I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Menginap



Ayu duduk dipinggir pantai, bola matanya terpancang memandang laut luas sambil tidak henti-hentinya ayu mengagumi keindahan ciptaan yang maha kuasa. Mungkin karna bukan hari libur, pantai itu tidak terlalu ramai dikunjungi saat ini, hanya beberapa orang saja yang terlihat berjalan-jalan dipinggir pantai.


Karna bajunya basah setelah main air, adit membeli sepasang baju kaos couple untuk mereka berdua kenakan, baju berwarna putih yang cukup kebesaran untuk badan ayu yang kurus.


Ayu memandang kiri-kanan untuk mencari keberadaan adit, dari tadi adit pergi entah kemana.


"Dimana sieh mas adit." gumamnya karna merasa kesepian.


Gak lama kemudian, ayu merasakan ada sesuatu yang diletakkan diatas kepalanya, ketika ayu mendongak, pandangan matanya bertemu dengan mata adit yang tepat berada diatas wajahnya


Adit tersenyum dan duduk didekat ayu, "Kemana saja sieh mas."


"Ada aja."


"Selalu gak mau ngasih tau kalau ditanya."


"Karna itu bukan sesuatu hal yang penting yang harus kamu tau ayy."


" Hmm,apa yang mas letakkan dikepala ayu."


Ayu meraba kepalanya dan menurunkan benda yang tadi diletakkan oleh adit dari belakang, ternyata itu adalah flower crown yang dibuat sendiri oleh adit dengan menggunakan bunga-bunga liar yang ada disekitar pantai.


"Kenapa dilepas sieh, sini aku pasangin lagi." adit mengambil kembali flower crown tersebut dari tangan ayu dan kembali meletakkannya dikepala ayu.


"Nah, begitukan cantik, persis kayak putri dari negeri dongeng."


Sebelum ayu membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, adit kembali mendahuluinya, "Ayy, jadilah ratu dihatiku untuk selamanya ya." sambil mengucapkan kalimat tersebut adit meraih tangan ayu dan meletakkannya tepat didadanya.


Ayu tersenyum dan mengangguk, "Oh ya satu lagi, pinjam tangan kamu ayy."


"Buat apa mas."


Tanpa menjawab pertanyaan ayu, adit meraih tangan kiri ayu, adit kemudian merogoh kantong celananya, dari sana dia mengeluarkan cincin yang dibentuk dari bunga-bunga kecil, dan kemudian adit memasangkannya dijari manis ayu dan mencium tangan ayu mesra.


"Maaf ya ayy, untuk saat ini aku hanya bisa memasang cincin beginian dijari kamu, tapi aku janji, suatu saat, aku akan menggantinya dengan cincin berlian besar dan indah."


Meskipun cuma cincin yang dibuat dari bunga liar, tapi itu sudah lebih cukup untuk membuat ayu terharu sehingga membuat matanya berkaca-kaca.


"Kamu marah ya ayy aku pasangin cincin kayak gini." ujar adit karna melihat mata ayu yang digenangi oleh air mata, "Ya udah, aku lepas deh."


Ayu langsung menarik tangannya, "Apa sieh mas, siapa yang marah, orang aku terharu."


Adit tersenyum tipis, "Emang wanita seperti itu ya, kalau terharu suka nangis gitu, gak bisa apa kalau terharu jingkrak saja, kalau nangis kan bikin orang salah paham."


"Ihh, mas adit nieh gak ngerti."


"Iya, iya, aku ngerti kok sekarang, sini peluk dulu donk." adit merentangkan tangannya dan ayu menubrukkan tubuhnya.


"Seandainya aku bisa meminta, aku ingin waktu berhenti untuk sesaat." gumam adit saking bahagianya karna bisa bersama dengan orang yang dia cintai.


"Aku juga mas." respon ayu.


"Foto yuk." ajak adit.


"Gak ah, malu."


"Lho, kok malu sieh."


"Wajah ayu kusam dan berminyak mas, karna seharian terpapar sinar matahari terus."


"Tapi kamu tetap cantik kok ayy."


"Bohong."


"Beneran, bagi aku, kamu itu selalu cantik kok."


Tersenyum juga ayu mendengar pujian adit, "Kamu adalah orang tercantik kedua yang pernah aku kenal."


"Kedua,? terus yang pertama selingkuhan mas ya." ayu merasa cemburu, bibirnya cembrut.


Adit mencubit pipi ayu gemes, "Jangan cemburu gitu donk sayangku, kamu orang kedua tercantik yang aku kenal, karna yang pertama adalah mamaku." adit menjelaskan, "Meskipun galak dan lebih sayang bunga-bunganya sieh ketimbang anaknya." tambah adit dalam hati.


"Ngomong donk dari tadi, bikin orang cemburu saja."


"Udah, jangan cembrut lagi, sekarang mending kita foto aja yuk sebagai kenang-kenangan."


Akhirnya ayu mau karna terus dipaksa, mereka berselvia ria dengan berbagai gaya.


"Tuhkan, aku bilang juga apa, kusam banget aku." komen ayu begitu melihat hasil foto-foto tersebut.


"Yang pentingkan aku tetap cinta."


"Hmmm."


"Nah selesai." gumam adit setelah menjadikan foto mereka berdua sebagai wallpaper diponselnya, "Ntar aku kiriman ya, dan jadiin juga foto kita berdua sebagai wallpaper diponsel kamu."


"Kan ponsel aku disita mas arya."


"Bener juga, jangan sedih, ntar aku beliin yang baru."


"Gak usah mas, ntar juga ponsel aku dibalikin sama mas arya."


"Kalau balikinnnya lama mending aku beliin aja ya, gak kuat soalnya lama-lama mendem rindu."


"Kan tiap hari bisa ketemu dikampus."


"Iya sieh, tapi aku kan juga ingin ngasih perhatian gitu ketika kita gak bertemu, misalnya nanyain apa kamu sudah makan apa belum, atau kirim pesan hanya ingin bilang i love you." ujar adit, "Ntar pulang dari sini aku beliin ya."


"Gak usah mas, mubazir, pokoknya pulang dari sini aku ngomong sama mas arya untuk ngembaliin ponselku."


"Yakin akan dikasih."


Ayu mengangguk, "Meskipun lagi marah besar, mas arya tidak pernah bisa lama-lama marah sama aku."


"Langsung hubungi aku kalau kamu berhasil mendapatkan ponselmu oke."


"Iya mas, pasti."


**********


Memang ya, kalau bersama dengan orang yang kita cintai, orang bakalan lupa waktu, begitu juga dengan ayu dan adit.


"Astaga." panik adit.


"Kenapa mas."


Ayu mengangguk, yang ditakutkan adit adalah kalau ayu mendapatkan masalah lagi karna ulahnya.


Karna hari sudah sore, tidak ada bis yang menuju kota, mereka sudah menunggu selama setengah jam.


"Yu, kayaknya sore-sore begini gak bakalan ada bis yang menuju ke kota."


"Terus gimana mas."


"Aku telpon temen aku dulu deh suruh jemput kita."


Adit mencoba menghubungi temen yang dimaksud, tapi sialnya begitu panggilannya diangkat, ponsel adit mati karna kehabisan bateri.


"Sial, mati lagi." umpatnya.


Yang adit khawatirkan adalah ayu yang pasti bakalan dapat masalah lagi kalau ketahuan ayu pergi bersamanya.


"Mati ya mas ponselnya."


"Hmm." jawab adit frustasi, "Tapi kamu jangan khawatir, kita pasti bisa pulang kok."


Ayu mencoba menenangkan adit yang terlihat khawatir, "Mas, kalau gak ada angkutan ke kota, mending kita nginep aja dipenginapan yang ada disana." ayu menunjuk tempat penginapan sederhana.


"Tapi nanti mas arya bisa........"


"Mas, ayu udah gede, ayu berhak nentuin jalan hidup ayu sendiri, lagian kita tidak akan ngapa-ngapain juga kan."


Tersenyum sekaligus lega mendengar jawaban ayu, "Aku berjanji tidak akan ngapa-ngapain kamu, kalau bukan kamu yang minta." goda adit.


Ayu mencubit pinggang adit, "Idihh, maunya."


Mereka tiba dipenginapan dan memesan kamar.


"Mbak, ada kamar kosong untuk dua orang." adit bertanya pada resepsionis.


"Ada mas, tapi hanya satu kamar yang kosong."


"Apa, cuma satu mbak."


"Iya mas." resepsionis itu menjawab dengan perasaan menyesal.


"Emang gak ada gitu kamar cadangan."


"Bener-bener gak ada mas."


"Ayy, mending kita...."


"Gak apa-apa mas, kita ambil saja kamar itu."


"Tapi kamarnya cuma..."


"Mas gak berniat macam-macam kan."


"Ya gak lah." adit menjawab cepat.


"Ya udah, kalau gitu kita ambil saja kamar itu daripada kita tidur diluar."


"Kamu gak apa-apa kita satu kamar." adit memastikan.


"Iya mas."


Adit kembali ke mbak resepsionis, "Baiklah mbak, kami ambil kamar yang tersisa."


Sik resepsionis tersenyum sambil menyerahkan kunci.


"Ini mas kuncinya."


"Makasih."


Kini ayu dan adit berada dikamar, kamar itu tidak terlalu luas, dengan tempat tidur ukuran sedang dan satu sofa yang cukup panjang.


"Ayy, kamu tidur diranjang, biar aku yang disofa."


"Iya mas."


"Mas,"


"Iya."


"Jangan matiin lampu ya, aku takut gelap."


Adit terkekeh dan mendekap ayu, "Gak usah takut, kan ada aku."


Ayu mendorong dada adit, "Apa sieh mas, katanya gak bakalan macam-macam."


"Iya maaf, habisnya suka kelepasan kalau didekat kamu."


"Dasar mesum."


"Gak apa-apa donk mesum sama pacar sendiri." goda adit.


"Ayu tidur diluar aja deh." ayu kesel karna adit terus menggodanya.


Adit menarik pergelangan tangan ayu yang bersiap keluar, "Sorry, aku cuma bercanda kok, gitu aja ngambek."


"Hmmmm."


"Mending kamu tidur aja gieh sana."


"Tapi janji ya gak bakalan macam-macam."


"Iya, aku hanya ingin satu macam, yaitu jagain kamu ketika kamu tidur."


Tersenyum ayu mendengar ucapan adit, "Udah sana tidur gieh."


"Jangan matiin lampu ya."


"Iya, iya, lampunya gak bakalan dimatiin."


Mereka kemudian tidur ditempat yang sudah ditentukan, sebelum bener-bener bisa memejamkan mata, mereka bicara ngolor ngidul tentang banyak hal, sehingga pada akhirnya, kantukpun menyerang dan mereka terlelap ke alam mimpi.


***********