I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Ditangkap Polisi



Malam itu berlalu dengan tenang, tentram dan damai, bener-bener tidak terjadi apa-apa, dalam artian yang sesungguhnya yang sering terjadi antara dua orang dewasa jika berada dalam satu kamar, mereka tidur nyenyak dan mimpi indah.


Seperti kebiasaanya, Ayu bangun pagi, dilihatnya ke arah sofa dimana Adit masih terlelap dialam mimpi, dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Adit, Ayu mendekati Adit. Dengan matanya, Ayu menelusuri setiap inci wajah kekasihnya yang tertidur lelap. Adit memiliki rahang yang kokoh, hidung mancung dengan alis mata tebal dan bulu mata yang lentik dengan kulit sawo matang.


"Ganteng." lirihnya Ayu fokus menikmati keindahan ciptaan tuhan yang berstatus sebagai kekasihnya itu.


Ayu senyum-senyum sendiri jika mengingat kalau dirinya pernah mengatakan kalau Adit adalah daftar teratas cowok yang harus diblacklist dari daftar cowok yang tidak akan dijadikan sebagai pacar, memang ya, rencana tuhan tidak ada yang tahu, gak taunya sekarang Ayu malah cinta mati sama Adit, bahkan dia sampai rela melanggar perintah kakaknya.


Disaat Ayu tengah fokus-fokusnya memperhatikan Adit, adit tiba-tiba membuka matanya dan berujar,


"Aku ganteng banget ya sampai kamu mandanginnya gitu amet."


Sumpah Ayu malu banget kepergok memperhatikan Adit, "Mas Adit, udah bangun." Ayu jadi salah tingkah.


"Udah dari tadi, tapi sengaja gitu membiarkan calon istriku memperhatikanku sepuas-puasnya." Adit tersenyum jail.


Ayu yang malu berniat pergi dengan memberi alasan, "Aku keluar dulu ya mas, mau cari sarapan." Ayu berbalik.


Adit langsung bangun dari tidurnya dan menarik pergelangan tangan Ayu, hal tersebut reflek membuat tubuh Ayu terjatuh dipangkuan Adit, Adit langsung memeluk tubuh ayu dan mencium pipi Ayu mesra.


"Kalau tiap pagi kayak gini, bangun langsung disambut wanita yang aku cintai, pasti aku akan jadi laki-laki paling bahagia di dunia."


Ayu meronta, mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Adit, "Mas, lepasin ih."


"Gak mau, kapan lagi sieh bisa begini." Adit makin mempererat pelukannya.


"Mas Adit, jangan kayak anak kecil deh."


"Ayy, kita nikah yuk."


"Tambah ngaco lagi." Ayu masih meronta.


"Gak usah gerak-gerak kenapa sieh Ayy, akukan hanya ingin meluk kamu doank." pinta Adit menyurukkan wajahnya dirambut Ayu yang masih harum.


Permintaan Adit tersebut berhasil membuat Ayu berhenti berontak, suasana menjadi hening, tidak ada percakapan diantara mereka.


"Ayy."


"Hmm."


"Pulang dari sini aku ingin memperkenalkan kamu dengan keluargaku."


"Buat apa mas."


"Pakai nanya lagi, ya supaya mereka tau kalau aku punya pacar dan siapa tau mereka langsung menikahkan kita."


"Ngaco lagi, udah ah mas, Ayu mau mandi dulu." Ayu berusaha melepaskan diri dan kali ini Adit membiarkan ayu pergi.


"Ayy."


"Apa."


"Bareng ya mandinya."


Ayu langsung meraih bantal dan menimpuknya kewajah Adit.


"Makan tuh mandi bersama."


Adit hanya tertawa, seneng dia menggoda Ayu yang sering malu-malu.


*********


Setelah sarapan, mereka menunggu bis yang akan membawa mereka menuju kota, gak lama kemudian, bis yang tunggupun datang, mereka bergegas menaiki bis. Di dalam bis, kekhawatiran Adit kembali menyeruak.


"Ayy, mas Arya pasti marah besar."


"Ayu tau, tapi alAyu gak peduli, Ayu udah gede mas, dalam hal ini, Ayu fikir, Ayu berhak menentukan sendiri jalan hidupku, Ayu gak mau dijodoh-jodohkan, seperti mas Arya dan mas Bhima."


Adit meraih tangan ayu dan menggenggamnya, "Aku akan selalu ada bersamamu Ayy."


Ayu tersenyum sebagai sebuah balasan.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba dikota, Adit terlebih dahulu mengambil motornya dikosan Arkan untuk mengantar Ayu pulang. Ketika tiba dikosan Arkan, Arkan yang tengah duduk diteras kamar kosnya sambil menikmati segelas kopi hitam langsung menyerbu Adit dengan pertanyaan.


"Eh, kemana aja lo bawa anak orang, lo gak yang aneh-anehkan."


"Otak lo mesum mulu, emang gue kayak lo."


"Serius ini gue nanya, lo bawa kemana anak orang."


"Harus gitu gue kasih tau lo."


"Dasar lo, main rahasia-rahasian sama gue sekarang."


"Daripada bibir lo yang lemes itu lo gunain buat nyecar gue dengan pertanyaan gak penting lo itu, mending lo kasih deh kunci motor gue."


"Lo ambil sendiri tuh dimeja."


Arkan mengajukan pertanyaan pada Ayu karna tidak mendapatkan jawaban dari Adit, "Yu, lo gak di apa-apain kan sama Adit."


"Gak kok mas."


Gak lama Adit keluar dengan kunci ditangannya.


"Lo mau kemana lagi bawa anak orang" Arkan kembali bertanya.


"Ngantar pacar gue baliklah."


"Pelan-pelan lo bawa motornya, jangan bawa anak orang ugal-ugalan dijalan."


"Kayak emak-emak lo, berisik." tandas Adit yang berhasil membuat Arkan diem.


Ayu tertawa kecil mendengar kalimat Adit yang ditujukan pada Arkan.


Setelah Ayu duduk dengan nyaman dibelakang, Adit menjalankan motornya.


"Mari mas." ujar ayu sebelum mereka pergi.


Arkan mengangguk, "Pantas saja sik adit cinta mati sama sik Ayu, tuh cewek sopan banget."


*******


Kali ini Adit mengantar Ayu sampai depan rumahnya, dan kali ini juga, Ayu ingin menegaskan hubungannya dan memperjuangkan hubungannya dengan Adit. Ayu sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi nantinya.


"Ayok mas."


"Kamu duluan saja Ayy, aku mau nelpon mama dulu."


"Aku tunggu didalam kalau gitu."


Ayu membuka pintu, dan pandangan pertama yang dilihatnya adalah semua keluarganya berkumpul dirumahnya, Arya, Ajeng, Sakti bahkan Hhima kakaknya yang tinggal dijogja ada disana bersama istrinya Siska.


Melihat kedatangan Ayu, mereka semua langsung menyongsong Ayu, dan melayangkan pertanyaan bertubi-tubi.


"Ayu, kemana saja kamu." pertanyaan yang dilontarkan oleh Sakti.


"Kamu gak kenapa-napakan, kamu gak tau betapa khawatirnya kami, sampai mas harus datang kesini." jelas sekali Bhima khawatir sampai datang jauh-jauh dari Jogja.


Ayu sudah membuka bibirnya untuk menjelaskan, namun Ajeng mendahuluinya,


"Kamu dari mana saja sieh Yu, kami tanya Karin dia bilang gak tau, sampai masmu lapor polisi segala."


Ayu terkejut, tidak pernah menduga kalau kepergiannya selama sehari semalam sampai membuat kakaknya lapor polisi, "Lapor polisi mbak, tapi Ayu baik-baik saja kok, tidak terjadi apa-apa dengan Ayu."


"Ayu." itu suara arya yang pertama kalinya buka suara, suaranya terdengar menakutkan, "Kamu tidak pergi dengan cowok berandal itukan."


Baru saja Arya menyelsaikan praduganya, Adit datang menyusul Ayu. Adit agak kagok sieh melihat keluarga besar ayu pada ngumpul disana, apalagi kini dia menjadi pusat perhatian keluarga Ayu.


Dalam hati Adit berkata, "Oke, inilah saatnya gue bakalan dieksekusi karna membawa anak perawan orang tanpa izin." meskipun begitu, Adit berusaha tetap tenang dan menyapa,


"Halo semuanya." sambil tersenyum.


Jangan ditanya bagaimana reaksi ketiga kakak Ayu, mengetahui kalau adik perempuan mereka pergi dengan cowok, bermalam lagi.


"Apa yang kamu lakukan semalaman dengan dia Ayu." teriak Arya, suaranya menggelegar diseantero ruangan.


Ayu sudah menguatkan mental, dia sudah tau kalau kakaknya bakalan ngamuk seperti ini.


Ayu menjawab pertanyaan Arya sesuai dengan fakta, "Kami tidak melakukan apa-apa kok mas, sungguh."


"Bener mas, kami hanya...." Adit belum selesai menjelaskan karna kejadiannya begitu cepat, kerah bajunya ditarik oleh Arya yang langsung menonjok pipi Adit, saking kerasnya pukulan yang dilayangkan Arya sehingga berhasil membuat tubuh Adit tersungkur kelantai.


"Mas Arya." jerit Ayu kaget, "Jangan mas." Ayu berlari kearah Adit dan mendekapnya.


"Dasar laki-laki tidak tau diri, sudah saya katakan jangan pernah mendekati Ayu, tapi kamu masih berani mendekatinya dan membawanya pergi." Arya kembali menarik kerah baju adit membuat Adit sampai berdiri. Arya kembali melayangkan sebuah pukulan dipipi Adit yang satunya.


"Mas." pekik Ajeng melihat suaminya.


"Mass, jangan, ini bukan salah mas Adit mas, kami saling mencintai." lirih Ayu ditengah isakannya menyaksikan orang yang dia cintai dipukul.


"Ayu, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan." Bhima membentak.


"Kami saling mencintai mas, tolong restui hubungan kami, saya berjanji tidak akan menyakiti Ayu." ucap Adit ditengah rasa sakit akibat tonjokan yang diterimanya dari Arya.


"Kamu fikir saya akan menyetujui laki-laki berandal seperti kamu bersama dengan Ayu hah." Arya kembali melayangkan pukulan, Adit tidak melawan sama sekali.


"Mas, Ayu mohon, jangan pukul mas Adit lagi." Ayu menghiba.


Gak lama, beberapa polisi datang, mereka langsung masuk karna kondisi pintu yang terbuka, "Kami mendapat laporan kalau saudara Rahayu Lestari sudah ditemukan."


"Bener pak, dan itu dia penculiknya, tangkap dia sekarang." Arya menunjuk kearah Adit.


Salah satu polisi tersebut mengeluarkan borgol dan berjalan menghampiri Adit. Ayu langsung menjerit histeris, "Jangannn, tolong pak, mas adit gak salah." dengan bercucuran air mata ayu mencoba menjelaskan.


Adit hanya pasrah, karna dia sadar membawa Ayu tanpa izin, "Gak apa-apa Ayy, ini memang salahku karna membawa kamu pergi."


"Tidak, ini bukan salah mas, mas Arya, tolong cabut laporannya mas." Ayu menghiba.


"Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, pak, tolong bawa dia pergi."


"Mas adit." Ayu berniat mencegah polisi yang membawa Adit pergi, tapi dia di cegah oleh Sakti yang menarik tangannya dan membawanya kekamarnya.


"Mas Adit." jerit Ayu, "Lepasin Ayu mas." Ayu berusaha berontak tapi sayang tenaga Sakti lebih besar, sehingga dengan mudahnya Sakti membawanya kekamar.


*********