I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Hari Bahagia (Final Episode)



Ayu dan Moreno menjadi penyemangat terbesar buat Adit untuk sembuh, sehingga gak heran dalam kurun waktu satu bulan lebih Adit sudah sembuh total dan di izinkan pulang oleh dokter, tentu saja ini merupakan berita gembira, setelah dua tahun lebih akhirnya dia bisa kembali kerumahnya sendiri. Semua keluarga Bagaskoro datang kerumah sakit untuk menjemput Adit, Ayu dan Moreno juga ikut.


Alya tak henti-hentinya memeluk Adit dengan berlinangan air mata, "Anakku akhirnya kamu sembuh juga, mama bener-bener bersyukur pada Tuhan atas keajaiban ini."


"Ma, kapan pulangnya kita kalau mama sibuk terus-terusan meluk bang Adit." protes Anggi yang sudah mulai bosen dirumah sakit, "Nieh, Moreno aja udah bosen." tunjuk Anggi pada Moreno yang berada dalam gendongannya.


Adit langsung mengambil Moreno dari gendongan Anggi, "Anak papa, sini sama papa, papa kangen banget." sembari mencium pipi tembem Moreno.


"Kalau semuanya sudah beres mending kita pulang aja." saran Arman yang langsung disetujui oleh semuanya.


Begitu sampai rumah, kedatangan Adit disambut oleh Surtinah dan Sapto.


"Selamat datang kembali tuan Adit." ucap Sapto.


Adit tersenyum, "Makasih pak Sapto."


"Tuan Adit kok makin ganteng dan makin putih saja setelah keluar dari rumah sakit." cloteh Surti menggoda Adit.


"Ada saja lo Surti." balas Adit.


"Surti lo udah nyiapin makanan kesukaan bang Adit gak." tanya Anggi.


"Udah sip kalau itu non." Surti mengacungkan dua jempolnya.


Adit mengajak Ayu memasuki kamarnya, kamar yang selama dua tahun tidak pernah ditempatinya, beberapa figura berisi foto dirinya dan Ayu diletakkan dimeja belajar dan juga dinakas.


"Aku sangat kangen dengan kamarku." Adit membaringkan tubuhnya dan menarik Ayu untuk bergabung bersamanya, Ayu terjatuh dalam pelukan Adit.


Ayu berontak, "Mas, lepasin, gak enak sama keluarga mas."


"Gak enak apaan sieh, kan sebentar lagi kita bakalan nikah." iya kedua belah pihak berencana menikahkan mereka kalau kondisi Adit sudah pulih.


"Iya mas, tapikan sekarang masih belum sah." Ayu masih berusaha berontak.


"Plisss, sebentar saja, aku kengen ingin meluk kamu."


Permohonan Adit tersebut membuat Ayu berhenti berontak, sejujurnya dia juga kangen dengan Adit, dan ingin memeluk Adit untuk melebur rasa kangennya.


"Apa saja yang kamu lakukan selama aku terbaring koma."


"Ngurus Moreno, apalagi."


"Apa Moreno menyusahkanmu."


"Kadang-kadang, namanya juga anak kecil."


"Maafin aku ya sayang karna telah membiarkanmu membesarkan Moreno sendiri."


Ayu menyurukkan wajahnya dileher Adit, "Tapi sekarangkan mas udah disini."


"Hmmm." Adit makin erat memeluk Ayu, "Aku janji akan menjadi suami dan ayah yang paling baik sedunia."


Ditengah kemesraan tersebut, Anggi tiba-tiba nyelonong gitu aja, "Astagfirullahalajim."


Ayu dan Adit lansung terbangun, Anggi yang kini tengah menggendong Moreno menutup mata Moreno dengan sebelah tangannya, "Kira-kira donk bang, mbak kalau mau melakukan hubungan dewasa, ada anak dibawah umur nieh, jadi terkontaminasika mata suci Moreno."


Adit jelas saja ngomel, "Heh bocah, main nyelonong aja lo, gak bisa apa lo ketuk pintu dulu."


"Abangku sayang, gimana mau ngetuk kalau pintunya terbuka lebar."


Iya memang tadi mereka lupa menutup pintu, coba siapa yang salah dalam hal ini, "Lagian yah Mbak, abang, kalian masih belum resmi, jadi bukan muhrim dosa lho berdua dalam satu kamar." Anggi malah ceramah yang membuat Ayu jadi malu.


Untuk menutupi rasa malunya, dia mengambil Moreno dari Anggi, "Mbak bawa Moreno keluar dulu ya."


"Tuh mas, makanya cepet-cepet resmiin tuh mbak Ayu, ntar kebablasan lagi kayak dulu."


Adit langsung menimpuk adik bawelnya tersebut dengan bantal, tapi sayangnya gak kena karna Anggi berkelit.


Anggi malah meledek Adit, "Gak kena, gak kena, week." Anggi menjulurkan lidahnya dan berlari keluar untuk menghindari amukan Adit.


"Terkadang tidur panjang lebih baik daripada harus mendengar ocehan sik burung beo itu." lirihnya.


************


"Saya terima nikahnya Rahayu Lestari binti Maulana Haris dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." dengan lancar Adit melafalkan kalimat sakral tersebut.


"Sah." terdengar suara serempak dari para saksi, sebagai pertanda kalau Ayu resmi menjadi milik Adit sekarang.


Ayu menangis bahagia, ketika Adit mencium keningnya, "Akhirnya, kamu menjadi milikku." bisik Adit.


"Cie, cie, pengantin baru nie ye." goda Karin, "Jangan lupa ya sharing cerita malam pertamanya sebagai refrensi ntar kalau gue udah nikah." Karin makin nyosor aja tanpa menyensor kata-katanya sehingga membuat Ayu malu.


"Cie, cie, wajahnya merah tuh." makin hebohlah sik Karin menggoda Ayu.


"Heh Rin, jangan goda istri gue mulu." tegur Adit.


"Cie, manggilnya istri sekarang."


"Rin, berhenti deh bilang cie." protes Ayu.


"Lo kapan nyusulnya Rin." Adit bertanya.


"Gimana gue mau nyusul, kalau gue sampai sekarang masih jomblo."


"Astaga, dari zaman behula sampai sekarang lo masih jomblo aja, makanya Rin, lo mau sama Arkan sana, daripada lo jomblo."


"Ogahlah gue sama dia, guekan wanita setia yang hanya mencintai satu orang." sambil berkata begitu Karin menatap Sakti dengan penuh cinta.


"Lo masih setia ngejar cintanya mas Sakti, kayaknya mas Sakti kayaknya gak cinta tuh sama lo." kalimat Adit membuat rasa optimis Karin meluntur.


Ayu menyodok pinggang Adit sebagai kode meminta Adit tutup mulut, "Rin, jangan dengarkan ucapan Adit ya, aku yakin kok kalau mas Sakti akan luluh juga."


Karin tersenyum, dan memeluk Ayu, "Makasih ya Yu, oh ya gue kesana dulu deh." Karin menunjuk temen-temen sekelasnya yang datang ke pernikahan Ayu.


Ayu mengangguk sebagai jawaban.


Begitu Karin pergi, Adit melingkarkan tangannya dipinggang Ayu dan dengan cepat mengecup pipi Ayu.


"Mas, malu tahu."


"Kita udah sah sayang ngapain malu."


"Udah sah sieh bang, tapi masak iya ditempat umum masih nyosor aja." lagi-lagi Anggi tuh yang mengganggu.


"Lo itu yah, mengganggu aja kerjaannya, dasar nyamuk."


"Jahat banget abang, ngatain adik sendiri nyamuk."


"Udah nggi, jangan didengerin abang kamu." sela Ayu.


"Iya mbak, anggap aja angin berlalu."


Ayu terkekeh, "Nggi, Moreno mana."


"Sama mbak Ajeng mbak."


Panjang umur, baru saja disebut, Ajeng datang menghampiri dengan membawa Moreno, bayi kecil itu langsung menggapai-gapai begitu melihat mamanya, Ayu langsung meraih Moreno.


"Anak mama, udah kangen ya sama mama."


"Ma ma." cloteh Moreno.


"Halo sayang, kangen juga gak sama papa." sapa Adit.


"Pa pa."


"Anak pinter, sini sama papa." mengambil alih menggambil Moreno dari Ayu.


"Kalian bener-bener keluarga kecil yang bahagia," Komentar Anggi.


"Mas, mas." panggil Ajeng pada fotograger..


"Iya mbak."


"Tolong ya foto keluarga kecil yang bahagia itu." pinta Ajeng.


Dengan Moreno berada dalam gendongan Adit, dan Ayu melilitkan tangannya dilengan Adit, mereka tersenyum bahagia kearah kamera.


"Aku akan selalu mencintai dan membahagiakan kalian." janji Adit.


"Makasih mas." Ayu mengecup pipi Adit, dia selalu berharap bahwa mereka akan selalu tersenyum bahagia samapi maut memisahkan mereka.


TAMAT.


**************


Dear pembaca terimakasih karna telah membaca cerita ku I LOBE YOU AYY, jangan lupa mampir ya dicerita baru aku yang berjudul CINDERELA MODERN yang sampulnya seperti ini.