I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Lo Mencintai Dia



Adit memencet bel rumah Ayu, dia terpaksa harus kerumah Ayu karna ini satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk mencari keberadaan Ayu.


"Maaf, cari siapa." itu pertanyaan dari bi Asih yang membukakan pintu.


"Saya Adit bi temannya Ayu, apa Ayu ada dirumah."


Bi Asih telah diperingatkan sebelumnya oleh Arya kalau ada laki-laki bernama Adit yang mencari Ayu bilang saja tidak ada dirumah.


"Non Ayu gak ada dirumah, lagi pergi."


"Oh begitu ya, tapi Ayu tadi ada dirumahkan bi."


"Hmmm, iya, tapi saat ini non Ayu lagi pergi."


Dalam hati Adit mendesah lega, dia bersyukur Ayu pulang kerumah, seenggaknya dia bisa bernafas lega.


"Kalau Ayu sudah pulang, bilang saya mencarinya bi." pesan Adit sebelum pamit.


"Iya, akan saya sampaikan."


"Terimakasih bi, kalau begitu saya pamit."


Bi Asih mengangguk.


"Siapa bi, kenapa gak disuruh masuk." Ajeng yang tengah duduk santai diruang tengah sambil membaca majalah bertanya.


"Mas Adit katanya nyonya."


Ajeng menutup majalah yang tengah berada ditangannya dan memberikan perhatiannya pada bi Asih, "Dia nyari Ayu bi."


"Iya nyonya, tapi seperti yang telah tuan Arya pesan sama saya, saya bilang non Ayu tidak ada."


"Hmmm, bagus bi, ya udah kalau gitu mending bibi kembali kedapur."


"Baik nyonya."


Ajeng tau antara Ayu dan Adit kini tengah ada masalah atau gak mungkin mereka sudah putus kalau gak kenapa Ayu mau dijodohkan begitu saja setelah sebelumnya menolak mentah-mentah.


**********


Sudah tiga minggu sejak Ayu pergi dari kosan, sampai saat ini Adit sama sekali belum berhasil menemuinya. Berbagai cara dilakukannya supaya bisa bertemu dengan Ayu, mulai dari minta tolong Karin, tapi yang dilakukan Karin adalah memandangnya dengan penuh kebencian dan sebelum bibirnya digerakkan Karin lebih dulu berkata, "Sorry ya Dit, kalau lo mau minta bantuan sama gue, gue gak bakalan sudi tuh bantuin lo." Karin seolah-olah tau apa yang akan dikatakan Adit, dan biasanya diakhir kalimatnya Karin akan berkata, "Dasar cowok brengsek." sebelum pergi meninggalkan Adit. Dan Adit juga beberapa kali datang kerumah Ayu, tapi jawaban yang didapatkannya adalah selalu jawaban yang sama yaitu, Ayu tidak ada dirumah, Adit tau itu cuma akal-akalan keluarga Ayu saja supaya Adit tidak bisa bertemu dengan Ayu.


Saat ini Adit hampir frustasi, dia sering meledak-ledak dan amarahnya sering disalurkan ke sahabat-sahabatnya, sahabat-sahabatnya ngerti dengan apa yang tengah dialami Adit saat ini sehingga mereka tidak terlalu mempermasalahkan sikap Adit.


"Dari mana saja lo." Arman melayangkan pertanyaan begitu melihat adiknya berjalan melewatinya.


Adit tidak menggubris, dia berjalan melewati kakaknya.


"Heh." Arman menarik lengan jaket adiknya, sekarang dia bisa melihat dengan jelas wajah kusut sang Adik, "Lo ada masalah." Arman mengambil kesimpulan.


Adit mengangguk lesu, "Ceritain kegue." perintah Arman tanpa bisa dibantah.


Entah kenapa, Adit langsung menuruti perintah kakaknya, dia menceritakan masalahnya, dan seenggaknya setelah mengeluarkan kegalauannya sedikit tidaknya perasaannya menjadi lebih ringan.


"Lo udah jelasin kedia masalah vidio itu."


Adit menggeleng, "Gimana mau cerita kalau dia gak mau ketemu sama gue." Adit terlihat rapuh.


"Heh, ini bukan adik gue, adik gue pantang menyerah dalam mendapatkan apa yang dia mau, lo harus berusaha oke meluruskan kesalahpahaman ini, berusahalah, yakinkan dia." Arman memberikan semangat.


Adit tersenyum tidak yakin, Arman kembali meyakinkan adiknya, "Lo cinta sama diakan."


Adit mengangguk, "Sangat."


"Nah, tidak ada alasan buat lo nyerah, gue yakin adik gue yang ganteng ini pasti akan berhasil meluluhkan pujaan hatinya."


"Makasih bang, gue akan berusaha membuat dia percaya sama gue."


"Nah ini baru adik gue."


Dua kakak adik itu saling merangkul satu sama lain, Arman menepuk punggung Adit. Keakraban yang baru pertama kali terjadi setelah beberapa tahun itu diintrupsi oleh kedatangan Anggi sik adik bungsu dengan membawa beberapa helai gaun ditangannya.


"Dih, tumben akrab, bang Adit mau mati bang." crocos Anggi.


"Lo doain gue mati."


"Yah gak sieh, biar abang nyebelinnya selangit, tapi tetap saja abang masih menyandang status sebagai abang Anggi, kalau abang mati abang anggi berkurang donk satu, gak ada lagi yang bisa anggi bangga-banggain ke temen-temen anggi."


"Dasar lu ya." perasaan Adit sedikit membaik, buktinya dia bisa meladeni ocehan Anggi yang ngaco.


"Oh iya hampir lupa, abang-abang kasih saran ya, kira-kira menurut abang-abang mana yang cocok anggi kenakan untuk acara nanti malam." sambil mendekatkan satu helai gaun dibadannya.


"Acara, acara apaan." Adit bertanya karna gak tau.


"Makanya itu kalau abang kerjaannya kluyuran melulu abang mana tau, nieh bang anggi kasih tau, ntar malam keluarga kita akan mengadakan pertemuan dengan keluarga calonnya bang Arman."


"Yang bener bang." pertanyaan itu ditujukan pada Arman.


Arman hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.


"Wah jadi juga ternyata, selamat bang, terus kapan nikahnya nieh, udah gak sabar gue ingin punya keponakan."


"Lo doain saja biar lancar." respon Arman.


"Pasti."


"Nah, berhubung ini acara super penting, bang Adit juga diharuskan untuk ikut."


"Sudah sangat pasti donk kalau itu."


"Tapi jangan bikin malu bang, pakai celana yang bener jangan pakai celana sobek-sobek kayak yang abang pakai sekarang."


"Ihh, dasar lu ya." Adit menjitak kepala adiknya gemes, "Kenapa lo gak jadi komentator bola saja, kerjaan lo komen aja."


"Abanggg, Anggi dijitakin." Anggi melapor sama Arman.


Arman hanya tertawa melihat tingkah kedua adiknya itu.


*********


Saat ini Ayu tengah memandang pantulan wajahnya yang dipoles make up, dia masih belum mau beranjak dari tempat duduknya. Malam ini dia akan bertemu dengan laki-laki yang dijodohkan oleh kakaknya, Ayu hanya pasrah, sekarang dia menyerahkan semuanya pada keluarganya, dia sudah trauma karna memilih laki-laki yang hanya mempermainkannya.


"Ayu, turun yuk, mas Arya dan Sakti udah nunggu tuh dibawah." Ajeng mengingatkan.


Ayu tersenyum tipis sebelum berdiri mengikuti Ajeng berjalan keluar.


Tapi belum jauh Ayu melangkah, Ayu merasakan perutnya bergolak dan mual, Ayu berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar.


Ajeng menyusul Ayu dengan panik, dia memijit tengkuk Ayu, "Kenapa Yu."


"Gak tau mbak, tiba-tiba saja Ayu merasa mual, hoek, hoek."


"Apa kamu masuk angin kali ya."


"Iya kayaknya."


"Apa pertemuannya dibatalkan saja."


"Jangan mbak, Ayu baik-baik saja kok."


"Beneran kamu gak apa-apa, wajah kamu terlihat pucat lho Yu."


"Beneran kok mbak, Ayu gak kenapa-napa." Ayu meyakinkan.


"Tapi kalau kamu merasa tidak enak, cepat kasih tau mbak ya Yu."


"Iya mbak." Ayu mengelap bibirnya dengan tisu.


Di bawah, Arya dan Sakti telah menunggu mereka.


"Ayu kenapa." Arya bertanya melihat wajah pucat adiknya.


"Masuk angin sepertinya mas, tadi dia muntah-muntah."


"Apa pertemuannya ditunda saja ya, dan kamu lebih baik istirahat saja." saran Arman.


"Ayu sudah baik-baik saja kok mas."


"Beneran kamu baik-baik saja."


Ayu mengangguk, "Ya udah kalau gitu, ini hanya pertemuan biasa dan hanya sebentar saja."


"Mas." Sakti mengintrupsi, "Mending kita berangkat sekarang, nanti mereka kelamaan lagi nungguin kita."


"Iya, ayok."


*************