I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Pesta



Ayu merasakan badannya lelah karna setelah kuliah dilanjutkan pergi shoping menemani Ajeng kakak iparnya lalu kemudian dilanjutkan pergi kesalon. Shoping dan nyalon dua hal


yang membutuhkan waktu berjam-jam sehingga buat wanita yang memiliki hobi tersebut mungkin waktu berjam-jam yang dihabiskan menjadi tidak terasa. Berbeda dengan Ayu, kakinya pegal-pegal karna harus mengekori Ajeng dan Karin keluar masuk dari toko satu ketoko yang lain, ditambah lagi dia harus duduk berjam-jam disalon hanya untuk dikeramas


dan perawatan wajah. Jam 5 sore lebih 10 menit barulah Ayu dan Ajeng yang diantar sopir tiba dirumah setelah


terlebih dahulu mengantar Karin kekampus untuk mengambil mobilnya. Ayu ingin istirahat dan mengurung diri dikamarnya, tapi mana bisa kalau malam ini dia juga harus ikut dengan keluarganya ke acara rekan bisnis kakaknya seperti yang diinfokan Ajeng padanya.


“Yu, mending siap-siap gieh sana.” saran Ajeng.


“Masih jam 5 mbak, acaranyakan jam 8.” jawab Ayu polos.


“Iya, tapi buat wanita seperti kitakan butuh waktu berjam-jam buat siap-siap, biar tampil sempurna, udah sana mending kamu siap-siap dulu.”


“Iya,” meskipun bilang “Iya” yang malah dilakukan oleh Ayu setibanya dikamarnya adalah membaringkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal, dalam hati bergumam, “Buat apa repot-repot tampil sempurna kayak mau ketemu calon suami aja, lagian itukan acara bapak-bapak, mana ada juga cowok muda dan ganteng yang bakalan mau ikut acara membosankan itu, kecuali kak Sakti yang terpaksa ikut karna titah sang baginda, mending aku tidur dulu aja deh sebentar.”


Karna kelelahan Ayu mulai terlelap, suara ketukan dari luar membuatnya mendapatkan kesadarannya.


“Siapa.” tanyaya kesel karna merasa terganggu.


“Bibik non Ayu.”


“Kenapa bik.”


“Kata nyonya. Non Ayu harus siap-siap sekarang, jangan tidur.”


“Ihsss.. kok mbak Ajeng tau sieh, kayak cenayang aja.” rutuknya dan menjawab, “Iya, ini juga mau siap-siap kok.”


Terpaksa Ayu bangun dan melangkahkan kakinya kekamar mandi.


******


Ayu memang tidak butuh waktu lama buat berdandan dan segala macamnya, hanya butuh waktu 15 menit, dari segi wajah riasannya tidak heboh, terkesan natural, rambutnya juga hanya digerai biasa, pokoknya bener-bener biasa banget tidak terlihat seperti orang yang akan


pergi kesebuah acara, hanya pakaiannya saja yang terlihat menonjol karna masih baru dan lumayan bagus.


Ayu, Sakti dan Arya duduk diruang tamu menunggu Ajeng yang sejak zaman dahulu sudah siap-siap, tapi sampai sekarang belum kelar juga. Arya sampai ngomel karna istrinya belum kunjung keluar.


“Apa sieh yang Ajeng lakukan dikamar, emang wajah sekecil itu butuh waktu berjam-jam gitu buat dipoles.”


Ayu tersenyum samar mendengar keluhan kakaknya.


“Wanita emang gitu mas, bilangnya sebentar, tapi sebentar dalam kamus wanita itu minimal satu jaman mas.” Sakti turut menimpali, wajahnya dari tadi ditekuk karna sebenarnya dia sama


seperti Ayu tidak mau ikut, tapi apa dayanya kalau Arya sudah mengeluarkan titahnya, jadi terpaksa dia dan Ayu ikut.


Arya menoleh pada adik perempuannya dan berujar, “Ayu juga wanita, tapi tidak seheboh Ajeng.”


“Itu karna Ayu gak bisa dandan mas.” jawab ayu.


“Itu sebabnya dia belum laku juga sampai sekarang.” gumam Sakti dengan suara yang tidak bisa didengar.


“Bi Asih, tolong suruh Ajeng cepat, bisa telat kita.” perintah Arya pada bi Asih.


“Baik tuan.”


Gak lama bi Asih kembali dengan membawa pesan dari Ajeng, “Sebentar lagi katanya tuan, tinggal pakai maskara sama lipstik.”


15 menit kemudian barulah Ajeng keluar dan usaha tidak menghianati hasil, hasil memoles selama berjam-jam membuat dia tampak sangat cantik, tapi emang udah cantik sedari sana sieh.


Tapi sayang, mungkin karna sudah bertahun-tahun menikah atau mungkin karna kesel, Arya bukannya memuji istrinya, kalimat yang dilontarkan malah, “Kenapa lama sekali, kamu melahirkan didalam.”


Ajeng cembrut, mungkin berharap mendengar suaminya memujinya.


“Maaf mas, inikan acara resmi, aku kira aku perlu tampil sempurna agar tidak memalukan untuk mendampingimu.”. Pemikiran yang mulia.


“Tidak perlu seheboh itu juga, inget donk kamu sudah menikah, jangan tampil terlalu cantik. Cantik itu cukup untuk suami saja, bukan untuk laki-laki lain.”


“Iya mas, besok-besok kalau mas dapat undangan lagi aku cukup pakai daster aja.”


Suami istri itu malah berdebat, kalau Sakti tidak mengingatkan mungkin perdebatan itu masih berlangsung, “Mas, berangkat sekarang, udah telat nieh.”


Arya melihat jam tangannya untuk memastikan dan memutuskan, “Baiklah mending kita berangkat sekarang.”


Mereka berjalan menuju pintu, Ajeng dan Ayu mengekor dibelakang, “Mbak cantik banget.” Ayu memuji dengan suara yang tidak bisa didengar oleh Arya ataupun Sakti.


“Tapi masmu boro-bori muji, malah di omelin.”


“Itu karna mbak lama.”


“Buat terlihat cantik dan sempurna, ya emang butuh waktu lumayan lama Yu dandannya.”


Mata Ajeng kemudian meneliti penampilan Ayu lalu mencubit lengan Ayu, ”Awww....sakit mbak.”


“Kenapa dandananmu biasa seperti ini, mbakkan udah suruh siap-siap dari sejak tadi biar tampil cantik dan memukau.”


“Ngpain ribet-ribet sih mbak, toh juga gak ada cowok cakep kan disana yang akan ngelirik.”


“Dih kamu ini, siapa tau gitu ada pengusaha-pengusaha muda atau anak dari kenalan kakakmu yang juga menghadiri acara itu,”


“ercaya deh mbak sama aku, anak-anak muda lebih suka menghabiskan waktunya nongkrong dengan temen-temennya atau pacaran daripada ke acara membosankan seperti ini. Aku dan mas Sakti sieh kan terpaksa ikutnya karna gak berani nolak perintah mas Arya.”


Teguran dari Arya memutus pembicaraan antara adik dan kakak ipar tersebut, “Apa sieh yang kalian gosipkan, cepatan udah telat ini.”


“Iya mas sabar, duh suamiku ngomel mulu dari tadi.”


Ajeng an Ayu mempercepat langkah


mereka menyusul Arya dan Sakti yang sudah berdiri disamping mobil.


Yang duduk dikursi kemudi adalah Sakti, Ayu duduk didepan menemani Sakti, sementara Arya dan Ajeng duduk dibelakang. Mengenai insiden tadi pagi Sakti mengirimi Ayu pesan meminta


Ayu untuk tidak mengadukannya ke Arya karna telah meninggalkannya dijalan. Tanpa diminta sekalipun Ayu tidak akan mengadukannya.


3 bersaudara itu memiliki sifat yang sama, yaitu sama-sama kaku, Ajeng yang meskipun sudah bertahun-tahun menikah dengan Arya dan syukurnya tidak ketularan sikap keluarga tersebut


berusaha membuka obrolan. Tujuannya supaya mobil tidak sepi kayak kuburan.


“Yang ngadain acara siapa sieh mas.”


“Pak Adi” menjawab singkat.


“Ohh.. pak Adi.”” padahal Ajeng gak tau sieh yang namanya pak Adi.


“Dalam rangka apa mas, membuka cabang perusahaann baru, atau.....”


“Menyambut kepulangan anaknya.” potong Arya.


“Emang anaknya dari mana.”


“Masih muda mas.”


Arya yang matanya fokus kedepan kini mengarahkannya keistrinya, “Kenapa bertanya begitu.” tanyaya tidak suka “Kamu mau tebar pesona gitu.”


“Jangan cemburu donk mas, maksud aku kan siapa tau gitu bisa dijodohkan dengan Ayu.”


Ayu langsung terbatuk begitu mendengar namanya dibawa-bawa dalam percakapan tersebut.


“Eh, kenapa Yu.” Ajeng bertanya.


“Gak kenapa-napa mbak.” ungkapnya bohong, “Sepertinya nasibku juga akan sama seperti kakak-kakakku, menikah karna dijodohkan.” lirihnya dalam hati.


******


Begitu mereka sampai dilokasi acara, sudah banyak tamu yang hadir, acara itu diadakan disebuah hotel mewah.


“Wah, meriah sekali acaranya, kayak orang resepsi aja.” takjub Ajeng.


Untuk sebuah acara penyambutan memang acara tersebut tergolong mewah dan meriah.


“Bersikap biasa saja Jeng, jangan norak.” tandas Arya.


“Iya mas.”


“Mereka pasti keluarga kaya Yu, siapa tau gitu kamu cocok dengan anaknya itu.” bisik Ajeng ditelinga Ayu.


“Isshhh, aku ikut bukan untuk cari jodoh mbak.”


"Cari jodoh juga gak apa-apa Yu, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampui." Ajeng menggoda Ayu.


"Ada-ada saja mbak ini."


Seperti dugaan Ayu, acara itu bener-bener membosankan, dalam hati Ayu tidak henti-hentinya merutuk.


“Buat apa juga aku diajak ikut oleh mas Arya, jika hanya untuk dikenalkan dan kemudian ditinggalkan ngobrol dengan rekan kerjanya.”


Sementara itu, Ajeng ngobrol dengan istri-istri rekan bisnisnya Arya, tau sendirikan kalau ibu-ibu dari istri pengusaha kaya berkumpul, mereka pada heboh, dijadikan ajang pamer ini itu dan tentunya tidak mau kalah dalam memamerkan kekayaan suami mereka. Ayu sampai jengah mendengarnya.


“Yu, jangan diem aja donk.” Ajeng menyenggol lengan ayu berharap Ayu ikut berpartisipasi dalam obrolan tersebut.


“Habisnya Ayu belum nikah mbak, jadinya Ayu gak punya apa-apa untuk dipamerkan.” bukan bermaksud menyindir seih, jiwa polos Ayu menjawab sesuai dengan apa yang ada difikirkannya.


Ibu-ibu itu tertawa mendengar cloteh Ayu, bener-bener tawa yang dipaksakan.


"Lucu sekali ya adik ipar kamu ini Ajeng." ujar salah satu dari mereka dengan suara ditekan.


"Ha ha ha." Ajeng menanggapi dengan tawa garing.


“Mbak, Ayu lapar, Ayu pergi ambil makan yah.” bisik Ayu. Lapar dia mendengar ocehan ibu-ibu tukang pamer itu.


“Ya udah, tapi nanti kesini lagi ya."


Ayu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Ayu berjalan kemeja hidangan, “Kenapa mas Arya maksa aku ikut sieh, acara ini bener-bener membosankan." rutuknya sambil mengambil makanan dimeja prasmanan.


Ayu membawa makanan yang sudah diambilnya dan mencari tempat yang nyaman supaya bisa makan dengan tenang, matanya sibuk menjelajah untuk mencari tempat yang kondusif ketika tubuh kokoh menabraknya, makanan yang dibawa tumpah mengenai gaun yang digunakan.


“Owhhhh,”


Sementara orang yang menabraknya juga gak kalah kaget. Laki-laki itu sedang menelpon dan mengakhiri pembicaraanya ketika mengetahui dirinya menabrak seseorang.


“Iya, nanti aku telpon lagi, ada masalah nieh.”


“Duhh,” Ayu mengusap gaunnya yang kotor


“Sory, soryy, pakai ini.” laki-laki itu menyodorkan tisu pada Ayu.


Mendengar suara tersebut Ayu yang heboh dengan gaunnya mendongak dan matanya bertemu dengan mata laki-laki yang menabraknya. Laki-laki tersebut terlihat bener-bener merasa bersalah.


“Duh, maaf ya mbak atas kelalaiannya saya, saya bener-bener minta maaf.”


“Iya mas gak papa kok,”


“Duh, saya bener merasa bersalah, gara-gara saya gaun mbak kotor begitu.”


“Iya gak apa-apa” dalam otak Ayu terlintas ide brilian, “ Yess, aku jadi punya alasan untuk kabur dari pesta membosankan ini.”


“Sekali lagi maaf yah, maaf banget.” entah sudah keberapa kalinya laki-laki tersebut meminta maaf.


“Ini dibersihin pakai air juga ilang kok mas, permisi” setelah mengatakan hal itu, Ayu main pergi saja, tujuannya adalah mencari toilet.


“Heii, tunggu” teriak cowok tersebut karna dihantui rasa bersalah.


Dalam toilet, Ayu tau noda ini tidak akan hilang, tapi biar terlihat berusaha dia akan mencoba membersihkannya pakai air. Ayu memercikkan air dibagian yang di tumpahi makanan.


“Heiii,” tegur cowok yang menabrak Ayu barusan.


“Astagaaa,” ayu berjengit kaget.


“Duh, sory lagi, kamu kaget ya.” laki-laki yang tadi menabrak Ayu berdiri dekat pintu toilet. Tujuannya satu yaitu menemui Ayu.


“Nieh orang ngapain lagi sieh, udah dimaafin juga.” Ayu membatin.


“Aku bener-bener merasa gak enak nieh.”


“Dia sepertinya bener-bener orang baik, buktinya dia minta maaf berkali-kali, padahal udah dibilang gak apa-apa juga, seharusnya aku yang bilang maksih sama dia, karna aku ada alasan kabur dari pesta memboasnkan ini.” ucap Ayu dalam hati.


“Iya mas gak apa-apa kok.” Ayu tersenyum supaya nieh orang merasa tidak bersalah lagi.


“Gini deh,” laki-laki itu mengambil sesuatu dari dompetnya dan menyerahkannya pada ayu. Ayu menatap laki-laki tersebut dengan bingung.


“Ini kartu nama saya, bawa keloundry gaunmu itu dan tagihannya kirim kesaya. “


“Duh, gak perlu segitunya mas, beneran ini gak apa-apa kok. “


“Tumben banget aku nemu orang sebaik ini, terakhir orang baik yang aku temui yaitu tama.” batin Ayu.


Laki-laki tersebut ngotot, “Mana bisa begitu, ini murni kesalahan saya, pokoknya saya akan tanggung jawab.”


“Ehh, kok kesannya dia hamilin aku yah." lagi-lagi Ayu membatin.


“Iya deh mas, Aku akan mengirim tagihannya ke mas.” ucap Ayu akhirnya “Daripada berdebat, mending aku ikutin aja deh kemauan laki-laki ini.”


“Nah gitu donk.” laki-laki itu tersenyum.


********