I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Ngibulin Sakti



Karin berjalan sambil menunduk berharap Sakti tidak mengenalinya, beberapa kali dia curi-curi pandang kearah dimana Sakti berdiri, laki-laki itu terlihat gelisah dan memperhatikan sekelilingnya.


Ketika melewati Sakti, Karin merafalkan doa dengan sungguh-sungguh dalam hatinya, "Ya Tuhan, tolong untuk beberapa menit jadikan mas Sakti amnesia, jadikanlah dia tidak mengenaliku."


Entah mungkin Tuhan mengabulkan doanya sehingga Karin melewati Sakti tanpa halangan, dalam artian Sakti tidak mencegatnya. Karin menarik nafas lega begitu dia sudah sampai didepan mobilnya.


"Fuihhh, syukurlah mas Sakti tidak ngenalin gue." ujarnya menarik pintu mobilnya.


Sayangnya, sebelum tuh pintu terbuka, lengannya ditarik cukup keras membuat tubuh Karin berbalik, Karin ingin menyemprot orang iseng yang menarik lengannya tersebut, tapi kalimatnya yang sudah sampai tenggrokan tertahan karna melihat pemilik tangan yang menariknya yang ternyata adalah Sakti, laki-laki yang dia hindari mati-matian saat ini.


"Mampus gue." keluhnya dalam hati, sia-sia deh penyamarannya.


"Karin." ujar Sakti dengan suara dingin.


"Eh, ma...mas Sa...sa..Sakti." Karin gugup, bicaranya gagap kayak bayi yang baru belajar ngomong.


"Kamu menghindari saya." tembak Sakti membuat Karin tidak bisa berkutik.


Gak mungkin kalah sebelum bertempur, Karin gak mungkin donk menjawab iya, dia harus ngeles.


"Bukan mas, masak iya sieh Karin menghindari mas."


"Dari gelagatmu sepertinya kamu ingin menghindari saya, kenapa?."


"Itu cuma perasaan mas saja, beneran kok Karin tidak menghindari mas Sakti, mana bisa Karin menghindar dari cowok seganteng mas." tuhkan, Karin memang labil kayak bocah SMP, tadi muji-muji cowok lain, sekarang muji Sakti.


"Yang bener." gak semudah itu kali ngibulin Sakti yang lulusan UI.


"Bener kok mas, Karin gak bohong, bohong itukan dosa." dua kali lipat nieh dosanya Karin, udah sejak awal berbohong sekarang berbohong lagi.


"Terus kenapa kamu ngelewatin saya begitu saja tadi, dan ini lagi." Sakti menunjuk wajah Karin yang tertutup masker, "Kenapa pakai masker segala, biar saya tidak mengenali kamu."


"Sial, dia ngenalin gue ternyata, kenapa negurnya gak dari tadi aja kalau gitu." Karin mengumpat dalam hati, Karin kembali berbohong, "Itu karna Karin gak lihat mas, serius, dan kenapa Karin pakai masker itu karna Karin lagi sakit, menular mas sakitnya, jadi jangan deket-deket."


Reflek saja mendengar penuturan Karin, kaki Sakti mundur kebelakang, "Kamu sakit, kenapa gak kerumah sakit." bukan panik sieh, cuma menyarankan saja.


"Iya mas ini mau kerumah sakit kok, kalau gitu duluan yah mas." Karin kembali akan membuka pintu mobilnya, namun Sakti kembali mencegahnya dengan pertanyaan.


"Rin, aku bela-belain datang jauh-jauh dan izin dikantor hanya untuk nemuin kamu lho."


Dalam hati Karin menjawab dengan jengkel, "Kalau lo nemuin gue karna lo kangen, gue pasti seneng banget, lha ini, lo nemuin gue karna mau ngintrogasi gue masalah adek lo, siapa yang seneng coba, malah Ayu udah mewanti-wanti gue supaya tidak memberitahu keberadaannya pada siapapun lagi"


Namun karna tidak mungkin menjawab begitu, Karin menjawab kalimat Sakti dengan nada bercanda,


"Oh ya, bukan dalam rangka kangen kan mas nemuin aku."


Sakti terkekeh, "Hmmm, Karin, Karin, bisa aja kamu bercandanya."


"Rin," Sakti serius, "Bisakan pergi kerumah sakitnya ditunda dulu, aku hanya ingin bicara sepuluh menit, dan aku jamin daya tahan tubuhku kuat, jadi tidak akan tertular."


"Daya tahan tubuh lo kuat, tapi lo bicaranya dari jarak satu meter dari gue, padahalkan gue pura-pura sakit doank, apalagi kalau gue sakit beneran, pasti bener-bener jaga jarak dari gue." lirih Karin.


"Rin, 10 menit saja ya." Sakti memohon.


Karna tidak tahu harus beralasan apa lagi, Akhirnya terpaksa Karin bilang, "Iya udah deh."


*********


Sakti membawa Karin ke kafe tidak jauh dari kampus, difikirnya Karin sakit beneran, makanya Sakti meminta Karin duduk dikursi belakang.


Sebelum mengintrogasi Karin tentang keberadaan Ayu, Sakti terlebih dahulu menyuruh Karin memesan makanan. Karin ingin banget, dikafe ini kan makanannya enak-enak, tambah enak lagi Sakti yang mentraktir, tapi sayangnya dia sudah terlanjur bilang kalau dia sakit dan gak mungkin membuka masker, kalau sampai dia melakukan hal tersebut bisa ketahuan doank kalau dia bohong.


"Gak usah deh mas, karna lagi sakit Karin gak ***** makan." bohong banget.


"Oh gitu ya, ya udah kala gitu."


"Gitu donk, dih jadi cowok ya bener-bener gak peka banget, paksa kek, atau bilang dibungkusin aja ya biar dimakan dirumah, ih, menyebalkan sekali seih mas Sakti, bisa-bisanya aku jatuh cinta sama dia." Karin kesel dan merutuki dirinya yang bisa-bisanya jatuh cinta sama Sakti.


Dan hanya Sakti yang memesan makanan, Sakti dengan tanpa perasaanya makan didepan Karin, Karin hanya menelan ludah, ternyata bener kata orang, kalau kebohongan hanya membawa mudharat, saat ini Karin tengah merasakan akibat kebohongannya.


"Mas Sakti, Karin pergi aja ya, masa Karin disini hanya lihatin mas Sakti makan."


"Eh, tunggu, tunggu sebentar Rin, saya habisin makan saya dulu, bentar aja."


Karin membrengut, "Gak bisa apa dia makan sambil ngomong, nyiksa orang saja."


Setelah mengelap bibirnya denga tisu, Sakti kini memfokuskan perhatiannya pada Karin.


"Rin, kamu tahu dimana Ayu."


Karna sejak awal tahu niat Sakti mencarinya, Karin sudah mempersiapkan jawaban, "Bukannya Ayu gak diizinin kemana-mana mas." serunya pura-pura kaget, padahalkan dia tahu dimana keberadaan Ayu, tapi terang saja Karin tidak mungkin memberitahu Sakti.


Akting Karin bener-bener meyakinkan ternyata, buktinya Sakti percaya, "Jadi kamu juga tidak tahu, saya sudah sangat yakin kalau Ayu akan menemui kamu, kamu kan satu-satunya temen yang dia punya, jadi kami fikir, Ayu akan pergi kerumahmu."


"Jadi, maksud mas Sakti, Ayu kabur gitu dari rumah." pura-pura panik "Kapan Ayu minggat dari rumah mas, ya Allah Ayu." ekspresinya itu lho, kayak orang yang bener-bener khawatir beneran, dalam hati Karin malah tertawa, "Rasain lo mas gue kibulin."


"Semalam," Sakti menjawab singkat.


"Semalam mas, ya Tuhanku, kemana dia pergi mas, Ayu tidak punya temen lain selain aku."


"Itu juga yang mas fikirkan, mas harap dia baik-baik saja."


"Yang sabar ya mas."


"Apa dia menemui laki-laki berandal itu kali ya."


"Ponsel Ayu kan disita mas, jadi Ayu gak bisa menghubungi Adit."


"Bener juga, ini salah kami yang terlalu keras padanya." Sakti terlihat menyesal.


"Rin, mas tanya sekali lagi, apa kamu bener-bener gak tahu dimana keberadaan Ayu." Sakti kembali bertanya untuk menyakinkan dirinya.


"Gak mas." lisannya, dalam hati "Anjirr, dosa gue udah tinggi tumpukannya, kini tambah tinggi lagi, pokoknya Ayu harus ngambil dosa gue, gue berbohongkan gara-gara dia."


"Mas jangan khawatir, kalau Ayu menghubungi Karin, tentu mas orang pertama yang akan Karin kabari." Bener-bener pemberi harapan palsu, "Maaf ya mas Sakti, Karin PHP IN mas."


Sakti mengangguk, karna dia tidak mendapat informasi apa-apa, dia berniat kembali kekantor, "Ya udah rin, saya balik ke kantor dulu, kamu gak apa-apa kan jalan kaki kekampus." ungkapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Karin tersenyum kaku menanggapi kalimat Sakti, "Iya mas gak kenapa-napa." dalam hatinya menjawab begini, "Cowok apaan sieh yang gue taksir ini, tega banget membiarkan gue jalan kaki kekampus, anterin kek, gak jauh ini."


"Ya udah Rin, saya duluan, kalau Ayu menghubungi kamu, kabarin mas ya." Sakti berlalu meninggalkan Karin yang masih jengkel karna disuruh jalan kaki ke kampus mengambil mobilnya yang dia tinggalkan.


"Tau begini gue gak bakalan mau ikut sama lo mas."


**********