
Begitu sampai dirumah, ternyata ajeng sudah duduk dikursi teras, tujuannya apalagi kalau bukan menunggu kepulangan ayu dan arman, dan setelah itu akan dilanjutkan dengan memborbardir ayu dengan serangkain pertanyaan.
Ajeng yang melihat mobil arman langsung berdiri dan dengan penuh antusias nyamperin ayu yang baru keluar dari mobil.
Dengan bisik-bisik dia bertanya, "Bagaimana tadi, seru gak."
Yang dijawab dengan polos oleh ayu, "Biasa aja mbak, apanya yang seru dari acara resepsi begituan."
"Nieh anak, selalu begitu, tidak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik."
"Kesempatan apa sieh mbak."
Dalam hati ajeng merutuk kepolosan ayu, "Punya adik ipar kok polos banget, seharusnya dia manfaatin kesempatan buat ngerayu arman, biar arman klepek-klepek."
"Kesempatan makan sebanyak-banyaknya." jawabnya ngawur.
"Ngawur mbak ini."
Arman juga sudah turun dari mobilnya untuk nyamperin ajeng, "Bagaimana man acaranya, seru gak." ajeng juga menanyakan hal yang sama pada arman.
"Biasa aja mbak."
"Apan-apaan mereka berdua ini, jawabnya cuma biasa-biasa aja, pada gak mau ngasih penjelasan yang lebih panjangan gitu, akukan penasaran tingkat tinggi." protes ajeng dalam hati.
Arman melanjutkan omongannya yang belum selesai, "Tapi aku dan ayu berhasil nangkep buket bunga yang dilempar oleh pengantin."
"Ini baru seru." dengan antusias ajeng bertanya, "Maksudnya, kamu dan ayu gitu nangkep buket bunga, maksudnya kalian nangkepnya berdua."
"Iya mbak."
Ajeng langsung mengambil bunga yang dipegang ayu, "Ini bunganya."
"Hmmm."
"Duh sweet banget sieh kalian."
"Apanya yang sweet sieh mbak, orang cuma nangkep bunga doank, putri yang masih kecil juga bisa kali."
"Iya ayu, mbak tau, tapi ini bunga nikahan lo, ditangkap oleh kalian berdua, ini sebuah kode alam kalau kalian akan dijodohkan oleh tuhan."
Arman tersenyum menanggapi kalimat ajeng, dalam hati bilang, "Amienn."
Sedangkan ayu berkomentar, "Apaan sieh mbak, kok jadi halu sieh."
"Eh, bukannya diaminkan, malah bilang mbak halu."
"Tau ah mbak."
"Arman kamu maukan berjodoh dengan ayu."
"Mbakkk, apaan sieh, malu-maluin aja." protes ayu.
Ajeng tidak menggubris ayu, dia fokus menunggu jawaban arman.
"Kalau ayunya mau, aku pastinya mau donk mbak."
"Mbak doain, semoga kalian berjodoh."
"Amien." ucap arman.
Sedangkan ayu meringis, malu dia punya kakak ipar seperti agen yang selalu menawarkannya pada arman.
"Mbak ajeng, ayu, kalau gitu aku pamit pulang dulu."
"Lho, kok buru-buru, mampir aja dulu, mbak baru bikin kue lho didalam."
"Kuenya kali ini gak gosongkan mbak." tukas ayu, karna setiap ajeng membuat kue selalu saja gosong.
"Pasti gak donk, ayok arman dicicipi dulu, kamu orang pertama yang akan mencicipi lho."
Dalam hati ayu berkata, "Seandainya mas arman mau menerima tawaran mbak ajeng, semoga saja mas arman tidak keracunan."
Tapi arman dengan kukuh menolak dengan alasan yang tidak bisa dibantah, "Saya ingin sekali mbak, tapi adik saya sendirian dirumah, jadi saya harus pulang untuk memastikan keadaannya." jelas saja arman khawatir dengan anggi, pasalnya adit palingan cuma sebentar dirumah, sedangkan surtinah kalau pekerjaannya sudah beres lebih seneng ngrumpi dengan art tetangga sebelah, sedangkan satpam rumahnya tengah sakit dan tentunya tidak bisa masuk.
"Oh, gitu ya, ya udah deh, lain kali bawa aja sekalian adiknya kesini."
"Iya mbak."
Setelah mengucapkan salam perpisahan arman melajukan mobilnya, ajeng ingin bertanya lebih banyak pada ayu, namun ayu keburu masuk meninggalkan ajeng sendiri.
"Yu," teriak ajeng, "Astaga anak ini, main tinggal aja."
*********
Sekarang ayu sudah berada dikamarnya, setelah menghapus riasan tebal di wajahnya, wajahnya kini terasa lebih ringan. Ayu memandang tiga buket bunga yang ada di mejanya belajarnya. Bunga pertama yang diletakkan dalam pas oleh ayu dan kasih air agar tetap segar, bunga itu adalah bunga pemberian adit, bunga yang dicolong oleh adit ditaman belakang rumahnya itu merupakan jenis bunga yang sama yaitu mawar, hanya saja warnanya yang berbeda-beda, merah, putih, kuning, pink.
Waktu adit memberikan bunga tersebut padanya, karin berkomentar, "Apaan sieh adit, masak bawa bunga gado-gado begitu, (Maksudnya bunga gado-gado adalah karna warnanya yang beragam.) Gue yakin itu bunga colongan." dengan suara yang hanya bisa didengar oleh ayu.
"Gak baik suuzon."
Waktu menerima bunga dari adit tersebut, ayu tidak peduli bagaimana tampilan bunga tersebut, tidak peduli bunga itu diiket asal-asalan, yang ayu ingat adalah bahwa dia seneng menerima bunga pemberian adit.
Karna lelah dengan fikirannya, akhirnya ayu terlelap dan terbang kealam mimpi.
*********
Ayu dan karin berjalan beriringin keluar kampus, niatnya sieh ingin mencoba menu dikafe yang baru dibuka yang jaraknya gak terlalu jauh dari kampus, makanya mereka memutuskan untuk jalan kaki saja, ketika tengah asyik ngobrol sambil berjalan ditrotoar, sebuah mobil hitam pekat berhenti didekat mereka, dua orang berpenampilan urakan keluar dari mobil tersebut berjalan mengahampiri ayu dan karin.
Baik ayu dan karin jelas takut dan panik, pasalnya tidak ada orang lalu lalang disana untuk dimintai tolong jika dua orang itu berbuat jahat.
"Yu, mereka mau apa."
"Gak tau rin, semoga saja mereka tidak berniat jahat sama kita."
Dua cowok berpanampilan urakan itu tersenyum jahat dan berdiri dihadapan ayu dan karin.
"Mau apa kalian." panik ayu.
"Lo pacarnya aditkan." cowok yang menindik bibirnya itu bertanya.
"A..ak..aku bukan pacarnya mas adit." emang bener bukan pacarnya aditkan karna ayu belum menerima pernyataan cinta adit.
"Bohong." tandas cowok yang rambutnya kayak sikat wc.
Ditengah rasa takut yang mendera, karin berbisik, "Yu, mereka mungkin musuhnya adit, bagaimana ini, mana disini tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi."
"Ucok, bawa cewek itu." cowok yang pertama memerintah pada sik rambut sikat wc.
Cowok yang dipanggil ucok melangkah mendekati ayu, ayu ketakutan setengah mati.
"Mas, jangan sakiti saya, ambil saja tas saya saja." ayu memohon.
"Etdah, gue malah disangka fakir miskin begini, emang tampang gue kayak orang yang gak pernah makan tiga hari neng." tersinggung juga sik ucok ini dengan kalimat ayu barusan.
"Habisnya, kalau bukan mau merampok, mas mau apa."
"Mau nyulik lo lah."
Karin yang berada disamping ayu bergetar saking takutnya, wajahnya pucat, bibirnya terasa terkunci saking takutnya.
"Cok, cepatanlah, ntar keburu ada yang lewat, berabe urusanya."
"Heh, lo mau ikut secara suka rela atau paksaan."
"Gak dua-duanya."
"Oke, berarti lo kudu dibawa dengan paksa."
Sik cok menarik tangan ayu, dengan tasnya ayu memukul ucok, "Awww," mengaduh seperti banci.
"Lamban lo." cowok bertindik itu dengan cepat melangkah, dan dengan satu kali gerakan mengangkat ayu seperti karung beras.
Ayu meronta dan memukul punggung penjahat tersebut.
"Lepasin gue, lepasin gue."
Cowok itu sepertinya punya ilmu kebal, buktinya dia tidak kesakitan mendapat pukulan dari ayu.
"Karinnnnn....tolongin."
Ayu diletakkan dikursi belakang, "Diem lo." sik cowok membentak.
Ayu makin heboh berteriak "Tolong, tolong..."
Karin tersadar mendengar teriakan ayu, dia berteriak meminta tolong, "Tolong...tolong....."
"Heh cok, buruan naik."
Mobil hitam itu langsung tancap gas dengan membawa ayu sebagai tawanan.
beberapa orang mulai berdatangan mendengar teriakan karin, namun sayang mobil sik penjahat sudah pergi.
Karin menangis sejadi-jadinya, "Ayu...hiks..hikss, maafin gue."
Seorang cowok berusaha menanangkannya, "Yang tenang mbak."
"Tenang dengkul lo, bagaimana gue bisa tenang kalau sahabat gue diculik."
"Mbak sebaiknya lapor polisi aja."
Karin langsung mencari ponselnya ditas, bukannya menelpon polisi, karin malah menelpon adit untuk memberitahu. Sayangnya adit tidak menjawab panggilan karin.
"Duh, dimana sih adit, saat dibutuhkan begini dia malah tidak ada " karna panggilannya tidak angkat, karin akhirnya memberitahu lewat pesan.
Bunyi pesannya adalah.
Adit, ayu diculik
*******