
Adit menjalankan motornya meninggalkan parkiran bar, ayu memeluk adit dari belakang dengan erat dan mengistirahatkan kepalanya dipunggung adit. Ayu tidak pernah menyangka dia akan mencintai adit sebesar ini, rasa ingin memiliki, dan takut berpisah dengan adit sering menghantui fikirannya, tapi rasa itu bisa ditepis karna adit meyakinkannya kalau dia tidak akan meninggalkan ayu apapun yang terjadi.
Ayu tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi untuk saat ini dia ingin menikmati momen-momen kebersamaanya dengan adit.
"Tuhan, aku mencintainya, salahkah aku jika ingin bersamanya selamanya." batinnya.
Adit tiba-tiba menghentikan motornya, membuat ayu bertanya.
"Kenapa berhenti mas."
Sebelum menjawab pertanyaan ayu, adit turun dari motornya diikuti oleh ayu.
"Ayy." adit meraih tangan ayu, "Gak apa-apa ya, kalau kita duduk-duduk dulu disini menikmati keindahan malam, aku ingin berlama-lama bersama kamu, mumpung kita bisa keluar."
Ternyata adit menghentikan motornya diparkiran sebuah taman ditengah kota.
Ayu mengangguk, sejujurnya dia ingin berlama-lama dengan adit.
Adit tersenyum, membuka telapak tangannya agar ayu menyambutnya, dan tanpa menunggu lama, ayu menyambut uluran tangan adit yang digenggam dengan penuh cinta oleh adit, mereka saling bertukar senyum sebelum bergandengan tangan berjalan-jalan mengelilingi taman.
Setelah puas berkeliling mengitari taman tersebut, mereka memutuskan untuk duduk dibangku taman menikmati syahdunya malam.
"Indah banget ya mas." komentar ayu mengedarkan matanya melihat sekeliling taman yang dihiasi oleh lampu kerlap-kerlip.
"Kamu suka." tanya adit.
"Suka, apalagi kalau sama mas adit."
Adit menjawil hidung ayu gemes, "Sekarang bisa ya ngegombal."
"Kan belajar dari mas adit." balas ayu membuat adit terkekeh mendengar jawaban ayu.
Langit malam yang dihiasi bulan sabit dan bertabur bintang, ditambah kerlap-kerlip lampu taman menambah romantis suasana. Mereka duduk saling berpegangan tangan, ayu menyandarkan kepalanya dibahu adit.
Pada tahu gak sieh, kalau suasana mendukung seperti ini, hal-hal romantispun bisa terjadi secara spontan. Begitu juga yang terjadi antara adit dan ayu. Dimulai dari adit mencium kening ayu dengan mesra, sumpah jantung ayu berdebar sangat hebat, apalagi ternyata perbuatan adit tidak hanya sampai disitu, karna kemudian bibir adit turun mencium bibir ayu. Untuk saat ini adit hanya menempelkan bibirnya dibibir ayu, hal itu dilakukan oleh adit untuk memberikan kesempatan pada untuk menolak.
Karna ayu tidak menjauhkan wajahnya, adit fikir ayu tidak menolak, sehingga dengan berani dia ******* bibir ayu dengan mesra, mengecap rasa manis yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, ayu berusaha membalas ciuman adit meskipun ini yang pertama kali untuknya.
Ciuman itu berlangsung beberapa detik, adit kemudian menjauhkan wajahnya dan kemudian mengelus bibir ayu dengan ibu jarinya dan berkata.
"Manis ya, jadi ketagihan."
"Apa sieh, dasar mesum." lirih ayu malu, wajahnya memerah, dia menyurukkan wajanya didada adit saking malunya.
"Biar tidak dianggap mesum, aku ingin cepat-cepat ngehalalin kamu."
"Emang berani ngehadapin mas arya."
"Cuma satu mas arya, seribu mas arya pun tidak aku tidak akan gentar."
"Beneran mas berani."
"Iya sayang, karna kamu pantas untuk diperjuangin."
"Gombal."
"Bukannya gombal sayang, tapi itu kenyataan, kamu memang pantas untuk diperjuangkan." ujar adit serius.
Ayu tidak berusaha mendebat adit, dia hanya mempererat pelukannya.
Ketika bersama dengan orang yang kita sayangi, biasanya orang akan lupa waktu, begitu juga halnya yang terjadi dengan ayu.
"Astaga, mas." jerit ayu melihat jam digital diponselnya.
"Kenapa ayy, kamu sakit."
"Bukan mas, udah malam ini, mas arya bakalan marah."
"Baru jam 10.30, ayy, belum malam-malam amet." respon adit.
Iya, buat adit mungkin itu belum malam banget, tapi buat ayu itu sudah tengah malam.
"Tapi mas arya pasti marah banget mas." panik ayu mulai berdiri.
"Oke ayy, jangan panik, sebaiknya kita pulang sekarang." putus adit
Adit ingin bersama ayu lebih lama lagi, tapi dia tidak ingin ayu mendapat masalah, dengan terpaksa adit mengantarkan ayu pulang.
*********
Seperti biasa, ayu meminta adit untuk menurunkannya ditempat biasa, tapi kali ini adit bersikeras menurunkan ayu didepan rumah, iyalah, gak mungkin dia menurunkan ayu ditengah jalan malam buta begini.
Ayu was-was, takut kepergok arya, makanya begitu motor adit berhenti didepan rumahnya, dia langsung turun dan berkata, "Mas pulang ya, hati-hati dijalan." pesan ayu dan langsung berbalik.
Adit menarik lengan ayu, membuat ayu berbalik menghadapnya, "Apa lagi mas, kalau kepergok mas arya, bisa marah besar dia."
"Kan aku sudah bilang, aku gak takut sama mas arya."
"Ayy, aku ingin menemui mas arya."
"Apa, maksud mas."
"Aku ingin bilang sama mas arya, kalau kita pacaran, aku ingin mendapat restu darinya."
"Mas gila."
"Iya, aku gila karna kamu."
"Aku serius mas."
"Aku juga serius ayy, aku ingin menemui mas arya."
"Jangan ngaco deh, mending sebaiknya mas pulang dan isturahat, kita bisa bertemu besok."
Bertepatan dengan ayu menyelsaikan kalimatnya, terdengar suara teguran dari arya.
"Ayu, apa yang kamu lakukan." dengan suara dinginnya.
Yang ditakutkan ayu terjadi, entah sejak kapan, tau-tau arya sudah ada dibelakangnya.
"Ma..mas arya." ujar ayu takut-takut.
"Malam mas." sapa adit sopan.
Arya memandang adit dengan sorot mata tajam dan menilai, "Kamu." tunjuk arya pada adit, "Bukannya kamu laki-laki yang pernah mengantar ayu waktu itu." nada suaranya bener-bener tidak bersahabat.
Arya ternyata masih ingat sama adit, tapi dia lupa namanya, "Iya mas, saya adit." adit kembali memperkenalkan diri.
"Ayu, bukannya kamu bilang kerumah karin mengerjakan tugas, apa yang kamu lakukan bersama dia, pak rahmat datang menjemput kamu kerumah karin, tapi karin bilang kamu tidak pernah kerumahnya, mulai pintar kamu berbohong sekarang hah." bentak arya, ayu tidak bisa berkutik, dia tidak bisa membela diri karna kali ini dia memang bersalah, makanya dia hanya diem.
Adit yang tidak terima ayu dimarahi mencoba melakukan pembelaan terhadap ayu, "Mas, saya mohon jangan marahi ayu, ini salah saya, saya yang menyuruh ayu berbohong pada mas supaya dia bisa menemani saya kepesta ulang tahun teman saya." adit menjelaskan.
"Sudah saya duga sejak awal." ujar arman, "Kamu memang membawa pengaruh buat ayu."
"Mas adit baik kok mas, dia tidak membawa pengaruh buruk buat ayu." ayu membela.
"Diam kamu ayu, kamu masih kecil, tidak tau mana yang baik dan buruk buat kamu."
"Mas, saya mohon sekali lagi, jangan marahin ayu, kalau mas mau marah marahin saja saya." timpal adit tidak tega melihat ayu dibentak.
"Sebaiknya kamu pergi sekarang." usir arya, "Dan mulai saat ini dan sampai seterusnya, kamu jangan pernah ganggu adik saya lagi, mengerti kamu."
Setelah mengucapkan hal tersebut, arya menarik tangan ayu dengan kasar kedalam rumah. Ayu menoleh kebelakang berusaha meminta maaf pada adit atas sikap arya.
Adit sumpah tidak tega melihat ayu diperlakukan seperti itu, adit jadi menyalahkan dirinya sendiri, kalau dia tidak mengajak ayu kepesta ulang tahun daniel mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
*********
Begitu memasuki rumah, arya langsung membentak adiknya. Biasanya arya akan menjadikan ruang kerjanya untuk mengintrogasi setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarganya, tapi kali ini, dia benar-benar marah sehingga dia langsung membentak ayu ditempat.
"Apa yang kamu lakukan hah, keluar dengan cowok berandalan gak jelas, mulai berani berbohong, ingin jadi apa kamu."
Suara arya yang besar mampu membuat seisi rumah berdatangan keTKP melihat apa yang terjadi.
Ayu menangis, "Hiks, hiks, maafin ayu mas."
"Mas kan sudah bilang, jangan pernah berteman dengan laki-laki tidak benar seperti itu, lihat sekarang, kamu jadi pembangkang."
"Mas, ada apa ini, kenapa mas marah-marah seperti ini." tanya ajeng yang baru sampai.
"Kamu lihat ayu, dia mulai berani berbohong sama kita."
Ajeng mendekati ayu yang sesenggukan dan melingkarkan tangannya dibahu ayu, "Emang ayu berbohong kenapa mas."
"Dia bilang akan mengerjakan tugas dirumah karin, taunya dia pergi dengan cowok berandal yang bisa merusak masa depannya."
"Mas, jangan berlebihan begitu, ayu sudah dewasa, dia tau mana baik dan buruk." bela ajeng.
"Jangan membelanya." arya jadi membentak istrinya, ajeng langsung diem.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh pergi kemana-mana kecuali kuliah, dan mana ponselmu."
"Buat apa mas." sambil menyerahkan ponselnya dengan ragu.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh membawa ponsel."
"Mas, itu berlebihan." protes ajeng tidak terima arya menyita ponsel ayu.
"Kamu sebaiknya diem kalau tidak bisa mendidik ayu dengan benar." tandas arya.
Ajeng tentu sakit hati mendengar kata-kata suaminya, "Terserah maslah." seru ajeng sebelum berlalu membawa ayu pergi kekakamarnya.
*********