I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Shoping



Ayu marah karna ulah adit, dia tidak pernah menyangka dihari pertamanya dia bisa sekesel ini sama seseorang, orang yang baru dikenalnya lagi. Awalnya dia memang berterimakasih sama adit seenggaknya cowok itu menolongnya dari keisengan cowok breng*ek, tapi ternyata


adit sendiri lebih bren*sek dari cowok yang menggodanya dibis. Ayu tidak akan peduli seberapa brengs*knya adit jika dirinya tidak dijadikan sebagai alasan untuk memutuskan pacarnya. Dari rumah ayu memikirkan bagaimana caranya mendapatkan temen dan menjalani


hari-hari kuliahnya dengan damai. Ternyata yang dia dapat malahan adalah permusuhan dari gadis bernama angel pacarnya adit, eh sekarang sudah jadi mantannya adit, terlihat jelas sorot


kebencian angel yang ditujukan untuknya.


“Dasar cowok tidak punya perasaan, menyebalkan, breng*ek, bisa-bisanya dia jadiin aku sebagai alasan utuk mutusin pacarnya, dia gak tau apa dampak dari perbuatannya itu.” ayu yang


lembut dan jarang marah-marah, ngomel merutuki kelakuan adit.


Ketika ayu sampai dikelas, dia dibrondong pertanyaan oleh karin yang dari tadi menunggunya dengan penuh rasa penasaran.


“Yu, gue denger terjadi kehebohan dikantin, itu katanya gara-gara lo ya,”


ayu memandang karin dengan tatapan yang menyiratkan kalau dia malas membahas masalah ini, tapi dia tidak enak mengabaikan karin, apalagi karin sedikit tidaknya baik padanya dihari


pertamannya kuliah.


“Tau dari mana, bukannya kamu dikelas.”


“Gosip dikampus kita lebih cepat menyebar dari kecepatan cahaya, apalagi gosip itu menyangkut adit, jadi bener cerita itu, cerita kegue donk.”


Ayu tidak habis fikir, berita ini dengan cepat menyebar, padahal dia baru saja beranjak dari tempat kejadian perkara.


“Heh,ncerita donk penasaran nieh.”


Meskpipun sebenarnya malas, tapi toh ayu cerita juga, dan komentar karin ketika ayu selesai bercerita adalah, “Hah, jadi adit dan angel putus, wah lo keren deh yu.”


“Apaan sieh rin, dibagian mana letak kerennya, lagian seenaknya aja sik adit itu jadiin aku alasan untuk mutusin pacarnya, sik angelkan jelas benci sama aku.”


“Iya sieh bener juga, tapi ya udah deh gak usah difikirin, eh ngomong-ngomong gimana ceritanya sieh bisa ketemu sama adit sampai dicari kekelas segala lagi, lokan anak baru”


Ayu kembali menceritakan kisah singkatnya bertemu dengan adit.


“Oh, lo ketemu dibis, gue fikir lo sama adit pacaran atau saudaranya gitu, tapi yah yu saran gue, mending jangan deket gitu deh sama adit.”


Kata hati ayu, “Siapa juga yang mau deket sama tuh cowok, baru kenal aja dia udah bawa masalah dihidup aku.” tapi yang dia lisankan “Kenapa,”


“Yah gitu, selain dia playboy gitu, adit juga ketua geng motor gitu, agak bengal gitu deh anaknya, tapi gue tetap suka sieh, tapi buat lo yah yu, karna lo polos gitu jangan deh deket-deket dia, lo lihat sendiri gimana dia mutusin pacarnya.”


Emang sejak awal ayu sudah menduga sieh kalau adit cowok bengal, terlihat dari


penampilannya. Dalam hati ayu berjanji adit adalah cowok teratas yang akan diblaclist dari orang yang akan dijadikan temen lebih-lebih pacar.


******


Ayu dan karin berjalan menyusuri koridor, karna mata kuliah yang mereka ikuti sudah tidak ada mereka berniat untuk pulang. Ayu dan karin sekarang berteman, meskipun ayu kesel di hari


pertamanya kuliah tapi ada sedikit rasa seneng karna dia bisa memiliki temen. Bahkan mereka sudah bertukar nomer ponsel.


“Lo dijemput yu.”


Mengingat arya belum mendapatkan supir untuknya, dan tidak ada konfirmasi dari kakaknya tentang siapa yang akan menejmputnya, oleh karna itu ayu menggeleng untuk menjawab pertanyaan karin.


“Bareng gue aja, gue bawa mobil sekalian main gitu kerumah temen baru gue.”


“Emang kamu mau rin nganter aku.”


“Yah maulah masak gak mau.”


Ayu tersenyum senang, seenggaknya dia gak perlu naik kendaraan umum, dia lebih mempercayai karin yang baru berstatus sebagai temennya dari pada naik angkutan umum. Suara ponselnya yang


terdengar dari dalam tasnya mengalihkan perhatian ayu.


“Hp lo yu, bunyi” beritahu karin.


Ayu merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, dilayar terpampang nama kakaknya iparnya yaitu ajeng.


“Iya mbak.”


Terdengar suara kakak iparnya.


“Kuliahmu sudah selesai yu.”


“Iya, ayu baru saja keluar.”


“Hari ini mbak yang jemput, mbak ada didepan nieh.”


“Mbak ada didepan.”


“Iya mbak,”


“ Siapa yu.” karin bertanya.


“Mbak ajeng, dia minta ditemenin shoping gitu.”


“Wah seru tuh, boleh ikut gak, boleh yah, lagiankan bosen dirumah.”


“Aku tanya mbakku dulu deh ya.”


Mereka berjalan keluar kampus,begitu melihat ayu, ajeng melambaikan tangannya untuk menarik perhatian ayu. Ayu dan karin berjalan mendekat.


“Mbak, ini temenku karin, rin ini mbak ajeng istri masku.”


Dua wanita tersebut saling menjabat tangan dengan bibir dihiasi senyuman.


“Mbak gak nyangka yu, kamu bisa dapat temen dihari pertama.” ajeng berkata begitu karna sangat tau betul bagaimana sifat ayu yang pemalu dan susah berintraksi, ”Makasih yah rin karna udah mau berteman dengan ayu."


“Ahh, mbak gitu aja makasih, yah jelas aku mau temenan sama ayu donk mbak, orang ayu baik banget.”


“Bisa aja kamu rin,” timpal ayu, “Mana bisa kamu menyimpulkan begitu, kitakan baru kenal.”


“Bisa donk yu, akukan cenayang bisa membaca fikiran orang.” canda karin.


Tiga orang itu tertawa dengan candaan karin.


“Mbak putri gak ikut.”


“Gak, dia sama pengasuhnya dirumah, mbak sudah ajak tapi malah dicuekin karna dia asyik main sama bonekanya.”


“Mbak, karin boleh ikut gak sama kita.” pinta ayu


“Boleh yah mbak, aku bosen dirumah”


“Boleh donk, teman ayukan juga temen mbak."


“Yes, makasih mbak cantik.” karin antusias.


******


Karin bener-bener bisa bergaul dengan baik, buktinya meskipun kurang satu jam bertemu ajeng dia sudah akrab aja, apalagi dua wanita itu memiliki hobi yang sama yaitu shoping, jadi kloplah.


Mereka memasuki beberapa toko pakaian dan saling memberikan masukan satu dengan yang lainnya, sementara ayu hanya jadi penonton hanya bilang bagus atau gak dia akan bilang “Cocok.” jika ditanya.


“Yu, ini cocok lho sama kamu, coba sana.”


“Aku gak berniat beli baju mbak.”


“Mbak yang beliin.”


“Gak usah mbak, lagian itu haganya mahal.”


“Gak apa-apa, lagian masmu sudah memberikan mbak uang lebih untuk belanja, kita perlu baju baru untuk acara malam nanti.”


“Acara mbak, mas tidak ngundang rekan kerja untuk makan malam dirumahkan mbak.”


“Gak yu, kita yang diundang, mas mu dapat undangan dari rekan bisnisnya,”


“ Ayu dirumah saja deh mbak, gak ikut.”


“Mana bisa begitu yu, masmu mewajibkan semua anggota keluarganya untuk ikut,kecuali mas bima yang gak mungkin datang karna jauh.”


“Mas sakti ikut juga mbak.”


“Iya yu.”


Ayu menghela nafas, dia paling malas kalau diajak keacara-acara beginian, tapi apa dayanya kalau sang raja sudah bertitah.


“Setelah ini kita nyalon.”


Karin yang selesai memilih baju nimbrung mendengar percakapan ayu dan ajeng, “Nyalon mbak, wah seru tuh mbak, karin boleh ikutkan mbak.”


“Boleh donk rin.”


“Asyikkkk,”


Sedangkan ayu tidak ada antusias-antusiasnya sama sekali.


********