.


Ayu bersalaman dengan cowok-cowok yang merupakan temen adit.


"Selera lo berubah sekarang dit, lo demennya yang lugu dan polos sekarang."


Cowok itu memperhatikan ayu dengan pandangan mesum, ayu jadi risih dan makin erat menggamit lengan adit.


"Kondisikan mata lo deon, pacar gue nieh." peringat adit, dia juga bisa melihat kalau temannya ini menatap ayu dengan tatapan kurang ajar.


Cowok yang dipanggil deon itu tertawa, "Sorry dit." menepuk pundak adit, "Karna gue lagi ulang tahun, mending sekarang lo minum sepuas yang lo mau."


"Gue gak bakalan lama disini."


"Meskipun begitu, lo harus tetap minumkan untuk menghargai yang ulang tahun.


"Ayy, gak apa-apakan kita duduk dulu sebentar." tanya adit pada ayu.


Ayu mengangguk dengan terpaksa.


********