
"Selamat ulang tahun ya sahabatku sayang, semoga lo makin cantik, makin baik, pokoknya makin segala-galanya deh." ucap Karin sembari memeluk Ayu.
"Makasih ya Rin."
"Sorry ya Yu, gue gak sempet nyiapin hadiah buat lo, ini gara-gara Adit yang nyuruh gue nahan lo dirumah gue, jadi gak sempet gitu gue beli hadiah, tapi tenang aja, hadiahnya nyusul deh ntar." ujar Karin panjang lebar.
"Jadi kamu nahan aku, gak ngizinin aku pulang, itu mas Adit yang nyuruh." mata Ayu mengarah pada Adit yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmmm, Adit juga yang nyuruh gue nyari-nyari alasan biar lo tambah sebel gitu sama dia."
"Jadi ini ulah kalian berdua, sengaja bikin bete dan sedih."
"Duh, sorry deh Yu, kalau lo marah, marahin tuh pacar lo, itukan ideanya dia."
"Maaf ya sayang, kamu sedih ya aku kerjain."
"Hmmm." wajah Ayu cembrut.
"Jangan marah donk, pliss." Adit menangkupkan kedua tangannya didepan.
Melihat kelakuan Adit, mau tidak mau Ayu menyunggingkan senyum sebagai sebuah pertanda kalau dia tidak marah lagi.
Flasback
Sumpah, Adit bener-bener gak tega apalagi melihat Ayu hampir nangis karna kata-katanya yang cukup menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi, dia harus melakukan hal ini supaya misi memberi kejutan pada Ayu berhasil.
"Lebih baik aku pergi dari sini, pusing aku kalau terus-terusan berada didekat kamu." setelah mengucapkan kalimat tersebut, Adit keluar tanpa mempedulikan Ayu.
Begitu berada diluar, Adit nyesel banget dengan kata-katanya barusan, dia ingin menampar bibirnya sendiri, dia meraih kenop pintu ingin masuk kembali untuk memberitahu kalau dia tidak serius mengatakan hal tersebut, dia ingin mengatakan kalau dia bahagia bersama Ayu dan ingin selamanya dengan Ayu, tapi diurungkannya. Adit berjalan menuju motornya, ketika dia sudah menjalankan motornya, dari balik helmnya Adit bisa mendengar suara teriakan Ayu yang memanggilnya dengan suara menyayat.
"Mas Adit, kita perlu bicara mas."
"Jangan luluh Dit, ini hanya untuk sementara." Adit menguatkan dirinya supaya tidak berbalik dan memeluk Ayu yang terluka karna ucapannya.
Adit menghentikan motornya di depan sebuah toko perhiasan, sebelum masuk, dia terlebih dahulu menghubungi Karin.
"Halo Rin."
"Kenapa Dit." terdengar sahutan dari seberang.
Dan Adit membeberkan semua rencanya untuk memberikan kejutan ulang tahun pada Ayu, Adit yakin Ayu pasti akan menemui Karin, Adit meminta Karin menahan Ayu sementara dia mempersiapkan segala sesuatunya.
"Oke, lo serahin semuanya kegue kalau masalah begituan." ujar Karin begitu mendengar rencana Adit.
Dan setelah itu Adit menghubungi kedua sahabatnya untuk membantu mendekor kamar Ayu.
Kembali kemasa sekarang.
"Jadi kamu bilang mas adit brengsek punya gebetan baru, mau ninggalin aku, itu mas Adit juga yang nyuruh." tanya Ayu mengingat ucapan Karin.
Belum sempet Karin menjawab, Adit mendahului, "Apa, lo bilang begitu sama Ayu."
"Kan lo yang nyuruh." bela Karin gak terima disalahkan.
"Gak sampai berlebihan kayak gitu juga kali."
"Ya biar meyakinkan Dit, gimana sieh lo."
"Udah deh gak usah dibahas masalah itu lagi, yang pentingkan itu gak bener" lerai Ayu.
"Bener, mending kita makan-makan." timpal Andra mengelus perutnya.
"Makan aja fikiran lo." Arkan menoyor kepala Andra.
"Gimana donk, namanya juga laper."
"Ekhhhem." Adit membersihkan tenggrokannya, "Sebelum acara makan-makan, gue minta perhatiannya sebelumnya."
Semua pasang mata yang berada diruangan tersebut langsung tertuju pada Adit.
Andra melenguh, "Yahh, pasti bakalan lama nieh."
Adit mengabaikan lenguhan Andran dan kini memfokuskan perhatiannya pada Ayu, dia meraih tangan Ayu dan berkata, "Maafin aku ya karna seharian ini bikin kami kesel, sumpah aku sebenarnya gak tega banget lihat kamu sedih apalagi lihat kamu nangis, tapi mau bagaimana lagi, ini aku lakukan biar kejutannya berhasil."
"Ih, mas Adit jahat." Ayu memukul dada Adit.
Adit menahan tangan Ayu, lalu mengarahkannya kebibirnya, "Sorry sayang."
Ayu langsung menarik tangannya, "Mas malu tahu."
"Ngapain malu sieh sayang, siapa suruh mereka pada jomblo." kembali Adit meledek temen-temennya.
"Sumpah nyesel banget gue bantuin lo Dit, kerjaannya bikin gue iri mulu." protes Karin.
"Gue juga nyesel bantuin lo." timpal Andra.
Adit terkekeh mendengar clotehan temen-temannya.
"Oh ya." Adit meraih kantong jaketnya, dari sana dia mengeluarkan kotak beludru berwarna merah marun. Adit membukanya, kotak itu berisi sebuah cincin emas. Adit meraih tangan Ayu dan memasang cincin tersebut dijari manis Ayu.
"Aku pernah berjanji akan membelikan cincin berlian, meskipun bukan berlian tapi aku harap kamu suka."
"Sweeet banget, kapan sieh ada cowok yang giniin gue kayak lo Yu." lirih Karin penuh damba.
"Rin gue jomblo lho." Arkan mempromosikan dirinya.
"Gak nanya." tandas Karin membuat Arkan tutup mulut.
"Gue udah kenyang dengan rasa iri karna keromantisan kalian, sekarang bisakan perut gue juga yang kenyang, dari tadi perut gue meronta-ronta minta diisi." Andra mengintrupsi keromantisan yang terjadi antara Ayu dan Adit.
Adit terkekeh, "Oke kalian boleh makan sekarang."
********
"Dit lo gak balik." tanya Arkan ketika dia sudah siap-siap untuk pulang.
"Lo duluan deh, gue masih mau sama pacar gue dulu."
"Oke kalau gitu, gue sama andra balik dulu." pamit Arkan dan Andra.
"Oke, makasih atas bantuan lo berdua." Arkan mengacungkan jempolnya.
Melihat kedua teman Adit pada pulang, Karin juga ikutan pamit, "Gue juga balik dulu Yu."
"Yahh Karin, kok cepet amet sieh."
"Ini udah malam Yu, ntar nyokap marah lagi, lagian juga sipir gue udah lama banget nungguin gue."
"Ya udah deh, kamu hati-hati ya."
"Oke, dan lo Adit, setelah ini lo juga harus pulang, ntar lo ngapa-ngapain Ayu lagi." pesan Karin.
"Iya, bawel lu ah."
Dan kini tinggal mereka berdua, duduk disofa panjang yang terdapat dikamar Ayu, Ayu menyandarkan kepalanya didada Adit.
Suasananya hening karna tidak ada yang membuka obrolan, keduanya menikmati momen-momen kebersamaan mereka meskipun tanpa kata-kata. Tiba-tiba hujan deras jatuh mengguyur bumi, dan seperti sudah bekerjasama dengan langit, PLN juga memadamkan lampu disaat bersamaan.
"Akhh." Ayu menjerit karna dia takut gelap.
"Tenang Ayy, ada aku."
"Gelap mas, Ayu takut." memeluk Adit.
Adit meraba ponselnya yang diletakkan dimeja, setelah menemukannya Adit menyalakan senter diponsel supaya suasana tidak terlalu gelap.
"Kamu ada lilin Ayy."
"Ada mas, coba Ayu cari dulu."
Setelah menyalakan lilin, Ayu kembali duduk disamping Adit dan memeluknya, "Jangan pergi ya mas, Ayu takut sendiri." pinta Ayu penuh harap.
"Aku tidak akan meninggalkan mu."
"Kamu kedinginan." Adit bertanya.
"Iya."
Adit mempererat pelukannya, "Masih dingin."
"Hmmmm."
"Ayy, aku mencintaimu."
"Aku juga mas."
"Ayy, apa kamu percaya sama aku."
"Iya mas."
Ditengah pencahayaan remang-remang mata mereka beradu, Adit mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Ayu, Ayu membalas. Awalnya ciuman mereka lembut tapi lama-lama memanas mungkin karna pengaruh cuaca yang mendukung.
Dan meskipun mereka sudah berjanji tidak melakukan hal yang dilarang agama sampai mereka menikah, tapi toh disaat kondisi mendukung seperti ini semuanya bisa terjadi. Ayu dan Adit melanggar janji yang telah mereka buat, mereka melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Dibawah selimut mereka saling berpelukan dengan tubuh polos, Adit berulang kali mencium kening Ayu dan mengatakan "Maaf." berulang kali karna telah merenggut mahkota kesucian Ayu yang berharga.
"Kamu tidak menyesal." Adit bertanya dengan hati-hati.
Ayu menggeleng, hal tersebut membuat Adit bernafas lega.
"Mas."
"Hmmm."
"Ini adalah malam terindah yang tidak akan pernah Ayu lupakan."
"Aku juga sayang." kembali mencium kening Ayu.
Malam itu menjadi malam terindah untuk Ayu dan Adit.
*********