I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Menerima Kenyataan



Ketika Sakti tiba dibar, Arman sudah mabuk berat, Arman sudah akan meletakkan gelas berisi alkohol dibibirnya, namun lebih dulu direbut oleh Sakti.


"Cukup Man." Sakti membentak.


Dibalik temaram cahaya bar, Arman memperhatikan laki-laki yang mengambil gelas minumannya, dia cegukan dan menepuk-nepuk pipi Sakti, "Sakti, sahabat gue, lo datang buat nemenin gue minum hah." Arman berusaha meraih gelas yang berada ditangan Sakti.


Sakti menjauhkan gelas tersebut, "Man, kita pulang sekarang." Sakti melingkarkan tangannya dibahu Arman untuk memapahnya.


Arman menghempaskan tangan Sakti, "Pulang, ngapain pulang, gue mau seneng-seneng disini."


Tanpa mengindahkan penolakan Arman, Sakti kembali melingkarkan tangannya, dan dengan sekuat tenaga berusaha untuk membuat Arman berdiri, "Lo harus pulang, keluarga lo khawatir."


Arman sempoyongan, Sakti yang memapahnya hampir terjatuh karna berat badan Arman, "Sialan lo ya, dari dulu kerjaan lo bikin susah gue mulu." omel Sakti.


Dengan susah payah Sakti membawa Arman keluar dari bar, begitu sampai diparkiran, "Hoek, hoek." Arman muntah-muntah dan mengenai kemeja Sakti, Sakti reflek melepaskan Arman membuat Arman tersungkur dilantai parkiran.


"Ahkkk, bener-bener sialan lo Man." omel Sakti mencium bau tidak sedap dikemejanya, "Iuhhhh." jijiknya.


Arman malah ngoceh gak karuan sambil cekikikan.


Setelah membersihkan muntahan tersebut seaadanya dengan tisu, Sakti kembali memapah Arman untuk dibawa kemobilnya.


"Kalau lo muntah dimobil gue, gue gak segan-segan nendang lo." ancam Sakti sambil memasukkan Arman ke mobil.


Orang yang diancam sudah tidak sadarkan diri, Sakti berniat membawa Arman ke apartemennya, gila aja kalau dibawa pulang dalam keadaan begini, bisa syok orang tuanya melihat putra kesayangan mereka yang terkenal baik dan kalem ini teler, namun Sakti harus mengabarkan juga donk kepada keluarga Arman, kalau kini Arman tengah bersama dia dan kondisinya dalam keadaan baik-baik saja agar mereka tidak khawatir.


***********


Matahari sudah meninggi, panasnya sampai menembus gorden ruangan tempat dimana Arman kini berbaring, Arman memicingkan matanya karna bias cahaya tersebut.


"Kepala gue." Arman memegang kepalanya yang terasa sakit akibat banyaknya alkohol yang dikonsumsinya.


Arman meraih gelas berisi air putih yang berada dinakas samping tempat tidur, sedikit lebih baik, dia mulai sadar dia tidak berada dikamarnya. Matanya menjelajah sekeliling dimana kini dia berada.


"Dimana gue."


Pertanyaannya terjawab ketika pintu terbuka yang memampangkan wajah bete Sakti, "Bangun juga akhirnya, sudah puas lo berhibernasinya." ledek Sakti.


Kini taulah Arman dia berada dimana sekarang, "Jam berapa sekarang."


"Lihat aja sendiri."


Mata Arman mengarah pada jam dinding, angka pada benda bulat tersebut menunjukkan angka 11.20 menit, dan untungnya ini hari minggu jadinya dia gak perlu panik karna telat ke kakantor.


"Kalau lo mau sarapan, salah, maksud gue." Sakti meralat kalimatnya, "Kalau lo mau makan siang, tuh udah gue siapin dimeja."


"Thanks."


"Itu tidak cukup, lo harus cerita penyabab lo kayak gini sebagai ucapan terimaksih."


Sakti berbalik, namun kalimat yang keluar dari bibir Arman langsung menghentikan langkahnya, "Lo taukan tentang semua ini."


Sakti tidak merespon karna kalimat singkat tersebut tidak mampu menjelaskan apa yang dimaksud oleh Arman, "Lo tau tentang hubungan Ayu dan Adit."


Dengan cepat Sakti membalikkan badannya ke arah Arman, ternyata penyebab Arman diluar kendali adalah adiknya, Arman sepertinya sudah mengetahui semuanya.


"Lo udah mengetahui kebenarannya."


Arman mengangguk, entah kenapa rasa sakit kembali dirasakannya, dadanya terasa sesak, "Cerita kegue, semua yang lo tau tentang hubungan adik gue dan Ayu."


Sakti terdiam memikirkan bercerita mulai dari mana, Arman masih menunggunya untuk memulai.


Setelah beberapa detik, barulah Sakti mulai bercerita, dia tidak tahu banyak tentang hubungan Ayu dan Adit karna tidak tinggal serumah dengan Ayu, namun sedikit tidaknya dia sedikit banyaknya tau hubungan Ayu dan Adit dari Karin.


Arman menghela nafas berat begitu Sakti menyelsaikan ceritanya, dari cerita Sakti, Arman menarik kesimpulan kalau Adiknya dan Ayu saling mencintai satu sama lain, dia adalah orang ketiga diantara hubungan mereka.


"Man, lo baik-baik sajakan." tanya Sakti hati-hati begitu dia menuntaskan ceritanya karna melihat wajah murung Arman.


Arman memaksa bibirnya untuk tersenyum, "Lo fikir aja sendiri, cowok mana yang baik-baik saja mengetahui calon istrinya ternyata mencintai adik calon suaminya."


Sakti menepuk punggung Arman, "Sorry Man."


"Kenapa lo minta maaf."


Sakti mengangkat bahu, "Yah, gue minta maaf atas nama adik gue karna telah bikin lo sakit hati kayak gini."


"Yah, mungkin gue harus merelakan Ayu untuk Adit."


"Man, " Sakti terkejut, "Lo gak seriuskan."


"Emang gue kayak orang bercanda, gak kan, meskipun begitu selama Adit belum sadar, gue yang akan bertanggung jawab menafkahi anak yang dikandung Ayu, biar bagaimanapun, bayi itu adalah keponakan gue."


"Gue bener-bener malu sama lo Man."


"Biasa ajalah, lo tetap sahabat gue."


"Lo memang laki-laki baik, Ayu bener-bener rugi karna telah menyia-nyiakan lo."


Arman tersenyum sendu.


**************


Sore itu, Arya, Sakti dan juga Ayu mengunjungi rumah besar kediaman keluarga Bagaskoro, tujuannya tidak lain adalah untuk menjelaskan perihal hubungan Ayu dan Adit. Dalam hal ini, Arman yang sudah menerima kenyataan bersedia membantu untuk memberi penjelasan pada keluarganya. Kedatangan Arya sekeluarga disambut baik oleh keluarga Bagaskoro.


"Astagaaa, calon mantu." Alya heboh karna kedatangan Ayu dan dua kakaknya yang mendadak, "Kenapa gak ngasih tau dulu kalau mau datang, mama belum menyiapkan apa-apa lho."


Sakti yang menjawab, "Gak usah repot-repot tante, dan maaf sebelumnya kalau kedatangan kami mengganggu."


"Yang repot siapa nak Sakti, saya seneng banget malahan karna calon mantu dan besan datang berkunjung."


"Ma, heboh mulu deh dari tadi." tegur Anggi yang juga ikut menyambut kedatangan Ayu dan keluarganya, "Ajak masuk donk mbak Ayu dan keluarganya."


Dalam hati Ayu membatin, "Kalau mereka sudah tahu kebenarannya, akankah mereka masih memperlakukanku seperti ini."


"Wah, sebuah kehormatan dikunjungi oleh calon besan." sapa Adi sang kepala keluarga, dia datang keruang tamu begitu dikasih tau kalau Arya tengah berkunjung.


"Semoga kedatangan kami tidak mengganggu ketenangan keluarga pak Adi." ujar Arya.


"Tentu saja tidak, ayok mari silahkan duduk."


Arya, Sakti dan Ayu duduk disofa panjang, Anggi dan Alya juga ikut bergabung dalam pembicaraan tersebut. Arman menyusul kemudian, matanya dan Mata Ayu bersitatap untuk sesaat sebelum keduanya sama-sama membuang pandangan. Arman tidak memungkiri, rasa sakit dan rasa cinta itu masih ada, apalagi saat bertemu dengan Ayu, tapi dia terpaksa harus menerima kenyataan karna dia yakin seiring dengan berjalannya waktu dua rasa itu bisa terkikis. Mata Arman terarah pada perut Ayu yang masih kelihatan rata, Ayu yang melihat arah pandang Arma langsung menutupi merapatkan swuiter yang dikenakannya.


Dan pada akhirnya, Arya yang dibantu oleh Arman menjelaskan hubungan Ayu dan Adit, dan menjelaskan juga kalau kini Ayu juga tengah mengandung anak Adit. Sama seperti Arman, keluarga Bagaskoro juga terkejut dan pastinya kecewa, tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, yang mereka bisa lakukan adalah menggagalkan pernikahan antara Ayu dan Arman, meskipun begitu Alya dan Anggi tetap menyayangi Ayu, apalagi setelah mengetahui Ayu kini tengah mengandung.


Ayu yang duduk disamping Arya hanya menunduk dan memilin jari tangannya, dia sangat malu pada keluarga Arman, Alya mendekati Ayu dan duduk disamping Ayu.


Alya mengelus perut Ayu yang masih rata, "Berapa usia kandungan mu sayang." bertanya dengan nada lembut.


"Satu bulan tante."


"Lho kok manggilnya tante sieh, mama donk."


Ayu semakin merasa bersalah, tidak menyangka setelah membuat keluarganya dan keluarga Arman malu dia masih diperlakukan dengan baik, "Iya ma."


"Asyik banget ya, bentar lagi Anggi bakalan punya keponakan." timbrung Anggi, anak itu seperti tidak punya beban masalah.


Ayu tersenyum, entahlah, tapi rasanya dia gak sabar menunggu kelahiran sang bayi.


"Anak itu." ujar Alya, "Disaat seperti sempet-sempetnya koma dan membiarkan Ayu sendirian menanggung perbuatannya." Alya ngomel.


"Bener ma, kalau bang Adit udah bangun, jewer saja telinganya." oceh Anggi.


"Mama gak pernah menyangka ternyata Adit akan lebih dulu punya anak daripada kamu Man."


"Udahlah ma, ini sudah kehendak Tuhan." jawab Arman lapang dada, sekarang dia sudah bener-bener ikhlas dengan semua keadaan ini, termasuk melepas Ayu untuk Adit.


*********


Dua tahun berlalu.


Segala upaya telah dilakukan oleh keluarga bagaskoro untuk kesembuhan Adit, mulai dari membawa Adit ke Amerika, namun semuanya nihil, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Adit kembali ke Indonesia.


Dalam jangka waktu dua tahun, banyak hal yang terjadi, salah satunya adalah Ayu kini sudah melahirkan bayi laki-laki tampan yang kini berumur dua tahun, bayi yang diberi nama Moreno Hadi Bagaskoro tersebut menjadi kesayangan seluruh keluarga, terutama Alya yang selalu memanjakan cucunya. Tiap hari Ayu membawa Moreno untuk menemui Adit yang masih setia menutup matanya, hal ini bertujuan supaya Moreno kenal dengan papanya.


Dengan membawa bunga dan menggendong Morena, Ayu memasuki kamar rawat Adit.


"Pa Pa Pa." kalimat wajib yang selalu diucapkan Moreno setiap memasuki kamar papanya.


Moreno masih belum lancar bicara, dia hanya bisa mengucapkan beberapa kata saja, termasuk papa dan mama.


"Halo papa, kami datang." sapa Ayu pada Adit.


Moreno kembali mengucapkan kalimat "Pa pa pa."


"Tuh mas, Moreno manggil, kangen dia sama papanya, mas kapan bangunnya." setiap kali mengajak Adit bicara Ayu dipastikan menitikkan air matanya, sedih dia melihat moreno yang tumbuh tanpa sosok seorang ayah.


"Sudah dua tahun mas, kenapa kamu masih betah tertidur, kamu tidak rindu dengan kami, kamu tidak rindu melihat Moreno, dia sudah besar mas, dia butuh sosok seorang ayah." Ayu mencurhatkan segala isi hatinya, berharap Adit bisa mendengarnya.


"Bangun mas, demi kami, ku mohon." air mata Ayu makin deras mengucur.


Di alam bawah sadarnya, Adit mendengar suara Ayu yang memanggilnya sambil menangis, hal tersebut mendorongnya untuk berjuang mendapatkan kesadarannya, dan hal tersebut berhasil, mata Adit terbuka perlahan dan mengerjap-ngerjap, Ayu yang sibuk menghapus air matanya tidak melihat hal tersebut.


Sementara Morena makin heboh melihat papanya yang kini membuka matanya, "Pa pa pa."


"Yu." Adit berusaha memanggil Ayu, suaranya terdengar lemah.


Mendengar namanya dipanggil, Ayu mengangkat wajahnya dan matanya diarahkan pada Adit.


Mata Ayu melebar, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Adit, laki-laki yang setia ditunggunya kini membuka matanya, Ayu mencubit lengannya untuk memastikan itu bukanlah mimpi, "Aww." dia meringis kesakitan sekaligus bahagia karna ini bukanlah mimpi.


"Mas Adit, mas udah bangun, astaga." Ayu menutup bibirnya.


Dengan menggendong Moreno, Ayu berlari memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Adit dan setelah itu Ayu menghubungi keluarga Adit.


Bibir Ayu tidak henti-hentinya melafalkan rasa syukur karna pada akhirnya doanya dikabulkan, "Papa sudah bangun sayang." dia memberitahu moreno yang belum mengerti sama sekali arti kata-katanya.


Anak kecil itu kembali bergumam, "Pa pa."


"Iya sayang papa sudah bangun, Moreno sekarang bisa bermain dengan papa."


Gak butuh waktu lama semua keluarga Adit sudah berkumpul dan langsung merongrong Ayu dengan pertanyaan.


"Gimana keadaan Adit Yu." tanya Alya, sempat gak percaya kalau putra keduanya sudah terbangun setelah tidur panjangnya.


"Iya Yu, gimana keadaan Adit." ulang Arman, dia bela-bela meninggalkan meting hanya untuk melihat adiknya.


"Mas Adit lagi diperiksa sama dokter, ma mas."


"Astaga, mama bener-bener gak percaya ternyata anak mama akhirnya bangun juga." lirih Alya dengan penuh sykur dan haru, mata-matanya sampai berkaca-kaca.


"Ini semua anugrah dari Tuhan ma." Adi merangkul bahu istrinya.


Anggi mengambil Alih menggendong keponakannya, "Sini sayang sama tante Anggi."


Morena berceloteh, "Gi gi."


"Aduhh, gemesnya keponakanku ini." Anggi mencubit pipi cabi Moreno, "Sebentar lagi Moreno bisa lihat papa, kalau papa udah bangun tendang saja dia ya biar tahu rasa karna udah bikin semua orang khawatir."


Kalimat Anggi tersebut membuat semua orang yang disana terkekeh ditengah ketegangan karna menunggu hasil pemeriksaan dokter.


**********