
"Aw." adit mengaduh begitu bokongnya didudukkan diatas motornya.
"Kenapa." tanya ayu panik.
"Bokongku sakit ayy."
Adit turun dari motornya dan memegang bokongnya, "Kayaknya aku gak bisa bawa motor ayy, kamu bisa bawa motor." pertanyaan macam apa itu, jangankan bawa motor gede seperti itu, naik sepede saja ayu gak bisa.
Ekspresi ayu langsung manyun, "Kamu ngeledek aku mas."
"Gak bisa ya, kelihatan sih, waktu pertama kali naik motorku aja kamu gak tau gimana cara naiknya."
" Bisa gak sieh mas, berhenti ngeledeknya." gumam ayu kesal.
"Iya, iya, sorry, sensi amet sieh neng, lagi pms ya." goda adit.
"Mas," ayu menekan kalimatnya, "Mending fikirin gimana caranya kita bisa pulang."
"Mending pesan taksi online aja, didaerah sini tidak ada taksi yang lewat."
"Motornya gimana."
"Gampang, ntar aku suruh andra dan arkan yang ngambil."
Kini ayu dan adit sudah duduk dikursi penumpang didalam taksi, adit duduk dengan hati-hati mengingat bokongnya yang terasa sakit jika menyentuh sesuatu.
"Mas, kita kerumah sakit ya." saran ayu karna menurut ayu yang dibutuhkan adit saat ini adalah dokter.
"Gak perlu ayy, lagian cuma luka gini doank."
"Mana bisa begitu mas, luka mas itu parah lho."
Adit malah senyum-senyum menanggapi kekakhwatiran ayu, "Mas, kok malah senyum."
"Senang aja dikakhwatirin kamu."
"Apa sieh." ayu memukul lengan adit pelan.
"Aw," ringisnya kesakitan.
Ternyata pukulan pelan sekalipun bisa membuat adit kesakitan, sesuatu hal yang wajar mengingat semua anggota tubuhnya menjadi sasaran pukulan sehingga tidak heran, sekarang sekujur tubuhnya terasa sakit jika disentuh.
"Sakit ya, aduh, maaf mas."
"Gak apa-apa kok ayy, santai aja."
Melihat kondisi adit, ayu memaksakan kehendaknya, "Pokoknya kita harus kerumah sakit, mas gak boleh nolak,"
"Ayy, aku mohon, aku gak mau kerumah sakit."
"Mas harus kerumah sakit, kalau ada luka dalam gimana, kalau infeksi gimana."
"Kamu aja deh yang ngobatin ya ayy, aku takut disuntik soalnya."
"Mas, mas." ayu menggeleng, "Hobi berantem, sama jarum suntik saja takut." ledek ayu.
"Berantem sama jarum suntik dua hal yang berbeda ayy, berantem itu seru, kalau jarum suntik menakutkan."
"Apa yang seru dari berantem sieh, bonyok kayak gini." ayu menunjuk wajah adit yang pada memar, "Itu yang dinamakan seru."
"Aku bonyok seperti inikan karna dikeroyok oleh cowok-cowok banci itu, coba kalau majunya satu-satu, sumpah deh wajahku pasti mulus tanpa bisa disentuh "
Perdebatan itu diintrupsi oleh sik sopir taksi, "Maaf neng, mas, jadinya mau kemana ini."
"Kerumah sakit kang." putus ayu.
"Yu..." rengek adit, "Aku gak mau kerumah sakit." adit persis kayak anak kecil.
"Jangan kayak anak kecil deh mas, lagian kalau kerumah sakit belum tentu juga disuntik."
"Tapi tetap aja aku gak suka, dokter dirumah sakit kebanyakan orangnya tua dan galak,suka ngomelin pasiennya, aku bukannya sembuh malah tambah sakit, coba dokternya kayak kamu ayy, pasti kalau kamu disenyumin aja aku langsung sembuh."
"Apa sieh, ngegombal mulu dari tadi, kalau mas gak mau kerumah sakit, aku gak mau bicara sama mas."
"Eh, jangan gitu donk, bisa hampa duniaku kalau kamu nyuekin aku."
"Dasar lebay."
"Bukannya lebay, tapi beneran ayy, aku kan udah terbiasa dengan keberadaan kamu dan yang paling penting kamu adalah bagian penting dalam hidupku dan hatiku."
"Kalau gitu kerumah sakit ya."
"Gak mau ayy."
"Terserah deh kalau gitu." jadi ngambek ayunya.
"Lha, kok jadi ngambek gini sieh, ayy jangan ngambek donk ya." adit berusaha merayu.
Ayu diam tidak menggubris.
Adit menghela nafas dan mengiyakan dengan terpaksa, "Baiklah kalau gitu, aku mau kerumah sakit, asal..." adit menggantung kalimatnya.
"Asal apa mas." mendengar itu ayu membuka bibirnya pada akhirnya.
Ayu tersenyum, adit bener-bener kayak bocah manja, melihat tingkahnya yang seperti ini orang pasti tidak akan menyangka kalau dia adalah cowok brengsek dan ketua geng motor.
"Iya aku temenin."
Sik abang sopir ikut nimbrung mendengar percakapan dua muda-mudi yang menumpangi taksinya, "Mas sama mbaknya pacaran ya, saya juga waktu muda dulu suka manja gitu sama pacar saya, persis kayak masnya, bahkan sampai sekarang saya masih manja sama istri saya, ungkapan yang mengatakan kalau laki-laki adalah bayi gede bener adanya."
Ayu menanggapi komentar sik sopir dengan tersenyum malu, sementara adit menanggapinya begini, "Saya lagi berusaha ini bang, minta sumbangan doanya, supaya gadis manis disamping saya ini nerima cinta saya. Kalau cinta saya sudah diterimakan tambah enak manja-manjanya, bisa dielus-elus."
"Wah, yang semangat mas, jangan putus asa dan menyerah untuk mendapatkan gadis yang mas sukai, wanita itu sukanya diperjuangin, saya yakin mbaknya akan luluh pada akhirnya."
"Iya bang, makasih sarannya, saya tidak akan menyerah memperjuangkan gadis spesial yang ada disamping saya ini." sambil mengatakan kalimat tersebut tatapan adit tujukan pada ayu, menatap ayu penuh harap.
"Amien mas." sik sopir mengiring dengan kalimat amin.
Adit masih tidak mengalihkan matanya pada ayu, hal tersebut membuat ayu salting, akhirnya ayu menggunakan tangannya untuk mendorong wajah adit untuk menghadap depan, "Jangan pandang ayu begitu mas."
"Kenapa, masak gak boleh mandangin calon pacar."
"Malu tau."
"Malu sama siapa, sama abang sopir taksinya."
"Jangan sungkan neng, akang maklum,namanya juga orang jatuh cinta."
"Ishhh, mas adit nieh, bikin aku malu aja."
lirih ayu dalam hati.
*******
Diruang dokter, untuk melihat sejauh mana parahnya luka adit, sik dokter memegang wajah adit, baru saja tangan sik dokter menyentuh kulitnya, adit langsung mengaduh lagi.
"Aw, sakit dok, pelan-pelan kenapa."
Dokter laki-laki yang sudah tua itu memandang adit dengan tatapan menilai sebelum berkata dengan nada datar, "Dari sekian banyak pasien yang pernah saya tangani, baru kali ini saya mendapatkan pasien yang manja seperti anda, padahal anda laki-laki muda dan kekar, apa anda tidak malu dengan pacar anda."
"Ukhuk, ukhuk." ayu yang ikut masuk menemani adit terbatuk untuk menyamarkan tawanya mendengar kalimat ledekan dari sik dokter.
Jawab adit, "Dokter pernah merasakan digebukin enam orang sekaligus gak."
Dokter itu memandang adit dibalik kaca mata perseginya, "Saya orang baik-baik, kenapa saya harus digebuk."
"Karna gak pernah mengalami hal itu, makanya dokter tidak tau bagaimana sakitnya, bayangkan dok, saya digebukin oleh enam orang disaat bersamaan, bagaimana saya tidak mengerang kesakitan seperti ini."
"Dari penampilan anda, sepertinya anda adalah laki-laki berandal yang hobinya berantem, tidak heran anda dipukuli enam orang sekaligus."
Adit tidak bisa membantah karna ucapan dokter tersebut adalah fakta, tapi dia merutuk dalam dalam hati, "Dia mau ngobatin gue atau ngomentarin hidup gue sieh."
Adit cuma diperiksa, tidak disuntik seperti yang ditakutkannya, adit hanya disuruh menebus resep obat diapotik rumah sakit.
Adit dan ayu berjalan beriringan dikoridor rumah sakit. Ayu tiba-tiba memelankan langkahnya, menimbang apakah dia akan menerima cinta adit sekarang setelah melihat pengorbanan adit, ayu jadi grogi.
Adit yang menyadari kalau ayu tidak ada disampingnya menoleh kebelakang, menemukan ayu berjalan pelan sambil melamun, adit menghampiri ayu, "Ayy,"
Teguran adit membuat ayu sadar dari lamunannya, "Eh, iya mas, kenapa."
"Harusnya aku yang nanya, kenapa jalannya sambil ngelamun, apa ada yang kamu fikirin."
Ayu menggeleng, "Mas."
"Iya."
"Aku, aku..." ayu gugup, dia terbata-bata, padahal ayu mau nerima cinta adit, tapi kok kesannya seperti orang yang bakalan nembak saja.
Adit menunggu apa yang akan dikatakan oleh ayu, ayu menarik nafas dan menghembuskannya, dan dengan satu tarikan nafas, ayu mengeluarkan apa yang ada difikirannya, "Mas, aku mau jadi pacar kamu."
Respon adit, "Apa." terkejut dia, gak menyangka ayu pada akhirnya menerima cintanya, "Kamu, kamu apa ayy."
"Aku mau jadi pacarnya mas adit." ulang ayu.
"Maksud kamu, kamu nerima cinta aku ayy." adit masih belum percaya.
"Iya mas."
"Benerankan, kamu gak bercanda."
Ayu menggeleng, tersenyum manis dan mengulangi kata-katanya, "Masa adit, aku mau jadi pacarnya mas."
Barulah adit percaya, dia tersenyum sangat lebar sehingga rasa sakit disekujur tubuhnya terasa hilang. Memang rumah sakit bukanlah tempat yang tepat untuk mengikrarkan sebuah hubungan, tapi saat ini buat adit, tidak penting dimana tempatnya yang terpenting adalah ayu sudah menerima cintanya dan dia sangat bahagia.
"Akhirnya." desahnya, "Mau sekarang kita pacaran." adit mempertegas status baru mereka.
Dijawab oleh ayu dengan malu-malu, "Iya mas."
Adit membuka telapak tangannya dan didekatkan pada ayu supaya ayu menggenggamnya. Ayu memandang mata adit yang memandangnya dengan tatapan cinta sebelum ayu menyambut uluran tangan adit dan menggenggamnya.
"Kita bisa pergi sekarang." tanya adit
Ayu mengangguk, saat ini dua insan berbeda jenis kelamin tersebut sama-sama tengah lagi bahagia dan berbunga-bunga.
***********