
Adit tidak tau harus membawa Ayu kemana saat ini, dia tidak mungkinkan membawa Ayu kerumahnya, bisa-bisa mamanya langsung menikahkan mereka, bukannya tidak mau menikah, tapi masalahnya bagaimana dia akan menghidupi Ayu kalau dia saja masih kuliah, ingin membawa Ayu kerumah temannya tambah tidak mungkin lagi karna semua temennya laki-laki, akhirnya pilihan Adit jatuh pada sebuah penginapan karna tidak tau harus membawa Ayu kemana. Ada beberapa kamar yang tersisa, tapi karna niatnya Adit tidak akan ikut menginap jadinya dia cuma memesan satu kamar untuk Ayu. Adit mengantar Ayu kekamar, Ini bukan untuk pertama kalinya Adit dan Ayu berduaan dalam sebuah kamar, sebelumnya mereka pernah dalam kondisi seperti saat ini, jadi mereka sama sekali tidak merasa sungkan.
"Ayy, apa kamu laper." Adit bertanya.
Ayu mengangguk, dia baru merasakan kalau dia ternyata sangat lapar karna gara-gara Arya dia tidak jadi makan.
"Tunggu aku sebentar oke, aku cari makan dulu."
"Mas Adit gak lama kan."
"Kenapa, kangen ya." Adit menggoda.
"Bukan begitu mas, Ayu kan takut sendiri."
"Kecewe aku, aku fikir kalau aku lama kamu bakalan kangen." Adit memasang wajah pura-pura kecewa.
"Apa sieh mas, mending sana gieh pergi cari makan, Ayu udah laper banget nieh."
"Tapi sun dulu donk." Adit memajukan pipinya untuk dicium Ayu.
Ayu mencium pipi Adit, "Mmuahh, udah sana pergi."
"Satunya lagi donk Ayy." Adit menyodorkan pipi satunya lagi, berharap itu juga kena jatah kena cium.
Kembali Ayu memajukan bibirnya untuk mencium pipi Adit yang satunya lagi, karna Ayu memenuhi keinginannya dengan mudah, Adit tambah ngelunjak, Ini juga donk Ayy." Adit menunjuk bibirnya untuk dicium.
"Nieh cium." Ayu mengepalkan tangannya didepan wajah Adit.
"Iya, iya, aku pergi sekarang." Adit langsung ngacir.
Begitu Adit keluar, Ayu tertawa melihat tingkah Adit, "Mas Adit, mas Adit, ada ada saja.
Selama Adit keluar membeli makanan, Ayu membersihkan diri dan begitu dia keluar dari kamar mandi, Ayu menemukan Adit sudah duduk disofa, dimeja sudah terhidang dua piring nasi goreng dan dua boto air mineral ukuran tanggung. Wangi dari nasi goreng menusuk kehidung Ayu, membuat perut Ayu semakin keroncongan saja, Ayu menelan ludahnya.
"Hmmm, enak banget kayaknya." Ayu berjalan mendekati sofa.
"Sini Ayy." Adit menepuk tempat kosong yang ada disampingnya.
Melihat Ayu tidak kunjung menyentuh nasi goreng yang ada didepannya membuat Adit bertanya, "Lho, kok dilihatin aja sieh gak dimakan, tadi katanya laper."
"Maunya disuapain." Ayu merengek manja.
"Aduh, aduh, pacar aku manja banget sieh." Adit mencubit pipi Ayu gemes, "Sini aku suapin."
Adit mengarahkan sendok yang berisi nasi goreng ke bibir Ayu, Ayu membuka bibirnya untuk menerima suapan dari Adit.
"Enyakk." ujarnya dengan mulut penuh, pipinya menggembung karna nasi goreng yang dikunyahnya.
"Telan dulu sayang baru komentar." Adit gemes.
"Enak mas nasi gorengnya apalagi mas yang suapin."
"Belajar gombal dari mana sieh kamu."
"Orang yang didepan akulah."
Adit terkekeh, "Bisa saja kamu Ayy."
Ayu memakan nasi goreng itu dengan lahap, dan kini sampai pada suapin terakhir, "Anak pinter." ujar Adit mengelus puncak kepala Ayu.
Ayu mengelus perutnya yang kekenyangan, dia menguap, "Udah sana tidur." perintah Adit melihat Ayu menguap.
"Tapi mas jangan tinggalin Ayu ya."
"Gak akan." janji Adit.
Ayu membaringkan tubuhnya ditempat tidur, Adit duduk disampingnya dengan mengelus tangan Ayu.
"Mas nyanyi donk biar Ayu bisa tidur."
"Nyanyi, nyanyi apaan."
"Apa aja yang mas bisa."
"Emang suara mas bagus gitu."
"Bagus banget, bisa bersainglah pokoknya dengan justin bibier."
"Coba Ayu denger."
"Ekhem, ekhem." Adit berdehem membersihkan tenggrokannya sebelum mulai bernyanyi.
Adit mulai menyanyikan sebuah lagu cinta, suara Adit tidak bagus tapi juga tidak bisa dibilang jelek juga, kadang juga fals, tapi buat Ayu, suara Adit merdu sehingga berhasil membuat Ayu terlelap dan memasuki dunia yang baru yaitu dunia mimpi.
Adit memandang wajah damai kekasihnya yang sedang terlelap, menyentuhnya dan bergumam, "Cantik." Adit senyum-senyum sendiri mengingat awalnya dia hanya menjadikan Ayu sebagai taruhan, eh gak taunya, dia jatuh cinta beneran.
Niat awalnya memang Adit tidak ingin menginap, tapi dia gak tega meninggalkan Ayu sendirian, akhirnya dengan tangan masih menggengam tangan Ayu, Adit terlelap disamping Ayu.
**********
Ayu tidur nyenyak setelah satu minggu ini dia tidak pernah tidur dengan tenang karna masalah yang tidak kunjung kelar, saking nyenyaknya, dia tidak sadar kalau posisi tidur Adit kini tengah memeluknya, kalau dia tau Adit tidur bersamanya, dia sudah pasti mendorong Adit. Adit yang pertama membuka mata, pemandangan yang pertama dilihatnya adalah waiah Ayu dengan mata terpejam, "Morning sunshine." sambil mencium kening Ayu.
Ayu hanya menggeliat tapi tidak terbangun, "Bahagianya kalau tiap bangun tidur disuguhi pemandangan indah seperti ini." lirih Adit memperhatikan wajah Ayu.
Setelah puas memandang wajah Ayu, Adit bangun dan berjalan kearah kamar mandi, dia hanya menggosok gigi dan wajahnya setelah itu dia keluar mencari sarapan untuk Ayu dan dirinya. Ketika dia kembali, Ayu masih terlelap, setelah terlebih dahulu meletakkan sarapan yang dibawanya, dia mengahampiri Ayu untuk membangunkannya.
"Bangun sayang." bisiknya tepat ditelinga Ayu.
Ayu menggeliat, kelopak matanya bergerak, dengan perlahan Ayu mulai membuka matanya dan menguceknya.
"Mas Adit." Ayu memegang wajah Adit yang begitu dekat dengan wajahnya, "Ini mas Aditkan." tanyanya, Ayu masih tidak percaya kalau saat ini dia bersama dengan Adit.
"Iya, ini aku, sekarang bangun dan kita sarapan."
"Hmmmm." menggeliat.
"Ayok bangun, jangan jadi pemalas." Adit menarik Ayu supaya terbangun.
Meskipun masih dalam kondisi mengantuk, Ayu terpaksa bangun dan berjalan mengikuti Adit untuk sarapan.
"Mas Adit gak ada kegiatan hari ini." Ayu bertanya.
"Ada, kan nemenin kamu."
"Maksud aku, apa mas gak kuliah gitu." Ayu memperjelas maksudnya.
"Hari ini free." Adit berbohong, kalau dia mengatakan yang sebenarnya, pasti Ayu memaksanya untuk pergi kuliah, padahalkan dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Ayu seharian.
"Ayy."
"Kenapa kamu kabur dari rumah." pertanyaan yang jawabannya tertunda semalam.
Wajah Ayu terlihat murung, dia menunduk, "Hei, apa yang terjadi, ceritain semuanya ke aku." pinta adit, dia meletakkan jari telunjuknya didagu Ayu supaya wajah Ayu terangkat.
Belum saja bercerita mata Ayu sudah digenangi kristal bening, "Ayy, apa yang terjadi." Adit mulai khawatir.
"Ayu," suara Ayu terputus, "Ayu dijodin mas." pecahlah tangis Ayu, meskipun dengan terbata-bata Ayu menceritakan semuanya pada Adit.
Sumpah, Adit keget mendengar kalau Ayu dijodohkan, dia tidak pernah menyangka, dizaman modern seperti ini masih saja ada acara perjodohan. Adit berjanji dalam hati, kalau dia tidak akan membiarkan Ayu bersama dengan laki-laki lain, dia yang harus menikah dengan Ayu kelak.
Ayu sesenggukan, dari saku jaketnya, Adit mengeluarkan sapu tangan yang pernah digunakan Ayu untuk membalut lukanya, dengan sapu tagan itu Adit menghapus air mata Ayu.
Ayu memeluk Adit, dan semakin keceng tangisnya, "Ayu gak mau dijodohkan mas, bantu Ayu."
Adit menenangkan, "Aku akan mencari cara supaya perjodohan itu dibatalkan."
Ayu mengangguk, Adit kemudian mengambil tangan Ayu dan meletakkan sapu tangan tersebut ditangan Ayu.
"Saat ini kamu lebih membutuhkannya."
Ayu memandang sapu tangan kenangan tersebut, dia tidak ingat pernah menjadikan sapu tangan itu untuk membalut luka Adit, ternyata seiring dengan berjalannya waktu, cinta pertamanya terkikis dan digantikan dengan hati yang baru.
*********