I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Bertemu Musuh Bebuyutan



Ayu menyandarkan tubuhnya dipintu, dengan kedua tangan memeluk boneka beruang besar yang didapatkan adit untuknya dengan bersusah payah. Ayu tersenyum. Lampu tiba-tiba menyala membuat mata ayu silau. karin yang menyalakan lampu, dia turun kelantai bawah untuk mencari makanan karna dia lapar.


"Astgaa, akhirnya lo pulang juga yu." ujar karin berjalan kearah ayu.


Ayu buru-buru mengondisikan bibirnya, malukan dia kalau ketahuan senyum-senyum sendiri.


"Lo tau gak yu, ini gue gak lebay ya, mas arya tuh bener-bener neror gue, nelponin gue sampai 15 kali, nanyain hal yang sama, yaitu nanyain lo lagi apa, dan gue ngasih jawaban yang sama tiap dia nelpon yaitu gue mengatakan lo lagi tidur."


"Mas arya percayakan." tanya ayu was-was.


"Percayalah, guekan pinter akting, secarakan dulu gue pernah ikut kelas drama waktu SMA."


"Makasih ya rin kamu rela berbohong demi aku."


"Udah gak perlu bilang makasih segala,"


Mata karin tertuju pada boneka yang dipeluk oleh ayu.


"Anjirrr," karin merebut boneka yang berada dalam pelukan ayu, "Lucu banget, dikasih adit."


Ayu malah senyum dan mengangguk, "Mas adit mendapatkannya dengan penuh usaha."


"Ih, ayok buruan kekamar, lo harus nyeritain setiap detail lengkap apa yang terjadi anatara lo dan adit tanpa harus dipotong-potong." karin antusias ingin mendengar cerita ayu sampai dia lupa akan rasa laparnya.


"Cerita, cerita." cecar karin begitu dia dan ayu sudah berada pada posisi nyaman dikasur.


Sebelum buka suara ayu senyum lagi, sepertinya ini hari senyum buat ayu.


"Gue tau ada hal menakjubkan yang terjadi, makanya dari tadi lo senyum mulu, ayok donk cerita, sumpah lo bikin gue mati penasaran aja."


"Panjang ceritanya rin."


"Sampai pagi bila perlu, gue akan setia denger cerita lo."


Akhirnya ayu menceritakan dengan lengkap apa yang mereka lakukan selama dipasar malam, ayu juga menceritakan kalau dirinya ditembak oleh adit didepan rumah karin."


Setelah menyelsaikan ceritanya ayu senyum lagi.


"Gue gak pernah nyangka, ternyata rumah gue jadi saksi cinta kalian berdua."


"Kami belum pacaran rin, akukan belum nerima dia." ayu mengklarifikasi.


"Melihat dari wajah lo yang berbunga-bunga gitu, gue yakin lo bakalan nerima dia cepat atau lambat."


"Aku bingung rin."


"Bingung kenapa."


"Aku takut rin, aku takut adit cuma main-main sama aku, kamu tau sendirikan dia gimana."


"Iya juga sieh yu, gue juga agak kurang suka gitu kalau lo jadian sama adit," karin menambahkan dalam hati, "Gue sukanya lo sama mas arman." tapi yang dilisankan adalah, "Tapi mungkin setelah sama lo adit bisa berubah."


"Entahlah, mas arya juga pasti gak bakaln setuju kalau aku seandainya nerima cinta mas adit."


"Gampanglah itu, kalau mas arya gak setuju dengan hubungan lo dengan adit, lo ajak aja adit kawin lari."


Ayu tertawa mendengar saran karin, fikirnya karin bercanda, "Dih, karin orang aku serius juga, kamunyalah bercanda"


"Ye.. siapa yang bercanda, kalau lo kawin lari, dan lo datang lagi minta restu, mereka bisa apa."


"Iya deh makasih atas sarannya, kayaknya saran kamu patut untuk dicoba." ujarnya bercanda menanggapi ucapan karin.


***********


Apa kamu mau makan siang denganku


Itu bunyi pesan yang dikirim adit untuk ayu. Saat itu kelas udah selesai, tapi karna berhubung kelas berikutnya dimulai satu jam lagi, ayu dan karin memutuskan untul nongkrong diperpustakaan.


Ayu memang belum memutuskan apakah akan menerima adit atau tidak, tapi setiap adit mengirim pesan itu mampu membuatnya tersenyum dan berbunga-bunga.


"Yang jatuh cinta, senyum mulu, gue tebak, pasti lo dapet pesan dari adit ya." karin menyenggol lengan ayu.


"Hmmm."


"Bikin gue iri aja,"


"Mas adit ngajakin makan siang bareng rin, jawab apa aku."


"Ngapain pusing-pusing mikir sieh, lo tinggal bilang iya aja."


"Tapi aku malu bertemu dengan mas adit setelah dia nembak aku."


"Ngapain lo malu,"


"Aku juga gak tau."


"Dasar aneh."


Ayu belum mengiyakan ajakan adit, tapi adit udah nongol aja dikelas ayu.


"Orang yang dibicarakan panjng umur ternyata, tuh pujaan hati lo datang."


Jantung ayu semakin berdebar, dia jadi salah tingkah sampai tangannya menyenggol buku-bukunya sampai jatuh.


Ketika dia akan mengambilnya, ada tangan yang terlebih dahulu melakukannya untuknya. Ayu mendongak untuk mencari tahu pemilik tangan tersebut dan ternyata pemilik tangan itu adalah adit. Mata mereka bersitatap, dan untuk sesaat pandangan mereka terkunci satu sama lain.


"Ekhemm, jangan lama-lama saling tatapnya, bikin yang jomblo iri aja." deheman karin sekaligus ledekan karin menyadarkan mereka. Namun ketika mereka akan mengangkat kepala mereka, jidat mereka bertabrakan.


"Awwwhh," ayu meringis kesakitan sambil memegang jidatnya.


"Sorry, sorry ayy, aku gak sengaja, sakit ya." adit khawatir.


"Gak apa-apa kok mas." masih memegang jidatnya.


"Apa perlu ke rumah sakit." maklumin aja deh, orang jatuh cinta biasanya lebay.


"Beneran gak apa-apakan." memastikan.


"Iya mas."


"Sweet banget sieh kalian." karin komen membuat ayu malu.


"Rin, aku ngajak ayu makan siang, bolehkan."


"Sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, gue gak ngizinin, tapi karna lo mintanya dengan sopan, dengan terpkasa deh, gue relain ayu pergi sama lo."


"Lo yang terbaik deh rin."adit mengacungkan jempolnya.


"Mas, karin ikut ya."


"Gak maulah gue, masak iya gue jadi nyamuk." tolak karin.


"Tapi rin.."


"Udah gak usah pakai tapi-tapian, mending sana lo pergi berdua sama adit."


Ayu masih belum rela meninggalkan karin sendiri, sebelum bener-bener pergi dia berbalik memandang karin, karin mengibas-ngibaskan tangannya.


"Kapan sieh mas sakti mau sama gue." desahnya begitu ayu dan adit sudah pergi.


"Sama gue aja rin, gue jomblo lho." badrun yang mendengar kegalauan karin merekomendasikan dirinya.


"Ih, najis lo,"


*************


Adit memilih kafe yang tidak jauh dari kampus supaya nanti tidak terlambat saat mengantarkan ayu. Sejak adit menyatakan cintanya, jantung ayu selalu berdebar. Seperti saat ini, jantungnya bertalu-talu dan ayu juga malu memandang mata adit secara langsung, yang dilakukannya hanya menunduk atau melihat kearah lain, pokoknya berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengan adit. Adit menyadari hal itu, dia berkata, "Apa keberadaanku membuat kamu tidak nyaman."


"Eh, gak kok mas."


"Lega aku dengarnya, ku fikir kamu gak mau lihat aku karna kamu gak suka."


"Bukan begitu mas, ayu hanya malu." wajah ayu memerah.


"Kenapa nieh cewek menggemaskan sekali, gue bener-bener berharap dia mau jadi pacar gue, gue berjanji akan setia kalau dia nerima gue." berjanji pada diri sendiri.


"Malu, malu sama siapa."


"Itu, itu.." ayu tidak bisa menjelaskan, akhirnya dia menjawab, "Gak apa-apa kok mas."


Pelayan datang membawa buku menu untuk mereka.


"Mau makan apa ayy." adit bertanya sambil membolak-balikkan buku menu.


"Aku mau mak....."


"Ayy, kamu megang buku menunya kebalik." adit terkekeh, dia gak habis fikir dizaman modern begini masih ada wanita sepemalu ayu pada laki-laki yang menembaknya.


"Eh," ayu membalikkan buku menu tersebut, sumpah malu banget sieh dia.


Adit terkekeh melihat tingkah ayu, dia makin gemes.


Setelah menyebutkan pesanannya, sambil menunggu pesanan mereka, adit berusaha mengajak ayu ngobrol.


"Kuliah kamu gimana, baik-baik sajakan."


"Iya mas."


"Dosen galak itu gak mempersulit kamu kan." maksudnya pak zaki.


"Gak mas."


"Bagaimana dengan angel, dia gak ganggu kamu lagikan."


"Gak mas."


"Duh susah ya ngajak gadis yang sedang malu ngobrol, jawabnya cuma dua kata doank, padahalkan gue ingin ngobrol banyak." keluh adit dalam hati.


Karna tidak tau harus bertanya apalagi, adit memilih untuk menatap ayu yang kini duduk berhadapan dengannya, yang ditatap malah nunduk, seolah lantai ubin lebih menarik ketimbang adit.


"Wah, wah, rupanya ketua geng scorpio disini juga, kebetulan yang sangat tidak terduga."


"Aksara," adit jelas terkejut tidak menyangka akan bertemu dengan musuh bebuyutannya.


Aksara adalah ketua geng motor tiger yang merupakan musuh bebuyutan geng yang digawangi oleh adit.


Aksara memperhatikan ayu dan bergumam, "Pacar lo, boleh juga."


Ayu takut melihat penampilan aksara yang terlihat seperti preman pasar.


"kenalin gue donk." aksara mengulurkan tanganya tapi, adit menepisnya dengan kasar.


"Jauhkan tanga lo dari ayu."


"Oh, menarik, jadi ayu namanya." otak aksara menemukan ide licik begitu melihat adit dengan ayu.


"Pergi lo." usir adit.


"Oke, gue akan pergi, lagian gue gak mungkin jadi nyamuk pengnganggu jugakan." askara berlalu keluar dan tersenyum licik.


"Mas, dia siapa." tanya ayu.


"Bukan siapa-siapa, kamu gak perlu takut sama dia." adit menenangkan.


Ayu hanya mengangguk.


**********